Rasanya Menjadi Milikmu-Bukan Tanda Damai-BAB 5

Penulis Ryukaze
12 September 2025

Ezra sudah berdiri tegak dengan setelan baru, dasi hitam terikat rapi di leher. Dia tampak seperti tidak pernah tidur sama sekali.

Dia harus bergegas, karena Nael pasti sudah menunggunya di lobi. Dan di sofa, Seira masih terbaring. Dressnya masih menempel,

rambutnya masih lembab. Tapi kali ini, bibirnya tersungging senyum kecil. Bukan senyum kemenangan, bukan juga kebahagiaan. Lebih seperti senyum yang memang dibuat sedemikian untuk mengesankan.

Karena meski dia berhasil menundukkan Ezra malam ini, tapi permainan ini belum selesai. Ezra baru saja merapikan manset di pergelangan tangannya, gerakan kecil yang terlatih. Tubuhnya kokoh, wajahnya tenang dengan sorot intimidatif, tetap dingin, seperti tak tersentuh oleh kelembutan malam.

“Aku pergi,” katanya akhirnya, suaranya dalam.

Seira yang terbaring di sofa mendongak. Rambutnya masih lembap, jatuh berantakan di bahu satin dress-nya. Senyum samar muncul di wajahnya, senyum yang terlalu terlatih untuk terlihat tulus. Ia bangkit perlahan, kakinya menapak marmer dengan suara nyaris tak terdengar.

Tanpa berkata apa-apa, ia menghampiri Ezra. Jemarinya terulur, merapikan kerah kemeja Ezra yang sebenarnya sudah sempurna. Seakan ia butuh alasan untuk menyentuhnya.

“Kau selalu terlihat menawan dengan kemeja dan jas,” ujarnya, nada suaranya manis namun samar menyimpan sesuatu yang lain.

Ezra hanya menatapnya. Senyum manis itu bukan tanda perdamaian, ia tahu.

Entah bagaimana, dalam benaknya, ada firasat pahit, begitu ia melangkah keluar dari penthouse ini, semua kembali ke mimpi buruk. Seira akan kembali menjadi Seira sang supermodel, dipuja, dielu-elukan, sibuk dengan sorotan kamera dan pesta, bukan lagi wanita yang tadi merendahkan diri hanya untuk sebuah kontrak.

Namun sebelum ia bisa menyingkir dari pikiran itu, Seira tiba-tiba meraih lehernya.

Tanpa peringatan, bibirnya menempel, memberikan ciuman dalam. Sentuhan yang bukan sekadar manis, melainkan sapuan yang panjang, berlapis, penuh nafsu yang samar-samar bercampur dengan putus asa. Bibirnya bergerak mengikuti lekuk bibir Ezra, seolah ingin mengukir jejak yang tak bisa dihapuskan.

Ezra terkejut sepersekian detik, tapi tubuhnya merespons otomatis. Tangannya melingkari pinggang Seira, menariknya lebih dekat. Ciuman itu berubah, dari sekadar sapuan, menjadi benturan rasa. Nafas keduanya bercampur, panas, intens.

Seira mendesah pelan, sementara Ezra menekan lebih dalam, memberi balasan sepadan. Selama beberapa menit, waktu berhenti lagi. Dunia hanya berisi mereka berdua, dua orang yang mencintai, membenci, saling menyakiti, dan entah mengapa tak bisa benar-benar melepaskan.

Namun, Ezra tak bisa lama-lama. Ada kewajiban yang menunggu, ada dunia yang lebih besar daripada permainan rumah tangga mereka.

Ia melepaskan diri perlahan. Seira menurut, meski matanya masih menyimpan kilatan liar.

Ezra mengangkat tangan, ibu jarinya menyusuri bibir istrinya, menghapus sisa kelembapan ciuman itu. Sentuhan kecil yang sejenak membuat mereka terasa begitu intim, meski keduanya tahu, itu hanya jeda singkat sebelum badai berikutnya.

