Percikan Darah dan Ciuman Pengkhianat

03 January 2026

Telinga Dinara berdenging hebat. Suara ledakan itu seolah merobek selaput daranya, meninggalkan kekosongan yang menyesakkan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, namun indra penciumannya tidak bisa berbohong. Aroma amis darah yang hangat seketika menyeruak, bercampur dengan bau mesiu yang tajam.

"Mas Rendra!" jerit Dinara saat ia akhirnya berani membuka mata.

Namun, pemandangan di depannya tidak seperti yang ia bayangkan. Rendra tidak terkapar dengan lubang di pelipisnya. Suaminya itu justru jatuh terduduk dengan bahu kiri yang bersimbah darah. Pistol di tangannya telah terpelanting jauh ke sudut ruangan.

Di ambang pintu yang terbuka, berdiri seorang pria berseragam taktis hitam dengan laras panjang yang masih berasap. Tim khusus yang dipanggil Bima telah tiba tepat satu detik sebelum Rendra mengakhiri nyawanya sendiri.

"Amankan tersangka!" teriak komandan tim itu.

Dalam hitungan detik, ruang tamu yang tadinya menjadi saksi bisu percintaan terlarang Dinara dan Bima kini berubah menjadi medan operasi. Rendra ditekan ke lantai marmer yang dingin, tangannya diborgol ke belakang sementara petugas medis berusaha menyumbat pendarahan di bahunya.

Rendra meronta, wajahnya yang penuh darah menoleh ke arah Dinara. "Kau pelacur, Dinara! Kau dan Bima akan membusuk di neraka yang sama!"

Dinara hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya bergetar hebat hingga ia jatuh terduduk di lantai. Ia melihat suaminya diseret keluar seperti binatang buruan. Tatapan terakhir Rendra bukanlah tatapan cinta yang biasa ia lihat, melainkan kutukan yang sangat pekat.

Di tengah kekacauan itu, sebuah tangan yang hangat dan kokoh menyentuh bahu Dinara. Ia mendongak dan menemukan Bima berdiri di sana. Pria itu sudah mengenakan kemeja hitamnya kembali, meski kancingnya dibiarkan terbuka setengah. Wajahnya tenang, seolah genangan darah di lantai itu hanyalah tumpahan kopi yang tidak sengaja.

"Semuanya sudah berakhir, Dinara. Dia tidak akan menyakitimu lagi," bisik Bima.

Bima membantu Dinara berdiri, merangkul pinggangnya dengan posesif di depan para petugas yang sedang mengumpulkan barang bukti. Dinara merasa seperti orang linglung. Ia membiarkan Bima menuntunnya menaiki tangga menuju kamar, menjauh dari kerumunan polisi.

Begitu pintu kamar tertutup, Bima langsung mengunci pintu itu. Klik. Suara yang kini mulai Dinara benci.

"Kenapa kau melakukan ini, Bima? Kau bilang kau sahabatnya, tapi kau menghancurkan hidupnya," isak Dinara sambil menyandarkan punggungnya di pintu.

Bima berjalan mendekat, menyudutkan Dinara dengan tubuhnya yang menjulang. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Dinara, mengunci wanita itu.

"Aku tidak menghancurkan hidupnya, Dinara. Aku hanya mengambil kembali apa yang dia curi dariku. Ayahku bunuh diri karena ulah Rendra sepuluh tahun lalu. Hartanya, martabatnya, semuanya dirampas. Dan sekarang, aku sudah mengambil asetnya yang paling berharga. Kau."

Bima menarik dagu Dinara, memaksanya menatap mata elang itu.

"Jangan menangisi pria yang memperlakukanmu seperti pajangan. Kau seharusnya berterima kasih padaku. Sekarang kau bebas."

"Bebas?" Dinara tertawa pahit di sela tangisnya. "Kau menyebut ini bebas? Kau meniduriku di bawah hidungnya, kau menjebaknya hingga dia ditembak, dan sekarang kau ingin aku berterima kasih?"

Bima tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru membungkam bibir Dinara dengan ciuman yang sangat dalam dan penuh dominasi. Ini bukan lagi tentang gairah, melainkan tentang penguasaan. Dinara mencoba memberontak, memukul dada Bima, namun pria itu justru semakin mempererat pelukannya, menciumnya hingga Dinara kehabisan napas.

Perlahan, perlawanan Dinara kembali luntur. Ia benci dirinya sendiri karena masih merasakan getaran aneh setiap kali Bima menyentuhnya. Tubuhnya seolah memiliki memori sendiri akan sentuhan Bima yang liar beberapa menit yang lalu di sofa bawah.

Bima melepaskan ciumannya, namun wajahnya tetap sangat dekat dengan wajah Dinara. "Kau tidak bisa membohongi tubuhmu sendiri, Dinara. Kau membenciku, tapi kau menginginkanku lebih dari apa pun. Akui saja."

Tangan Bima mulai menyusup ke balik dress sutra Dinara yang masih berantakan. Ia membelai paha Dinara dengan gerakan memutar yang provokatif.

"Sekarang Rendra sudah pergi. Rumah ini milikku. Kau milikku. Tidak akan ada lagi kamera CCTV yang mengawasimu, tidak akan ada lagi aturan yang mencekik. Tapi ingat satu hal, jangan pernah mencoba melarikan diri dariku."

