Pagi itu, ruang rapat utama kantor partai dipenuhi udara yang terlalu dingin untuk disebut nyaman. Pendingin ruangan bekerja berlebihan, seolah ingin membekukan siapa pun yang duduk di dalamnya. Di dinding depan, layar besar menampilkan potongan berita yang terus diputar berulang-ulang. WAJAH ELVANO DAN NAYARA. TERSENYUM. BERGANDENGAN. DISOROT KAMERA. Ketua partai duduk di kursi utama, tubuhnya condong ke belakang, jemarinya saling bertaut. Ia tampak puas, namun bukan puas yang meledak-ledak, melainkan puas yang tenang, dingin, dan penuh perhitungan. “Respons publik luar biasa,” ujarnya akhirnya, memecah keheningan. “Ini bahkan melampaui ekspektasi kita.” Beberapa petinggi partai mengangguk setuju. Salah satu di antaranya tersenyum sambil membuka tablet. “Engagement di media sosial naik hampir dua ratus persen. Elektabilitas Elvano melonjak signifikan, terutama di kalangan pemilih muda dan perempuan.” Elvano duduk di ujung meja. Punggungnya tegak, wajahnya netral, namun rahangnya mengeras. Tangannya terlipat di atas meja, kuku jarinya menekan telapak tangan sendiri. “Kita harus memanfaatkan momentum ini,” lanjut ketua partai. “Dan kita tidak punya banyak waktu.” Ia menoleh langsung ke Elvano. “Ulang tahun partai tinggal dua minggu lagi.” Elvano mengangkat pandangan. “Dan apa hubungannya dengan saya?” Senyum ketua partai melebar. “Oh, hubungannya sangat besar.” Ia berdiri, berjalan perlahan mengelilingi meja. “Publik suka kejutan. Apalagi kejutan yang melibatkan cinta.” Beberapa orang tertawa kecil. Para anggota dewan yang memiliki background dari kalangan artis itu menunjukkan ekspresi merendahkan Elvano. “Saya sudah bicara dengan tim media,” lanjutnya. “Kita akan membuat pernyataan. Bahwa di acara ulang tahun partai nanti… akan ada kejutan spesial dari sepasang kekasih favorit publik.” Kalimat itu jatuh seperti palu. Elvano menegang. Ia tak pernah berpikir jika orang yang Ia kagumi ternyata selicik itu. Hasan Basri yang terkenal tenang, menampilkan citra positif dihadapan public, terkenal sebagai kepala keluarga yang penyang dan memiliki hubungan harmonis, ternyata bertolak belakang. Beliau adalah orang licik yang pernah Elvano temui selama dua puluh delapan tahun Ia hidup di dunia ini. Bahkan script sinetron juga belum pernah sejauh ini. “Saya tidak pernah menyetujui itu.” Lirih Elvano, tegas namun dengan suara pelan, yang mampu didengar Hasan Basri yang sedang berdiri didekatnya. Ketua partai berhenti tepat di belakang kursinya. “Kamu tidak perlu menyetujuinya. Cukup tidak menolaknya.” Elvano berdiri mendadak. Kursinya bergeser keras, menciptakan suara yang membuat ruangan hening. “Ini sudah terlalu jauh,” ucapnya dingin. “Hubungan saya bukan alat kampanye.” Ketua partai menepuk bahu Elvano pelan, seolah menenangkan anak kecil yang sedang mengamuk. “Kamu lupa satu hal penting, Nak.” Ia menunduk sedikit, suaranya rendah namun tajam. “Sejak kamu masuk dunia ini, hidupmu bukan lagi sepenuhnya milikmu.” Elvano mengepalkan tangan. Akan tetapi, seperti biasa, ia tidak melawan. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras, namun tak berani menunjukkan ketegasan untuk menolak keinginan pria itu. Dan keheningan itulah yang menjadi persetujuan paling mahal. Berita itu menyebar seperti api disiram bensin. “ULANG TAHUN PARTAI AKAN ADA KEJUTAN DARI ELVANO & NAYARA?” “APA KODE LAMARAN?” “PASANGAN FAVORIT PUBLIK SIAP MELANGKAH LEBIH SERIUS?” Media sosial meledak. Netizen bersorak. Fanbase semakin liar. Haters Nayara semakin ganas. Nayara membaca semuanya dari layar ponselnya, jantungnya berdegup tak karuan. Ia menunggu satu hal sejak semalam. Telepon dari Elvano. Janji sederhana. ‘Sampai rumah aku hubungi.’ Namun ponselnya sunyi. Yang muncul justru notifikasi lain. Video Elvano berdiri di samping ketua partai. Senyum resmi. Tangan berjabat. Flash kamera bertubi-tubi. Memperlihatkan adegan ELvano dan ketua partai yang sedang mengikuti beberapa kegiatan sosial, terjun langsung ke masyarakat, namun tak lupa untuk membawa embel-embel hubungannya dengan Nayara. Nayara mematikan layar. Dadanya sesak. “Dia lupa,” bisiknya. Atau mungkin… memilih lupa. Laras mengetahui kabar itu bukan dari Elvano, melainkan dari televisi di ruang kerjanya. Ia menatap layar dengan wajah pucat. “Kejutan dari sepasang kekasih,” gumamnya. “Gila…” Ia meraih tasnya, berdiri, dan melangkah keluar tanpa izin siapa pun. Elvano baru saja turun dari podium kecil ketika Laras menghadangnya di lorong belakang gedung. “Ini maksudmu?” suara Laras bergetar. “Diam?” Elvano menoleh. Wajahnya lelah. “Aku tidak punya pilihan.” “Kamu selalu bilang itu,” Laras tertawa getir. “Dan setiap kali, harga dirimu makin diinjak.” “Mereka menekanku.” Elak Elvano, menapik kenyataan hidup yang sudah didepan pupil matanya. “Kamu membiarkan mereka,” bentak Laras. “Kamu berdiri di sana, tersenyum, sementara hidupmu dijual sebagai tontonan!” Elvano mengusap wajahnya. “Aku sedang mencoba menahan semuanya tetap stabil.” “Stabil untuk siapa?” Laras mendekat. “Untuk partai? Untuk publik? Atau untuk Belinda?” Nama itu membuat Elvano membeku. Ia sedikit tidak terima nama Belinda disebut oleh Laras, bagaimanapun Belinda tidak tahu tentang hal ini, walau apa yang dikatan Laras benar. Alasan dibalik sikam ambisius Elvano adalah karena Belinda. Ia ingin membuktikan, jika dirinya mampu menyaingi Belinda, yang telah terlebih dahulu terjun di dunia politik, kesuksesan Belinda, rasa sakit yang diderita oleh ayahnya, menjadikan Elvano sosok yang seperti ini. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” lanjut Laras, air matanya menggenang. “Nayara tidak tahu apa-apa. Dia menunggu. Dia percaya.” Elvano menunduk. “Aku tidak bisa terus berada di sisimu,” ucap Laras pelan namun tegas. “Bukan jika kamu terus membiarkan dirimu dihancurkan.” Elvano menatapnya tajam. “Apa maksudmu?” Laras menarik napas panjang. “Aku mengundurkan diri.” Kalimat itu mengguncang. “Kamu bercanda,” ujar Elvano cepat. “Aku serius,” jawab Laras. “Aku tidak bisa jadi bagian dari kebohongan yang menyakiti semua orang.” “Tapi kamu yang menciptakan ide gila ini Laras.” Tegas Elvano, tak terima jika Laras meninggalkannya seorang diri, ditengah permasalahan yang semakin rumit. “Elvano,” lanjutnya lirih, “aku mencintaimu sebagai keponakan. Tapi aku mencintai diriku sendiri juga.” Ia melepas ID card dari lehernya, meletakkannya di tangan Elvano. “Berhenti mengorbankan dirimu,” ucapnya. “Sebelum semuanya terlambat.” Laras pergi. Dan untuk pertama kalinya, Elvano merasa benar-benar sendirian. Malam itu, Nayara akhirnya menerima pesan. Elvano: Maaf. Hari ini kacau. Kita bisa bicara nanti? Nayara menatap layar lama sekali. Nayara: Aku lihat kamu di berita. Kamu kelihatan baik-baik saja. Elvano menelan ludah. Elvano: Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Nayara tersenyum pahit. Nayara: Aku capek jadi penonton dari hidup kita sendiri. Pesan itu membuat dada Elvano runtuh. Di luar gedung partai, kamera masih menunggu. Publik masih bersorak. Dan di balik sorotan itu, cinta mereka mulai retak, bukan karena kurang rasa, melainkan karena terlalu banyak orang yang ikut memilikinya. Ulang tahun partai semakin dekat. Kejutan telah dijanjikan. Namun tidak ada yang tahu, siapa yang akan benar-benar hancur saat tirai panggung dibuka.
KONTRAK PERASAAN
Penulis
Arunaa
03 January 2026