Harlia pulang dari rumah sakit dengan satu kesimpulan penting. Tubuhnya sudah membaik, pusingnya berkurang, tapi keinginannya untuk menikah tidak sembuh.
Ia duduk di sofa ruang tamu, berselimut, memeluk bantal seperti anak kecil habis demam. Ibunya mondar-mandir sambil membawa segelas air hangat dan ekspresi waspada seperti sedang mengawasi bom waktu.
“Minum dulu,” kata ibunya.Harlia menyesap sedikit.
“Buuu…”
Ibunya menegang.
“Kalau mau nikah, ibu nggak mau denger.”
“Aku belum ngomong nikah,” protes Harlia.
Ibunya menyipitkan mata.
“Nada kamu itu udah ibu tandai.”
Harlia mendesah.
“Padahal aku cuma mikir.”
“Berhenti mikir,” kata ibunya cepat. “Dokter bilang kamu harus tenang.”
“Aku tenang,” jawab Harlia. “Aku cuma pengen nikah.”
Ibunya memejamkan mata. Gemes banget harus diapakan anaknya itu agar normal. Sejak kejadian di rumah sakit, ibunya tidak bisa lagi pura-pura itu cuma efek obat. Karena sekarang di rumah, tanpa infus, tanpa monitor, tanpa bau antiseptik, Harlia tetap konsisten.
“Bu,” panggil Harlia lagi lima menit kemudian.
“Apa?!" Ibunya menyahut jengkel.
“Kalau aku nikah, aku masih boleh tinggal di sini nggak?” tanya Harlia.
Ibunya berhenti menyapu.
“Kenapa?”
“Biar nggak kaget,” jawab Harlia.
Ibunya meletakkan sapu perlahan. Lalu mengatur napas dan emosi supaya bisa bicara pelan pada anaknya yang kalau dikerasi semakin menjadi.
“Harlia," sebutnya.
“Iya, Bu?"
“Kamu kenal Topan berapa lama?” tanya ibunya mau tidak mau harus membahas soal pemuda yang pengen dinikahin sama putrinya itu.
“Baru sebentar sih, Bu,” jawab Harlia jujur.
"Sebentar itu berapa?” tanya ibunya tidak puas dengan jawabannya.
“Semingguan.”
Ibunya tertawa kecil, tapi tajam.
“SEMINGGU?!!!!”
Harlia mengangguk.
“Tapi intens.”
Ibunya menepuk dada.
“Ibu rasanya mau pingsan.”
“Kok ibu jadi lebay, sih?"
“Yang lebay itu kamu!” bentak ibunya. “Baru seminggu kenal udah mau nikah!”
Harlia meringkuk.
“Aku udah 27 tahun, Bu.”
“Umur bukan alasan buat salah pilih!” balas ibunya.
Harlia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Berdebat dengan ibunya bakalan panjang, tapi ia butuh. Ia butuh persetujuan dari ibunya untuk mengizinkan nya menikah dengan Topan. Sementara itu, ibunya juga tampaknya menyerah berdebat langsung dengan Harlia.
Strategi berubah. Ibu Harlia masuk ke kamar, mengambil ponsel, lalu keluar dengan wajah tekad baja.
“Kamu diem di sini,” katanya. “Ibu mau nelpon ayah.”
Harlia langsung duduk tegak.
“Ayah pulang?”
“Sebentar lagi ayahmu akan pulang," jawab ibunya.
Harlia menelan ludah.
“Bu…”
“Diam!” sentak ibunya.
Setengah jam kemudian ayah Harlia pulang. Masih pakai kemeja kerja, wajah capek, tapi begitu melihat Harlia duduk manis di sofa, ekspresinya melembut.
“Lah, anak ayah udah pulang,” katanya. “Gimana? Udah enakan?”
Harlia tersenyum.
“Udah mendingan, Yah.”
Ibunya berdiri di samping ayahnya, dengan tangan menyilang.
“Ayah,” katanya, “anak kamu mau nikah.”
Ayah Harlia berhenti melepas sepatu.
“Ha?!”
Harlia melambaikan tangannya dan tersenyum nyengir pada ayahnya. Ayah Harlia menatap Harlia, lalu menatap istrinya.
“Nikah sama siapa?”
“Topan,” jawab ibunya ketus. “Cowok yang baru dikenal seminggu.”
Ayah mengangkat alis.
“Seminggu?”
“Tuh kan!” ibunya menunjuk. “Ayah juga kaget!”
Ayah duduk perlahan.
“Sebentar. Duduk semua!”
Mereka duduk bertiga. Harlia di tengah seperti biasanya.
“Har,” kata ayahnya lembut. “Kamu beneran mau nikah?”
Harlia mengangguk.
“Iya, Yah.”
“Kenapa?” ayahnya bertanya.
Harlia berpikir sebentar.
“Karena aku pengen punya partner.”
Ibunya mendengus.
“Partner apa? Main bulu tangkis?”
Ayah melirik istrinya.
“Dengerin dulu, Bu.”
Harlia melanjutkan, “Aku capek mikir sendirian, Yah.”
