Pagi itu, Elvano terbangun dengan perasaan asing. Sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang membuat dadanya mengencang. Ia memandangi langit-langit kamar, mencoba mengumpulkan potongan ingatan semalam. Bau obat. Sentuhan tangan yang dingin namun menenangkan. Suara lembut yang menyuruhnya makan. Wajah Nayara yang samar di antara kantuk dan demam. “Nayara…?” Ia mengerutkan kening. Perlahan ia bangkit, tubuhnya masih lemas. Kakinya melangkah keluar kamar, menyusuri lorong rumah yang terasa terlalu besar untuk ditinggali sendirian. Tak ada suara. Tak ada tanda kehidupan. Jantungnya mencelos. Jangan-jangan semalam hanya mimpi. Mimpi indah yang terlalu kejam jika harus terbangun. Namun langkahnya terhenti saat samar-samar terdengar suara air. Elvano mengikuti arah suara itu, melewati pintu kaca besar yang menghadap ke halaman belakang. Begitu tirai terbuka, matanya langsung tertuju pada kolam renang. Dan di sanalah Nayara. Gadis cantik yang Ia pikir kehadirannya hanya sebuah mimpi, namun ternyata itu adalah sebuah kenyataan. Rambut panjang gadis itu terurai basah, tubuhnya setengah tenggelam di air biru yang memantulkan cahaya pagi. Nayara berenang pelan, seolah dunia di sekelilingnya tak ada. Wajahnya tampak tenang, tenang yang jarang Elvano lihat akhir-akhir ini. Elvano terdiam lama. Dadanya terasa hangat. Jadi ini nyata. Ia tersenyum kecil, lalu melangkah mendekat tanpa suara. Nayara sama sekali tak menyadari kehadirannya. Gadis itu berhenti di sisi kolam, bersandar sambil memejamkan mata, menarik napas panjang seolah sedang menenangkan isi kepalanya. “Elvano masih tidur,” gumam Nayara pelan pada dirinya sendiri. “Aku berenang sebentar saja…” Senyum Elvano makin lebar. Ia membuka sandal, meletakkannya sembarang, lalu tanpa banyak pikir, masuk ke kolam. Byur. Air terciprat cukup keras. Nayara menjerit kecil. “Astaga!” Ia berbalik cepat, mata membelalak saat melihat Elvano berdiri di depannya, basah kuyup, dengan senyum jahil yang sangat jarang ia tunjukkan di depan publik. “Kak Vano!” Nayara refleks menutup wajahnya, malu setengah mati. “Kamu udah bangun?!” “Kamu yang bikin aku bangun,” jawab Elvano ringan. “Aku pikir kamu masih tidur,” Nayara menggerutu, pipinya memerah. “Makanya aku…. Hmmm.” “Nyelonong berenang di rumah orang?” Elvano menyela, tertawa kecil. Nayara menyipratkan air ke arah Elvano. “Ini rumah kamu kak, bukan orang! Lagian kamu tiba-tiba datang terus masuk kedalam air gini, memangnya nggak apa? Bukannya kamu lagi demam kak? Bagaimana nanti kalua semakin parah?” “Kan ada kamu yang ngobatin.” Jawab ELvano santai, membuat rona merah dipipi Nayara. Gadis itu membuang wajah, memilih menatap langit biru berhiaskan awan putih. Tawa Elvano pecah. Tawa lepas yang membuat Nayara terpaku sejenak. Jarang sekali ia melihat Elvano tertawa seperti itu, tanpa beban, tanpa topeng. Mereka akhirnya duduk di tepi kolam, kaki terendam air. Matahari mulai naik, menghangatkan kulit mereka yang masih basah. “Terima kasih,” ucap Elvano tiba-tiba. Nayara menoleh. “Untuk?” “Untuk semalam. Untuk tinggal. Untuk nggak pergi.” Nayara tersenyum kecil. “Aku cuma melakukan hal yang seharusnya.” Elvano menggeleng pelan. “Nggak semua orang mau.” Hening sejenak, namun hening yang nyaman. “Kamu sering berenang waktu kecil?” tanya Nayara, mencoba mencairkan suasana. Elvano tertawa kecil. “Jarang. Aku lebih sering di ruang belajar. Ibu… sangat disiplin.” Nayara terkekeh. “Kasihan.” “Terus kamu?” Elvano balik bertanya. Nayara tersenyum lebar. “Sering. Ayahku suka ngajak aku ke Pantai, kolam renang sewaktu kami belum memilikinya. Katanya, air bisa bikin orang jujur sama perasaannya.” Elvano