Perawan Mahal sang Penggoda - Nasi Padang - Bab 6

11 September 2025

Di ruangan yang sama, meja makan kini penuh dengan hidangan. Berbagai lauk nasi padang tersusun rapi, plastik pembungkusnya masih menempel, aroma gulai dan rendang memenuhi udara.

Queen berdiri terpaku di ujung meja. Matanya melebar melihat betapa banyaknya makanan di sana.

“Kau sudah gila?” serunya tak percaya.

Garendra duduk santai di kursi seberangnya, bersandar dengan satu kaki disilangkan, wajahnya tenang seperti tak ada yang aneh.

“Kau bilang mau nasi padang,” ucapnya ringan. “Sekalian aku beli semua lauknya.”

Queen mendekat dengan raut tak percaya, mulutnya sedikit terbuka. “Ya aku tahu, tapi ini… ini piring dari restoran langsung! Masih baru semua, bahkan belum dibuka plastiknya. Kau pikir aku bisa makan semua ini sendirian?”

“Makan saja.”

Queen manyun, tangannya bertolak pinggang. “Aku sebenernya lebih suka nasi padang yang dibungkus sih, makan di kertas tuh vibe-nya beda. Tapi ya sudahlah.”

Ia duduk tanpa basa-basi, meraih salah satu piring, membuka plastiknya, lalu mengambil nasi dan lauk yang paling menarik matanya.

Gar hanya diam, memperhatikan gadis itu mulai melahap makanannya dengan rakus.

“Dasar, dia begitu sembrono,” batinnya sambil mengamati Queen yang tampak santai seolah lupa dirinya baru saja diculik.

Queen makan dengan lahap, suapan demi suapan tak ia pedulikan tatapan Gar yang seperti sedang meneliti setiap gerakannya.

“Kau tidak menawariku makan?” suara Gar akhirnya terdengar.

Queen berhenti mengunyah sebentar, lalu menelannya dengan santai. Ia mengangkat alis, menatap Gar dengan ekspresi seenaknya.

“Kau sudah setua ini, makanan di depan matamu, kau juga yang membelinya. Kalau mau makan ya tinggal makan. Kau kira aku ini pramusaji yang harus suapin kau?”

Jawabannya ketus, tapi justru membuat Gar menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak memilih makan, justru kembali bersandar dan membiarkan Queen menikmati hidangan.

Tiba-tiba.

PLAK!

Queen memukul meja cukup keras, membuat Gar sedikit terperanjat.

“Ada apa?!” Gar mengernyit.

Queen menelan cepat makanannya, lalu menatap Gar dengan mata membelalak. “Kau!”

Jari telunjuknya yang masih belepotan nasi langsung mengarah ke wajah Gar.

“Apa lagi?” Gar menghela napas.

“Kau culik aku ke sini, terus kau biarin motorku tergeletak di jalanan!”

Gar mendesah pelan. Ia ingat jelas saat menunggu di mobil, motor matic Queen memang terbiar begitu saja di gang.

“Aku akan suruh anak buahku ambil.”

Queen mendengus kesal. “Alah, ini Jakarta bro! Motor ditinggal semenit aja bisa ilang! Kalau motorku hilang, aku tak mau tahu. Cari motor itu sampai ketemu atau ganti yang baru. Aku butuh motor buat ke mana-mana!”

Gar mengangkat satu alis, suaranya tenang tapi matanya tajam. “Aku akan ganti dengan mobil.”

Queen memutar bola matanya dramatis. “Puih. Sok kaya. Kau kira aku nggak tahu? Ternyata kerjaanmu cuma mencuri, ya?”

Sorot mata Gar menggelap. “Jaga mulutmu!”

Queen berdiri, menatap Gar seolah ia musuh besar. “Aku akan jaga mulutku kalau motorku balik. Kalau tidak, aku laporkan kau ke polisi! Ingat, aku bisa bikin ribut di sini!”

Gar hampir tertawa, tapi ia tahan. Wanita ini sungguh di luar dugaannya. Cantik, menyebalkan, dan penuh keberanian.

“Baik.” Gar memanggil pelan, “Deko.”

Pintu langsung terbuka. Seorang pria berjas masuk dan menunduk hormat.

“Ya, Tuan.”

“Tolong belikan motor keluaran terbaru yang cocok untuknya,” ucap Gar tanpa mengalihkan tatapannya dari Queen.

“Yang matic!” tambah Queen cepat, seolah ini adalah transaksi resmi.

“Baik, Tuan.”

Deko keluar lagi, menutup pintu dengan rapi.

Queen menghela napas lega, senyum puas tersungging di bibirnya. “Akhirnya. Jangan macam-macam ya, aku bisa ngamuk kalau motornya jelek.”

Gar menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kau senang?”

Queen duduk kembali, santai. “Aku belum lihat motornya. Jadi belum bisa senang.”

