Secangkir teh disuguhkan Elvano untuk Selina yang duduk diruang tamu. Tak ada senyuman hangat yang menyambut kedatangan wanita itu, Elvano berubah. Biasanya, Ia akan menyambut Selina dengan hangat, namun kali ini ELvano lebih memilih untuk duduk diseberang Selina. “Thanks, El.” Selina memperlihatkan lesung pipinya saat tersenyum. “Hmmm, wanginya enak.” Selina meresapi aroma the buatan Elvano yang tak pernah berubah, dan selalu dirindukannya. “Kamu sendirian? Dimana Laras?” Selina merasa rumah itu sangat sepi, biasanya ada Laras yang akan mengawasi mereka. “Hmmm?” Elvano hanya bergumam, sambil melihat sekitar, ya rumah itu memang terasa sepi saat ini, tidak dengan tadi saat dirinya sedang telponan bersama Nayara. “Laras lagi pulang kerumahnya.” Jawab Elvano singkat. Suasana hening sejenak, tak seorang pun memulai pembicaraan. Canggung, itu yang mereka rasakan setelah beberapa tahun tak bertemu dan tak berkomunikasi. Selina menarik nafasnya dala, meletakkan secangkir teh itu diatas meja. “Rumah ini…” “Hmm, kamu tau dari mana aku disini?” Jelas pertanyaan bodoh yang keluar dari bibir Elvano. “Oh, itu! Aku hanya menebaknya. Ini sudah larut malam, dan mungkin kamu lagi dirumah.” Jawab Selina canggung. “Dan ternyata benar! Kamu sepertinya banyak berubah El.” “Oh ya?” Dahi Elvano sedikit berkerut. “Aku pikir, nggak ada yang berubah! Mungkin waktu yang berubah, semakin hari usia semakin bertambah.” Selina hanya menganggukkan kepala. Rasanya Elvano yang sekarang bukanlah pria manja yang dulu dikenalnya. Bahkan pembicaraan mereka terasa kaku, dan asing. Elvano melirik sekilas kearah jam dinding yang bertengger diantara lukisan-lukisan estetic. Selina menangkap gerak gerik Elvano. “Hmm, aku kesini…” Selina canggung, bahkan harus menelan salivanya yang tersangkut dikerongkongan. “El, aku mau minta maaf soal…” lagi-lagi Selina tak mampu meneruskan ucapannya. “Sudahlah, itu semua sudah berlalu. Saat itu juga kita masih anak-anak.” Elvano seolah tak ingin membahas lagi masa lalu mereka. Selina mengangguk faham, suasana kembali hening, taka da yang memulai pembicaraan. “Kamu kesini sama supir, atau…?” Elvano mulai tak nyaman karena malam semakin larut, dirinya takut nanti jika ada orang lain yang melihat keberadaan Selina disana akan timbul fitnah baru yang akan menghancurkan karir dan reputasinya. “Ohhh, aku sendiri.” Jawab Selina canggung. “Sudah larut malam.” Tatapannya kearah jam dinding. “Aku pamit dulu.” Selina bangkit dari tempat duduknya. “Hmm, tunggu disini!” Ucap Elvano yang juga bangkit dari tempat duduknya. Selina tersenyum dalam hati, “akhirnya…” Selina pikir Elvano akan menyuruhnya untuk tinggal. “Aku ambil kunci dulu, biar aku antar.” Kalimat yang dilontarkan Elvano bagaikan kilat yang menyambar isi kepala Selina. Harapannya untuk tinggal dan menginap dengan segala rancangan yang sudah disusun kini sia-sia. Elvano bergegas naik keatas untuk mengambil kunci mobilnya. Selina melihat sekeliling rumah itu, semuanya rapih, indah, estetik. Sesuai dengan ciri khas Elvano. Langkah kakinya terhenti didepan pintu sebuah ruangan yang sedikit terbuka. Entah kenapa, langkah kakinya tertarik untuk masuk kedalam. Sebuah amplop coklat tergeletak diatas meja, didalamnya ada kertas putih yang sedikit mengintip. “Perjanjian kontrak!” Selina membacanya dalam hati. Langkah kaki terdengar menuruni anak tangga. Selina bergegas keluar dari dalam ruangan itu. “Kamu…” Elvano sedikit melirik kearah Selina yang berdiri tak jauh dari dekat ruang kerjanya. “Aku, cari toilet.” Jawab Selina gugup. “Oh, disebelah sana!” Elvano menunjuk kearah belakang, dekat kolam berenang. Selina