KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
04 January 2026

Elvano berbaring telentang di atas ranjang, lampu kamar sengaja ia biarkan temaram. Pendingin ruangan berdengung pelan, namun dinginnya tak pernah benar-benar sampai ke dadanya. Tangannya menggenggam ponsel erat, layar menyala lalu mati berulang kali, seolah ia ragu pada keputusannya sendiri. Pesan dari Nayara masih terbuka di notifikasi. “Kak? Are u okey?” Kalimat singkat itu terasa seperti sentuhan lembut di tengah kepalanya yang gaduh. Elvano menghela napas panjang. Ia memejamkan mata, membiarkan bayangan-bayangan malam ini berkelebat tanpa permisi. Wajah Selina yang muncul tiba-tiba. Amplop cokelat di meja kerjanya yang hampir terbongkar. Tatapan Selina yang terlalu ingin tahu. Dan yang paling membuat dadanya sesak, rasa bersalah karena memilih diam pada Nayara. Ia memutar tubuh menghadap samping, menatap kosong ke arah jendela kamar. Pikirannya kacau, hatinya berkecamuk. Tirai tipis berkibar pelan tertiup angin malam. Kota masih hidup di luar sana, namun di dalam dirinya, sesuatu terasa retak. “Elvano,” gumamnya lirih, menyebut namanya sendiri seolah sedang menegur, sepasang tangannya mengacak rambutnya yang berwarna hitam. “Kamu nggak bisa terus begini.” Ia tahu, malam ini ia kembali lari. Bukan dari Selina, melainkan dari kejujuran. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan, melainkan panggilan masuk. Nama Nayara kembali muncul di layar. Jantung Elvano berdegup lebih cepat. Ia ragu. Jarinya hampir menekan tombol terima, namun berhenti di udara. “Kalau aku angkat,” batinnya bergejolak, “aku harus menjelaskan semuanya, dan aku belum siap.” Keraguan berselimut tebal, merengggut tahta keberanian. Nada dering itu berhenti. Digantikan oleh keheningan yang justru terasa lebih nyaring. Elvano bangkit duduk, mengusap wajahnya kasar. Rambutnya masih sedikit lembap dan acak-acakan, namun keringat dingin justru mengalir di pelipis. Ia berdiri, berjalan ke arah ruang kerja, seolah tertarik oleh sesuatu yang tak kasat mata. Pintu ruang kerja terbuka. Lampu dinyalakan. Amplop cokelat itu masih di sana. Elvano mendekat, mengambilnya, lalu duduk di kursi kerja. Ia membuka kembali kontrak itu, membaca baris demi baris yang kini terasa asing. Dulu, dokumen ini terasa aman. Terukur. Memberinya kendali. Kini, setiap kalimatnya seperti menertawakan dirinya sendiri. Hubungan ini bersifat profesional. Tidak melibatkan perasaan pribadi. Tidak menimbulkan kewajiban emosional di luar kesepakatan. “Elvano bodoh,” gumamnya pahit. Ia melipat kembali kontrak itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu mendorongnya jauh ke sudut meja. Seolah dengan begitu, ia bisa menyingkirkan kenyataan bahwa hidupnya telah melampaui batas-batas yang ia buat sendiri. Ia kembali ke kamar, merebahkan diri. Kali ini memunggungi jendela. Ponsel masih di genggaman. Beberapa menit berlalu. Tak ada pesan masuk lagi. Di sisi lain kota, Nayara duduk di tepi ranjang kamarnya, ponsel di tangan tak pernah lepas walau sesaat, mata menatap layar tanpa fokus. Lampu kamar masih menyala terang, meski jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa kesal yang perlahan bercampur dengan kekhawatiran. “Kenapa sih kamu, Elvano… bisa nggak jangan bikin orang lain khawatir.” bisiknya. Diva, yang sejak tadi pura-pura sibuk dengan laptop di sudut kamar, melirik sekilas. “Masih belum dibalas?” Nayara menggeleng pelan. Diva menghela napas. “Aku nggak mau manas-manasin ya, Nay. Tapi kamu berhak kesel.” “Aku tahu,” jawab Nayara lirih. “Tapi… aku ngerasa ada yang nggak