Dinara menatap Bima dengan ngeri. "Kau... kau sama saja dengan Rendra. Kau hanya ingin memilikiku untuk memuaskan dendammu."

Bima tersenyum miring, senyuman yang membuat bulu kuduk Dinara meremang. "Bedanya, aku tahu cara membuatmu memohon untuk tidak kutinggalkan. Rendra menggunakan kekerasan, aku menggunakan kenikmatan. Mana yang lebih kau suka?"

Bima mengangkat Dinara dan menghempaskannya ke atas tempat tidur besar yang tadi pagi masih ia tempati bersama Rendra. Di atas seprai yang kini terasa asing itu, Bima mulai menanggalkan pakaiannya sepenuhnya.

"Bima, polisi masih ada di bawah... mereka bisa mendengar kita," rintih Dinara, mencoba menutupi tubuhnya dengan bantal.

"Biarkan mereka mendengar. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kau bukan lagi milik Rendra Pratama," jawab Bima dengan suara yang gelap.

Malam itu, di tengah rumah yang dikelilingi garis polisi, Dinara kembali tenggelam dalam dosa yang paling dalam. Bima memperlakukannya dengan cara yang sangat kontradiktif antara kelembutan yang memabukkan dan kekasaran yang menuntut patuh. Dinara merasakan sensasi yang tidak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun menikah dengan Rendra. Bima seolah tahu setiap titik lemah di tubuhnya, menghancurkan sisa-sisa kesetiaan yang ia miliki untuk suaminya.

Setiap desahan yang keluar dari bibir Dinara terasa seperti pengkhianatan baru. Namun, ia tidak bisa berhenti. Ia terjebak dalam pesona pria yang telah menghancurkan hidupnya, namun juga menjadi satu-satunya pelarian dari rasa kesepiannya.

Menjelang subuh, saat Bima sudah tertidur lelap dengan lengan yang memeluk pinggang Dinara dengan sangat erat, Dinara beringsut pelan. Ia ingin mencari udara segar. Ia berjalan menuju meja kerja Bima yang ada di sudut kamar tamu tempat pria itu menginap sebelumnya.

Di sana, ia menemukan sebuah map cokelat yang terbuka sedikit. Karena rasa penasaran yang luar biasa, Dinara membukanya.

Matanya membelalak melihat isinya. Bukan hanya dokumen tentang kejahatan Rendra, tapi ada foto-foto Dinara. Foto-foto saat ia masih kuliah, foto saat ia berbelanja sendirian, bahkan foto saat ia sedang tidur di kamarnya sendiri. Semuanya diambil dari jarak jauh secara sembunyi-sembunyi selama bertahun-tahun.

Bima tidak baru saja kembali dari luar negeri. Bima sudah mengawasinya selama ini.

Di lembar paling belakang, ada sebuah surat wasiat lama milik ayah Bima yang menyebutkan bahwa jika terjadi sesuatu pada keluarganya, Bima harus membalas dendam dengan cara "mengambil jantung dari kehidupan Rendra".

Dan jantung itu adalah Dinara.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar merampas map itu dari tangan Dinara. Dinara tersentak dan berbalik. Bima sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan yang sangat dingin, sama sekali tidak ada sisa gairah dari beberapa jam yang lalu.

"Kau seharusnya tidak menyentuh barang-barangku, Dinara," suara Bima terdengar seperti es yang membeku.

"Kau sudah merencanakan ini sejak lama? Kau mendekatiku bukan karena kau mencintaiku?" tanya Dinara dengan suara yang hampir habis.

Bima melangkah maju, menjepit tubuh Dinara di antara meja kerja dan tubuhnya. Ia menatap Dinara dengan pandangan yang sangat intens, seolah ingin menelan wanita itu hidup-hidup.

"Cinta itu untuk orang lemah, Dinara. Aku menginginkanmu karena kau adalah kemenangan terbesarku atas Rendra. Dan sekarang, setelah aku memilikimu, aku tidak akan membiarkanmu pergi, bahkan jika aku harus merantai kakimu di tempat tidur ini."

Dinara baru menyadari bahwa ia telah keluar dari mulut harimau hanya untuk masuk ke dalam pelukan iblis.

Tiba-tiba, telepon rumah di samping meja kerja itu berbunyi. Bima mengangkatnya dengan tenang. Ia mendengarkan sebentar, lalu wajahnya berubah menjadi sangat serius.

"Apa maksudmu dia melarikan diri?" tanya Bima dengan nada yang sangat tajam.

Bima menutup telepon itu dan menatap Dinara dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Rendra melarikan diri dari mobil ambulans saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Dia membunuh dua petugas polisi di sana."

Dinara merasakan dunianya runtuh untuk kesekian kalinya. Rendra bebas. Rendra yang terluka dan marah kini sedang berkeliaran di luar sana dengan satu tujuan: Balas dendam.

"Bersiaplah, Dinara. Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai," bisik Bima sambil menarik sebuah laci dan mengeluarkan sebuah pistol perak kecil. "Dan kali ini, tidak ada aturan yang berlaku."