10 Keputusan Tepat Untuk Mengikatmu

Penulis tyaprajana
30 December 2025

Wanita itu menarik tubuh Henry menjauh dari Regina. Regina dapat melihat wanita yang dari raut wajahnya terlihat setidaknya berusia lebih dari 40 tahun. "Henry ikut denganku!"

Wanita itu menarik tangan Henry dengan keras.

"Aku tidak bisa meninggalkan istriku, kita akan bicara lain kali." Henry menepis tangan wanita itu. Wanita itu kembali lagi memegang tangannya dan mengernyitkan kening, terlihat kesal, "Aku tidak akan melepaskanmu kali ini."

Regina dapat melihat obsesi dari tatapan mata wanita ini. Tanpa sadar lengannya merangkul lengan Henry dengan posesif. "Maaf, bibi. Aku tidak bisa membiarkan suamiku berbicara hanya berdua dengan wanita lain. Bisakah kau tidak menganggu suamiku?"

Henry merespon tindakan Regina dengan cepat dan secara alami memainkan perannya. Tangannya kembali menepis tangan wanita lain itu untuk kedua kalinya dan merangkul Regina dengan cara yang begitu intim. "Istriku sayang, aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau sukai." Suaranya begitu lembut penuh kasih sayang.

Siapapun yang melihat akan merasakan Henry begitu mencintai istrinya. Sangat jarang bagi seorang Henry Jian untuk begitu lembut dan penuh perhatian. Wanita itu menjadi semakin geram dan menatap Regina dengan tidak suka. "Aku tidak mengira kalian adalah pasangan pengantin yang saling mencintai dan tidak terlalu lengket."

Wanita itu memberikan cibiran yang membuat Regina terkejut, "Tapi terlalu posesif bahkan tidak memperbolehkan seorang keponakan bicara pada tante nya, itu bukan hal yang bagus."

"Henry, kau tidak mengatakan kalau dia adalah kerabatmu?" Regina menatap mereka secara bergantian. Dia merasa malu karena sudah salah sangka. Meskipun ada sesuatu yang aneh dari hubungan mereka berdua.

Henry menghela nafas. "Dia adik angkat mamaku."

"Kenapa kau memperkenalkanku seperti itu. Aku sudah seperti keluarga. Henry, apa kakak bahkan setuju dengan pernikahan kalian berdua?"

"Bibi, itu urusanku, kenapa kau harus ikut campur? Regina, abaikan saja dia." Henry melangkah menjauh dari wanita yang memanggilnya dengan penuh kemarahan.

Regina bisa saja memanfaatkan ini untuk mencari tahu lebih lanjut dan membeberkan informasi untuk menghancurkan Henry, tetepi bibirnya justru terkunci dan ada perasaan tertekan melihat ekspresi Henry yang lebih dingin dari biasanya.

Regina hanya berjalan mengikuti kemanapun langkah Henry. Pria itu berhenti berjalan saat mereka menaiki tangga eskalator. "Apa kau tidak ingin bertanya tentang masalahku dan wanita itu?"

"Itu adalah urusan pribadimu. Aku tidak punya hak untuk mencari tahu."

Henry tersenyum. "Bahkan jika hal ini adalah kelemahanku yang dapat kau manfaatkan? Kau sungguh tidak ingin tahu?"

Regina menatap Henry dengan tegas, "Saat ini kita berada di kapal yang sama. Jika kau hancur maka aku juga akan hancur. Anggap saja ini sebagai balas budi karena kau telah membantuku saat itu."

Henry melepaskan rangkulannya dan menggenggam tangannya dengan erat. "Sepertinya keputusanku tepat untuk mengikatmu dalam hubungan ini. Hari ini, aku akan memberikan apapun yang kau mau."

"Jangan tarik ucapanmu," ucap Regina penuh penekanan.

Mereka memulai untuk berbelanja, beberapa orang melihat ke arah mereka dan diam-diam mengambil foto. Regina sedikit tidak nyaman dengan perhatian ini. Henry berbisik ke telinganya. "Biarkan saja, kau tidak mau mengunggah ke sosial media, kan? Mereka akan melakukannya untuk kita dan ini akan lebih menguntungkan untuk penyebaran hubungan kita."

Henry menarik tangan Regina menunju ke toko pakaian anak-anak. "Apa kau tahu ukurannya?" tanya Regina.

