Dinara merasa paru-parunya seolah mengecil. Ia menatap botol salep kecil di atas seprai satin putih itu seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak. Rendra masih berdiri di ambang pintu, sosoknya yang jangkung menutupi cahaya dari lorong, menciptakan bayangan panjang yang mengancam ke arah Dinara.
"Aku bertanya padamu, Dinara. Kenapa botol ini ada di tempat tidur kita?" suara Rendra terdengar tenang, namun itu adalah ketenangan sebelum badai.
Dinara menelan ludah, mencoba memutar otak secepat mungkin. "Itu... aku yang mengambilnya dari kotak obat di bawah, Mas. Tadi leherku terasa kaku sekali, mungkin karena salah posisi tidur saat menunggumu pulang."
Rendra melangkah masuk. Setiap derap sepatunya di atas lantai kayu terdengar seperti dentuman palu hakim. Ia tidak langsung memercayai jawaban itu. Rendra mendekat, lalu meraih botol salep tersebut. Ia memutarnya di antara ibu jari dan telunjuknya, matanya tidak lepas dari wajah Dinara yang pucat.
"Tadi di telepon kau bilang kau sedang di kamar mandi. Dan sekarang kau bilang kau mengambil ini dari bawah. Kau tampak sangat sibuk saat suamimu tidak ada di rumah, hm?"
Rendra sudah berdiri tepat di depan Dinara. Ia meletakkan botol salep itu di nakas dengan bunyi "tak" yang cukup keras. Tangan kanannya terangkat, mengelus rambut Dinara yang sedikit berantakan. Sentuhan itu seharusnya menenangkan, tapi bagi Dinara, itu adalah pemeriksaan fisik untuk mencari kesalahan.
"Kenapa rambutmu basah? Kau mandi lagi?" tanya Rendra, hidungnya mulai mendekat ke arah ceruk leher Dinara, menghirup aroma tubuh istrinya dengan dalam.
Dinara menahan napas. Ia berdoa dalam hati agar aroma parfum Bima yang tajam tidak tertinggal di kulitnya. "Aku gerah karena AC-nya tadi sempat mati sebentar, Mas. Makanya aku membasuh diri lagi."
Mata Rendra menyipit. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Pandangannya turun ke bibir Dinara yang tampak sedikit bengkak dan kemerahan akibat ciuman kasar Bima tadi.
"Bibirmu... kenapa merah sekali?"
Rendra menyentuh bibir bawah Dinara dengan ibu jarinya, menekan sedikit kuat hingga Dinara meringis.
"Tadi aku menggigitnya karena gugup mendengarmu pulang tiba-tiba. Aku terkejut, Mas. Katanya kau akan menginap di hotel," jawab Dinara dengan suara yang mulai bergetar.
Rendra terdiam cukup lama, menatap mata istrinya seolah ingin menembus masuk ke dalam tengkorak kepalanya. Tiba-tiba, Rendra menarik pinggang Dinara dengan sentakan kasar, merapatkan tubuh mereka.
"Aku membatalkan rapatnya karena perasaanku tidak enak. Aku merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan dariku di rumah ini. Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu, kan, Dinara?"
"Tentu saja tidak, Mas. Apa yang bisa kusembunyikan darimu di rumah yang penuh kamera ini?"
Rendra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Benar. Kau tidak punya tempat untuk lari. Kau adalah milikku, seutuhnya."
Rendra kemudian melepaskan pelukannya dan berjalan menuju balkon. Jantung Dinara hampir melompat keluar dari dadanya. Pintu balkon itu belum dikunci sepenuhnya oleh Bima tadi. Jika Rendra membukanya dan melihat ada bekas telapak tangan atau jejak kaki di sana, semuanya akan berakhir.
Tangan Rendra sudah memegang gagang pintu kaca balkon. Ia berhenti sebentar, menatap bayangannya sendiri di kaca.
"Bima sudah tidur?" tanya Rendra tanpa menoleh.
