Malam setelah ulang tahun partai itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Lini masa yang sejak pagi dipenuhi sorak sorai, spekulasi, dan ekspektasi mendadak berubah menjadi ruang penuh tanda tanya. Publik menunggu. menunggu kejutan yang dijanjikan, menunggu kehadiran Nayara di sisi Elvano, menunggu potongan momen yang bisa mereka simpan sebagai bukti bahwa dongeng itu nyata. Namun panggung megah itu hanya diisi satu nama. Elvano Aryavindra. Berdiri sendiri di tengah lampu sorot, dikelilingi petinggi partai, menyampaikan pidato formal dengan senyum yang terasa terlalu kaku. Tak ada Nayara. Tak ada tangan yang biasa menggenggam lengannya. Tak ada tatapan lembut yang selama ini membuat publik baper. Dan publik kecewa. Sebenarnya sejak awal, semua itu hanyalah trik ketua partai, mereka tak benar-benar mengundang Nayara, melainkan menjadikan namanya sebagai panggung politik. Elvano dituntut untuk tetap hadir memeriahkan acara bersama Renjana Basri, putri sang ketua partai yang baru saja terjun kedunia politik. Wanita itu membutuhkan pamor Elvano untuk naik keatas. Membuat Renjana berdampingan dengan ELvano bisa menaikkan pamor wanita itu, hal tersebutlah yang berada didalam pikiran Hasan Basri. Ia pikir kehadiran Renjana mampu menarik perhatian publik. Namun ternyata salah publik sedikitpun tak meliriknya, public menuntut kehadiran Nayara. Komentar berdatangan, lebih tajam dari sebelumnya. “Katanya kejutan? Mana Nayara?” “Udah settingan ya?” “Kasihan Nayara, dipake doang.” “Jadi bener cuma strategi politik?” Nayara membaca semuanya dalam diam. Ia duduk di lantai kamarnya, bersandar pada sisi ranjang, ponsel tergeletak di pangkuannya. Layar menyala, menampilkan cuplikan acara ulang tahun partai yang diputar ulang oleh akun gosip. Elvano terlihat… kosong. Senyumnya tidak sampai ke mata. Namun itu tidak menghapus rasa perih di dada Nayara. Ia tidak datang bukan tanpa alasan. Ia menunggu. Menunggu satu pesan. Satu penjelasan. Satu bentuk kehadiran dari Elvano yang selama ini selalu berjanji tidak akan meninggalkannya sendirian di tengah badai. Tapi Elvano menghilang. Tidak ada kabar sejak pagi. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Seolah Nayara mendadak tak lagi termasuk dalam hidup yang sedang ia jalani. Diva yang sejak tadi mondar-mandir akhirnya menghentikan langkahnya. “Nay… kamu nggak salah kok.” Nayara tersenyum tipis. “Aku tahu.” “Tapi kamu juga berhak marah.” Nayara memejamkan mata. “Aku capek, Div. Capek marah.” Belum sempat Diva menjawab, ponsel Nayara bergetar. Nama yang muncul membuat jantung Nayara berdegup keras. Ajudan Elvano Dengan ragu, Nayara mengangkat panggilan itu. “Assalamualaikum, Mbak Nayara,” suara di seberang terdengar canggung dan terburu-buru. “Maaf ganggu malam-malam.” “Waalaikumsalam… ada apa?” tanya Nayara pelan. “Pak Elvano sakit, Mbak. Demam tinggi sejak sore. Kami sudah bawa dokter, tapi… beliau sendirian di rumah. Mbak Laras sudah tidak di posisi itu lagi, dan Ibu Belinda sedang di luar kota.” Nayara terdiam. “Kami bingung harus menghubungi siapa,” lanjut ajudan itu jujur. “Pak Elvano juga tidak mengangkat telepon siapa pun.” Kalimat itu menusuk tepat di tempat yang paling rapuh. “Kalau Mbak Nayara berkenan… bisa datang ke rumah beliau?” Panggilan itu berakhir dengan hening panjang. Nayara menatap layar ponselnya, napasnya terasa berat. Di satu sisi, egonya menjerit. Semua kekecewaan itu nyata. Semua rasa sakit itu belum sembuh. Tapi di sisi lain, bayangan Elvano sendirian di rumah besar itu, tanpa siapa pun membuat hatinya bergetar. Ia menoleh pada Diva. “Aku harus ke sana,” ucap Nayara akhirnya. Diva menatapnya lama. “Kamu yakin?” Nayara mengangguk pelan. “Aku nggak datang sebagai pacar. Aku datang sebagai manusia.” Rumah Elvano terasa berbeda malam itu. Sepi. Terlalu sepi. Lampu-lampu menyala redup, tak ada suara selain langkah Nayara yang menggema di lantai marmer. Ajudan Elvano menyambutnya singkat, lalu berpamitan setelah memastikan Nayara masuk. Saat Nayara membuka pintu kamar Elvano, hatinya mencelos. Pria itu terbaring lemah, wajahnya pucat, keningnya