Hari ketenangan itu datang tanpa peringatan, dan pergi tanpa pamit. Beberapa hari setelah kehebohan bowling mereda, publik perlahan beralih pada isu lain. Linimasa Nayara mulai kembali normal, endorsement berjalan lancar, komentar negatif berkurang, gosip tak lagi sebrutal sebelumnya. Elvano pun kembali tenggelam dalam rutinitas rapat dan agenda politik, seolah badai telah lewat. Namun ketenangan itu ternyata hanya jeda sebelum hantaman berikutnya. Pagi itu, Nayara terbangun oleh getaran ponsel yang tak berhenti. Satu, dua, tiga notifikasi masuk bertubi-tubi. Grup manajemen ramai. Pesan pribadi membanjir. Panggilan tak terjawab menumpuk. Dengan mata setengah mengantuk, Nayara membuka salah satu pesan. Dan dunia seketika runtuh. Sebuah foto memenuhi layar, buram, tapi cukup jelas untuk menghancurkan segalanya. Salinan kontrak. Kertas putih dengan kop resmi. Judul tebal di bagian atas: PERJANJIAN KERJA SAMA HUBUNGAN PUBLIK Nama Elvano Aryavindra dan Nayara Ayuna Iyara tertulis jelas di sana. Tanda tangan. Pasal demi pasal. Durasi. Klausul kerahasiaan. Kontrak yang seharusnya terkunci rapat, kini telanjang di hadapan publik. Darah Nayara terasa surut dari wajahnya. “Apa… ini?” bisiknya nyaris tak bersuara. Tangannya gemetar saat ia membuka media sosial. Trending topik nomor satu. Potongan kontrak diunggah oleh akun gosip besar, disertai caption provokatif. “TERNYATA CINTA MEREKA SETTINGAN? INI BUKTINYA.” Komentar meledak. “JADI SELAMA INI HANYA PURA-PURA?” “NAH KAN, INFLUENCER MAH GITU.” “ELVANO PENIPU PUBLIK, MAIN SINETRONNYA MULUS BANGET.” “KAMI DIBOONGIN.” “NGGAK LUCU!” Nayara menjatuhkan ponselnya ke kasur. Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek. Air mata menggenang tanpa ia sadari. Di tempat lain, Elvano mengalami pagi yang jauh lebih brutal. Ia baru saja masuk ke kantor ketika ajudannya berlari kecil menghampiri, wajah pucat. “Pak… ini gawat.” Belum sempat Elvano bertanya, ponsel sudah disodorkan. Foto kontrak itu. Sama. Jelas. Tak terbantahkan. Elvano memejamkan mata, rahangnya mengeras. Belum lima menit berselang, ponselnya berdering. Nama Ketua Partai muncul di layar. “Masuk ke ruangan saya. Sekarang.” Nada itu dingin. Tak memberi ruang untuk penolakan. Ruang ketua partai pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya. Layar televisi menyala, menampilkan wajah Elvano dan Nayara berdampingan dengan tulisan besar: KONTRAK HUBUNGAN PALSU TERBONGKAR? Ketua partai berdiri membelakangi pintu, tangan bertaut di belakang punggung. “Ini kerja bagus,” katanya tanpa menoleh. Sarkasme menetes di setiap kata. Elvano berdiri tegak, namun dadanya terasa dihimpit. “Saya minta penjelasan.” “Kontrak itu bocor,” jawab Elvano jujur. “Saya tidak tahu bagaimana bisa tersebar.” Ketua partai berbalik cepat. “Saya tidak peduli bagaimana. Saya peduli dampaknya.” Ia melangkah mendekat. “Kamu tahu apa artinya ini untuk partai? Untuk citra kita?” Elvano diam. “Kamu harus bersihkan semuanya,” lanjutnya tegas. “Bantah. Klarifikasi. Putar narasi. Apapun. Saya tidak mau dengar kata ‘kontrak’ lagi dari publik.” “Bagaimana dengan Nayara?” tanya Elvano pelan. Ketua partai menyeringai tipis. “Itu urusanmu. Jangan sampai perempuan itu jadi beban, atau jangan-jangan dia yang menyebarkan semua ini.” Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Elvano duga. Sementara itu, Nayara duduk kaku di ruang meeting kantor manajemennya. Wajah-wajah serius mengelilinginya. Salah satu klien besar tampil di layar video call. “Kami butuh klarifikasi,” ujar perwakilan klien dengan suara datar. “Brand kami dibangun atas kepercayaan. Jika hubungan ini palsu, maka citra Nayara juga dipertanyakan.” “Kami mempertimbangkan memutus kontrak,” sambung yang lain. Nayara menunduk. Tenggorokannya tercekat. “Hubungan saya dengan Kak Elvano…” suaranya bergetar. “Tidak sesederhana itu.” “Tapi kontrak itu nyata,” potong sang klien. “Dan publik tidak peduli perasaan.” Kata-kata itu menghantam Nayara tanpa ampun. Telepon Elvano masuk tepat saat Nayara keluar dari ruang meeting dengan langkah limbung. “Kita harus ketemu,” suara Elvano terdengar tegang. “Sekarang.” Mereka bertemu di apartemen Laras. Perempuan itu berdiri di tengah ruangan, menatap dua manusia yang terlihat sama-sama kelelahan, panik, dan terluka. Sudah lama Laras tak berada di posisi ini, menjadi penengah, setelah ia memilih mundur. Namun situasi ini memaksanya menurunkan egonya. Laras memilih untuk menghubungi Elvano dan hadir disana. “Duduk,” ucap Laras singkat. Elvano dan Nayara menurut. “Sekarang dengarkan aku,” lanjut Laras, suaranya tegas namun bergetar halus. “Ini bukan lagi soal citra. Ini soal hidup kalian.” Nayara menunduk, air mata jatuh satu-satu. “Ada yang sengaja membocorkan kontrak itu,” kata Laras. “Dan kita semua tahu, ini bukan kebetulan.” Elvano menatap Laras tajam. “Kamu curiga siapa?” Laras terdiam sejenak. “Aku tidak mau menuduh tanpa bukti. Tapi lingkaran orang yang tahu kontrak ini sangat kecil.” Ruangan hening. Nama itu tak diucapkan, tapi terasa melayang di udara. Sebenarnya Laras curiga akan satu hal, namun tak mungkin menanyakan hal itu pada Elvano didepan Nayara. “Kita tidak bisa menyangkal keberadaan kontrak,” lanjut Laras. “Tapi kita bisa mengubah cara publik memahaminya.” “Bagaimana?” tanya Nayara lirih. Laras menatapnya lembut. “Dengan kejujuran yang setengah.” Ia menoleh ke Elvano. “Akui bahwa hubungan kalian memang berawal dari kesepakatan profesional. Tapi tekankan bahwa perasaan berkembang di luar rencana.” Elvano terdiam. Itu bukan kebohongan sepenuhnya. “Kalian harus satu suara,” lanjut Laras. “Tidak ada lagi jalan sendiri-sendiri.” Nayara mengangkat kepala, matanya merah. “Aku capek, Mbak Laras.” Laras mendekat, menggenggam tangan Nayara. “Aku tahu. Dan aku minta maaf karena menyeretmu sejauh ini.” Elvano menatap mereka, rasa bersalah menggerogoti dadanya. “Aku yang seharusnya melindungi,” ucapnya pelan. Laras menoleh. “Kalau begitu, lakukan sekarang. Jangan biarkan politik, publik, atau masa lalu mengambil keputusan untuk kalian.” Di luar sana, dunia masih gaduh. Media berteriak. Kontrak menjadi senjata. Kepercayaan dipertaruhkan. Namun di ruangan itu, untuk pertama kalinya sejak badai dimulai, ada secercah arah. Masalah belum selesai. Bahkan mungkin baru saja dimulai. Tapi setidaknya, mereka tak lagi berdiri sendiri. Ucapan Laras membuat Elvano menyadari satu hal, namun ia memilih bungkam. Laras menghubungi beberapa pihak untuk persiapan jump apers yang akan dilakukan Elvano dan Nayara. Diva! Asisten yang harusnya berada disisi Nayara, kini hilang entah kemana. Sejak pagi Nayara tak bisa menghubungi Diva, dan terpaksa kesana kemari seorang diri hanya bertemankan supir pribadinya. Helaan Nafasnya terasa berat, bagaimana ia akan melanjutkan kehidupan setelah ini. Bagaimana jika publik semakin liar. Wajah Nayara pucat, untuk pertamakalinya ia khawatir dengan pandangan publik, takut akan sorotan kamera, dan kilatan cahaya. Elvano berpindah posisi, kini duduk disamping Nayara. Tangannya menggenggam tangan mungil yang kini berwarna pucat. “Tenang ya! Kita hadapi semuanya sama-sama.” Suara berat, yang sedikit memberikan ketenangan untuk Nayara. Tak ada jawaban, hanya anggukkan kepala yang bisa Nayara suguhkan. Kali ini Elvano bertindak lebih jauh, ia tahu jika Nayara masih belum tenang, sama seperti dirinya, namun Elvano mampu menyembunyikan semuanya. Tangan kekar itu menarik kepala Nayara, menyandarkannya dipundak kekar yang bersembunyi dibalik setelan kemeja putih. Jantung Nayara berdebar kencang, namun ini bukanlah saat yang tepat. Pikirannya kacau, menimbang banyak hal.
KONTRAK PERASAAN
Penulis
Arunaa
04 January 2026