mengangguk faham, dan bergegas kearah toilet. Elvano menutup pintu ruang kerjanya, dan menunggu Selina didepan. Tak berselang lama Selina datang, “Ayok!” Ucapnya pada Elvano, namun pandangan Selina tertuju pada seorang pria berbadan tegap yang kini sudah berdiri didekat Elvano. Pria itu adalah ajudan ELvano yang baru saja tiba. Elvano sengaja memintanya untuk datang dan menemani ELvano mengantarkan Selina. “Namanya Ardhan, dia ajudan ku.” Elvano memperkenalkan Ardhan pada Selina. Sepanjang perjalanan suasana didalam mobil sangatlah sepi. Tak ada seorangpun yang memulai pembicaraan. Ardhan menekan tombol musik, agar tidak terlalu canggung. Sebuah lagu mulai mengalun santai. Irama yang familiar untuk ELvano. Teringat saat pertama kali bertemu dengan Nayara beberapa waktu lalu. Ya, Elvano dan Nayara yang menjadi model vidio clip lagu itu. Saat itu keduanya belum sedekat sekarang. Mereka hanya bertemu sebatas kontrak kerja. Itu adalah proyek pertama mereka berdua, dan karena vidio clip itu juga ide gila Laras muncul. Selina terlihat gelisah, sesekali lirikkan matanya tertuju kearah Elvano yang memilih diam memandang keluar jendela. “Bos, kita mau kemana?” Tanya Ardhan memecah keheningan. “Hah?” Elvano mengalihkan pandangan kearah Selina. Ia tak yakin jika wanita itu masih tinggal diapartemen yang sama. “Hotel Senopati.” Ucap Selina. Agak janggal rasanya mendengar nama hotel itu. “Kenapa dia pulang kesini?” timbul pertanyaan didalam benak Elvano. Drrrtttt Drrrrttt Pesan masuk dari Nayara: “Kak? Are u okey?” Selina sedikit melirik handphone Elvano. Pria itu tak membalasnya. Ia hanya diam dan menutup handphone-nya. Mobil itu masuk kedalam gerbang hotel Senopati, dan berhenti tepat didepan loby. “Aku nggak ikut turun ya, takutnya….” “Hmm, aku faham El. Aku pamit ya.” Selina tersenyum tipis dan turun dari dalam mobil itu. Tangannya melambai saat kaca menutup perlahan. Mobil pun meninggalkan loby hotel. Ardhan hanya diam menyaksikan sepasang manusia yang dulu sering Ia lihat wara wiri dilayar kaca televisi, menampilkan kemesraan anak remaja, yang tak pernah lepas dari sorotan kamera. Namun kini, mereka terasa asing, dingin, seakan ada dinding pembatas yang menjulang tinggi. “Dhan, kita mampir ke sinar malam ya!” Sudah lama sekali Elvano tak menyebut nama tempat itu. “Serius pak bos?” Tanya Ardhan tak percaya. Elvano hanya menganggukkan kepala. Ardhan pun hanya bisa menuruti perintah atasannya. Mobil mereka parkir tak jauh dari pintu masuk club malam yang terkenal di ibu kota. Tempat elit para anak muda yang ingin menghabiskan malam dengan sia-sia. Ardhan dan Elvano hanya duduk didalam mobil tanpa berniat untuk turun, seolah sedang menunggu sesuatu. Tak berselang lama, sebuah taxi berwarna kuning berhenti didepan club dan seorang wanita turun dari dalamnya. “Bukannya itu…?” ucapan Ardhan menggantung. Elvano hanya diam, rahangnya mengeras, sudut bibirnya sedikit terangkat seakan hafal dengan semua yang akan terjadi. Mereka berdua hanya diam didalam mobil, Elvano membuka handphonenya lalu menghubungi seseorang. “Hallo? Seperti biasa!” Orang diseberang sana seakan faham maksud Elvano, tanpa banyak bertanya orang tersebut langsung mengiyakan perintah Elvano. “Pulang, Dhan!” Perintah Elvano setelah menutup teleponnya. Ardhan hanya menurut, Ia masih belum faham maksud Elvano. Yang jelas Ardhan tak berani terllau ikut campur, tugas dia hanyalah sebatas ajudan. Elvano masuk kedalam kamarnya, menyalin pakaian dan membersihkan diri, lalu Bersiap untuk tidur. Namun pikirannya kacau, handphone tak pernah lepas dari genggamannya.
KONTRAK PERASAAN
Penulis
Arunaa
04 January 2026