KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
04 January 2026

Pagi datang tanpa permisi, menyelinap lewat celah tirai kamar Elvano. Cahaya pucat matahari jatuh tepat di wajahnya, membuatnya mengernyit pelan sebelum akhirnya membuka mata. Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang tercerai-berai semalaman. Hal pertama yang ia lakukan adalah meraih ponsel di sisi bantal. Nama Nayara langsung terlintas di benaknya, lebih cepat daripada kesadarannya sendiri. Ia membuka aplikasi pesan, jemarinya bergerak tanpa ragu kali ini. Elvano: Selamat pagi, Nay. Kamu sudah bangun? Tak sampai satu menit, balasan masuk. Nayara: Pagi, Kak. Udah nih, dari subuh tadi. Kamu gimana? Demamnya udah turun? Elvano tersenyum kecil. Senyum yang jarang ia sadari kini lebih sering muncul sejak Nayara hadir dalam hidupnya. Elvano: Udah jauh lebih baik. Thanks ya… buat semalam. Nayara membaca pesan itu dengan dada menghangat. Ia menahan diri untuk tak membalas terlalu cepat, tapi akhirnya menyerah. Nayara: Sama-sama. Jangan keras kepala lagi. Sarapan ya. Kalau capek tu istirahat, jangan terlalu memaksakan diri kak. Kamu kan manusia, juga butuh istirahat, jalan-jalan buat hilangin setres. Bukan robot yang harus kerja dua puluh empat jam. Elvano menghela napas pelan, ada rasa tenang yang sulit ia jelaskan. Untuk sesaat, dunia terasa sederhana. Tak ada partai, tak ada kamera, tak ada kontrak. Hanya mereka. Namun hidup Elvano tak pernah benar-benar memberinya jeda panjang. Apa yang dikatakan Nayara benar adanya. Selama dua puluh Sembilan tahun menjalani kehidupan, ELvano selalu hidup dalam bayang-bayang orang lain. Pagi itu, ia harus menghadiri serangkaian kegiatan sosial, kunjungan ke panti asuhan, dialog dengan warga di daerah pinggiran kota, hingga peresmian fasilitas umum. Setelan sederhana namun rapi melekat di tubuhnya, wajahnya kembali memasang senyum yang dikenal publik. Senyum yang kini terasa semakin berat. Di tengah sambutan hangat warga dan jabat tangan yang tak ada habisnya, pikiran Elvano kerap melayang. Setiap kali ia tertawa bersama anak-anak panti, bayangan Nayara muncul. Setiap kali ia mendengar keluhan warga, ia teringat percakapan kecil mereka tentang hidup yang ingin dijalani dengan lebih jujur. Ardhan, yang berdiri tak jauh darinya, memperhatikan perubahan itu. Ia tak banyak bicara, namun sebagai ajudan, ia tahu, atasannya sedang berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Siang menjelang sore ketika akhirnya semua agenda selesai. Elvano masuk ke mobil dinas dengan bahu terasa lebih berat dari biasanya. “Bos mau langsung pulang?” tanya Ardhan sambil menyalakan mesin. Elvano menggeleng pelan. “Enggak. Kita mampir sebentar.” “Ke mana, Pak?” Elvano ragu sepersekian detik, lalu berkata, “Bowling.” Ardhan meliriknya sekilas, sedikit terkejut, namun segera mengangguk. “Baik.” Beberapa menit kemudian, pesan singkat meluncur dari ponsel Elvano ke ponsel Nayara. Elvano: Kamu free sore ini? Aku pengen ketemu. Santai aja. Nayara sedang duduk di depan laptop ketika pesan itu masuk. Jantungnya berdegup tak karuan. Nayara: Bisa. Ke mana? Elvano: Bowling. Kamu pernah main? Nayara terkekeh sendiri sebelum membalas. Nayara: Pernah… tapi jangan berekspektasi tinggi. Elvano tersenyum lebar kali ini. Tangannya membagikan alamat sebuah tempat kepada Nayara. Membuat gadis diseberang sana, bergegas mengganti pakaiannya. Riasan setelah fotoshoot masih melekat diwajah cantiknya. Setelan baju kaos berwarna hijau menjadi pilihannya, dipadukan dengan hotpans berwarna putih. Nayara menggulung rambutnya keatas mirip seperti gaya thinkerbell. Sederhana, namun justru itulah yang membuat Elvano terpaku saat melihatnya melangkah masuk. Tempat bowling itu tak sepenuhnya sepi, namun juga tak terlalu ramai. Musik ringan mengalun, suara bola bergulir dan pin jatuh saling bersahutan. Elvano begitu serius bermain. Ardhan memberikan kode kepada Elvano, jika Nayara sudah hadir. Pandangannya tertuju kearah pintu masuk. Gadis kecil yang terlihat sederhana, namun tak pernah lepas dari kesan elegant, cantik dan rapih. Wajar saja jika ia menjadi panutan anak remaja era sekarang. Nayara tak pernah gagal memainkan outfitnya. “Kak Vano,” sapa Nayara, melambaikan tangan kecil. Elvano mendekat, matanya tak lepas dari Nayara. “Hey, kamu kelihatan cantik” “Hah?,” jawab Nayara cepat, sedikit malu. Pipinya bahkan bersemu merah, menambah rona blush on diwajahnya. Mereka mengambil bola bowling, berdiri berdampingan. Untuk sesaat, canggung muncul, namun bukan canggung yang tak nyaman. Lebih seperti kegugupan dua orang yang sadar sedang berada di wilayah abu-abu. Melihat