Tamu di Kamar Sebelah

03 January 2026

Dinginnya marmer lantai kamar mandi tidak sebanding dengan dingin yang merambat di punggung Dinara Kirana. Ia berdiri mematung di depan cermin, menatap lebam kemerahan di pangkal lehernya. Itu bukan tanda cinta. Itu adalah tanda kepemilikan yang ditinggalkan Rendra Pratama semalam, sebuah peringatan bisu bahwa Dinara adalah propertinya yang paling berharga.

"Dinara, sayang? Kenapa lama sekali?"

Suara berat itu terdengar tepat di balik pintu. Dinara tersentak, segera menarik kerah jubah mandinya lebih tinggi. Ia mengatur napas, mencoba menghilangkan gurat ketakutan dari wajahnya sebelum memutar kunci.

Rendra berdiri di sana dengan setelan jas mahal yang sempurna. Pria itu tampan, mapan, dan sangat memuja istrinya. Namun, bagi Dinara, tatapan mata Rendra lebih mirip seorang sipir yang memeriksa sel penjara.

"Hanya sedikit pusing, Mas," jawab Dinara pelan.

Rendra melangkah maju, mempersempit jarak hingga Dinara bisa mencium aroma parfum kayu cendana yang tajam. Tangan besar Rendra naik, membelai pipi Dinara dengan ibu jari yang kasar.

"Pusing atau mencoba menghindariku? Kau tahu aku tidak suka menunggu, Dinara. Apalagi hari ini Bima akan mulai tinggal di sini. Aku ingin kita menyambutnya dengan pantas."

Rendra menarik dagu Dinara, memaksanya mendongak.

"Ingat satu hal. Bima adalah sahabat terbaikku. Tapi dia tetaplah seorang pria. Aku tidak ingin kau keluar kamar dengan pakaian yang kurang bahan selama dia ada di sini. Kau mengerti?"

Dinara mengangguk patuh. "Iya, Mas. Aku mengerti."

"Pintar," bisik Rendra sebelum mendaratkan ciuman menuntut di dahi istrinya.

Suasana sarapan pagi itu terasa mencekik bagi Dinara. Di seberang meja, duduk seorang pria yang menjadi alasan detak jantungnya tidak beraturan sejak sepuluh menit yang lalu. Bima Aditya.

Bima terlihat jauh berbeda dari ingatan terakhir Dinara lima tahun lalu. Rambutnya sedikit berantakan, kulitnya lebih gelap, dan ada binar berbahaya di matanya yang tajam. Jika Rendra adalah api yang menghanguskan, maka Bima adalah air laut yang tenang namun sanggup menenggelamkan tanpa peringatan.

"Maaf merepotkanmu, Rendra. Aku tidak menyangka renovasi apartemenku akan memakan waktu selama ini," ujar Bima sambil menyesap kopi hitamnya. Suaranya rendah, serak, dan entah mengapa terdengar seperti belaian di telinga Dinara.

Rendra tertawa kecil, suara yang jarang terdengar kecuali di depan orang kepercayaannya. "Jangan konyol, Bim. Rumah ini terlalu besar jika hanya dihuni aku dan Dinara. Lagipula, aku sering ke luar kota. Setidaknya ada pria yang bisa kupercaya untuk menjaga rumah ini saat aku tidak ada."

Dinara hampir tersedak rotinya. Menjaga rumah? Atau menjaga dirinya?

"Oh, aku akan menjaganya dengan sangat baik, Ren," sahut Bima.

Detik itu, mata Bima bertemu dengan mata Dinara. Tidak ada rasa sungkan di sana. Tatapan Bima turun ke leher Dinara, tepat ke arah kerah tinggi yang menutupi jejak Rendra. Sudut bibir pria itu terangkat tipis, hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat bulu kuduk Dinara meremang.

"Dinara, kau tampak pucat. Apa kau sakit?" tanya Bima dengan nada yang terdengar sangat tulus, namun matanya tetap mengunci pandangan Dinara.

"Aku baik-baik saja, Mas Bima," jawab Dinara kaku.

"Panggil Bima saja, Dinara. Kita seumuran, bukan? Lagipula, kita akan sering bertemu mulai sekarang," potong Bima cepat.

Rendra melirik jam tangannya kemudian berdiri. "Aku harus ke kantor sekarang. Ada rapat pemegang saham. Bima, kau bisa beristirahat atau meminta Dinara menunjukkan kamar barumu."

Rendra membungkuk, mencium bibir Dinara dengan sengaja di depan Bima. Sebuah pertunjukan kekuasaan yang sangat vulgar. Dinara hanya bisa mematung, merasakan ciuman yang terasa seperti klaim wilayah.

"Aku pergi dulu, sayang. Jangan nakal," bisik Rendra tepat di telinga Dinara sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang makan.

Kini hanya ada keheningan yang menyesakkan. Suara langkah kaki Rendra yang menjauh digantikan oleh suara denting sendok Bima yang menyentuh piring.

"Dia sangat posesif, ya?"

