KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
02 January 2026

Lampu-lampu putih terang di pusat kebugaran itu memantul di dinding kaca, menciptakan ilusi ruang yang luas dan bersih. Musik elektronik berdentum pelan, ritmis, menutupi suara napas berat para pengunjung yang sibuk melatih tubuh mereka. Aroma logam, keringat, dan parfum maskulin bercampur jadi satu. Elvano berdiri di depan cermin besar, kedua tangannya bertumpu di pinggang. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, jas politik telah berganti kaus hitam polos yang melekat di tubuhnya. Otot-otot lengannya tegang, namun sorot matanya kosong. Tubuhnya kuat namun tidak dengan jiwanya. Pintu kaca pusat fitnes terbuka. Ketua partai masuk tanpa tergesa, mengenakan pakaian olahraga bermerek, sepatu lari mahal, dan senyum puas yang seolah tak pernah lepas dari wajahnya. Ia berjalan menghampiri Elvano, menepuk bahunya ringan, seolah mereka hanya dua pria yang hendak berolahraga bersama, karena para ajudan hanya mengawasi dari kejauhan. “Elvano,” katanya ramah. “Kamu kelihatan… luar biasa.” Elvano mengangguk singkat. “Terima kasih, Pak.” Hati Elvano sedikit mengembang, hangat, itu yang dirasakannya. Bayang-bayang Lelah yang Ia rasakan saat turun dilapangan, lelahnya mengikuti kegiatan rapat dan bakti sosial akhir-akhir ini kini terbayarkan sudah. Itulah yang ada didalam benak Elvano, namun tidak dengan ketua partai, Ia memiliki pemikirannya sendiri. Mereka mulai berjalan berdampingan menuju treadmill, namun bukan mesin itu yang menjadi tujuan utama. “Popularitasmu sedang di puncak,” ujar ketua partai santai, seolah membicarakan cuaca. “Kita belum pernah melihat angka engagement seperti ini.” Elvano menekan tombol treadmill, membuat mesin itu menyala pelan. “Saya pikir yang penting kinerja di lapangan, Pak.” Ketua partai terkekeh kecil. “Kinerja?” Ia menggeleng. “Kinerja itu penting, tentu saja. Tapi yang membuat rakyat jatuh cinta bukan laporan kerja. Mereka jatuh cinta pada cerita.” Ia menoleh, menatap Elvano tajam. “Dan kamu, Nak… sedang berada di tengah cerita paling manis.” Elvano mempercepat langkahnya di atas treadmill, napasnya mulai teratur, seolah berusaha menyalurkan kegelisahan lewat gerakan fisik. “Nayara,” lanjut ketua partai tanpa menyebut nama lengkap, seolah sudah menjadi simbol. “Perempuan itu… emas.” Elvano menegang. “Bukan karena siapa dia,” lanjutnya cepat. “Tapi karena bagaimana publik melihatnya. Rakyat mencintainya, dan ketika rakyat mencintainya, mereka mencintaimu.” Ketua partai berhenti berjalan, berdiri di samping treadmill Elvano. “Jangan sia-siakan itu.” “Saya tidak pernah berniat menjadikan hubungan pribadi sebagai alat politik,” ucap Elvano, suaranya lebih rendah dari yang ia inginkan. Walau sebenarnya diawal Ia juga melakuakn hal yang sama, ide gila Laras yang awalnya membawa perjalanan Ia dengan Nayara sejauh ini. Namun Elvano tak pernah menyangka jika hubungan yang diatas hitam dan outih, akan berbuah ketidak profesionalan. “Oh, Elvano…” Ketua partai tersenyum lebar. “Kamu terlalu idealis untuk dunia ini.” Ia mencondongkan tubuh, suaranya merendah. “Tidak ada yang benar-benar pribadi saat kamu berada di panggung kekuasaan.” Elvano memejamkan mata sesaat. “Kamu tahu,” lanjut ketua partai, “sejak foto-foto itu beredar, elektabilitasmu naik drastis. Bukan karena pidatomu. Bukan karena kebijakanmu. Tapi karena kamu terlihat… manusiawi.” Kata itu terdengar seperti pujian. Namun terasa seperti tamparan. “Publik suka pria yang punya cinta,” sambungnya. “Apalagi cinta yang tampak tulus.” Elvano tertawa kecil, pahit. “Dan kalau ternyata tidak?” Ketua partai menatapnya tajam. “Maka pastikan terlihat seperti itu.” Kalimat itu menggantung, berat, menekan dada Elvano lebih