Aku Ini Istri atau Budak?

Penulis tyaprajana
30 December 2025

Regina dan Henry tiba di kantor pendaftaran pernikahan, disambut oleh banyaknya pertanyaan yang tertangkap telinga mereka. Sorot kamera dan mikrofon terarah pada mereka.

"Apa kalian datang untuk mendaftarkan pernikahan?"

"Apa benar kalian sebenarnya telah menikah sejak muda, tetapi kenapa kalian tidak segera mendaftarkan pernikahan?"

"Kenapa kalian menyembunyikan hubungan kalian?"

Regina dan Henry tidak punya waktu untuk berpikir alasan apa yang tepat untuk menjawabnya. Namun, ada satu pertanyaan yang menarik perhatian Regina "Nyonya, apa dress yang anda gunakan adalah rancangan Nyonya Jian? Apa ibu mertua anda membuatnya secara khusus?"

Ini memberikan kejutan besar bagi Regina yang membuatnya tidak bisa berhenti berpikir. Ada banyak pertanyaan yang ada di kepalanya. Apalagi, dia ingat dengan apa yang dikatakan oleh Nyonya Jian di sebuah wawancara.

Henry menanggapi para wartawan yang berisik itu, "Maaf, kami akan mengadakan konferensi press nanti. Saat ini, kami harus segera masuk dan mendaftarkan pernikahan kami." Henry mengenggam erat tangan Regina. Mereka menerobos kerumunan para wartawan yang begitu antusias.

"Akhirnya kita bisa lepas dari mereka. " Henry langsung melepaskan genggaman tangannya tepat setelah mereka masuk dan menghindar dari wartawan.

Dia menoleh ke arah Regina yang berdiri diam dengan pandangan kosong. Henry menepuk punggungnya. "Apa kau terlalu terkejut sampai seperti ini? Aku yakin kau pasti sudah sering menghadapi para wartawan bukan?"

Regina tersadar dari lamunannya."Aku seorang pimpinan perusahaan bukan seorang artis , bagaimana aku terbiasa?" Regina balas menyindir Henry, "Aku tidak sepertimu yang sering muncul di surat kabar dengan banyak pemberitaan. "

"Kau bahkan memperhatikan hal itu. Istriku, apa kau sebenarnya penggemarku, jangan katakan bahwa istriku membaca semua isi artikel tentangku."

"Itu tidak penting. " Regina tentu saja mengumpulkan segala informasi untuk mencari kelemahan pria ini. Bukankah kau harus mencari tahu musuh sebelum berperang.

Regina kembali memikirkan sesuatu yang menganggunya. Awalnya dia ingin menyimpannya, tapi dia tidak tahan dengan rasa penasarannya yang kuat. "Henry, apa pakaian yang aku pakai ini benar-benar di desain oleh Nyonya Jian? Aku mendengar seorang wartawan mengatakan itu."

Henry menganggukkan kepalanya.

"Apa kau menyiapkan pakaian ini untukku agar menunjukkan hubungan dekatku dengan Nyonya Jian, ya? Namun, aku bahkan belum bertemu dengan orang tuamu."

"Tidak perlu memikirkan itu. Kau tidak perlu menemui keluargaku, setidaknya untuk saat ini," ucap Henry dengan ekspresi datar.

"Kenapa?" Regina mengerutkan keningnya.

"Keluarkan saja berkasnya, kita harus segera mengurus surat nikah kita." Henry mengalihkan pembicaraan. Dia terlihat menghindari pertanyaan tentang ini.

Mereka mengurus pemberkasan dengan cepat dan dalam sekejap surat nikah berada di tangan mereka. Henry mengulurkan tangan pada Regina.

"Pegang tanganku, kita akan melewati para wartawan lagi."

"Apa kau akan menjawab pertanyaan mereka?" tanya Regina.

"Kita akan terlambat jika menjawab pertanyaan tanpa henti." Henry langsung meraih tangan Regina dan kembali menggenggamnya dengan erat.

Mereka melewati para wartawan dengan susah payah. Henry membuka pintu mobil untuk Regina, lalu masuk ke dalam kursi kemudi. Henry melakukan mobilnya meninggalkan parkiran dan wartawan yang merasa kecewa.

Henry memulai pembicaraan. "Hasil tes DNA akan segera keluar."

"Apa hasilnya akan valid jika kau memaksa mereka secepat ini?"

"Tentu saja. Aku sudah membayar mahal untuk itu. Jika sampai hasilnya buruk, aku akan membuat petugas lab itu dipecat!"

