Langit biru perlahan berubah gelap, berhiaskan bintang-bintang yang menemani sang rembulan, Langkah gontai perlahan diayunkan, membawa kelelahan yang menempel di bahu Elvano sejak pagi.
Lampu-lampu kota berpendar di balik kaca mobilnya saat ia akhirnya tiba di halaman rumah. Mesin dimatikan, napas panjang terhembus dari dadanya. Hari ini kembali penuh sorotan, rapat, wawancara singkat yang tak terhindarkan, bisik-bisik tentang “kejutan partai”, dan tatapan orang-orang yang seolah lebih tertarik pada siapa yang berdiri di sampingnya ketimbang apa yang ia kerjakan.
Kecewa? Jangan ditanya lagi, sudah beberapakali Elvani menarik nafas dalam, dan menghembuskannya dengan kasar, namun tak seorangpun menyadari hal itu. Terlebih sekarang Laras tak lagi ada disampingnya, hari-hari kelam itu hanya ditemani oleh ajudan.
Elvano masuk ke rumah dalam diam. Ia menyalakan lampu, menanggalkan jas, lalu melangkah ke kamar mandi. Air hangat mengalir deras, membasahi rambut dan wajahnya. Ia memejamkan mata, membiarkan suara air menenggelamkan pikirannya yang kusut.
Namun seperti biasa, satu nama tetap muncul. ‘Nayara’. Entah sejak kapan, nama itu menjadi jeda di antara napasnya. Menjadi ruang tenang yang selalu ia cari setelah hari yang melelahkan.
Selesai membersihkan diri, Elvano keluar dengan handuk melingkar di pinggang. Rambutnya masih basah saat ia meraih ponsel di meja samping ranjang. Jarinya bergerak refleks, membuka aplikasi pesan.
Elvano:
Hay Nay, udah tidur belum?
Pesan terkirim.
Ia mengenakan kaus tipis dan celana rumah, lalu berjalan menuju ruang kerja. Lampu meja dinyalakan, memantulkan cahaya hangat ke ruangan yang selama ini menjadi tempatnya mengambil keputusan-keputusan besar. Keputusan yang sering kali bukan keinginannya sendiri.
Di atas meja kerja itu, tergeletak sebuah amplop cokelat. Elvano berhenti melangkah. Tatapannya tertuju pada amplop itu seolah ada benda asing yang tiba-tiba muncul di wilayah pribadinya. Perlahan, ia duduk di kursi kerja, jemarinya menyentuh tepi amplop dengan ragu.
Kontrak itu. Kontrak yang sejak awal menjadi alasan segalanya bermula. Perjanjian antara dirinya dan Nayara, tentang batas, tentang peran, tentang waktu, tentang apa yang boleh dan tidak boleh dirasakan. Tentang bagaimana hubungan itu seharusnya berhenti sebelum terlalu jauh.
Elvano tersenyum miris. “Konyol,” gumamnya pelan. Ia membuka amplop, mengeluarkan lembaran kertas yang rapi dan formal. Setiap pasal tertulis jelas, dingin, tanpa ruang abu-abu. Hubungan ini seharusnya aman. Terkontrol. Menguntungkan semua pihak.
Tapi tidak ada satu pun pasal yang mengatur tentang rasa nyaman. Tidak ada klausul tentang rindu yang muncul tanpa diminta. Tidak ada aturan tentang senyum kecil yang muncul hanya karena membaca pesan singkat. Tidak ada larangan untuk jatuh.
Elvano menutup mata. Baginya kini, kontrak itu tak lagi penting. Bahkan terasa menyesakkan. Ia ingin menjalani hari yang normal, bangun pagi tanpa agenda pencitraan, makan bersama tanpa kamera, tertawa tanpa memikirkan angle terbaik. Ia ingin… Nayara. Tanpa embel-embel.
Ponselnya bergetar. Bukan pesan. Panggilan masuk. Nama Nayara muncul di layar. Senyum Elvano terbit spontan. Ia meletakkan kontrak itu di atas meja, seolah dengan sengaja menjauhkannya dari jangkauan. Lalu ia berdiri, berjalan menuju kamar sambil mengangkat panggilan.
“Halo Nay, Kamu belum tidur?” ucapnya, suaranya otomatis melembut.
“Hmmm, Kak, Belum nih, aku baru aja selesai ngonten. Kalau kamu kak?” suara Nayara terdengar ceria di seberang sana, walau sedikit bergetar, karena sejatinya gadis itu juga sedang menahan canggung dan malu, namun kapan lagi ada kesempatan emas, jika dia tidak mulai untuk memberanikan diri.
