Drama #Humor #kocak

NGIDAM JADI PENGANTEN

02 January 2026

Harlia sadar, tapi tidak sepenuhnya. Matanya terbuka setengah, pandangannya buram, dan kepalanya terasa seperti habis dipakai debat nasional. Tubuhnya lemas, tenggorokannya pahit, dan pikirannya entah kenapa sangat fokus pada satu hal yang tidak masuk akal. Menikah.

“Har?” suara ibunya terdengar dekat. “Nak?”

Harlia mengerjap pelan.

“Buu…”

Ibunya mendekat, wajahnya cemas bercampur lega.

“Iya, ibu di sini.”

Topan berdiri agak jauh, kaku seperti patung yang salah pameran. Tangannya masuk ke saku, keluar lagi, masuk lagi. Tidak tahu harus berdiri sebagai apa.

Harlia menatap langit-langit.

“Bu…”

“Iya?” sahut ibunya.

“Aku pengen nikah.”

Sunyi.

Detik itu, waktu seperti berhenti. Ibunya membeku.Topan membeku. Mesin monitor berbunyi tit… tit… dengan santai, seolah tidak sadar barusan ada bom kata dijatuhkan. Ibunya tertawa kecil gugup.

“Har… kamu masih ngelantur.”

Harlia mengernyit.

“Aku serius, Bu....”

Topan tersedak udara, tapi tidak berani batuk. Ibunya menepuk tangan Harlia.

“Sayang, kamu lagi sakit.”

“Justru karena sakit,” jawab Harlia lemah, tapi yakin. “Aku kepikiran hidup.”

Ibunya melongo.

“Hidup kok langsung nikah?”

“Iya, Bu,” Harlia mengangguk pelan. “Aku ngidam.”

Ibunya menarik napas panjang.

“Ngidam itu biasanya pengen rujak.”

“Aku pengen nikah,” bantah Harlia.

Topan menelan ludah. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Ibunya mencoba tenang.

“Nikah sama siapa, Har?”

Harlia menoleh pelan. Dan matanya berhenti di Topan. Kayak lagi milih kue yang dipajang di etalase.Topan refleks mundur setengah langkah.

“Maaf, Tante—”

“Topan, Bu,” kata Harlia lirih. “Aku mau nikah sama dia.”

Topan mematung. Keinginan Harlia itu seperti ujung panah yang diarahkan ke orang-orangan sawah, dan Topan lah orang-orangan sawah tersebut. Tidak bisa bicara apalagi menghindar.

Ibunya menoleh ke Topan. Tatapan ibu-ibu level dewa penghakiman.

“Ini efek obat,” gumam ibunya cepat. “Pasti.”

Harlia menggeleng keras.

“Bukan, Bu...”

“Har—” ibunya melotot.

“Aku mau sekarang,” lanjut Harlia.

Ibunya hampir jatuh terduduk.

“SEKARANG?!!”

“Iya,” jawab Harlia polos. “Biar aku nggak pusing mikirnya.”

Topan mengangkat tangan.

“Sebentar—”

“Aku capek mikir,” lanjut Harlia, nada suaranya mulai merengek seperti anak kecil. “Kalau nikah kan jelas.”

Ibunya memijat pelipis.

“Jelas apanya?”

“Jelas masa depannya,” jawab Harlia.

Topan menatap ibu Harlia dengan wajah panik.

“Tante, saya bisa jelasin—”

Ibunya mengangkat tangan.

“DIAM DULU!!!!”

Topan langsung diam. Harlia mulai gelisah.

“Bu… aku mau nikah.”

“Iya, iya,” kata ibunya cepat. “Tapi bukan sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena… karena ibu belum siap.”

Harlia cemberut.

“Aku juga belum siap, makanya mau nikah.”

Ibunya kehabisan logika. Sempat berpikir apa anaknya tadi terbentur sesuatu makanya jadi rada-rada begini. Sementara itu, Harlia masih merengek pelan, suaranya lirih tapi menusuk.

“Bu… aku udah lama sendirian.”

Topan menunduk. Tidak ada bantahan, tidak ada suara, pria itu seperti bocah sekolah yang dihukum di depan kelas karena lupa mengerjakan PR. Ibu Harlia juga masih terdiam, tapi mendengar apa yang keluar dari mulut putrinya dan itu membuat hatinya terenyuh.

“Semua orang kayaknya nemu tempat,” lanjut Harlia. “Aku pengen juga.”

Ibunya duduk perlahan di samping ranjang.

“Nak…”

“Aku nggak mau jadi beban,” kata Harlia, matanya berkaca-kaca. “Aku cuma pengen… dipilih.”

Topan menggertakkan gigi. Mungkin ada rasa sesal di sana.

Ibunya mengelus rambut Harlia.

“Sayang, kamu itu bukan beban.”

“Tapi aku pengen nikah,” Harlia kembali ke topik utama.

Ibunya hampir tertawa putus asa.

“Kamu konsisten banget.”

Topan yang sejak tadi diam akhirnya membuka mulut.

“Tante...”

Ibu Harlia menoleh tajam.

“Saya tau ini nggak masuk akal,” kata Topan cepat. “Dan ini bukan waktu yang tepat.”

“Bagus,” potong ibu Harlia. “Setidaknya kamu sadar.”

