Sangkar Baru, Iblis yang Sama

03 January 2026

Mobil sedan mewah itu meluncur membelah kegelapan malam dengan kecepatan tinggi. Di kursi belakang, Dinara hanya bisa menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, menatap lampu-lampu jalanan yang kabur oleh air mata. Di sampingnya, Bima duduk dengan tenang, jemarinya tidak berhenti mengusap punggung tangan Dinara dengan gerakan ritmis yang terasa seperti jeratan halus.

"Jangan pikirkan dia lagi, Dinara. Rendra sudah berada di tempat yang seharusnya. Rumah sakit penjara adalah akhir yang pantas untuk pria sekasar itu," ujar Bima. Suaranya terdengar begitu lembut, namun ada nada dingin yang tidak bisa disembunyikan.

Dinara tidak menjawab. Pikirannya masih tertinggal di lantai marmer ruang tamu mereka yang bersimbah darah. Ia masih bisa merasakan hembusan napas terakhir Rendra di telinganya dan bisikan misterius tentang rahasia di bawah lantai gudang.

"Kita mau ke mana, Bima? Ini bukan jalan menuju apartemenmu," tanya Dinara saat menyadari mobil itu berbelok menuju kawasan perbukitan yang sepi dan jauh dari pusat kota.

Bima tersenyum miring, sebuah senyum yang kini membuat Dinara merasa mual. "Aku sudah bilang, aku ingin menjagamu tetap aman. Apartemenku terlalu mudah ditemukan. Aku punya sebuah villa di atas bukit ini. Tempat itu tersembunyi, tenang, dan yang paling penting, tidak akan ada yang bisa mengganggu kita di sana."

Villa itu berdiri kokoh di puncak bukit, dikelilingi oleh hutan pinus yang rimbun dan pagar beton yang sangat tinggi. Saat gerbang besi otomatis terbuka, Dinara merasa seolah ia sedang memasuki benteng pertahanan, atau mungkin, penjara baru yang lebih mewah.

Bima menuntun Dinara masuk ke dalam bangunan bergaya minimalis modern itu. Interiornya didominasi warna gelap dan pencahayaan temaram yang memberikan kesan misterius sekaligus mencekik.

"Kau butuh mandi dan istirahat. Aku sudah menyiapkan pakaian baru untukmu di kamar atas," kata Bima sambil mengarahkan Dinara menuju tangga.

"Bima, aku ingin pulang ke rumah orang tuaku. Aku butuh waktu sendiri untuk mencerna semua ini," ujar Dinara, mencoba memberanikan diri.

Langkah Bima terhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Dinara dengan tatapan yang sangat intens hingga wanita itu merasa kakinya terpaku ke lantai.

"Orang tuamu? Dinara, apakah kau lupa? Rendra sudah membayar semua hutang ayahmu dan sekarang rumah mereka pun atas nama perusahaan Rendra. Jika kau pulang ke sana, kau hanya akan membawa masalah hukum bagi mereka. Di sini kau aman. Di sini kau milikku."

Bima mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Dinara bisa mencium aroma sisa mesiu dan parfum maskulin yang tajam dari tubuh pria itu. Bima meletakkan kedua tangannya di pinggang Dinara, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan erat.

"Kau tidak butuh waktu sendiri, Dinara. Kau hanya butuh aku untuk membuatmu melupakan segalanya."

Tanpa menunggu jawaban, Bima mengangkat tubuh Dinara dan membawanya menuju kamar utama. Di sana, sebuah tempat tidur berukuran king size sudah menunggu dengan seprai hitam yang tampak dingin. Bima merebahkan Dinara dengan lembut namun penuh penekanan.

"Bima, tolong... aku sangat lelah," rintih Dinara saat melihat Bima mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.

"Aku akan membantumu rileks, sayang," bisik Bima.

Bima mulai menciumi leher Dinara, kali ini dengan cara yang jauh lebih menuntut. Setiap sentuhannya seolah ingin menghapus jejak Rendra yang mungkin masih tertinggal di kulit wanita itu. Dinara mencoba menutup matanya, berusaha mematikan rasa, namun Bima tahu benar cara membangkitkan gairah yang terlarang dalam dirinya.

Tangan Bima menjelajah dengan berani, menyentuh setiap lekuk tubuh Dinara yang masih bergetar. Gairah dan trauma bercampur menjadi satu dalam diri Dinara. Ia membenci kenyataan bahwa ia masih bisa merespons sentuhan pria yang telah menghancurkan hidupnya. Di bawah kungkungan Bima, Dinara kembali terjatuh ke dalam lubang dosa yang semakin dalam.

Pergumulan mereka malam itu terasa seperti sebuah perang batin. Bima tidak hanya menginginkan tubuh Dinara, ia menginginkan penyerahan total. Ia ingin Dinara melupakan bahwa ada pria lain yang pernah memilikinya. Dengan setiap gerakan yang liar dan desahan yang terpaksa keluar, Bima menanamkan dominasinya.