Ayah Harlia mengangguk pelan. Tidak langsung mengiyakan juga tidak melarang. Ia lebih fokus pada alasan putrinya yang tiba-tiba ingin menikah. Secara usia, memang putrinya sudah pantas untuk dinikahkan, tapi mendengar calon yang dipilih baru seminggu dikenal, ayah manapun pasti akan berpikir ribuan kali untuk bilang iya.
Ibunya memotong, “Semua orang juga capek, Har! Tapi nggak semua orang langsung nikah!”
Ayah mengangkat tangan.
“Tunggu, dulu! Ayah mau tanya." Ia menoleh ke Harlia. “Topan itu orangnya gimana?”
Harlia tersenyum kecil.
“Baik kok, Yah.”
“Kerja?”
“Ada,” jawab Harlia.
“Bertanggung jawab?”
Harlia mengangguk ragu.
“Kayaknya.”
Ibunya langsung menyambar.
“KAYAKNYA?!”
Ayah menghela napas.
“Ibu, jangan teriak. Ayah kaget.”
Ibunya berdiri.
“Ayah ini kenapa santai banget?”
Ayah mengangkat bahu.
“Karena nikah itu urusan anak juga, Bu."
“Anak kita gampang keGR-an!” balas ibunya.
Harlia protes pelan, “Ibu, ih! Aku denger ini loh!”
Ayah menatap Harlia lagi.
“Ayah nggak bilang setuju nikah sekarang.”
Ibunya langsung mengangguk puas.
“Tapi,” lanjut ayahnya, “Ayah juga nggak mau langsung nolak.”
Ibunya menoleh tajam.
“Ayah!”
Ayah Harlia memng lebih tenang ketimbang ibunya.
“Dengerin dulu, Bu....”
Ibunya berkacak pinggang.
“Kita belum tau cowok itu siapa?!!! Harlia juga, baru seminggu kenal.”
“Makanya kenalan,” jawab ayah Harlia, tapi langsung disambar oleh istrinya.
“KENAL BUKAN MAU LANGSUNG NIKAH!”
Ayah Harlia tersenyum tipis.
“Tapi niat nikah bikin orang lebih serius.”
Ibu Harlia terdiam.
“Itu teori siapa?”
“Pengalaman,” jawab ayah Harlia santai.
Ibunya terbelalak.
“Kita kenal berapa lama sebelum nikah?”
Ayah berpikir.
“Tiga bulan.”
Ibunya menunjuk.
“TUH!”
Ayah mengangkat jari.
“Dan ibu setuju.”
“Karena atah normal! Ayah belum lihat Topan Topan itu, sih!” balas ibunya.
Harlia duduk sebagai penonton. Namun ia berharap ayahnya menang debat dari ibunya. Dengan begitu kemungkinan diizinkan menikah lebih terbuka.
“Ibu nggak mau Harlia sakit lagi,” kata ibunya akhirnya, nada suaranya melembut. “Dia gampang kepikiran.”
Ayah Harlia mengangguk.
“Itu alasan bagus buat ditemani seseorang.”
“BUKAN DENGAN ORANG ASING!”
Ayah Harlia menatap putrinya.
“Topan udah ketemu keluarga?”
“Belum Yah,,” jawab Harlia.
Ayah Harlia mengangguk.
“Nah.”
Ibu Harlia menyela, “Ayah setuju apa nggak, sih?”
Ayah Harlia menarik napas panjang.
“Ayah setuju satu hal.”
Dua pasang mata menatapnya. Harlia dan ibunya. Ibu dan anak yang seperti sedang menunggu sebuah koin di lempar apakah kepala atau ekor yang akan muncul.
“Kita kenal dulu Topan,” kata ayah Harlia. “Baru kita bicara lebih jauh.”
Harlia bersinar.
“Beneran, Yah?”
Ibunya memutar mata.
“Itu bukan lampu hijau untuk nikah. Jangan kepedean!”
Ayah Harlia tersenyum.
“Itu lampu kuning.”
Harlia tersenyum lebar.
“Aku suka kuning!”
Ibu Harlia menatap Harlia serius.
“Ibu masih belum setuju.”
Harlia mengangguk.
“Aku tau.”
“Tapi kamu jangan merengek terus!" semprot ibunya.
Harlia berpikir.
“Aku bisa merengek pelan?”
Ibu Harlia hampir tertawa, lalu menahan diri.
“Kamu ini…!”
Ayah Harlia berdiri.
“Udah. Semua capek.”
Ia menepuk kepala Harlia.
“Kamu istirahat dulu.”
Harlia mengangguk. Kini tinggal ia pikirkan apakah Topan benar-benar bersedia untuk bertemu dengan ayah dan ibunya. Jika tidak, maka matilah sudah harapannya.
Saat ayah dan ibunya masuk kamar, Harlia kembali sendirian di ruang tamu. Ia memeluk bantal. Mendengar suara orang tuanya berdebat pelan di balik pintu. Tentang kesiapan. Tentang usia. Tentang risiko, dan seperti dulu, Harlia hanya bisa mendengar atau menonton.
Gadis itu bertanya dalam hati. Apakah keinginannya salah, atau hanya terlalu cepat untuk dunia yang selalu menyuruhnya menunggu?