berkerut seolah menahan sakit bahkan dalam tidur. Rambutnya sedikit basah oleh keringat, napasnya tidak teratur. “Kak Elvano…” panggil Nayara lirih. Tak ada jawaban. Ia mendekat, menyentuh punggung tangannya ke dahi Elvano. Panas. “Ya Allah…” bisiknya. Nayara mengganti kompres, membantu Elvano minum obat, dan menata bantal agar pria itu lebih nyaman. Semua dilakukan tanpa suara, tanpa keluhan. Di dapur, Nayara berdiri lama menatap bahan makanan yang tersedia. Tangannya akhirnya bergerak sendiri, mencuci beras, merebus air, mengiris ayam, dan menghaluskan beberapa bumbu aromatic, tangannya begitu lihai memainkan peran diantara pisau dapur dan spatula. Aroma bubur ayam hangat perlahan memenuhi rumah itu, membawa kehangatan yang sudah lama hilang. Saat Elvano terbangun, pandangannya buram. Namun hal pertama yang ia lihat membuat dadanya sesak. “Nay…?” suaranya serak, hampir tak terdengar. Nayara tersenyum kecil. “Bangun kak. Kamu harus makan.” Elvano mencoba bangkit, namun Nayara menahannya. “Pelan-pelan.” Ia menyuapi Elvano dengan sabar, seperti merawat seseorang yang sangat berarti dan mungkin memang begitu. “Kenapa kamu datang?” tanya Elvano lirih. Nayara menunduk. “Karena aku dengar kamu sakit kak.” Hening sejenak. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari keduanya. “Aku minta maaf,” ucap Elvano tiba-tiba. Suaranya bergetar. “Untuk semuanya.” Nayara menatapnya. Mata Elvano berkaca-kaca. “Aku janji hubungi kamu… tapi aku tenggelam. Aku terlalu lelah untuk melawan siapa pun, sampai aku lupa orang yang paling penting.” Kata-kata itu membuat dada Nayara menghangat sekaligus perih. “Aku bukan minta kamu melawan dunia,” ucap Nayara pelan. “Aku cuma nggak mau kamu menghilang kak.” Elvano menggenggam tangan Nayara lemah. “Aku takut. Takut kamu pergi kalau lihat aku sebenarnya… selemah ini.” Air mata Nayara jatuh tanpa ia sadari. “Bodoh,” bisiknya. “Justru karena ini aku datang kak.” Malam itu, mereka duduk berdekatan di tepi ranjang. Tidak ada sandiwara. Tidak ada kamera. Hanya dua orang yang lelah, mencoba saling bertahan. Nayara menyuapi bubur ayam perlahan demi perlahan untuk Elvano. “Pelan-pelan kak, panas?” Tanyanya dengan sedikit mengernyitkan dahi. Elvano terenyum, “enggak kok! Ini enak.” Pujiannya, membuat jantung Nayara berdetak kencang, ada kehangatan didalamnya. “Aku pikir kamu nggak bisa masak Nay.” “Cekh.” Nayara tersenyum tipis. “Orang tua ku memiliki usaha dibidang kuliner kak, mana mungkin aku dikasih waktu santai tanpa berteman dengan bumbu dapur.” Elvano mengangguk faham, namun jujur, Ia tak pernah berpikir jika Nayara ternyata lebih dewasa dibandingkan penampilannya. Tangan Elvano mengusap pucuk kepala Nayara. “Makasih ya.” “Untuk?” Tanya Nayara gugup. “Semuanya.” Sambung Elvano. Suasana mendadak hening, keduanya larut dalam lamunan masing-masing. Semangkuk bubur ayam sudah habis bersih. Elvano juga sudah meminum obatnya, walau dengan sedikit paksaan oleh Nayara. Di sudut lain kota, Laras membaca pesan yang membuat dadanya mengendur. Nayara: Mbak… Elvano demam. Aku di rumahnya sekarang. Jangan khawatir. Tak lama kemudian, telepon Laras berdering. “Nay…” suara Laras terdengar penuh emosi. “Maafkan mbak.” Nayara terdiam. “Mbak nggak salah.” “Aku yang menyeretmu sejauh ini,” lanjut Laras. “Aku kira kamu hanya akan jadi bagian dari strategi. Tapi kamu… kamu merawat dia seperti ini.” Nayara tersenyum tipis. “Aku juga nggak nyangka.” “Kamu dewasa, Nay,” ujar Laras jujur. “Lebih dewasa dari yang orang kira, bahkan aku tak pernah berpikir kamu bisa seperti ini.” Mereka berbicara lama. Tentang Elvano. Tentang tekanan. Tentang harapan agar semua ini segera selesai. “Aku berharap,” kata Laras pelan, “kalian bisa hidup normal. Tanpa panggung. Tanpa kontrak. Tanpa tuntutan.” Nayara menatap Elvano yang kembali terlelap. “Aku juga, Mbak.” Di rumah besar yang akhirnya terasa hangat itu, Nayara menyadari satu hal. Di balik semua drama, politik, dan sorotan publik, Elvano hanyalah seorang pria yang butuh ditemani. Dan malam itu, Nayara memilih tetap tinggal.
KONTRAK PERASAAN
Penulis
Arunaa
03 January 2026