Nayara yang sedikit kesulitan, Elvano mulai ingin mengambil peran. “Aku ajarin ya,” ujar Elvano saat melihat Nayara memegang bola dengan ragu. “Siap, coach,” Nayara tertawa. Jujur ia tak begitu faham dengan permainan ini, dalam pikirannya hanya sekedar melemparkan bola untuk membuat pin itu jatuh, namun ternyata tak semudah yang dibayangkan. Elvano berdiri di belakang Nayara, terlalu dekat, sampai detak jantungnya terdengar jelas ditelinga Nayara. Tangannya mengarahkan posisi Nayara, membetulkan sikap tubuhnya. Nayara menahan napas, sadar betul jarak di antara mereka kini hampir tak ada. “Pegangnya jangan terlalu tegang,” ucap Elvano pelan, suaranya dekat di telinga Nayara. “Lepasin aja.” Dan terasa maskulin. Jantung Nayara bersorak sorak, memukul genderam dengan irama tak beraturan. Nayara mengangguk, mencoba fokus. Bola menggelinding, pin-pin jatuh, tidak semuanya, tapi cukup untuk membuat Nayara bersorak kecil. “Lumayan!” serunya. Elvano tertawa. “Lumayan banget.” Ardhan, yang sejak tadi duduk agak jauh, tanpa sadar mengangkat ponselnya. Momen itu terlalu… nyata. Terlalu hangat. Ia mengambil beberapa foto, Elvano tertawa lepas, Nayara tersenyum cerah, momen ketika Elvano menepuk kecil kepala Nayara dengan gemas setelah lemparan yang meleset, atau sekedar menyentuh hidung mungil Nayara dengan menggunakan jari telunjuknya. Tanpa pikir panjang, Ardhan mengunggah satu foto ke status privatnya. Close friends. Lingkaran kecil. Aman. Atau setidaknya, ia pikir begitu. Beberapa orang mulai memperhatikan. Bisik-bisik terdengar. Ada yang mengenali Elvano, ada pula yang langsung mengeluarkan ponsel. Dalam dunia yang haus sensasi, kemesraan kecil bisa berubah menjadi badai besar dalam hitungan menit. Sementara Nayara dan Elvano masih tertawa, tak sadar kamera-kamera kecil mengabadikan setiap gestur mereka. Sore itu, linimasa kembali berguncang. Foto buram Elvano yang membungkuk mengajari Nayara bowling. Video pendek Nayara tertawa sambil menepuk bahu Elvano. Caption-caption penuh spekulasi bermunculan. “INI KELIATAN BUKAN SETTINGAN” “ELVANO KALO SENYUM KE NAYARA BEDA.” “BOWLING DATE???” Ardhan membeku ketika notifikasi mulai berdatangan. “Pak…” suaranya tercekat. “Kayaknya… ini bocor.” Elvano langsung mengambil ponselnya. Wajahnya mengeras saat melihat apa yang terjadi. Nayara, yang ikut melihat, menutup mulutnya dengan tangan. “Ini… dari mana?” suara Nayara bergetar. Elvano menoleh ke Ardhan. Tak perlu jawaban panjang. “Kita pulang,” ucap Elvano tegas. Nayara gugup, ia panik melihat sekeliling banyak pasang mata yang menyaksikan mereka. “Kak, kamu yakin?” Tanya Nayara, ia merasa terburu-buru pulang bukanlah ide yang bagus. Pasti akan banyak spekulasi negative tentang mereka. Elvano mengernyitkan keningnya. Nayara mendekatkan diri kearah Elvano, membisikkan sesuatu ketelinga pria tampan itu. Mengangguk faham, apa yang diucapkan Nayara benar adanya. Saatnya mereka memainkan peran, melanjutkan apa yang sudah sejak awal dimulai. Elvano dan Nayara duduk disebuah kursi panjang untuk beristirahat. Tangan Nayara kesulitan membuka tutup botol air mineral, dan Elvano membantunya. Ardhan menuruti perintah Elvano untuk memanggil teman-temannya. Nayara juga sudah menghubungi Diva untuk segera hadir ketempat itu. Setelah puas bermain bowling, Elvano mengajak Nayara, Ardhan, dan ajudan lainnya untuk menikmati makan malam disalah satu restorant. “Maaf aku telat.” Seorang wanita dengan setelan jins panjang, kemeja berwarna coklat susu, ngos-ngosan menghampiri mereka. “Kamu baru selesai kuliah Div?” Tanya Nayara heran, melihat Diva datang dengan penampilan kusut tak seperti biasanya. “Huh, iya Nay!” Diva berusaha tersenyum didepan sahabatnya, matanya terlihat sembab, rambutnya sedikit berantakan sama seperti pakaiannya. Tak enak jika bertanya lebih lanjut didepan orang ramai, Nayara memilih untuk menggandeng tangan Diva, dan mengajaknya untuk duduk didekatnya. Di tempat lain, Selina duduk di kamar apartemennya, ponsel di tangan. Ia menatap layar lama, terlalu lama, sebelum akhirnya tertawa pelan. Tawa tanpa humor. “Jadi begini,” gumamnya. “Kamu pilih dia.” Tangannya mengepal. Matanya menyipit. Di kepalanya, roda-roda lama mulai berputar Kembali, rencana, skenario, kemungkinan. Ia tersenyum sinis, berdiri, berjalan ke arah jendela. “Tenang aja, Elvano,” bisiknya dingin. “Tunggu tanggal mainnya.” Di luar sana, publik kembali gaduh. Di dalam hati Nayara dan Elvano, badai lain sedang bersiap. Dan Selina, ia tak lagi berniat menjadi penonton yang hanya duduk diam. Sudah saatnya ia mengambil peran, merenggut apa yang harusnya tetap menjadi miliknya.