Panggilan di Tengah Dosa

03 January 2026

Layar ponsel itu terus menyala, menampilkan nama Rendra Pratama dengan cahaya yang seolah menghakimi. Getarannya di atas nakas kayu terdengar seperti detak jantung yang berpacu melawan maut. Dinara merasakan seluruh sendinya kaku. Di depannya, Bima tidak bergerak sedikit pun. Pria itu justru menatap ponsel itu dengan senyum miring yang meremehkan.

"Angkat, Dinara. Jangan biarkan suamimu curiga," bisik Bima. Suaranya begitu rendah, hampir seperti dengkur harimau yang siap menerkam.

Tangan Dinara yang gemetar meraih ponsel itu. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha menormalkan pita suaranya yang mendadak kering. Bima tidak melepaskan dekapannya. Malah, pria itu semakin menekan tubuhnya, membuat Dinara bisa merasakan setiap lekuk otot dada Bima yang keras di balik jubah mandinya yang tipis.

"Halo, Mas?" suara Dinara keluar sedikit parau.

"Kenapa lama sekali mengangkatnya, sayang? Kau sedang apa?"

Suara Rendra di seberang sana terdengar tajam. Rendra memang tipe pria yang akan menganalisis setiap detik keterlambatan sebagai bentuk pengkhianatan. Dinara memejamkan mata, berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara saat ia merasakan tangan Bima mulai bergerak nakal di pinggangnya.

"Aku baru saja keluar dari kamar mandi, Mas. Ponselnya ada di nakas," jawab Dinara, berusaha terdengar sealami mungkin.

Bima terkekeh tanpa suara. Ia menunduk, mulai mengecup bahu Dinara yang terbuka. Setiap sentuhan bibir Bima terasa seperti sengatan listrik yang membakar. Dinara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak mengerang.

"Kau terdengar aneh, Dinara. Apa kau benar-benar sakit? Suaramu sedikit berat," cecar Rendra.

"Hanya... hanya sedikit kedinginan, Mas. AC di kamar sepertinya terlalu rendah."

Bima semakin berani. Ia menyelipkan jemarinya ke sela-sela jubah mandi Dinara, menyentuh kulit perutnya yang sensitif. Dinara hampir menjatuhkan ponselnya. Ia membelalakkan mata ke arah Bima, memberi isyarat agar pria itu berhenti, namun Bima justru memberikan tatapan menantang. Bima ingin tahu sejauh mana Dinara bisa bertahan di bawah tekanan suaminya sendiri.

"Pakai selimutmu, sayang. Aku tidak mau pulang dan menemukanmu jatuh sakit. Oh ya, apa Bima sudah masuk ke kamarnya? Aku ingin memastikan dia nyaman di rumah kita," tanya Rendra.

Dinara menelan ludah. Ia merasakan napas Bima di ceruk lehernya, tepat di atas jejak merah yang ditinggalkan Rendra tadi pagi.

"Iya, Mas. Dia... dia sudah di kamarnya sejak tadi. Dia bilang dia sangat lelah dan ingin segera beristirahat."

"Baguslah. Dia pria yang sibuk, Dinara. Pastikan besok pagi pelayan menyiapkan sarapan kesukaannya. Aku mungkin tidak akan pulang sampai besok sore karena rapat ini sangat melelahkan. Tapi aku akan terus memantau CCTV lewat ponselku jika aku merindukanmu."

Deg. Jantung Dinara seolah berhenti berdetak. CCTV. Rendra memang memasang kamera di lorong dan ruang tamu, tapi tidak di dalam kamar utama karena ia menghargai privasi mereka. Namun, pernyataan Rendra tetap menjadi pengingat bahwa setiap gerak-gerik Dinara berada di bawah pengawasannya.

"Aku mengerti, Mas. Tidurlah, jangan terlalu lelah."

"I love you, Dinara. Hanya aku yang boleh memilikimu, ingat itu."

Klik. Sambungan terputus.

Dinara segera menjauhkan ponsel itu dan mendorong dada Bima dengan seluruh kekuatannya. Ia terengah-engah, matanya berkaca-kaca karena perpaduan antara rasa takut dan adrenalin yang memuncak.

"Kau gila, Bima! Dia bisa saja curiga!" seru Dinara dengan suara tertahan.

Bima hanya berdiri di sana, terlihat sangat santai seolah baru saja melakukan percakapan ringan tentang cuaca. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menatap Dinara dengan tatapan yang sangat dalam.

"Dia mencintaimu seperti orang gila, Dinara. Tapi dia tidak tahu cara menyentuhmu tanpa menyakitimu. Aku bisa melihatnya dari cara kau gemetar saat dia menyebut namamu."

"Itu bukan urusanmu! Keluar dari kamarku sekarang!"

Bima melangkah maju lagi, tidak mempedulikan perintah Dinara. Ia menyudutkan Dinara ke dinding, meletakkan kedua tangannya di sisi kepala wanita itu, mengunci ruang geraknya.

"Kau tahu kenapa Rendra sangat mempercayaiku? Karena aku adalah satu-satunya orang yang tahu sisi gelapnya. Aku tahu apa yang dia lakukan di belakangmu, Dinara. Aku tahu semua rahasia bisnis kotornya yang membuatmu bisa tinggal di rumah semewah ini."

Dinara terdiam. Ia selalu tahu suaminya adalah pria yang keras dalam bisnis, tapi ia tidak pernah ingin tahu lebih dalam.