"Pria kejam, tapi tegas. Aku juga akan menjemputmu nanti. Kirim pesan padaku jika pekerjaanmu sudah selesai."

Regina menolak, "Tidak perlu menjemput, aku akan lembur hari ini."

"Orang akan curiga tentang hubungan kita jika kau tidak pulang ke rumah. Saat aku selesai dan datang menjemput, kau sudah harus keluar."

"Bagaimana jika aku tidak mau?"

"Aku akan menyeretmu keluar," ucap Henry tanpa ekspresi.

"Kau terlalu berlebihan. Itu pemaksaan namanya. Henry, kau bertingkah tidak adil sejak aku menandatangani kontrak, kau seperti mengendalikanku. Sebenarnya aku ini istri atau seorang budak yang harus tunduk padamu?" Regina mulai mengeluarkan pemikirannya. Dia tidak bisa melakukannya apapun yang dia inginkan. "Aku bahkan tidak mendapatkan keuntungan darimu."

Jika seperti ini apa gunanya dia terbebas dari keluarga Tan? Pada akhirnya pria ini juga mengendalikannya. Bagi Regina, dikendalikan dan ditundukkan secara paksa oleh musuhnya.

Henry menghela nafas, lalu menyetir mobil ke arah pinggir jalan.

"Aku akan turun di sini!" Regina membuka pintu, tapi tidak bisa.

Mata cokelat dengan bulu lentik alami memutar ke arah pria yang menunjukkan wajah santai. "Henry, kau mengunci pintunya?"

"Ya. Tetap duduk diam dan tenang. Aku ingin membicarakan sesuatu padamu. Kita selesaikan pemikiran negatifmu tentangku."

Henry menatap ke arah Regina dengan ekspresi serius. Dia mengambil dompet dari kantongnya. Ada beberapa kartu dan uang cash yang tersimpan. Tangannya mengambil salah satu kartu berwarna hitam. "Ambil ini! Karena kau istriku, aku akan memberikan padamu uang yang aku miliki."

Regina tidak langsung menerimanya. Dia selalu waspada terhadap setiap tindakan Henry. "Ada apa denganmu tiba-tiba? Apa ini semacam sogokan?"

Henry menarik telapak tangan Regina dan meletakan kartu itu. "Pin nya ada di belakang kartu. Kau bisa menggunakannya, itu adalah keuntungan menjadi istriku. Bukankah tadi kau mengatakan tidak mendapatkan keuntungan dalam perjanjian ini, kan?"

"Aku tidak butuh uangmu!"

"Ambil saja! Aku tidak mau orang akan menganggap suami yang pelit karena membiarkan istriku menggunakan uangnya sendiri. Ini salah satu bagian menunjukkan hubungan istimewa kita."

"Jangan marah jika aku menghabiskannya," ucap Regina akhirnya menyimpannya. Dia pasti akan membuat Henry bangkrut.

Henry justru tersenyum. "Lakukan saja apa yang kau mau. Aku akan menagih uang yang kau gunakan dan menganggapnya utang."

"Apa? Ini sebuah jebakan. Kau hanya ingin tampil baik di publik?" Regina yang awalnya senang kembali menjadi muram.

"Tentu saja. Bukankah ini tujuan hubungan kita? Regina, aku tidak menuntutmu untuk benar-benar menjadi istri yang baik, tapi jangan kacaukan sandiwara kita di luar."

Regina mengangguk. "Aku mengerti. Sekarang, apa aku bisa keluar?"

Mereka sebenarnya sudah sampai di depan perusahaan yang dikelola oleh Regina.

"Ada satu lagi yang harus kau lakukan."

"Apa lagi?"

Henry mendekatkan wajahnya ke wajah Regina. Begitu dekat bahkan membuat mereka dapat merasakan deru nafas masing-masing. Bibir mereka hampir saja saling bersentuhan.

Tangan Regina berusaha untuk mendorong tubuh pria ini. Namun, tangannya justru di tahan. Tanpa sadar Regina menutup matanya dengan pasrah.

Senyum terukir di wajah Henry. Lalu dia semakin mempersempit jarak antar bibir mereka hingga dalam selangkah mereka dapat bersatu. Kedua tangan Henry menyentuh kedua pipinya.

Regina merasakan sesuatu yang aneh. Matanya sedikit melebar melihat ke arah Henry yang memenangkan matanya. "Henry Jian benar-benar pemain terbaik, " pikirnya.