"Sepertinya begitu. Kamarnya sudah gelap saat aku melewatinya tadi," jawab Dinara dengan suara sekecil bisikan.
Rendra menarik pintu balkon. Angin malam yang dingin berhembus masuk, menerbangkan gorden tipis di kamar mereka. Rendra melangkah keluar, berdiri di pembatas balkon, menatap ke arah taman bawah yang gelap gulita. Di sana, di balik rimbunnya pohon kamboja, Bima mungkin masih bersembunyi, mengamati setiap gerak-gerik mereka.
Dinara berdiri kaku di tengah kamar, meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Ia melihat punggung Rendra yang tegap. Suaminya itu tampak seperti penguasa yang sedang mengawasi wilayah kekuasaannya.
"Rumah ini terasa berbeda malam ini," gumam Rendra dari balkon. "Ada bau pria lain di sini."
Dinara membelalak. "Mas, jangan bicara sembarangan. Mungkin itu aroma parfum Bima yang tertinggal saat dia membantu membawakan koper ke atas tadi sore."
Rendra berbalik, menatap Dinara dengan tatapan yang sangat tajam. "Bima pria yang baik, tapi dia tetaplah serigala, Dinara. Aku mengenalnya sejak kami masih remaja. Dia akan mengambil apa pun yang dia inginkan tanpa peduli milik siapa itu. Itulah sebabnya aku mempercayainya, karena kami memiliki insting yang sama."
Rendra kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu balkon dengan suara klik yang sangat mantap. Ia kemudian mulai melepas jas dan dasinya, melemparkannya ke kursi dengan sembarangan.
"Layani aku, Dinara. Aku ingin memastikan bahwa kau masih milikku sepenuhnya," perintah Rendra sambil mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.
Dinara merasa mual. Tubuhnya masih menyimpan sensasi sentuhan Bima, namun sekarang ia harus menyerahkan dirinya pada Rendra. Ini adalah harga yang harus ia bayar untuk sebuah perselingkuhan yang baru saja dimulai. Ia melangkah perlahan menuju suaminya, mencoba membuang bayangan wajah Bima dari benaknya.
Saat Dinara membantu melepaskan kemeja Rendra, tangan pria itu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Dinara dengan kuat. Rendra menarik tangan Dinara ke arah hidungnya, mencium telapak tangan itu dengan intens.
"Kenapa tanganmu bau rokok, Dinara? Kau tahu aku tidak merokok."
Dinara membeku. Bima memang perokok berat, dan tadi pria itu memegang tangan Dinara cukup lama. Kebohongan apalagi yang harus ia buat?
"Tadi... tadi aku sempat berdiri di dekat jendela saat Bima merokok di balkon kamarnya, Mas. Mungkin asapnya mengenai tanganku saat aku menutup gorden," jawab Dinara dengan napas yang mulai tidak teratur.
Rendra melepaskan tangan Dinara dan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak membalas ucapan istrinya. Pria itu justru menarik Dinara ke atas tempat tidur, menindihnya dengan berat tubuhnya yang dominan.
Di bawah kungkungan Rendra, Dinara hanya bisa menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang ke kamar sebelah, membayangkan Bima sedang mendengarkan setiap suara yang terjadi di sini, persis seperti yang pria itu katakan tadi.
"Fokuslah padaku, Dinara! Jangan melamun!" bentak Rendra sambil mencium leher Dinara dengan kasar, tepat di atas bekas luka yang sama.
Dinara mengerang, bukan karena nikmat, melainkan karena rasa sakit yang fisik dan mental. Ia merasa seperti barang yang sedang diperebutkan oleh dua orang pemburu. Di satu sisi ada Rendra yang memilikinya secara hukum namun menyiksanya dengan obsesi, di sisi lain ada Bima yang menawarkan gairah namun penuh dengan misteri berbahaya.
Permainan panas yang dilakukan Rendra malam itu terasa seperti sebuah hukuman. Rendra melakukannya dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya, seolah ia sedang menanamkan tanda kekuasaan di setiap jengkal kulit Dinara. Setiap desahan yang keluar dari mulut Dinara terasa hambar dan dipaksakan.