Seira tersenyum lebar. Senyum yang begitu indah, seolah dia memang ia memenangkan sesuatu malam itu. Seira berdiri tegak, tetap anggun meski letih tak bisa disembunyikan. Ezra menatapnya sekali lagi, tanpa kata. Lalu ia berbalik, melangkah keluar.

Pintu penthouse terbuka. Ezra melangkah, tak lagi menoleh. Begitu pintu itu tertutup rapat, senyum Seira memudar perlahan. Dari lebar dan percaya diri, berubah menjadi tipis, lalu akhirnya lenyap. Yang tersisa hanyalah wajah lelah, mata sendu, dan tubuh yang kembali jatuh ke sofa, seakan semua energinya terkuras.

**

Lorong gedung sunyi. Hanya suara langkah sepatu Ezra yang bergema, teratur, penuh kuasa.

Di ujung lorong, Nael sudah berdiri menunggu.

“Sudah siap semua?” suara Ezra datar, nyaris seperti desisan angin.

“Mobil sudah menunggu,” jawab Nael, singkat.

Ezra mengangguk. Tanpa menoleh lagi ke belakang, ia dan Nael melangkah beriringan.

Pintu gedung terbuka otomatis, memperlihatkan mobil mewah hitam berkilau yang sudah siap. Lampu jalan menerpa bodi mobil, memantulkan bayangan dua pria yang kini bersiap meninggalkan negara.

Ezra membuka langkah lebih cepat, Nael setengah langkah di belakang. Tak ingin menduga apa yang terjadi hingga senyum miring Ezra itu muncul.

**

Lampu kota menembus dari jendela kaca setinggi langit-langit, menyusup masuk ke dalam penthouse yang terlalu hening. Seira berdiri sendirian, tubuhnya masih terbungkus dress satin yang tadi dia kenakan untuk Ezra. Aroma tubuh pria itu masih menempel di kulitnya, tetapi rasanya sudah semakin asing.

Dia menatap pantulan dirinya di kaca, sosok supermodel yang diagungkan banyak orang. Cantik, glamor, titisan bidadari, begitu orang-orang menyebutnya. Tapi di balik semua itu, matanya tampak sayu, dipenuhi letih yang bukan hanya fisik, melainkan batin. Seira mengembuskan napas panjang. “Ezra…” gumamnya pelan, nyaris tak bersuara.

Dia mencintai Ezra, dulu. Mungkin sampai sekarang pun cinta itu masih ada. Namun Ezra yang kini bersamanya bukan lagi pria yang dia kenal di awal pernikahan. Ezra terlalu sibuk dengan jadwal meeting, rapat, perjalanan bisnis lintas negara, tapi tetap menuntut Seira untuk selalu siap di sisinya setiap saat.

Ezra bisa memberi segalanya. Rumah mewah, mobil, berlian, bahkan dunia sekalipun. Namun di satu sisi, dia memperlakukan Seira seolah seorang boneka yang harus selalu ada kapan pun dia mau. Seira menggeleng pelan, jemarinya meraih ponsel yang sejak kehadiran Ezra tadi, ia biarkan tergeletak di meja. Layarnya berkilat terang dengan deretan notifikasi yang tak terhitung. Pesan menumpuk, panggilan tak terjawab, dan tentu saja, nama yang paling sering muncul. Filan.

Pria gemulai, asistennya, sekaligus teman dekat yang setia. Filan bukan hanya sekadar pengatur jadwal, tapi juga tempat Seira melampiaskan segala keluh kesahnya. Ia membuka pesan terakhir:

[Bagaimana, sayang? Apa kau berhasil membujuk Ezra untuk mengembalikan kontrak itu?] Seira tidak membalas. Tidak ada tenaga untuk menulis sepatah kata pun. Ia langsung menekan tombol panggil. Nada tunggu berdering beberapa kali, sampai akhirnya suara khas Filan yang lembut, sedikit serak, menjawab.

[Gimana, darling?] suara itu terdengar bersemangat, meski sedikit khawatir.

Seira menutup mata sejenak, menahan rasa sesak di dadanya sebelum menjawab, “Ezra akan mengembalikan… tapi aku harus menunggu.”