dari beban apa pun yang pernah ia angkat. “Kita akan dorong narasi ke arah yang lebih serius,” lanjut ketua partai. “Pertunangan. Pernikahan. Masa depan.” Elvano menghentikan treadmill secara mendadak. “Kami belum sejauh itu, Pak.” “Publik tidak peduli sejauh apa kalian sebenarnya,” jawab ketua partai tenang. “Yang mereka pedulikan adalah apa yang mereka lihat.” Elvano mengepalkan tangan. “Ini bukan sekadar strategi.” Ketua partai mengangkat alis. “Bukankah sejak awal memang strategi?” Kalimat itu menghantam tepat di pusat pertahanan terakhir Elvano. Sebelum ia sempat menjawab, pintu pusat fitnes kembali terbuka. Laras masuk. Langkahnya cepat, wajahnya tegang. Ia mengenakan pakaian olahraga sederhana, rambut diikat rapi. Matanya langsung menemukan Elvano dan sosok di sampingnya. “Om,” sapa Laras singkat pada ketua partai, nada suaranya formal. Ketua partai tersenyum lebar. “Laras. Lama tak bertemu.” Laras menahan diri untuk tidak menunjukkan ketidaksukaannya. “Saya hanya ingin bicara sebentar dengan Elvano.” “Silakan,” ujar ketua partai, seolah murah hati. “Tapi jangan lama-lama. Kita masih banyak yang harus dibahas.” Ia melangkah pergi, meninggalkan udara yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Laras menoleh pada Elvano. “Kamu sadar nggak sih apa yang sedang terjadi?” Elvano menyandarkan punggungnya ke mesin, mengusap wajahnya lelah. “Aku tahu.” “Tidak,” Laras menggeleng. “Kamu tidak tahu, atau kamu pura-pura tidak tahu.” Elvano menatapnya. “Laras!” “Kamu terlalu jauh,” potong Laras. “Makan malam dengan orang tua Nayara? Pernyataan publik? Kode pernikahan?” “Itu bukan semua keinginanku.” “Tapi kamu tetap mengiyakan,” suara Laras bergetar. “Seperti biasa.” Elvano terdiam. “Kamu selalu mengalah,” lanjut Laras. “Untuk siapa pun. Untuk partai. Untuk publik. Untuk Belinda.” Nama itu membuat Elvano mengangkat kepala. “Dan sekarang,” Laras menatapnya tajam, “kamu mulai mengorbankan Nayara.” “Aku tidak berniat menyakitinya,” ucap Elvano cepat. “Tapi kamu sedang melakukannya,” balas Laras. “Dengan membiarkan kebohongan ini tumbuh.” “Jujur El, aku tak pernah berpikir semua ini akan berjalan sejauh ini. Dan aku menyesal!” Elvano menghela napas panjang, suaranya serak. “Aku terjebak.” “Kamu tidak terjebak,” kata Laras pelan. “Kamu membiarkan dirimu terjebak.” Kalimat itu seperti pisau. Laras menunduk sejenak, menenangkan emosinya. “Aku tahu kamu capek. Aku tahu kamu selalu merasa harus membalas semua tuntutan.” Ia menatap Elvano dengan mata berkaca-kaca. “Tapi kamu juga berhak bahagia, Van.” Elvano tersenyum miring. “Sejak kapan kebahagiaan jadi prioritas?” Laras terdiam. Lalu suaranya melemah. “Seharusnya sejak dulu.” Ia menghela napas. “Kalau saja Tante Belinda tidak menuntutmu selalu sempurna. Selalu lebih. Selalu kuat.” Elvano memejamkan mata. “Kamu bukan mesin,” lanjut Laras. “Kamu anaknya. Dan sekarang… kamu pria yang jatuh cinta.” Elvano membuka mata perlahan. “Aku lihat caramu memandang Nayara,” Laras berbisik. “Itu bukan akting.” Keheningan menyelimuti mereka. “Aku tidak menyalahkanmu,” ujar Laras akhirnya. “Aku marah pada dunia yang memakanmu hidup-hidup.” Ia menepuk lengan Elvano pelan. “Tapi cepat atau lambat, kamu harus memilih. Karena perasaan tidak bisa terus dikontrak.” Dari kejauhan, ketua partai menoleh, tersenyum puas melihat Elvano kembali diam, kembali tunduk. Dan Elvano berdiri di antara dua dunia. Satu dunia yang memujinya bukan karena siapa dirinya, melainkan karena seberapa laris citranya. Dan satu lagi dunia kecil, rapuh, bernama Nayara yang perlahan menuntut kejujuran. Di tengah gemuruh mesin dan dentuman musik, Elvano merasa untuk pertama kalinya Ia kelelahan bukan karena latihan, melainkan karena terlalu lama menahan hati yang ingin bebas.