Setelah semuanya berakhir, Rendra langsung tertidur karena kelelahan, lengannya yang besar melingkar erat di pinggang Dinara, menguncinya agar tidak bisa bergerak. Dinara tetap terjaga, menatap kegelapan kamar dengan air mata yang mengalir perlahan di sudut matanya.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di nakas bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk. Dengan susah payah, Dinara meraih ponsel itu tanpa membangunkan Rendra.
Satu pesan dari nomor yang tidak dikenal, namun Dinara tahu persis siapa pengirimnya.
"Dia tidak tahu cara membuatmu mendesah dengan benar, Dinara. Aku masih bisa mendengarmu menangis dari sini. Tunggu aku besok saat dia pergi ke kantor."
Dinara segera menghapus pesan itu, jantungnya kembali berdegup kencang. Ia menoleh ke arah suaminya yang tertidur pulas, lalu beralih ke dinding yang membatasi kamarnya dengan kamar Bima.
Kehidupan macam apa yang sedang ia jalani sekarang?
Keesokan paginya, Rendra sudah bersiap pergi lebih awal. Ia mencium kening Dinara yang masih bergelung di balik selimut.
"Aku ada pertemuan di luar kota sampai lusa, Dinara. Jaga dirimu baik-baik. Bima akan menemanimu di rumah. Aku sudah memintanya untuk menjagamu," ujar Rendra sambil memakai jam tangan mewahnya.
Dinara hanya mengangguk lemas. Begitu suara mobil Rendra menjauh dari halaman, pintu kamar Dinara terbuka perlahan. Tidak ada ketukan. Tidak ada permisi.
Bima berdiri di sana, hanya dengan celana pendek, memegang secangkir kopi dengan uap yang masih mengepul. Ia bersandar di bingkai pintu, menatap Dinara yang masih polos di balik selimut tebalnya.
"Suamimu sudah pergi," ujar Bima dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Bima berjalan mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur, tepat di posisi Rendra tidur tadi malam. Ia meletakkan kopinya dan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Dinara yang sembab.
"Sekarang, ceritakan padaku, bagian mana dari sentuhannya semalam yang paling kau benci?"
Dinara menarik selimutnya lebih tinggi. "Pergilah, Bima. Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau semalam. Tolong, jangan buat ini semakin rumit."
Bima tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Rumit? Dinara, kau baru saja memulai permainan yang paling berbahaya dalam hidupmu. Dan kau pikir aku akan berhenti hanya dengan satu ciuman?"
Bima tiba-tiba menarik selimut Dinara dengan satu gerakan cepat, membuat wanita itu terpekik kaget. Bima menatap tubuh Dinara yang penuh dengan jejak merah keunguan hasil perbuatan Rendra semalam. Matanya berkilat marah melihat jejak-jejak itu.
"Dia benar-benar menganggapmu sebagai binatang ternak, ya?" geram Bima. "Ikut aku sekarang."
"Ke mana?" tanya Dinara panik.
"Ke suatu tempat di mana suamimu tidak bisa melihatmu lewat kamera-kamera sialannya itu. Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu tentang siapa sebenarnya Rendra Pratama."
Bima menarik tangan Dinara, memaksanya berdiri. Namun, tepat saat mereka hendak keluar kamar, bel rumah berbunyi berkali-kali dengan nada yang mendesak.
Dinara melihat ke arah monitor interkom di samping tempat tidurnya. Di sana, terlihat dua orang pria berseragam polisi berdiri di depan pintu rumah mereka.
"Ada apa ini, Bima?" tanya Dinara dengan suara bergetar.
Bima terdiam, matanya menatap layar interkom dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukannya ketakutan, Bima justru menunjukkan senyum tipis yang sangat misterius.
"Sepertinya rencana cadanganku berjalan lebih cepat dari yang kukira," bisik Bima.