Suara bel rumah yang terus meraung seperti alarm kematian itu membuat lutut Dinara lemas. Polisi. Kenapa polisi datang ke rumah mereka di saat Rendra baru saja pergi? Dinara menatap Bima yang masih berdiri tenang di sampingnya. Pria itu sama sekali tidak tampak terkejut, justru ada binar kepuasan di matanya yang gelap.
"Bima, apa yang kau lakukan? Kau melaporkan Rendra?" bisik Dinara dengan suara gemetar. Ia mencoba menarik jubah mandinya, menutupi tubuhnya yang masih menyimpan rasa perih akibat ulah Rendra semalam.
Bima tidak menjawab. Ia justru mendekat, merapikan anak rambut Dinara yang berantakan dengan gerakan yang sangat lembut, kontras dengan situasi yang sedang terjadi.
"Pakai pakaianmu, Dinara. Biarkan aku yang menghadapi mereka di bawah. Jangan tunjukkan wajah ketakutanmu, atau mereka akan mengira kau adalah kaki tangan suamimu dalam bisnis pencucian uang itu," ujar Bima tenang.
Bisnis pencucian uang? Kepala Dinara terasa berputar. Ia tidak pernah tahu dari mana kekayaan Rendra berasal secara mendetail, namun ia tidak menyangka jika itu berkaitan dengan hukum.
Bima mengecup kening Dinara singkat sebelum melangkah keluar kamar dengan santai, seolah ia adalah pemilik rumah yang sebenarnya. Dinara segera berlari ke arah lemari, mengenakan dress sutra tipis yang mudah dipakai. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara sepatu bot polisi yang masuk ke dalam ruang tamu di lantai bawah.
Dinara mengintip dari balik pagar balkon lantai dua. Di bawah sana, dua polisi sedang berbicara serius dengan Bima. Bima tampak sangat kooperatif, memberikan beberapa dokumen yang entah sejak kapan ia miliki.
"Kami memiliki surat perintah untuk menggeledah ruang kerja Tuan Rendra Pratama atas dugaan penggelapan aset dan transaksi ilegal," suara salah satu polisi terdengar tegas.
"Silakan, Pak. Saya hanya tamu di sini, tapi saya akan membantu sebisa mungkin," sahut Bima dengan nada sopan yang dibuat-buat.
Dinara merasa mual. Bima benar-benar sedang menusuk Rendra dari belakang. Namun, di saat yang sama, ia merasa terjebak. Jika Rendra hancur, ke mana ia akan pergi? Dan jika ia tetap bersama Rendra, ia akan ikut terseret ke dalam lubang hitam ini.
Setengah jam berlalu dalam ketegangan. Polisi-polisi itu memeriksa ruang kerja Rendra dengan teliti. Dinara hanya bisa duduk di sofa ruang tengah, meremas jemarinya sendiri. Bima berdiri tidak jauh darinya, sesekali melemparkan tatapan yang seolah mengatakan bahwa semuanya ada dalam kendalinya.
Setelah polisi pergi dengan membawa beberapa koper dokumen, suasana rumah mendadak senyap. Namun, itu bukan senyap yang menenangkan. Itu adalah senyap yang penuh dengan uap gairah dan ancaman.
Bima berjalan mendekati Dinara. Ia melepaskan kemejanya yang baru saja ia pakai sebentar, memamerkan dada bidangnya yang dipenuhi peluh tipis.
"Sekarang kau tahu, Dinara. Suamimu tidak sehebat yang kau kira. Dia hanya seorang pengecut yang menyembunyikan dosanya di balik gaun mahalmu," bisik Bima sambil berdiri tepat di depan Dinara.
Dinara mendongak, matanya berkaca-kaca. "Kau menghancurkannya, Bima. Kau sahabatnya!"
"Sahabat?" Bima tertawa sinis. Ia mencengkeram kedua tangan Dinara dan menariknya hingga wanita itu berdiri. "Dia merebut segalanya dariku sepuluh tahun lalu, Dinara. Perusahaan ayahku, harga diriku, dan... hampir saja dia merebutmu sepenuhnya jika aku tidak kembali sekarang."
Bima mendorong Dinara hingga punggung wanita itu membentur dinding dingin di ruang tengah. Posisi mereka sekarang sangat berbahaya. Di rumah yang baru saja digeledah polisi, di bawah bayang-bayang kamera CCTV yang mungkin masih menyala, Bima justru mulai menjelajahi leher Dinara dengan bibirnya.
"Bima, berhenti... CCTV masih menyala," rintih Dinara, namun tangannya justru mencengkeram bahu Bima yang kokoh.
"Biarkan saja. Biarkan Rendra melihat apa yang sedang dilakukan istrinya dengan pria yang paling dia percaya. Biarkan dia terbakar cemburu di dalam persembunyiannya," gumam Bima di sela-sela ciumannya yang mulai panas.
Tangan Bima mulai menyusup ke bawah dress sutra Dinara, menyentuh paha bagian dalam yang masih sensitif. Dinara memejamkan mata, merasakan gelombang gairah yang jauh lebih dahsyat daripada yang pernah diberikan Rendra. Bima tahu persis di mana harus menyentuh, bagaimana harus menekan, dan kapan harus memberikan gigitan kecil yang membuat Dinara hampir kehilangan kesadaran.
Ciuman mereka menjadi semakin liar. Dinara yang selama ini merasa terkekang, kini menemukan pelepasan yang selama ini ia cari. Ia membalas setiap lumatan Bima dengan penuh tuntutan. Rasa takut akan polisi dan kemarahan Rendra seolah menguap, digantikan oleh nafsu primitif yang membara di antara mereka.