“Tapi,” lanjut Topan, suaranya bergetar, “saya nggak main-main sama Harlia.”

Ibunya menyipitkan mata. Dalam hatinya mengumpat, 'Dasar bocah sama gendengnya ternyata.'

Topan menelan ludah.

“Saya memang banyak salah. Saya terlalu cepat. Terlalu intens.”

Ibu Harlia mengangguk tipis.

“Itu betul.”

“Tapi perasaan saya serius,” lanjut Topan. “Dan kalau dia… kalau dia ngomong begitu—”

Harlia memotong, “Aku pengen sekarang!"

Topan refleks, tanpa mikir panjang, tanpa filter, tanpa strategi, “SAYA MAU NIKAHIN HARLIA!”

Kalimat itu keluar terlalu keras. Terlalu jujur. Terlalu spontan. Dan terlalu terlambat untuk ditarik kembali.

Sunyi.

Mesin monitor berbunyi tit… tit… sebagai backsound. Ibu Harlia menatap Topan seperti baru saja melihat manusia melompat dari lantai sepuluh sambil teriak, “BISMILLAH!!!!!"

Harlia tersenyum puas.

“Nah?!”

Ibunya berdiri perlahan.

“Kamu…!”

Topan berdiri tegak.

“Saya serius, Tante.”

Ibunya menutup mulutnya. Rasanya mau pingsan tapi tidak tahu caranya, soalnya seumur hidup belum pernah pingsan. Harlia menepuk ranjang pelan.

“Bu, dia mau.”

Ibu Harlia menatap langit-langit.

“Ya Allah....”

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

“SUARA APA ITU?!!"

Rina masuk dengan wajah panik bercampur curiga.

“Ada yang teriak nikah?” tanyanya.

Harlia menoleh.

“Rin!”

Rina berhenti mendadak.

“Kenapa kamu keliatannya kayak bahagia banget?”

“Aku mau nikah,” kata Harlia ceria.

Rina menatapnya.

“Kamu masih pingsan, kan?”

“Aku sadar,” bantah Harlia. “Aku cuma pengen nikah.”

Rina menoleh ke Topan perlahan.

“Lo….”

Topan mengangkat tangan.

“Gue bisa jelasin.”

Rina menunjuknya.

“Lo barusan teriak apa?”

Topan menelan ludah.

“Aku mau nikahin Harlia.”

Rina tertawa. Bukan tertawa lucu, tapi tertawa tidak percaya.

“HAHA,” katanya datar. “Keren. Gue tinggal bentar, lo langsung lamaran," cibir Rina.

Ibu Harlia duduk lagi.

“Kalian ini bikin ibu migrain.”

Harlia tersenyum lemah.

“Bu, boleh nggak?”

Ibunya menatap Harlia lama. Kalau di rumah mungkin sudah habis anaknya itu diomelin, diceramahi, dirukiyah sekalian.

“Boleh apa?” tanya ibunya dengan nada kesal.

“Boleh aku bahagia?” tanya Harlia.

Sunyi lagi.

Ibunya menghela napas panjang.

“Kamu ini…,” katanya gregetan.

Rina mendekat ke ranjang.

“Har, dengerin gue.”

“Apa?”

“Kalau lo nikah karena pusing,” kata Rina, “itu bukan solusi.”

Harlia mengangguk.

“Makanya aku nikah biar nggak pusing lagi.”

Rina menutup wajahnya. Sepertinya ia sama gregetan nya dengan ibunya Harlia. Topan menggaruk kepala.

“Gue rasa… ini efek stres plus obat.”

Ibunya mengangguk cepat.

“Nah! Ibu setuju.”

Harlia mendengus.

“Kalian jahat.”

Perawat tiba-tiba masuk.

“Ada apa ini?” tanyanya curiga.

Semua menoleh. Ibu Harlia tersenyum kaku.

“Nggak apa-apa. Anak saya lagi halu.”

Harlia protes, “Aku sadar!”

Perawat mengangguk profesional.

“Pasien memang bisa bicara aneh pas kondisi drop.”

Topan mengangguk cepat.

“Iya. Sangat aneh.”

Harlia melotot.

“Kamu bohong!”

Topan mendekat sedikit.

“Tenang dulu, ya.”

Harlia menatapnya lama.

“Kamu beneran mau, kan?”

Topan terdiam. Satu detik. Dua detik.

“Gue mau,” jawabnya pelan. “Tapi bukan begini caranya.”

Harlia menghela napas.

“Oh....”

Ibunya menatap Topan tajam.

“Itu jawaban yang lebih waras daripada tadi.”

Rina mengangguk.

“Akhirnya. Hampir saja.”

Harlia memejamkan mata.

“Yaudah lah.”

Semua lega sementara. Lalu Harlia membuka mata lagi, lalu mengejutkan semua orang lagi,

“Tapi nanti ya,” katanya. “Jangan lama-lama.”

Sunyi.

Empat orang berdiri di satu kamar rumah sakit, bingung, panik, dan sadar bahwa sesuatu yang besar baru saja terucap, meski dalam kondisi paling tidak romantis di dunia. Dan pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Topan serius, melainkan apakah Harlia akan mengingat semua ini saat benar-benar sadar?