Setelah semuanya berakhir dan Bima tertidur karena kelelahan, Dinara tidak bisa memejamkan mata. Ia menunggu hingga napas Bima teratur, lalu perlahan ia melepaskan diri dari dekapan pria itu. Ia melangkah berjinjit menuju kamar mandi, namun tujuannya bukan untuk membersihkan diri.

Ia mencari ponselnya. Ia harus menghubungi seseorang, atau setidaknya mencari tahu kebenaran tentang bisikan Rendra. Namun, saat ia memeriksa tasnya, ponselnya sudah tidak ada. Bima telah mengambilnya.

Dinara merasa panik. Ia mulai menggeledah laci-laci di meja rias dengan gerakan yang sangat pelan. Di laci paling bawah yang terkunci, ia menemukan sebuah kunci kecil yang tertinggal di sela-sela kayu. Dengan tangan gemetar, ia membuka laci tersebut.

Di dalamnya bukan ponsel, melainkan sebuah paspor dan beberapa dokumen identitas. Dinara membuka paspor itu dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

Di sana tertera foto Bima, namun namanya bukan Bima Aditya. Nama yang tertulis di sana adalah Adrian Pratama.

"Pratama?" bisik Dinara tak percaya. "Dia... dia memiliki nama belakang yang sama dengan Rendra?"

Dinara segera membuka dokumen lain yang ada di sana. Sebuah akta kelahiran yang sudah tua dan sedikit menguning. Di sana tertulis nama ayah yang sama dengan ayah Rendra.

Bima bukan sekadar sahabat Rendra. Bima adalah saudara tiri Rendra yang selama ini keberadaannya disembunyikan dari publik. Persaingan mereka bukan hanya soal bisnis atau dendam masa lalu, tapi soal perebutan tahta keluarga yang gelap.

Tiba-tiba, lampu kamar mandi menyala dengan terang. Dinara tersentak dan menjatuhkan dokumen-dokumen itu ke lantai. Di ambang pintu, Bima atau Adrian berdiri dengan wajah yang sangat gelap. Ia tidak lagi mengenakan pakaian, hanya sebuah handuk yang melilit pinggangnya, memamerkan tato besar di punggungnya yang bergambar naga yang sedang melilit pedang.

"Sudah kubilang, jangan pernah menyentuh barang-barangku, Dinara," suara Bima terdengar seperti guntur di malam yang sunyi.

Dinara menatap Bima dengan ngeri. "Kau... kau adiknya? Kau saudara tirinya? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?"

Bima melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang sempit, membuat Dinara terpojok ke arah dinding keramik yang dingin. Ia memungut dokumen-dokumen itu dan merobeknya di depan wajah Dinara.

"Rendra merebut segalanya dariku karena aku adalah anak yang tidak diinginkan. Dia membuangku ke luar negeri dan membiarkanku membusuk tanpa sepeser pun uang. Dia pikir dia sudah menang saat ayahnya meninggal dan mewariskan semuanya padanya," Bima mencengkeram rahang Dinara dengan kuat.

"Tapi dia lupa satu hal. Aku jauh lebih licik darinya. Aku kembali bukan hanya untuk hartanya, Dinara. Aku kembali untuk mengambil satu-satunya hal yang dia cintai lebih dari nyawanya sendiri. Yaitu kau."

Bima mendorong Dinara hingga terduduk di tepi bathtub. "Sekarang kau tahu rahasianya. Apakah itu mengubah sesuatu? Tidak. Kau tetap milikku. Dan sekarang, setelah kau tahu siapa aku, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari villa ini sampai aku benar-benar yakin kau mengandung anakku."

Dinara membelalak. "Apa? Kau gila!"

"Aku tidak gila, Dinara. Aku hanya sedang memastikan bahwa darah Pratama yang akan meneruskan kekayaan ini adalah darahku, bukan darah Rendra," Bima tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat jahat.

Bima menarik tangan Dinara, membawanya kembali ke tempat tidur. Kali ini, ia mengeluarkan sebuah borgol kecil dari laci nakas dan memasangkannya pada salah satu pergelangan tangan Dinara, mengaitkannya pada tiang tempat tidur yang kokoh.

"Tidurlah, sayang. Besok adalah awal dari kehidupan barumu sebagai ratu di istanaku. Dan jangan pernah bermimpi untuk pergi, karena tempat ini dijaga oleh orang-orangku dua puluh empat jam penuh."

Dinara menangis dalam diam, menatap borgol yang melingkari tangannya. Ia telah berpindah dari satu monster ke monster yang lain. Dan kali ini, sangkar emasnya tidak memiliki pintu keluar sama sekali.

Namun, di tengah keputusasaannya, Dinara teringat akan bisikan Rendra yang lain. Gudang. Jika Rendra tahu Bima akan melakukan ini, pasti ada sesuatu di gudang rumah lama mereka yang bisa menghancurkan Bima.

Dinara harus menemukan cara untuk kembali ke rumah itu. Apapun taruhannya.