Harlia tidak sempat menjawab pertanyaan Rina meskipun mulutnya sudah terbuka dan hanya keluar kata a—a—a....
Namun, tubuhnya lebih dulu bereaksi. Dadanya terasa penuh, perutnya bergejolak seperti ada blender menyala di dalam. Dunia mendadak berputar, suara di sekitarnya berubah seperti radio rusak.
“Har?” suara Rina terdengar jauh.
Harlia menutup mulut, berjalan mundur dua langkah—dan muntah.
"Huweeekkk!!!!"
Tepat di dekat pot tanaman lobi kantor.
“ASTAGA!”
Rina panik.
“Har, duduk—DUDUK!”
Harlia mencoba duduk, tapi lututnya gemetar. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
“Gue… gue nggak enak badan,” katanya lemah.
Di luar, Topan yang tidak sabar menunggu jawaban dari Harlia akhirnya langsung keluar dari mobil dan menyusul ke ruangan Harlia. Sesampainya di sana sudah pada ribut-ribut.
“Kenapa?” tanyanya cepat.
“Dia muntah!” Rina setengah teriak.
Topan mendekat.
“Har?!”
Harlia mengangkat kepala. Melihat Topan berdiri di sana dengan wajah khawatir, nyata, terlalu dekat dengan semua tekanan yang ada di kepalanya membuat isi perutnya kembali bergejolak.
“Gue—”
Kalimatnya tidak selesai. Matanya berkunang-kunang.
“Har!”
Rina menangkap bahunya.Topan reflek ikut memegang.
“Jangan sentuh!” bentak Rina.
Topan terkejut, tapi Harlia sudah tidak mendengar apa pun. Tubuhnya lunglai. Lalu pingsan.
“ANGKAT KEPALANYA!”
“GUE PEGANGIN!”
“PANGGIL SATPAM!”
Keadaan berubah kacau dalam hitungan detik. Topan dibantu empat satpam menggendong Harlia dengan wajah panik yang tidak pernah Rina lihat sebelumnya.
“Ke rumah sakit,” kata Topan tegas. “Sekarang!”
Rina ragu setengah detik. Tapi melihat wajah Harlia yang pucat, ia mengangguk.
“Ke RS terdekat,” katanya cepat.
“Gue ikut.”
Di dalam mobil, Harlia terbaring di kursi belakang, kepalanya di pangkuan Rina. Topan menyetir dengan tangan gemetar tapi fokus.
“Har, bangun,” Rina menepuk pipinya pelan. “Jangan bercanda.”
Tidak ada respon. Harlia tidak berdaya dengan mata terpejam dan wajah pucat seperti mayat.Topan melirik lewat spion.
“Dia kenapa sih?”
Rina menahan amarah.
“Gara-gara lo!”
“Apa?” suara Topan naik.
“Lo bikin dia stres!” semprot Rina.
Topan menghela napas keras.
“Gue cuma mau ngomong.”
“Ngomong lo bikin hidup dia jungkir balik!” bentak Rina tidak terima.
Topan mengepalkan tangan di setir.
“Gue nggak pernah maksa.”
“Tapi lo masuk terlalu dalam!” Rina protes.
“Dia juga mau!” balas Topan.
Rina menatapnya tajam.
“Dia gampang percaya. Dia gampang GR.”
Topan terdiam. Perkataan Rina ada benarnya. Harlia tipe orang nggak enakan. Tidak tahu cara menolak dan saat sudah kenal, Harlia mengira semua orang adalah orang baik.
“Itu bukan salahnya,” lanjut Rina, suaranya bergetar. “Dan bukan hak lo buat bikin dia goyah.”
Mobil melaju lebih cepat. Tidak ada lagi perdebatan antara Rina dan Topan. Di rumah sakit, semuanya terasa seperti adegan film yang terlalu cepat. Brankar, lampu putih, perawat bertanya. Kini, Topan dan Rina berdiri di sudut, sama-sama panik, sama-sama merasa bersalah.
“Pasien pingsan karena apa?” tanya perawat.
“Stres,” jawab Rina cepat.
“Shock,” jawab Topan hampir bersamaan.
Perawat menatap mereka.
“Keluarga?”
Rina dan Topan saling menoleh, lalu diam sejenak.
“Teman,” kata Rina akhirnya.
“Teman dekat,” tambah Topan.
Perawat mengangguk dan membawa Harlia masuk. Pintu pun tertutup.
Sunyi.
Rina duduk menutup wajah dengan tangan.Topan berdiri mondar-mandir seperti singa di kandang.
“Kalau lo nggak datang hari ini—” kata Rina.“
“Kalau lo nggak tekan dia terus—” Topan memotong.
Mereka saling menatap. Genderang tanda peperangan dimulai seolah sedang ditabuh bertalu-talu.
“Lo dateng tiba-tiba!” Rina meninggi. “Lo bikin dia terpojok!”