Gar mengepalkan tangan di bawah meja. Gadis ini benar-benar menguji kesabarannya, tapi entah mengapa semakin ia marah, semakin ia ingin tahu lebih banyak tentangnya.

Queen bersandar di kursi, menghela napas panjang. Tangannya belepotan minyak gulai. Biasanya ia santai saja, tapi kali ini ia ingin cuci tangan pakai sabun.

"Di mana kamar mandi?" tanyanya tanpa menatap Gar.

Alis pria itu sedikit terangkat. "Kau mau mandi?"

Queen memutar bola matanya, hampir tak percaya. "Astaga, pria satu ini. Aku mau ke kamar mandi bukan berarti aku mau mandi. Aku walaupun nggak mandi seharian, aku tetap wangi, ya."

"Mana buktinya?" Gar menyandarkan punggung ke sofa, senyum tipis di bibirnya. "Sini biar aku cium."

Queen spontan melotot. "Dih!" suaranya naik setengah oktaf, jijik bercampur kaget.

Gar terkekeh pelan, tapi ada sorot serius di matanya. "Dasar. Malam kemarin kau tidak seperti ini. Aku yakin kau juga menggoda banyak lelaki."

Queen menyeringai miring, tatapannya tajam. "Setidaknya aku punya harga diri. Dan kau juga tahu aku masih perawan."

Ia berdiri dengan suara kursi yang agak berderit. "Sekali lagi tanya, di mana kamar mandinya?"

Gar mengangkat tangan, menunjuk ke dinding berwarna gelap yang hampir tak terlihat pintunya.

Queen mengangguk, melangkah ke sana tanpa menoleh. Tapi ia bisa merasakan tatapan Gar yang terus mengikuti gerakannya. Bukannya gugup, ia malah menegakkan punggung, seperti pamer keanggunan yang ia punya.

Begitu masuk, Queen hampir kaget. Kamar mandi itu luar biasa mewah, dinding marmer putih, wastafel mengilap, aroma sabun mahal memenuhi ruangan.

"Wow," gumamnya sambil mencuci tangan. Air dingin menyentuh kulitnya, membuat kepalanya sedikit jernih.

Namun, matanya kemudian tertuju pada sebuah pintu di sisi lain. "Apa ini?" bisiknya. Rasa penasarannya mengalahkan logika.

Pelan-pelan ia buka pintu itu dan tertegun.

Di baliknya, sebuah ruang penyimpanan besar. Berjejer rapi pakaian pria dan banyak pakaian wanita yang masih terbungkus plastik, seperti baru dibeli.

Queen menggigit bibirnya. "Pria ini benar-benar gila," gumamnya. "Untuk apa dia simpan semua ini? Apakah untuk aku?"

Pikiran itu membuat bulu kuduknya merinding. Queen buru-buru keluar, mencoba tetap santai agar tidak ketahuan ia sedang mencari celah untuk kabur.

Saat kembali ke ruangan utama, ia terkejut karena meja makan sudah bersih. Semua piring, gelas, bahkan bau gulai yang tadi menyengat sudah lenyap.

"Kerja anak buahnya cepat sekali, aku benar-benar terperangkap di sini," batinnya.

Ruangan itu terasa lebih lapang sekarang. Queen melirik tempat tidur besar di ujung ruangan, tapi ia yakin Gar lebih betah di sofa panjang tempatnya duduk sekarang.

Ia melangkah pelan, mencoba tetap santai. "Hebat juga ya, aroma masakannya hilang, kayak bukan habis makan aja," ucapnya sambil mendekat.

Gar menggeser sedikit posisi duduknya, memberi tanda agar Queen ikut duduk.

Queen memilih duduk tapi sengaja di ujung sofa, menjaga jarak.

"Aku mau bertanya," kata Gar tiba-tiba.

"Tanya saja." Queen menopang dagu dengan santai, meski jantungnya berdegup lebih cepat.

"Siapa pria itu?"

Queen mengernyit. "Pria siapa?"

"Yang tinggal bersamamu."

Queen tercekat. Seketika ia teringat pesan abangnya jangan pernah beritahu siapa pun tentang dirinya.

"Seseorang yang penting," jawabnya akhirnya.

"Siapa?" Gar mendesak.

"Seseorang yang penting dalam hidupku," ulang Queen.

"Ya, tapi siapa?" Tatapan Gar makin tajam, suara semakin rendah.

Queen menghela napas, jengkel. "Astaga, semua tentang aku harus kau tahu, ya?"

"Ya," jawab Gar tenang. "Karena kau milikku. Dan aku harus tahu segalanya."

Queen menahan senyum sinis. Dalam hatinya, ia merasa dipenjara. Tapi di luar, ia tetap terlihat santai. "Milikmu? Huh. Kau tidak tahu saja, aku bisa kabur kapan saja."

Gar menatapnya lama, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Coba saja."

Mata Queen membulat apakah itu ancaman, atau tantangan?