Udara di dalam kamar mewah itu mendadak terasa tipis, seolah oksigen telah dihisap keluar oleh berita pelarian Rendra. Dinara berdiri mematung, menatap Bima yang kini sibuk memeriksa peluru di dalam pistol peraknya. Pria itu tampak tenang, namun ketenangan itu justru jauh lebih menakutkan daripada kemarahan meledak-ledak milik Rendra.
"Dia akan datang ke sini, Bima. Dia akan membunuh kita berdua," bisik Dinara. Suaranya pecah, kakinya lemas hingga ia harus berpegangan pada tepian meja kayu jati yang dingin.
Bima menoleh, memberikan senyuman miring yang tidak menenangkan sama sekali. "Biarkan dia datang, Dinara. Dia hanya binatang yang terluka sekarang. Dan binatang yang terluka biasanya bertindak bodoh karena keputusasaan."
Bima melangkah mendekat, meraih tangan Dinara yang gemetar dan mengecup buku jarinya dengan lembut, namun cengkeramannya sangat kuat. "Kau tidak perlu takut. Aku sudah mematikan semua akses masuk kecuali pintu depan. Aku ingin dia masuk lewat sana agar aku bisa melihat wajahnya saat aku mengakhiri hidupnya di depan matamu."
"Kau gila! Kita harus pergi dari sini, hubungi polisi!" seru Dinara, mencoba menarik tangannya kembali.
Bima menyentakkan tangan Dinara hingga tubuh wanita itu menubruk dadanya yang keras. "Polisi? Mereka hanya akan membawamu ke perlindungan saksi dan menjauhkanku darimu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau adalah hadiahku setelah sepuluh tahun menunggu, Dinara. Aku tidak akan membagimu dengan hukum atau siapa pun."
Bima menarik Dinara menuju lemari besar di sudut kamar. Ia mengeluarkan sebuah dress hitam berbahan sutra yang sangat ketat dan melemparkannya ke atas tempat tidur.
"Pakai itu. Aku ingin kau terlihat cantik saat dia melihat kita nanti," perintah Bima dengan nada dingin yang mutlak.
Dinara menatap dress itu dengan ngeri. "Kau menjadikanku umpan? Bima, dia suamiku! Dia sedang murka!"
"Dia mantan suamimu sejak dia menarik pelatuk itu, Dinara. Sekarang, cepat pakai. Atau aku yang akan memakaikannya padamu dengan cara yang tidak akan kau sukai."
Dinara tidak punya pilihan. Di bawah tatapan lapar Bima yang mengawasi setiap gerakannya, ia melepaskan jubah mandinya dan mengenakan dress hitam itu. Tangannya gemetar hebat saat menarik ritsleting di bagian punggung. Bima berjalan ke belakangnya, membantu menarik ritsleting itu hingga ke atas, jemarinya sengaja berlama-lama menyentuh kulit punggung Dinara yang terbuka.
"Sempurna," bisik Bima di telinga Dinara. "Rendra selalu menyukai warna putih padamu karena dia ingin kau terlihat suci. Tapi aku? Aku lebih suka hitam. Karena kau sudah tenggelam dalam dosa bersamaku, sayang."
Bima kemudian mematikan lampu kamar utama, menyisakan pencahayaan remang dari lampu taman yang masuk melalui celah gorden. Ia menuntun Dinara menuju ruang tengah lantai dua, di mana mereka bisa melihat langsung ke arah pintu utama di bawah.
Rumah besar itu terasa seperti kuburan mewah. Sunyi, dingin, dan mencekam. Setiap derit lantai kayu atau hembusan angin yang menerpa jendela membuat jantung Dinara seolah berhenti berdetak.
"Duduk di sini," Bima mendorong Dinara ke sebuah kursi bar yang menghadap ke arah tangga.
Bima sendiri berdiri di bayang-bayang pilar besar, memegang pistolnya dengan santai. Keheningan berlangsung selama beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam. Tiba-tiba, terdengar suara gesekan halus dari arah pintu depan. Bukan suara kunci yang diputar, melainkan suara kaca yang pecah dengan sangat rapi.
Dinara menahan napas. Ia melihat bayangan seseorang masuk ke dalam rumah. Sosok itu bergerak dengan langkah yang menyeret, namun tetap penuh kewaspadaan. Cahaya bulan yang masuk dari jendela atas menyingkap wajah sosok itu.
Rendra.
Wajah suaminya tertutup darah yang sudah mengering. Bahu kirinya dibalut dengan kain kemeja yang robek dan bersimbah darah segar. Matanya liar, mencari-cari mangsanya di dalam kegelapan.
"DINARA!" suara Rendra menggelegar, serak dan penuh dengan kepedihan yang mendalam. "Keluar kau pelacur! Aku tahu kau masih di sini bersama pengkhianat itu!"
Dinara hendak berteriak, namun tangan Bima sudah membekap mulutnya dari belakang. Bima membisikkan sesuatu yang membuat darah Dinara membeku.