“Baru sampai rumah,” jawab Elvano. “Capek?”
“Lumayan,” Nayara terkekeh kecil. “Baru selesai shooting konten. Promosi produk skincare.”
“Elah,” Elvano tertawa ringan. “Rajin banget sih, masih muda udah banting tulang, kerja sampai larut begini, hehe pasti cantik.”
“Kamu tuh,” Nayara mendengus, meski jelas tersenyum. “Aku capek lho.”
“Capek tapi tetap bikin orang susah tidur,” balas Elvano santai.
“Hah? Kok jadi aku?”
“Soalnya kamu nelepon,” jawabnya cepat.
“Halah,” Nayara tertawa. “Bilang aja kangen.”
Elvano terdiam sepersekian detik.
“Kamu jangan sembarang ngomong,” katanya pelan.
“Kenapa?” Nayara menggoda. “Takut?”
“Iya,” jawab Elvano jujur. “Takut kebiasaan.”
Di seberang sana, Nayara terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, lebih lembut dari sebelumnya.
Mereka berbincang tentang hal-hal receh, tentang kru Nayara yang kelelahan, tentang kopi yang Elvano minum siang tadi, tentang kucing liar yang sering muncul di depan rumah Nayara.
Sesekali mereka saling melempar gombalan ringan, tanpa sadar membuat jarak ribuan meter terasa sangat dekat.
“Nay,” ucap Elvano tiba-tiba. “Kalau aku nggak jadi seperti yang orang harapkan… kamu bakal kecewa nggak? Kamu masih mau komunikasi sama aku nggak?”
Pertanyaan itu meluncur tanpa rencana. Nayara terdiam sejenak. “Aku nggak pernah berharap kamu jadi siapa-siapa,” jawabnya lembut. “Aku cuma pengen kamu jadi diri kamu sendiri kak.”
Elvano memejamkan mata. Jawaban sederhana itu terasa lebih berat dari pidato mana pun.
Mereka tertawa lagi, saling menggoda, sampai tiba-tiba…..
Ding dong.
Suara bel rumah terdengar nyaring.
Elvano berhenti melangkah.
“Kamu denger itu?” tanya Nayara.
“Iya,” jawab Elvano, alisnya berkerut. “Jam segini siapa, ya?”
“Mungkin kurir?” tebak Nayara.
“Jam segini?” Elvano tertawa kecil. “Kurir mana yang rajin banget, jangan-jangan kamu COD in aku makanan ya Nay?.”
“Huh, apaan sih kak? Ngarep ya aku COD ini.” Nayara terkekeh mendengar ucapan Elvano, namun sepertinya itu ide yang bagus, kebetulan dirumah Nayara lagi banyak makanan yang dikirim ibunya. “Ya udah, cek dulu. Jangan lupa kunci pintu,” Nayara mengingatkan.
Elvano tersenyum. “Siap, ibu negara.”
“Hush,” Nayara protes. “Aku serius.”
“Iya, iya,” jawab Elvano lembut. “Nanti aku telepon lagi, ya.”
“Oke.”
Panggilan ditutup.
Elvano melangkah menuju pintu depan. Tangannya meraih gagang pintu, memutar kunci, lalu membukanya.
Dan seketika, dunia seolah berhenti berputar. Selina berdiri di ambang pintu. Rambut panjangnya tergerai rapi, wajahnya cantik seperti yang selalu Elvano ingat, namun dingin. Tatapan matanya tajam, penuh emosi yang belum terurai.
“Elvano,” ucap Selina pelan.
Jantung Elvano berdegup keras.
“Selina…?” suara itu keluar nyaris berbisik.
Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata.
“Kamu nggak berubah,” katanya sambil melangkah masuk tanpa permisi. “Masih suka buka pintu lama-lama, seolah takut lihat siapa di depannya.”
Elvano menelan ludah. Ia menutup pintu perlahan, seolah menutup bab lama yang selama ini ia kubur rapat-rapat. Namun kehadiran Selina di rumah itu, menandakan satu hal yang pasti. Masa lalu tidak datang untuk sekadar menyapa. Melainkan pesan tersirat untuk masalah baru yang akan timbul dan tak bisa dielak lagi.
“Kenapa dia harus hadir lagi? Kenapa baru hadir sekarang? Kemana aja selama ini? Apa tujuan dia datang kemari?” semuanya menjadi tanda tanya untuk Elvano. Selina bukanlah sosok yang mudah untuk ditebak, bahkan bagi Elvano, wanita itu banyak menyimpan rahasia.
KONTRAK PERASAAN
Penulis
Arunaa
04 January 2026