"Apa maksudmu?"

"Suamimu bukan malaikat yang kau kira. Dia memiliki banyak musuh, dan dia menggunakanmu sebagai perisai. Dia memanjakanmu agar kau tidak pernah bertanya-tanya dari mana asal setiap lembar uang yang kau belanjakan. Dia memenjarakanmu agar kau tidak pernah mendengar apa yang orang katakan tentangnya di luar sana."

Bima mengusap bibir Dinara dengan ibu jarinya.

"Aku di sini bukan hanya karena apartemenku sedang direnovasi, Dinara. Aku di sini karena aku ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak lama. Dan itu adalah kau."

Dinara merasakan kebingungan yang luar biasa. Apa yang Bima katakan terdengar seperti racun yang manis. Ia ingin percaya bahwa Rendra adalah pria baik, tapi sikap posesif Rendra yang ekstrem seringkali membuatnya ragu.

"Kau bohong. Kau hanya ingin menghancurkan rumah tanggaku karena kau iri pada Rendra," tuduh Dinara.

Bima tertawa sinis. "Iri? Untuk apa aku iri pada pria yang harus mengunci istrinya agar tidak melarikan diri? Aku tidak butuh kunci untuk membuatmu tetap di sampingku, Dinara. Aku hanya butuh ini."

Tanpa peringatan, Bima membungkuk dan membungkam bibir Dinara dengan ciuman yang kasar dan menuntut. Ini bukan ciuman lembut yang penuh kasih sayang. Ini adalah ciuman yang penuh dengan amarah, gairah, dan klaim. Dinara mencoba melawan, tangannya memukul-mukul bahu Bima, namun pria itu justru semakin mempererat pelukannya.

Perlahan, perlawanan Dinara melemah. Rasa lapar yang selama ini ia tekan, rasa haus akan perhatian yang tidak menyesakkan, mulai menguasai akal sehatnya. Ia mulai membalas ciuman Bima, jemarinya merambat ke rambut pria itu. Di dalam kamar yang seharusnya menjadi ruang suci pernikahannya dengan Rendra, Dinara justru sedang mengkhianati suaminya dengan penuh gairah.

Bima mengangkat tubuh Dinara, mendudukkannya di atas nakas, tepat di samping ponsel yang tadi digunakan untuk bicara dengan Rendra. Suara napas mereka yang memburu memenuhi ruangan. Bima mulai menciumi leher Dinara, kali ini tidak lagi dengan lembut.

"Katakan kau menginginkanku, Dinara," bisik Bima di sela-sela ciumannya.

"Bima... jangan..." rintih Dinara, meski tubuhnya berkata lain.

"Katakan namaku, bukan namanya."

"Bima..."

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar dari arah gerbang depan. Lampu sorot mobil memantul masuk melalui celah gorden kamar yang tidak tertutup rapat. Dinara tersentak dan mendorong Bima hingga pria itu hampir terjatuh.

"Itu... itu mobil Mas Rendra!" pekik Dinara dengan wajah pucat pasi.

"Sial, katanya dia tidak pulang!" umpat Bima sambil segera memperbaiki posisi celananya.

Dinara berlari ke jendela, mengintip dari balik gorden. Jantungnya serasa mau copot melihat mobil Mercedes hitam milik suaminya sudah terparkir di depan lobi rumah. Pintu mobil terbuka, dan Rendra keluar dengan langkah lebar yang terlihat sangat marah.

"Bima, kau harus keluar lewat balkon! Cepat!" perintah Dinara dengan suara gemetar hebat.

Bima melihat ke arah balkon, lalu kembali menatap Dinara dengan tenang. Ia seolah tidak merasa takut sedikit pun.

"Bagaimana jika aku tidak mau pergi? Bagaimana jika aku ingin dia tahu sekarang juga?"

"Jangan gila! Dia akan membunuhmu! Tolong, Bima, pergilah!" tangis Dinara mulai pecah.

Suara pintu utama di lantai bawah terbuka dengan bantingan keras. Langkah kaki Rendra terdengar menaiki tangga dengan cepat, setiap dentuman sepatunya di atas kayu tangga terdengar seperti hitungan mundur menuju eksekusi.

Bima akhirnya bergerak menuju balkon, tapi sebelum melompat ke arah pohon besar yang ada di samping rumah, ia berbalik dan membisikkan sesuatu yang membuat Dinara membeku di tempat.

"Hapus lipstikmu, Dinara. Dan jangan lupa kunci pintu balkonnya. Tapi ingat satu hal, ini baru permulaan."

Bima menghilang ke dalam kegelapan malam tepat saat pegangan pintu kamar Dinara mulai bergerak. Dinara dengan panik menghapus bibirnya dengan punggung tangan dan mencoba merapikan jubah mandinya.

Pintu terbuka dengan kasar. Rendra berdiri di sana, napasnya memburu, wajahnya merah padam. Matanya langsung menyisir seluruh sudut ruangan sebelum terpaku pada Dinara yang berdiri di dekat jendela.

"Kenapa pintu kamarmu tidak dikunci?" tanya Rendra dengan suara yang sangat rendah dan berbahaya.

Rendra melangkah mendekat, matanya menyipit saat melihat botol salep yang tergeletak di atas tempat tidur, botol yang tadi dibawa oleh Bima.

"Dan untuk apa ada botol salep ini di sini, Dinara? Bukankah tadi kau bilang kau hanya pusing?"