beres. Gimana kalua ternyata yang datang orang jahat, perampok? Atau amit-amit pembunuh bayaran? Aaaaa gimana dong?” “Sejak kapan hidup kamu bareng dia pernah bener-bener beres? Lagian komplek perumahan itu dijaga ketat, mana mungkin orang sembarangan yang masuk, kecuali….” “Kecuali apa Div?” Tanya Nayara penasaran, pupil matanya membesar, berharap lebih lanjut dengan jawaban Diva. “Kecuali mantannya yang datang.” Jawab Diva santai. “Hussst kamu nih, mana mungkin Selina kan lagi diluar negeri, dan udah lama pindah kesana. Lagian kak Vano bilang hubungan mereka udah usai kok.” Nayara nyeloteh, seakan meyakinkan hati dengan logika. Segaris senyuman tergambar diwajah Diva, menertawakan tingkah Nayara. Diva menutup laptopnya, mendekat. “Kamu capek nggak sih jadi orang yang selalu ngertiin?” Nayara terdiam. Pertanyaan itu menghantam tepat di dadanya. Capek. Ia capek, tapi anehnya, ia tak ingin menyerah. “Aku cuma takut,” Nayara akhirnya bersuara. “Takut dia sendirian. Takut dia kenapa-kenapa.” Diva memandangnya lama, lalu tersenyum kecil, getir. “Kamu terlalu baik buat dunia mereka.” Nayara tertawa hambar. “Atau aku terlalu bodoh.” Itulah kenyataan pahit yang disembunyikan Nayara. Ia terlanjur menaruh hati pada Elvano. Perasaan itu sulit untuk dibendung, mengalir deras bagaikan air bah yang tak ingin berhenti walau sejenak. Kembali ke rumah Elvano, malam semakin larut. Elvano belum juga terlelap. Ia bangkit lagi, kali ini menuju dapur. Mengambil segelas air, meminumnya perlahan. Bayangan Selina kembali muncul tanpa diundang. Ia teringat tatapan wanita itu saat berdiri di depan ruang kerja. Tatapan yang bukan sekadar penasaran, melainkan penuh perhitungan. Selina tak datang hanya untuk bernostalgia. Ia yakin. “Kenapa kamu datang lagi, Selina…” gumam Elvano. Ia tahu Selina dengan sangat baik. Terlalu baik. Wanita itu tak pernah melangkah tanpa alasan. Dan fakta bahwa ia datang tepat di saat hubungannya dengan Nayara berada di puncak sorotan public, itu bukan kebetulan. Elvano mengepalkan tangan. “Jangan sampai Nayara terlibat lebih jauh,” tekadnya muncul tiba-tiba. “Cukup aku.” Ia kembali ke kamar, kali ini memutuskan untuk berbaring dan memejamkan mata. Namun sebelum itu, ia membuka ponselnya, jari-jarinya bergerak cepat mengetik pesan. Elvano: Maaf Nay. Aku baik-baik aja. Tadi ada urusan mendadak. Jangan khawatir ya. Besok kita ngobrol. Ia menatap pesan itu lama sebelum akhirnya mengirimkannya. Pesan terkirim. Beberapa detik kemudian, tanda centang berubah biru. Balasan datang cepat. Nayara: Oke. Aku tunggu. Jangan ngilang lagi, Kak. Kalimat itu sederhana, namun terasa seperti peringatan dan harapan sekaligus. Elvano tersenyum kecil, pahit. “Besok,” bisiknya. “Aku janji.” Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu, jika hari esok tak akan sesederhana itu. Karena di balik bayang-bayang malam ini, ada Selina yang kembali masuk ke kehidupannya tanpa permisi. Ada partai yang terus menarik talinya. Ada kontrak yang tak lagi bisa ia abaikan. Dan ada Nayara, satu-satunya alasan ia masih ingin bertahan waras. Di sudut kota lain, Selina berdiri di balkon sebuah gedung, memandangi lampu-lampu kota dengan segelas wine di tangan. Bibirnya melengkung tipis. “Perjanjian kontrak…” gumamnya, mengingat amplop cokelat yang sempat ia lihat. “Menarik.” Ia meneguk winenya perlahan. “Elvano,” bisiknya penuh keyakinan. “Kamu mungkin sudah berubah. Tapi permainan ini… masih sama.” Malam itu, tiga hati terjaga dengan pikiran masing-masing. Dan tanpa mereka sadari, fajar yang akan datang membawa lebih banyak konflik daripada jawaban.