"Kau bisa pergi sekarang! Ini akan menjadi bukti hubungan kita, " desak Henry marik tubuhnya menjauh dan melebarkan jarak antara mereka. "Kau bisa membuka pintunya sekarang."
Regina memandang pria yang bahkan tidak memiliki penyesalan apapun. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-katanya tersangkut dalam tenggorokan. Tidak jelas mengapa perasaan kacau ini muncul yang menimbulkan kemarahan dalam hatinya.
"Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Henry melirik ke arah Regina yang tidak bergerak sedikitpun.
Regina hanya diam, melangkah keluar dari mobil dengan perasaan geram. Tidak lupa dia membanting pintu dengan keras. Regina menoleh ke arah kaca mobil, melihat ekspresi kesal dari wajah Henry, perasaan sedikit puas menjalar di hatinya.
Regina melangkahkan kaki dengan pandangan lurus, dia menyadari karyawannya yang menatapnya. Sepertinya tujuan Henry telah tercapai untuk menimbulkan gosip tentangnya. Ingatan tentang ciuman yang dibicarakan orang-orang membuatnya terganggu, bahkan saat dia berada di ruangan dan mulai kesulitan berkonsentrasi memeriksa dokumen.
Pikiran itu menguasainya, tanpa sadar Regina menyentuh bibir. "Tidak, kenapa aku memikirkan ini sekarang? Itu tidak seperti bahwa aku dan dia benar-benar berciuman."
Regina teringat dengan trik Henry yang memberikan jarak pada bibir mereka agar seolah mereka benar-benar berciuman. Seharusnya lega dengan hal itu, tapi kenapa ada rasa kecewa saat itu. "Regina, jangan memikirkan tentang itu, Ini hanyalah sandiwara! Aku harus tetap berpikir lurus."
Di dalam rumah besar milik Henry, seorang anak laki-laki mendekati kepala pelayan yang sedang memberikan arahan pada pelayan.
"Paman, bolehkah aku meminta bantuanmu?" ucap Kevin dengan mata penuh harap.
"Apa yang anda butuhkan, Tuan Muda?" tanya kepala pelayan dengan sopan.
"Paman, bisakah berjongkok? Aku tidak ingin mengatakan sesuatu. Ini adalah rahasia kita."
Kepala pelayan menuruti perintah dari anak Tuannya itu. Kevin mulai membisikkan sesuatu. Terlihat keraguan dari wajah pria berusia 40an itu.
"Apa ini tidak akan menjadi masalah? Kenapa kita tidak berkonsultasi dengan Tuan Henry terlebih dahulu?"
"Kepala Pelayan, aku akan menanggung risiko dari masalah yang ditimbulkan. Aku tidak bisa melakukan sendiri tanpa bantuanmu. Aku mohon!" Melihat tatapan mata polos penuh harap membuat kepala pelayan sulit menolak.
"CEO Tan, ada kiriman makanan untuk Anda dan juga terima kasih karena kami mendapatkan sarapan gratis berkat Anda," sapa Sekertarisnya datang memberikan kantong makanan.
"Aku tidak memesannya. Kembalikan saja."
"Tapi, pengantar bilang ini dipesan khusus untuk Anda, dari CEO Jian."
"Berikan padaku, kau bisa pergi."
Sekertaris itu meletakkannya di atas meja. "Betapa menyenangkannya punya suami kaya dan perhatian. CEO Tan sangat beruntung ya."
Regina tidak menanggapinya. Tatapannya tertuju pada logo di tas kemasan makanan ini . Dia mengenali jika makanan ini berasal dari restoran milik keluarga Jian yang memiliki harga tinggi. "Kenapa Henry sampai melakukan sejauh ini?"
Regina mengambil ponselnya dan menghubungi pria itu. "Hallo," suara rendah dan manly terdengar di speaker ponselnya.
"Berapa biayanya?"
"Huh? Apa yang kau bicarakan?" tanya Henry.
"Kau mengirimkan makanan dari restoran mu padaku dan para karyawan di kantor. Aku tahu itu tidaklah gratis, kan? Kirim saja total tagihannya, aku akan mentransfernya."
"Tidak perlu, uang yang sedikit itu tidak berharga bagiku. Nanti ketika jam makan siang, aku akan menjemputmu."
"Aku tidak bisa pergi ada-- Hallo, Henry" Panggilan terputus. Sebelum Regina mengirimkannya, ada pesan masuk dari Henry. "Tidak ada penolakan. Jika kau ingin membayar biaya sarapan yang aku kirim, kau hanya perlu menemaniku siang ini."
