Drama #Humor #kocak

Ujian Nasional Calon Mantu

03 January 2026

Menagih perkataan seorang pria. Harlia menghubungi Topan dan menyampaikan bahwa orangtuanya, terutama sang ayah ingin bertemu. Sudah terlambat untuk mundur, pria sejati harus tepati janji.

Maka dari itu, Topan yang mendapatkan undangan sowan ke rumah calon mertua, memantapkan hati untuk datang, seorang diri. Ya, hanya seorang diri.

Harlia: Pan, maaf ya. Mamaku galak, keras, pasti nanti kamu bakalan dicari-cari salahnya. Aku takut kamu nanti ilfeel sama hidupku.

Topan: Kenapa harus ilfeel? Kamu tahu nggak kenapa kamu kelihatan kuat? Karena kamu tumbuh di tempat yang keras, tapi hatimu tetap lembut.

Harlia: Aku takut kamu nanti nyerah… Aku takut kamu capek.

Topan: Aku bukan orang yang mudah menyerah. Kalau soal capek, capek itu kalau lari sendirian. Kalau gandengan sama kamu, yang ada malah pengen jalan lebih jauh.

Harlia tersenyum setiap membaca pesan balasan Topan yang optimis sundul langit. Namun begitu, tetap saja ibu dan ayahnya bukan orang yang mudah untuk dibujuk.

Finally, Topan datang tepat pukul empat sore. Tepat dalam arti terlalu tepat untuk seseorang yang gaya hidupnya selalu tampak seperti tidak mengenal jam dinding. Mobil yang ia kendarai berhenti persis di depan rumah Harlia. Mengkilap, hitam, dengan suara pintu yang klik-nya terdengar mahal. Topan keluar dengan kacamata hitam, sepatu mengkilap, jam tangan besar yang entah menunjukkan waktu atau sekadar pamer gengsi.

Harlia yang mengintip dari balik gorden hampir terjatuh. Tidak percaya akhirnya ada cowok yang datang ke rumahnya, selain tukang paket.

“Ya Allah,” gumam Harlia. “Dia kayak mau meeting direksi.”

Ibu Harlia yang berdiri di belakang langsung menyahut, “Atau mau pamer.”

Ayah Harlia duduk tenang di kursi tamu, tangan terlipat di perut. Ekspresinya datar dan tenang.

“Buka pintu,” kata ayah Harlia.

Harlia menelan ludah dan membuka pintu. Topan tersenyum lebar.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Harlia gugup.

Topan melangkah masuk, menyalami ayah Harlia dengan dua tangan, penuh hormat.

“Om,” sapanya.

Ayah Harlia mengangguk singkat.

“Silakan duduk.”

Ibu Harlia muncul dari dapur dengan senyum tipis yang lebih mirip garis peringatan.

“Minum?” tanyanya.

“Air putih aja, Tante,” jawab Topan ramah.

Ibu Harlia mengangguk.

“Bagus. Murah.”

Mereka duduk. Formasinya tegang. Ayah Harlia di satu sisi. Ibu Harlia di sisi lain. Sementara Topan di tengah. Harlia di ujung, seperti pot bunga hidup. Ayah Harlia membuka percakapan.

“Jadi… kamu Topan?”

“Iya, Om.”

“Kerja di mana?” tanya ayah Harlia.

Topan tersenyum.

“Saya entrepreneur, Om.”

Ibu Harlia langsung menyambar.

“Entrepreneur itu artinya ngapain?”

Topan tidak goyah.

“Bangun bisnis, Tante.”

“Bisnis apa?” ayah Harlia bertanya lagi.

“Beberapa,” jawab Topan santai.

Ayah Harlia mengangguk.

“Beberapa itu berapa?” tanya ibu Harlia.

Topan tersenyum lebih lebar.

“Tergantung sudut pandang, Tante.”

Ibu Harlia mendengus.

“Jawaban orang ngeles, tuh.”

Topan tertawa kecil.

“Saya terbiasa menjawab fleksibel, Tante.”

Ayah Harlia bersandar.

“Penghasilan per bulan?”

Harlia menahan napas. Ia malu dan tidak tega melihat Topan seperti sedang diospek. Ia juga takut setelah hari ini Topan akan kapok dan tidak jadi menikah dengannya. Untuk pertama kalinya, Harlia menganggap orangtuanya terlalu ketat.

Topan menatap ayah Harlia, lalu menjawab dengan nada mantap, “Fluktuatif, Om.”

Ibu Harlia menyela, “Kalau fluktuatif berarti nggak jelas.”

Topan mengangguk.

“Bisa dibilang begitu kalau dilihat secara konvensional, Tante.”

Ayah Harlia mengangkat alis.

“Kalau secara tidak konvensional?”

“Justru berkembang,” jawab Topan tanpa ragu. “Saya lebih fokus ke aset.”