mengernyit. “Maksudnya?” “Kalau di air, kita nggak bisa berpura-pura kuat. Capek ya capek, tenggelam ya tenggelam,” jawab Nayara ringan. Elvano terdiam. Masa kecil Nayara terdengar… indah. Penuh tawa, kebebasan, dan kehangatan keluarga. Berbanding terbalik dengan masa kecilnya sendiri yang penuh target, jadwal, dan tuntutan. Terlebih tekanan saat mendengar perdebatan kedua orang tuanya. Ibunya terlalu menuntut lebih, itu juga yang menjadi alasan perceraian kedua orang tuanya. “Aku iri,” ucap Elvano jujur. Nayara menoleh kaget. “Kenapa?” “Kamu tumbuh dengan bahagia,” kata Elvano pelan. “Pantas kamu jadi seperti sekarang.” “Seperti apa?” “Dewasa. Baik. Nggak pahit meski sering disakiti.” “Memangnya wajah ku semenyedihkan itu kah kak?” Nayara menunduk, tersenyum malu. Mereka tertawa lagi, saling melempar cerita kecil, tentang kenakalan masa sekolah Nayara, tentang Elvano kecil yang pernah kabur dari les hanya untuk makan bakso di pinggir jalan. “Ada satu hal,” ucap Elvano tiba-tiba, suaranya berubah lebih dalam. “Kamu perempuan pertama yang aku bawa ke rumah ini. Selain keluarga.” Nayara terdiam. “Dulu,” lanjut Elvano, menatap air kolam, “aku bangun rumah ini buat Selina. Aku pikir… kami akan tinggal di sini. Punya kehidupan yang normal.” Nayara tak menyela. “Tapi semuanya bubar. Dia pergi ke luar negeri, ikut ayah kandungnya. Dan rumah ini… cuma jadi bangunan kosong.” Ia menoleh pada Nayara. “Sampai kamu datang.” Jantung Nayara berdegup keras. Ia tidak pernah tahu apa Alasan dibalik keretakan hubungan Elvano dan Selina. Sungkan rasanya untuk bertanya lebih jauh. Terlebih Nayara bukanlah orang yang ingin ikut campur dengan urusan orang lain. Yang jelas Selina hanyalah masa lalu untuk Elvano, dan hubungan mereka sudah berakhir, sejak dua tahun yang lalu. Bahkan Elvano sering digosipkan dengan wanita lain setelahnya, namun Nayara tak pernah mendengar cerita itu secara langsung dari Elvano. Siang itu, mereka memutuskan keluar rumah. Tanpa pengawalan berlebihan. Tanpa kamera. Tanpa konten. Hanya makan siang sederhana di sebuah restoran yang berada didalam salah satu plaza terbesar dikota. Mereka duduk berhadapan, tertawa kecil, berbagi makanan. Sesekali Elvano menyuapi Nayara tanpa sadar, membuat gadis itu terkekeh malu. Dan dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan mereka. Wanita itu berdiri kaku di depan etalase toko, kantong belanja tergenggam erat. Rambut panjangnya tergerai rapi, wajahnya cantik namun dingin. ‘Selina’. Ia baru tiba pagi ini. Niatnya sederhana, sekadar membeli beberapa barang sebelum kembali ke apartemen. Namun takdir mempermainkannya. Tatapannya terkunci pada Elvano. Pria yang dulu begitu ia kenal. Dan wanita di hadapannya. Tangan Selina mengepal. Rahangnya mengeras. Ia pikir, berita kedekatan itu hanya gossip belaka seperti sebelum-sebelumnya, namun sepertinya itu lebih dari yang Ia bayangkan. “Jadi ini Nayara,” gumamnya pelan. Tatapannya sinis, penuh cemburu, seolah hendak melucuti Nayara dari kejauhan. Permainan baru saja dimulai. Selina menganggap jika Nayara tak pantas untuk bersaing dengannya, seperti yang dikatakan fans fanatiknya selama ini. Keduanya bagaikan langit dan bumi dimata orang-orang iri, yang tak ingin melihat kelebihan Nayara. Setelah selesai makan siang, Elvano mengantarkan Nayara pulang kerumahnya, dan melanjutkan perjalanan menuju kantornya, untuk melanjutkan beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Malam harinya, Elvano pulang kerumahnya. Senyuman mengembang diwajahnya, melihat gawai yang ada didalam genggamannya. “Aku baru sampai rumah, kamu sudah tidur?”
KONTRAK PERASAAN
Penulis
Arunaa
03 January 2026