Henry menggeleng kepalanya. "Aku akan menghubungi kepala pelayan untuk menanyakan ukurannya. Tunggu di sini."

Regina merasa bosan, dia berkeliling melihat pakaian anak-anak. Saat melihat pakaian anak perempuan yang cantik, dia teringat tentang masa kecilnya.

Dia tidak pernah memilih pakaian apa yang disukainya. Regina merenung sejenak, mengingat masa kecilnya yang menyedihkan. Pakaian yang dia gunakan adalah pakaian yang sesuai dengan selera Mamanya dan hanya menggunakan warna yang disukai oleh Mamanya. Regina tidak yakin sekarang warna dan model seperti apa yang benar-benar dia sukai.

Henry menepuk pundak Regina. "Kenapa kau di sini? Anak itu laki-laki, kau tidak berencana mendandaninya sebagai anak perempuan, kan?" tanya Henry dengan curiga.

Regina menggeleng. "Aku hanya melihat secara acak saja dan pakaian ini terlihat bagus."

"Kau bisa mengambilnya, mungkin saja kita akan memiliki anak perempuan."

Regina justru tersenyum sinis, "Itu tidak mungkin. Hubungan kita tidak akan sampai sejauh itu."

"Mungkin saja hubungan kita bisa berubah," ucap Henry dengan pelan.

Regina mengalihkan pembicaraan. "Apa kau sudah mendapatkan ukurannya?"

Henry mengangguk. "Kalau begitu, ayo kita pilih pakaian untuk Kevin

Regina melewati pakaian anak perempuan dan mulai untuk melihat pakaian anak laki-laki. Regina memilih dengan cermat pakaian anak laki-laki yang tampak stylish dan nyaman.

"Nyonya, anda memiliki penglihatan yang bagus. Ini adalah model pakaian yang sedang Trend tahun ini. Jika boleh tahu berapa ukuran anak Anda?"

Henry menyebutkannya dan pramuniaga itu membantu untuk memilihkan pakaian yang sesuai dengan ukuran. "Bagaimana dengan pakaian ini? Ukurannya sesuai dengan ukuran anak Anda?"

"Tidak terlalu buruk. Aku akan mengambilnya dan siapkan semua pakaian dengan ukuran sama, aku akan membeli semuanya," ucap Henry.

"Suamiku, apa kau tidak membuang terlalu banyak uang? Membeli semuanya itu pemborosan," ucap Regina memberikan teguran. "Apa di kamarnya ada banyak ruang untuk menyimpannya? Pilih saja secukupnya."

"Kita tidak kekurangan uang hingga harus berhemat, jika tidak ada ruangan di kamar, bisa gunakan kamar lain. Tolong pilih semua pakaian yang bagus dan nyaman. Aku akan membayar semuanya."

"Tentu saja, saya akan menyiapkannya." pramuniaga itu merasa senang dan langsung menyiapkan semuanya.

"Jangan iri pada Kevin, aku akan membelikan lebih banyak pakaian untukmu juga!"

"Aku tidak butuh banyak barang. Saat aku berbelanja nanti aku harap kau tidak ikut campur dengan apa yang aku putuskan."

Henry membayar semuanya dan meminta mereka mengirim ke alamatnya. Mereka berdua pergi ke toko pakaian wanita dewasa.

"Hei, Regina, kenapa kau tidak membeli pakaian ini? Aku ingin kau menggunakannya sebelum tidur," ucap Henry mengambil sebuah pakaian berlengan tali tipis dengan ukuran panjang yang cukup pendek.

"Kau bilang aku memiliki pinggang yang setipis kertas, pakaian seperti ini tidak cocok untukku."

"Coba saja dulu, mungkin aku akan berubah pikiran." Henry memberikan senyuman nakal.

Regina tersenyum, "Tapi aku tidak ingin memakainya dan juga bisakah suami menunggu dengan tenang dan biarkan aku memilih pakaian sendiri."

Ponsel Regina bergetar. Dia mengambil ponselnya pandangannya terlihat ragu saat melihat nama si penelpon.

"Ada apa?" tanya Henry.

"Aku akan menjawab telepon." Regina berjalan menjauh. Dia dengan ragu menekan tombol hijau.

Suara kemarahan yang begitu keras langsung masuk ke dalam telinganya. "Regina, di mana kau sekarang?"