"Sudah aku duga, Henry tidak akan memberikan secara cuma-cuma. " Regina menatap layar ponselnya dengan rasa penasaran "Apa yang sebenarnya pria itu rencanakan?" pikir Regina, sambil menggigit bibir bawahnya, mencoba menghilangkan kebingungannya.
Pada saat jam makan siang, Regina dengan terburu-buru keluar dari gedung perusahaan dan masuk ke dalam mobil yang dia kenali.
Pria di kursi pengemudi memasang wajah muram. "Kau terlambat 10 menit."
"Aku sangat sibuk. Butuh waktu untuk menyelesaikan pekerjaanku. Kenapa kau mengajakku pergi ke luar?" tanya Regina.
"Sebelum menanyakannya, bukankah kau seharusnya minta maaf karena terlambat datang?" tegur Henry.
"Henry, aku tidak menjanjikannya dan juga kau mengajak keluar lebih awal dari jam makan siang. Jika ada yang perlu di salahkan, maka itu kau."
"Regina, aku sudah mengundangmu lebih awal."
"Henry Miller Jian, jika kau mengajakku keluar hanya untuk berdebat, aku lebih baik kembali."
Henry langsung melajukan mobilnya tanpa Regina sempat keluar dari mobil. Suasana diantara mereka menjadi tegang.
Henry memulai pembicaraan, "Aku tidak pernah menunggu seorang wanita. Biasanya mereka yang datang lebih cepat dan rela menunggu selama berjam-jam. Regina, kau beruntung mendapatkan perlakuan istimewa dariku."
"Em," Regina hanya menjawab dengan singkat.
"Regina Grace Tan, apa seperti ini responmu?"
Regina dengan malas memutar pandangan ke arah Henry. "Lalu kau ingin aku bagaimana? Kau tidak berpikir aku akan berteriak dengan bahagia lalu memamerkannya di sosial media dengan status penuh antusias mengatakan perlakuan istimewa dari seorang Henry Jian?"
"Aku tidak keberatan jika kau melakukannya. Ini akan membantu untuk menunjukkan bahwa kita saling mencintai."
"Kau saja yang melakukannya. Aku bukan tipe wanita yang akan pamer pada hal semacam itu."
"Kau benar-benar patner yang buruk dalam menjalin hubungan ya, pantas saja tidak ada yang mau berkencan denganmu."
"Aku menang buruk, salahmu sendiri memilihku." Regina kembali membuang muka. "Seharusnya kau meminta anak itu mengakui wanita cantik dan agresif seperti mantan-mantanmu, jadi kau tidak perlu terlibat denganku."
"Kau juga cantik."
Regina kembali menoleh. Namun, dia dikecewakan dengan lanjutan perkataan pria itu. "Hanya saja kau tidak terlalu menarik."
"Terima kasih atas pujiannya," ucap Regina dengan ketus.
Mobil itu berhenti di sebuah tempat parkir pusat perbelanjaan. "Kau mengajakku keluar hanya untuk berbelanja?"
"Ya. Bukankah kau memerlukan perlengkapan wanita dan juga pakaian? Anak itu juga, aku tidak mungkin berbelanja sendiri untuk hal seperti ini."
"Aku tidak perlu pakaian baru. Aku memiliki beberapa pakaian di kantor dan aku juga akan meminta orang mengambil pakaianku."
"Pakaianmu yang buruk itu buang saja, lagipula semua terlihat kuno." Henry keluar dari mobil tanpa menunggu tanggapan Regina tentang hinaannya itu.
Saat Regina membuka pintu untuk keluar. Wanita itu menunjukkan ekspresi yang lebih dingin dari biasanya. "Henry, apa yang kau bisa katakan hanyalah--"
Henry mendekat dan menarik Regina kedalam pelukannya. Jari telunjuk yang lembut itu menempel di bibirnya. Regina pikir, Henry akan menggunakan trik yang sama untuk menciumnya, tetapi Regina tidak pernah bisa menebak jalan pemikiran seorang pemain sandiwara profesional seperti Henry.
Meskipun tidak ada pergerakan, tatapan Henry yang begitu lembut dan intim ini membuat jantung Regina berdebar cepat. "Kenapa kau?"
"Ssst, wanita itu mendekat."
Suara seorang wanita tiba-tiba saja terdengar memanggil dengan akrab, "Henry."