“Gue dateng karena dia menghindar!” balas Topan. “Gue mikir dia kenapa-kenapa?!”
“Karena lo terlalu intens!” semprot Rina.
Topan tertawa pahit.
“Jadi salah gue peduli?”
“Peduli tanpa mikirin kondisi dia itu egois,” kata Rina tajam.
Topan berhenti bergerak.
“Gue suka dia.”
Rina mendengus.
“Banyak yang suka. Tapi nggak semua layak bikin dia jungkir balik.”
Topan menunduk.
“Gue nggak tau dia selemah ini.”
Rina berdiri.
“Dia bukan lemah. Dia capek kuat sendirian.”
Topan terdiam.
Hening lorong rumah sakit terpecah oleh suara langkah kaki yang terdengar tergesa di lorong.
“Anak saya di mana?”
Seorang perempuan setengah baya muncul. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tegang tapi tegas.
“Tante!” panggil Rina cepat.
“Rim,” jawabnya. “Harlia kenapa, Rin?”
“Pingsan,” kata Rina. “Lagi diperiksa dokter.”
Ibunya Harlia menutup mulutnya.
“Astaga…”Ia menoleh ke Topan. “Kamu siapa?”
Topan refleks berdiri tegak.
“Saya Topan, Tante.”
“Siapa?” ulang ibu Harlia.
Teman? Pacar? Calon bupati? Topan ragu sepersekian detik.
“Temannya Harlia.”
Ibu Harlia menatapnya lama. Tatapan ibu-ibu yang tidak mudah dibohongi. Yang membuat ibu Harlia tidak percaya adalah karena selama ini anaknya tidak pernah punya teman dekat, cowok. Kalau pun ada pasti cuma mau manfaatin, morotin, numpang jajan. Maka wajar jika ibu Harlia langsung terkesan tidak suka pada Topan meskipun baru pertama kali bertemu. Namun, Topan tampaknya tidak tersinggung atau mungkin ini bukan kali pertama pria itu menerima tatapan waspada seperti itu.
“Teman,” katanya pelan. “Yang bikin dia pingsan?”
Topan menelan ludah.
“Saya nggak berniat—”
“Harlia anaknya jarang sakit,” potong ibu Harlia. “Kalau sampai pingsan, berarti kepalanya penuh.” Rina menunduk. Topan ikut menunduk. Ibu Harlia menghela napas panjang.
“Dia itu dari kecil nggak pernah minta apa-apa. Selalu ngalah.”
Ia menatap Topan tajam.
“Jangan main-main sama perasaan anak saya.”
Topan mengangguk pelan.
“Saya serius.”
Ibu Harlia menyipitkan mata.
“Serius itu dibuktikan, bukan digombalin.”
Rina hampir mengangguk setuju terlalu keras. Merasa dapat pasukan sekutu. Tapi, akhirnya Dokter keluar pertanda Harlia telah selesai diperiksa.
“Pasien sudah sadar sebentar, tapi masih lemah,” katanya. “Stres berat dan asam lambung naik. Perlu observasi.”
“Boleh masuk?” tanya ibu Harlia.
“Boleh satu orang dulu.”
Ibu Harlia melangkah masuk tanpa ragu. Sementara itu, Rina dan Topan tertinggal di luar.
Sunyi lagi.
Topan duduk perlahan.
“Gue bener-bener salah, ya?”
Rina menatapnya.
“Gue belum tau.”
Topan menoleh.
“Kalau dia bangun dan nggak mau liat gue?”
Rina terdiam.
“Itu mungkin.”
Topan mengangguk.
“Dan gue harus terima.”
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Ibu Harlia keluar. Wajahnya sulit dibaca.
“Dia nanyain kalian,” kata ibu Harlia.
Rina berdiri cepat.
“Harlia nggak apa-apa kan, Tante?”
“Dia bingung,” jawab ibu Harlia. “Dan capek.” Ibu Harlia menatap Topan. “Kamu.”
Topan menegakkan badan.
“Iya, Tante.”
“Kamu masuk!” perintah ibu Harlia.
Rina terkejut.
“Tante?”
Ibu Harlia menoleh ke Rina.
“Kamu tunggu di sini!” perintahnya pada Rina.
Rina ingin protes, tapi menahan diri. Sementara itu, Topan melangkah masuk, jantungnya berdentam tidak beraturan.
Di balik pintu itu, Harlia terbaring lemah.
Dan di luar, Rina berdiri dengan perasaan campur aduk.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar tertutup. Topan dan ibu Harlia bertukar pandang sebelum berjalan mendekati Harlia yang terbaring.
Ibu Harlia berkata pelan, tapi menusuk, “Kalau dia nangis lagi karena kamu…”
Kalimat itu menggantung, membuat Topan bergidik seperti dalam adegan film horor rumah sakit berhantu.