Bima mengangkat tubuh Dinara, melingkarkan kaki wanita itu di pinggangnya. Mereka bergerak menuju sofa besar di ruang tengah. Di sana, di atas kain beludru mahal, Bima menjatuhkan tubuh Dinara dan menindihnya dengan dominasi yang mutlak.
"Katakan padaku, Dinara. Siapa yang lebih kau inginkan sekarang? Aku atau si narapidana itu?" tanya Bima dengan napas memburu.
"Kau... aku menginginkanmu, Bima," bisik Dinara dengan suara yang pecah oleh gairah.
Bima tidak menunggu lebih lama lagi. Ia mulai menanggalkan sisa pakaian mereka, membiarkan kulit mereka saling bersentuhan tanpa penghalang. Di ruang tamu yang luas itu, di tengah kekacauan yang baru saja terjadi, mereka bersatu dalam pergulatan yang penuh dengan dosa dan kenikmatan terlarang.
Setiap gerakan Bima terasa seperti klaim baru atas tubuh Dinara. Jika Rendra melakukan hubungan suami istri seperti tugas yang kasar, maka Bima melakukannya seperti sebuah penaklukan yang penuh seni. Ia memastikan Dinara mendesah menyebut namanya berkali-kali, memastikan bahwa mulai detik ini, tidak akan ada ruang lagi untuk Rendra di hati dan tubuh wanita itu.
Namun, di tengah puncak kenikmatan mereka, sebuah suara keras terdengar dari arah pintu depan yang tadi lupa dikunci dengan benar.
"BRENGSEK!"
Suara teriakan itu menggelegar, menghancurkan suasana panas di ruang tengah. Dinara tersentak dan segera meraih dress-nya yang terjatuh di lantai untuk menutupi tubuhnya.
Di ambang pintu, Rendra Pratama berdiri dengan wajah yang tidak lagi bisa didefinisikan sebagai manusia. Matanya merah padam, urat-urat di lehernya menonjol, dan di tangannya, ia memegang sebuah pistol hitam yang diarahkan tepat ke arah kepala Bima.
Rendra tidak pergi ke luar kota. Ia kembali. Ia menjebak mereka.
"Aku sudah menduganya. Aku sudah menduga ada ular di dalam rumahku sendiri!" teriak Rendra dengan suara yang bergetar karena amarah yang luar biasa.
Bima berdiri dengan perlahan, sama sekali tidak tampak takut meski moncong pistol itu hanya berjarak beberapa meter darinya. Ia justru tersenyum, senyum paling mematikan yang pernah Dinara lihat.
"Kau terlambat, Rendra. Aku sudah mencicipi milikmu, dan percayalah, dia jauh lebih menikmatinya bersamaku daripada denganmu," tantang Bima dengan nada yang sangat tenang.
"Tutup mulutmu, Bima! Aku akan membunuhmu! Aku akan mengirimmu ke neraka sekarang juga!"
Rendra menarik pelatuk pistolnya. Suara "klik" dari senjata itu membuat Dinara berteriak histeris. Ia berlari ke depan Bima, mencoba melindungi pria yang baru saja menidurinya itu dengan tubuhnya sendiri.
"Mas, jangan! Aku yang salah! Bunuh aku saja, jangan Bima!" tangis Dinara pecah, bersimpuh di depan kaki suaminya yang sedang murka.
Rendra menatap istrinya dengan pandangan yang penuh dengan kebencian sekaligus cinta yang terdistorsi. Tangannya yang memegang pistol gemetar hebat.
"Kau lebih memilih mati untuk pria ini, Dinara? Setelah semua yang kuberikan padamu?"
Tiba-tiba, suara sirine polisi kembali terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat ke arah rumah mereka. Rendra terkejut, ia menoleh ke arah jendela dengan panik.
Bima tertawa kecil di belakang Dinara. "Kau pikir aku tidak tahu kau akan kembali secepat ini, Ren? Polisi-polisi tadi hanyalah pancingan. Yang sebenarnya sedang menuju ke sini adalah tim khusus yang sudah menunggu sinyal dariku."
Rendra kembali menatap Bima dengan tatapan tidak percaya. "Kau... kau bekerja dengan mereka?"
Bima melangkah maju, menjauhkan Dinara dari jangkauan Rendra. Ia menatap lurus ke mata sahabat lamanya itu.
"Aku tidak hanya ingin mengambil istrimu, Rendra. Aku ingin melihatmu membusuk di penjara atas apa yang kau lakukan pada keluargaku sepuluh tahun lalu. Sekarang, jatuhkan senjatamu, atau kau akan mati dengan cara yang jauh lebih hina."
Di luar, lampu biru merah polisi mulai memantul di dinding ruang tamu. Suara megaphone polisi mulai terdengar memerintahkan agar Rendra menyerah.
Rendra menatap pistol di tangannya, lalu menatap Dinara yang masih menangis di lantai. Sebuah senyum getir muncul di wajah suaminya itu.
"Jika aku harus hancur, maka tidak akan ada seorang pun yang bisa memilikimu, Dinara. Tidak aku, dan tidak juga dia."
Rendra tidak mengarahkan pistolnya ke Bima. Ia justru mengarahkan moncong pistol itu ke pelipisnya sendiri, sambil menatap Dinara dengan tatapan yang akan menghantui wanita itu seumur hidup.
"Mas Rendra, jangan!" teriak Dinara sejadi-jadinya.
DOOR!
Suara tembakan itu memecah keheningan rumah mewah tersebut. Darah segar terpercik ke arah wajah Dinara yang terpaku dalam horor yang tak terbayangkan.