Pertanyaan Bima memecah keheningan. Dinara tidak berani menoleh. Ia mulai membereskan piring dengan tangan gemetar.

"Mas Rendra hanya sangat mencintaiku, Bima."

"Mencintai atau menguasai?"

Bima tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Begitu dekat hingga Dinara bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu. Bima mengulurkan tangan, bukan untuk membantu membereskan piring, melainkan untuk menyentuh ujung jubah mandi Dinara yang menutupi lehernya.

"Jangan, Bima. Kau sahabatnya," bisik Dinara, mencoba menghindar.

"Justru karena aku sahabatnya, aku tahu semua rahasianya. Termasuk bagaimana dia memperlakukanmu seperti burung dalam sangkar," Bima mendekat, napasnya terasa hangat di kulit leher Dinara yang sensitif.

Tangan Bima dengan berani menarik sedikit kerah pakaian Dinara, mengungkap lebam kemerahan yang coba ia sembunyikan sejak pagi. Bima mendesis pelan, matanya berubah gelap melihat tanda itu.

"Dia menyakitimu, Dinara. Dan kau membiarkannya?"

"Ini bukan urusanmu. Silakan ke kamarmu, Bima. Kamarmu ada di sebelah kamar kami," ujar Dinara dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya.

Bima tidak mundur. Ia justru mengambil satu langkah lebih maju, memerangkap tubuh Dinara di antara meja makan dan tubuh tegapnya. Ia menunduk, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Dinara.

"Di sebelah kamar kalian, ya? Berarti aku bisa mendengar semuanya malam ini. Aku bisa mendengar saat kau menangis, atau saat kau merintih memanggil namanya."

Jantung Dinara berpacu gila-gilaan. Ia seharusnya menampar pria ini, tapi tubuhnya justru mengkhianatinya. Ada sengatan aneh yang menjalar di perut bawahnya, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan saat bersama Rendra.

Bima melepaskan tangannya, lalu tersenyum tipis yang terlihat sangat licik.

"Terima kasih atas sarapannya, Istri Sahabatku. Aku akan sangat menikmati tinggal di sini."

Bima melangkah pergi menuju lantai atas, meninggalkan Dinara yang lemas hingga harus berpegangan pada pinggiran meja. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Kehadiran Bima bukan sekadar tamu, melainkan awal dari kehancuran yang ia nantikan.

Malam harinya, rumah terasa begitu sunyi. Rendra belum pulang karena urusan kantor, meninggalkan Dinara sendirian dalam kecemasan. Ia baru saja selesai mandi dan hendak memakai gaun tidurnya ketika ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka.

Dinara menoleh, mengira itu adalah Rendra. Namun, sosok yang berdiri di ambang pintu dengan hanya mengenakan celana kain tanpa atasan adalah Bima. Pria itu memegang sebuah botol salep di tangannya.

"Rendra menelepon, katanya dia akan menginap di hotel karena rapat sampai subuh," ujar Bima dengan suara serak.

Bima menutup pintu kamar di belakangnya dan menguncinya. Klik. Suara kunci itu terdengar seperti vonis mati bagi Dinara.

"Bima, apa yang kau lakukan? Keluar sekarang!" seru Dinara, sambil mendekap jubah mandinya erat-erat.

Bima berjalan mendekat, tatapannya lapar dan tidak lagi ditutupi. Ia mengangkat botol salep itu.

"Aku hanya ingin mengobati lebam di lehermu, Dinara. Suamimu tidak ada di rumah, jadi siapa yang akan menjagamu kalau bukan aku?"

Bima sudah berada tepat di depan Dinara, aroma maskulin yang bercampur alkohol tipis menguar dari tubuhnya. Ia meletakkan tangannya di pinggang Dinara, menariknya paksa hingga tubuh mereka beradu tanpa celah.

"Kau gemetar, Dinara. Apa kau takut padaku? Atau kau takut karena kau menginginkan ini?"

Bima menunduk, mencium tepat di atas lebam di leher Dinara, membuat wanita itu mengeluarkan desahan tertahan yang langsung ia sesali.

"Jangan, Bima. Rendra bisa membunuh kita," rintih Dinara, namun tangannya justru mencengkeram bahu kokoh Bima.

Bima terkekeh, suara rendah yang menggetarkan dada Dinara.

"Biarkan dia membunuhku nanti. Tapi malam ini, kau milikku."

Tangan Bima mulai menyusup ke dalam jubah mandi Dinara, mencari kulit halus yang selama ini hanya disentuh oleh satu pria. Dinara memejamkan mata, membiarkan dirinya jatuh ke dalam lubang dosa yang tidak memiliki dasar.

Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, ponsel Dinara di atas nakas bergetar hebat. Nama yang tertera di layar membuat darah Dinara seketika membeku.

Rendra Pratama is Calling...

Bima berhenti tepat satu senti dari bibir Dinara. Ia melirik ponsel itu, lalu kembali menatap mata Dinara dengan tatapan menantang.

"Angkat teleponnya, Dinara. Biarkan dia bicara, sementara aku melakukan ini padamu."