Ibu Harlia menyipitkan mata.

“Aset apa?”

“Properti kecil, investasi, dan cashflow,” jawab Topan cepat.

Harlia melongo. Ia tidak tahu Topan bisa merangkai kata sekeren ini. Biasanya yang didengar adalah gombalan semata tapi membuatnya berbunga-bunga setiap hari.Ayah Harlia tampak tertarik.

“Properti di mana?”

Topan berpikir sepersekian detik. Lalu menjawab, “Beberapa titik strategis, Om.”

Ibu Harlia tertawa kecil.

“Strategis itu mana?”

Topan tersenyum.

“Yang orang lain belum lihat potensinya, Tante."

Ibu Harlia bertepuk tangan pelan.

“Wah, pintar ngomong.”

Berbeda dengan sang istri, Ayah Harlia tidak tersinggung. Ia malah tersenyum tipis.

“Topan,” kata ayah Harlia, “kamu tau nikah itu apa?”

Topan mengangguk serius.

“Komitmen jangka panjang, Om."

“Bukan cuma cinta,” tambah ayah Harlia.

“Betul, Om," jawab Topan. “Tanggung jawab finansial, emosional, dan spiritual.”

Ibu Harlia langsung memotong, “Kamu tau anak saya gampang kepikiran dan gampang laper?”

Topan menoleh ke Harlia sebentar.

“Saya tau, Tante.”

“Tau tapi mau?” ibu Harlia masih tidak yakin.

“Mau, Tante,” jawab Topan tegas.

Ayah Harlia menatapnya lama.

“Kalau suatu hari usaha kamu jatuh?”

Topan mengangguk.

“Saya bangun lagi, Om."

“Kalau gagal?”

“Saya belajar, Om."

“Kalau jatuh lagi?”

“Saya berdiri lagi, Om,” jawab Topan tanpa ragu.

Ibu Harlia mendecak.

“Jawaban buku motivasi juga kayak gitu.”

Topan tersenyum.

“Kadang hidup memang kayak kutipan, Tante.”

Ayah Harlia tertawa kecil.

“Berani juga kamu.”

Topan menunduk hormat.

“Karena saya serius, Om.”

Ibu Harlia menyilangkan tangan.

“Kamu datang ke sini sendirian?”

“Iya, Tante.”

“Keluarga kamu di mana?” selidik ibu Harlia.

Topan menarik napas.

“Orang tua saya di luar kota, Tante."

“Kok nggak diajak?” sinis ibu Harlia.

“Karena ini belum resmi,” jawab Topan jujur. “Saya datang untuk memperkenalkan diri.”

Ibu Harlia menatapnya tajam.

“Atau karena keluarga kamu nggak tau niat kamu?”

Topan tidak tersinggung.

“Keluarga saya tau saya lagi dekat dengan Harlia, Tante."

“Dekat dan hanya kenal baru seminggu itu beda,” balas ibu Harlia.

“Betul,” kata Topan. “Makanya saya di sini untuk lebih dekat lagi dengan Harlia juga dengan Om dan Tante.”

Ayah Harlia mengangguk.

“Setidaknya kamu punya nyali.”

Ibu Harlia mendengus.

“Atau pede berlebihan.”

Topan tersenyum.

“Saya lebih suka disebut yakin.”

Ayah Harlia berdiri.

“Topan, saya tanya terakhir.”

Topan ikut berdiri.

“Kalau kami bilang tidak?”

Harlia menegang.

Topan terdiam sejenak. Lalu berkata pelan, “Saya akan tetap menghormati.”

Ibu Harlia menatapnya curiga.

“Tapi?” tanya ayah Harlia.

“Tapi perasaan saya tidak berubah,” lanjut Topan. “Saya akan tetap serius, dengan atau tanpa restu, sambil terus berusaha mendapatkannya.”

Ruangan  menjadi sunyi.

Ibu Harlia menghela napas panjang.

“Kamu ini…”

Ayah Harlia tersenyum kecil.

“Menarik.”

Harlia menatap Topan dengan mata berkaca-kaca. Ayah menoleh ke istrinya.

“Bu, kita pikirkan.”

Ibu Harlia mengangguk kaku.

“Iya, Yah. Kita pikirkan dulu.”

Topan membungkuk hormat.

“Terima kasih sudah mau mendengar.”

Saat Topan melangkah keluar, ibu Harlia berbisik pelan, tapi cukup terdengar.

“Omongannya tinggi. Tinggal dibuktikan.”

Topan berhenti sejenak di pintu. Kemudian menoleh, lalu tersenyum.

“Siap, Tante.”

Pintu pun tertutup. Harlia menatap kedua orang tuanya. Tidak ada keputusan. Tidak ada jawaban. Hanya satu hal yang jelas....Topan baru saja menanam janji besar dan semua orang bertanya-tanya, apakah itu emas atau hanya kilau sesaat?