Keheningan singkat, lalu terdengar desahan kesal dari ujung sana. [Ya Tuhan, lelaki itu keras kepala sekali. Kau istrinya, bukan anak buahnya. Kenapa harus seperti ini? Kalau saja aku bisa..]

“Filan…” Seira memotong dengan suara lirih, “kau tahu aku sudah terlalu lelah berdebat dengannya. Kalau dia bilang tunggu, maka aku harus tunggu.”

Filan mengomel kecil, nada gemulai bercampur frustasi. [Lelah? Darling, aku yang hanya mendengar ceritamu saja bisa pusing, apalagi kau yang harus menjalaninya langsung. Kau bisa mendapatkan semua ini tanpa harus jadi tawanan Ezra, tahu?]

Seira menatap langit-langit, merasakan getir di tenggorokannya.

“Dia suamiku.”

[Ya, suamimu yang memperlakukanmu seakan kau kepemilikannya semata,] Filan membalas cepat. [Darling, cinta seharusnya bukan soal kuasa.] Seira terdiam. Ia tidak bisa menyangkal, tapi hatinya tetap saja enggan mendengar kebenaran yang pahit itu.

[Bagaimana dengan tawaran dari Itali?] suara Filan terdengar hati-hati, seolah ia tahu pertanyaan ini akan membuat Seira semakin bimbang.

Seira membuka matanya. Tatapannya kosong menembus jendela. Tawaran itu masih terngiang di kepalanya, sebuah proyek besar, pemotretan eksklusif untuk lini fashion internasional. Ini bukan sekadar job biasa. Ini batu loncatan. Kesempatan untuk benar-benar mencetak namanya di panggung dunia.

Namun… Ezra.

[Seira sayang?] Filan memanggil lembut.

“Aku tidak yakin…” jawabnya akhirnya, pelan. “Kau tahu Ezra. Dia tidak akan pernah mengizinkanku pergi sejauh itu. Aku ada di kota yang sama, masih bisa bertemu saja, dia bisa marah. Lebih dari itu… ada permintaan khusus disana yang aku bisa jamin, Ezra akan marah besar jika mengetahui aku menerimanya.”

[Lalu kau mau menyerah begitu saja?, ini Milan.. Italy. Ini panggung dunia. Setiap model bermimpi mendapatkan kesempatan seperti ini. Kau sudah terlalu lama bekerja keras, melewati audisi, penolakan, gosip, bahkan pengorbanan pribadi. Jangan biarkan Ezra merampas ini darimu.]

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Seira  menggigit bibir bawahnya. Hatinya berdegup kencang. Filan benar. Dia menginginkan ini. Sejak dulu. Ini impian masa kecilnya. Bukan sekadar soal uang, bukan soal ketenaran, tapi pembuktian dirinya sendiri.

“Aku…” Seira terdiam, lalu menarik napas dalam-dalam. “Aku setuju.”

Filan langsung bersuara nyaring, hampir seperti jeritan lega. [Yes! Darling, akhirnya kau mendengar kata hatimu juga!]

“Tapi…” Seira cepat menambahkan. “Kita harus merahasiakan ini dari Ezra.”

Ujung sana hening beberapa detik. Suara Filan merendah, terdengar gelisah. [Darling? Aku tahu itu keputusan sulit, tapi merahasiakan sesuatu dari suami sekeras Ezra Xavier… itu bukan permainan mudah.]

“Aku tahu.” Seira menatap dirinya di kaca lagi. Senyum tipis muncul, tapi matanya masih berkilat sendu. “Tapi aku ini bukan tentang dia saja. Ini mimpiku.”

Filan mengembuskan napas panjang, pasrah. [Baiklah. Kalau itu keputusanmu, aku akan dukung. Tapi berjanjilah… hati-hati. Dunia model memang kejam, tapi Ezra kelihatan bisa jauh lebih kejam.]

Seira menutup panggilan setelah ucapan pamit singkat. Dia meletakkan ponsel kembali ke meja. Kedua tangannya terlipat di dada, tubuhnya bersandar ke dinding kaca. Di luar sana, lampu-lampu kota terus berkelip, seolah ikut mengawasi kebimbangannya.

**