"Jangan bersuara, atau aku akan menembaknya sekarang juga sebelum dia sempat naik ke atas."
Rendra mulai menaiki tangga satu per satu. Setiap dentuman sepatunya terdengar seperti lonceng kematian. Ia memegang sebuah pisau dapur besar yang ia ambil entah dari mana.
"Bima! Kau pikir kau bisa menang?" teriak Rendra sambil tertawa histeris. "Kau hanya mendapatkan sisa-sisaku! Aku sudah menyentuh setiap inci tubuhnya selama lima tahun ini! Kau hanya pemulung!"
Bima melepaskan bekapannya pada mulut Dinara. Ia melangkah keluar dari bayangan pilar, berdiri tepat di puncak tangga.
"Setidaknya aku membuatnya mendesah karena nikmat, Ren. Bukan karena takut seperti yang kau lakukan," sahut Bima dengan nada provokatif yang luar biasa.
Rendra berhenti di tengah tangga. Ia menatap Bima dengan kebencian yang murni. Matanya kemudian beralih ke Dinara yang duduk gemetar di belakang Bima.
"Dinara... kemari, sayang. Mari kita mati bersama. Aku tidak akan membiarkan pria ini memilikimu," ujar Rendra dengan nada yang mendadak lembut, namun jauh lebih mengerikan daripada teriakannya tadi.
"Mas Rendra, tolong menyerahlah... kau butuh rumah sakit," tangis Dinara pecah.
"Aku butuh kau, Dinara! Aku lebih baik melihatmu mati daripada melihatmu di pelukannya!"
Rendra menerjang maju dengan sisa tenaganya, mengangkat pisau itu tinggi-tinggi. Bima dengan tenang mengangkat pistolnya.
"Jangan, Bima!" jerit Dinara.
Bima tidak menembak. Ia justru menendang dada Rendra dengan sangat keras hingga suaminya itu terpental jatuh kembali ke lantai bawah. Suara benturan tubuh Rendra dengan lantai marmer terdengar sangat menyakitkan.
Bima menuruni tangga dengan perlahan, pistolnya tetap mengarah ke arah Rendra yang terkapar tak berdaya. Dinara berlari mengikuti dari belakang, ia melihat Rendra terengah-engah, darah keluar dari mulutnya.
"Kau pecundang, Rendra. Kau bahkan tidak bisa melindungi istrimu sendiri dari sahabatmu," ejek Bima sambil menginjak tangan Rendra yang masih mencoba meraih pisau.
"Bunuh aku... bunuh aku sekarang, brengsek!" raung Rendra.
Bima berjongkok di samping Rendra, menjambak rambut suaminya itu agar menatap ke arah Dinara. "Tidak. Mati terlalu mudah untukmu. Aku ingin kau melihat ini dulu."
Bima menarik Dinara ke dalam pelukannya, dan di depan Rendra yang sekarat, Bima mencium Dinara dengan sangat panas dan kasar. Ia memastikan Rendra melihat bagaimana istrinya tidak lagi berdaya di bawah kendalinya. Dinara mencoba memberontak, namun rasa syok dan dominasi Bima membuatnya hanya bisa pasrah.
Rendra mengeluarkan suara raungan yang memilukan, air mata bercampur darah mengalir di pipinya.
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar sangat dekat di depan gerbang. Cahaya lampu polisi kembali memenuhi ruangan. Bima melepaskan ciumannya dan berdiri tegak.
"Sepertinya penonton kita sudah datang," ujar Bima tenang.
Namun, sebelum polisi masuk, Rendra menggunakan sisa kekuatannya untuk membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Dinara yang berada paling dekat dengannya.
"Dinara... cari... cari berkas di bawah lantai gudang... Bima bukan... bukan siapa yang kau kira..."
Setelah mengatakan itu, Rendra jatuh pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah. Polisi menyerbu masuk dan segera mengamankan situasi.
Dinara menatap Bima yang sedang berbicara dengan polisi seolah dia adalah pahlawan yang baru saja menyelamatkan istrinya dari suami yang gila. Namun, kata-kata terakhir Rendra terus terngiang di kepalanya.
Bima bukan siapa yang ia kira? Apa maksudnya?
Bima menoleh ke arah Dinara, memberikan senyuman manis yang kini terlihat seperti topeng yang sempurna. "Ayo kita pergi dari sini, sayang. Aku sudah menyiapkan tempat baru yang lebih aman untuk kita."
Dinara menatap tangan Bima yang terulur. Tangan yang baru saja memberikan kenikmatan sekaligus menghancurkan hidupnya. Ia tahu, jika ia meraih tangan itu, ia akan masuk ke dalam penjara yang jauh lebih gelap daripada yang pernah dibuat oleh Rendra.
Namun, ia juga tahu, ia harus mencari tahu apa yang disembunyikan di bawah lantai gudang itu.
"Iya, Bima. Ayo pergi," jawab Dinara pelan, sambil menyembunyikan rencana di balik matanya yang sembab.