KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
04 January 2026

Malam itu tidak memberi siapa pun kesempatan untuk bernapas lega. Setelah pertemuan di apartemen Laras, Nayara pulang dengan kepala penuh. Dunia di luar sana masih gaduh, tagar tentang kontrak mereka belum turun dari daftar trending topik disemua media sosial, notifikasi terus berdenting, dan setiap unggahan baru seolah menambah lapisan luka yang belum sempat mengering. Ia duduk di tepi ranjang, punggung bersandar pada dinding, menatap layar ponsel tanpa benar-benar membaca. Wajahnya kosong. Bukan karena tak peduli, tapi karena terlalu banyak yang harus dipikirkan dalam waktu yang sama. Pesan dari ibunya masuk. Ibu: Nay, kamu di mana? Ayah ingin bicara. Ini penting. Nayara memejamkan mata. Satu masalah belum selesai, masalah lain sudah mengetuk. Tangannya gemetar saat membalas. Nayara: Aku di rumah, Bu. Besok aku ke rumah. Ia menurunkan ponsel, lalu membenamkan wajah di telapak tangan. Untuk pertama kalinya sejak lama, Nayara merasa benar-benar kecil, bukan influencer, bukan sosok publik yang dipuja, hanya seorang anak perempuan yang ketakutan menghadapi akibat dari pilihan-pilihannya sendiri. Di sisi lain kota, Elvano duduk sendirian di ruang kerjanya. Lampu meja menyala redup, menyinari amplop cokelat yang kembali tergeletak di hadapannya. Kontrak itu. Sumber dari semua kekacauan. Ia membuka amplop tersebut, mengeluarkan lembaran kertas yang kini terasa asing. Dulu, setiap pasal terasa masuk akal. Rasional. Aman. Kini, setiap kata terasa seperti belenggu. Ponselnya bergetar. Nama Laras muncul. “Kamu sudah siap?” suara Laras terdengar di seberang, lelah namun tetap tegas. “Untuk apa?” tanya Elvano lirih. “Besok pagi kita buat pernyataan bersama. Tim hukum, PR, semuanya sudah aku hubungi,” jawab Laras. “Kamu dan Nayara harus muncul. Bersama.” Elvano terdiam. Bayangan wajah Nayara yang pucat dan matanya yang berkaca-kaca terlintas jelas. “Aku nggak mau dia makin terluka,” ucapnya akhirnya. Laras menghela napas. “El, dia sudah terluka. Pertanyaannya sekarang, kamu mau berdiri di mana?” Pertanyaan itu menghantam tepat sasaran. “Aku akan datang,” jawab Elvano mantap. “Apa pun risikonya.” Pagi berikutnya datang dengan langit kelabu, seolah ikut mencerminkan suasana hati banyak orang. Bahkan gerimis mulai turun tanpa undangan, sejak malam, dan berhenti tepat setelah terbitnya sang fajar. Gedung konferensi pers sudah dipenuhi wartawan bahkan sebelum matahari naik sempurna. Kamera berjajar, mikrofon berlogo media nasional dan internasional mengarah ke satu titik yang sama. Semua menunggu. Di ruang tunggu belakang, Nayara duduk diam. Jas krem yang dikenakannya terasa terlalu berat di bahu. Diva berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya erat. “Kamu kuat,” bisik Diva. “Kamu selalu kuat.” Diva merasa bersalah karena kemarin saat kejadian itu dirinya tak berada disamping Nayara. Kali ini Diva berjanji jika ia akan menemani Nayara. Nayara tersenyum tipis. “Aku capek harus kuat.” Pintu terbuka. Elvano masuk, mengenakan setelan dengan warna yang senada dengan Nayara. Begitu pandangan mereka bertemu, dunia seolah menyempit. Tidak ada kata yang terucap, namun banyak hal berpindah lewat tatapan. Elvano melangkah mendekat. Dengan hati-hati, seolah takut Nayara akan menghilang jika disentuh, ia berkata pelan, “Maaf.” Satu kata itu membuat pertahanan Nayara runtuh. Matanya berkaca-kaca, namun ia mengangguk. “Kita hadapi semuanya sama-sama ya kak,” jawab Nayara lirih. Nayara dan Elvano sama-sama menarik nafas dalam, dan menghembuskannya sesaat sebelum melangkahkan kaki. Saat mereka melangkah ke podium bersama, gemuruh suara wartawan langsung membanjiri ruangan. Kilatan kamera nyaris membutakan. Nayara refleks menggenggam lengan Elvano. Pria itu tidak melepaskannya. Justru jemarinya menguat, memberi isyarat bahwa ia ada di sana. Elvano membuka pernyataan dengan suara tenang. “Kami tahu publik merasa dikhianati,” ujarnya. “Dan kami mengerti kemarahan itu.” Nayara melanjutkan, suaranya sedikit bergetar namun jelas. “Sebelumnya kami minta maaf, Hubungan kami memang berawal dari kerja sama profesional. Itu fakta.” Ruangan riuh. Bisik-bisik terdengar. “Tapi, tidak dengan kontrak yang kami tanda tangani tidak sama dengan kontrak yang disebar dimedia sosial.” sambung Elvano cepat, “perasaan bukan sesuatu yang bisa diatur oleh kontrak.” Ia menoleh ke Nayara, tatapannya jujur. “Apa yang kami jalani sekarang bukanlah sandiwara, tapi sebuah komitmen serius. Awalnya saya pikir ini adalah ranah pribadi kami, dan tak ingin dicampuri dunia luar, sama seperti pasangan normal lainnya, kami juga ingin menjalani kehidupan dengan normal.” Nayara menarik napas dalam-dalam. “Kami tidak meminta dimengerti. Kami hanya ingin jujur.” Elvano Kembali memberikan penegasan. Pertanyaan bertubi-tubi datang. Tentang kapan perasaan itu tumbuh. Tentang apakah kontrak masih berlaku. Tentang masa depan mereka. Elvano menjawab satu pertanyaan yang membuat ruangan mendadak sunyi. “Tunggu! Mungkin teman-teman wartawan masih salah faham. Kontrak yang dimaksud disini adalah kontrak perjanjian kerjasama dimulai dari saat pembuatan vidio klip, modelling, dan beberapa brand, sedangkan Kontrakyang beredar itu hanyalah penunjang semuanya, dan itu sudah tidak relevan bagi saya,” katanya tegas. “Saya bertanggung jawab atas pilihan saya. Dan saya tidak akan bersembunyi di balik apa pun lagi.” Di barisan belakang, seseorang menatap layar ponselnya dengan senyum dingin. Selina. Ia mematikan video konferensi pers itu perlahan. Tangannya mengepal, kuku menancap ke telapak. Di kepalanya, potongan-potongan peristiwa tersusun rapi, membentuk rencana yang lebih besar, lebih kejam. “Belum selesai,” gumamnya pelan. “Ini baru permulaan.” Sementara itu, di ruang lain, ketua partai menonton siaran yang sama dengan wajah sulit ditebak. Ia menyesap kopinya, lalu tersenyum tipis. “Berani juga anak itu,” ujarnya pada stafnya. “Menarik.” “Apakah kita perlu khawatir, Pak?” tanya sang staf. “Tidak,” jawabnya santai. “Kontroversi masih kontroversi. Nama Elvano tetap disebut. Itu yang penting.” Di tengah hiruk-pikuk itu, Nayara dan Elvano akhirnya bisa bernapas lega setelah konferensi usai. Mereka duduk berdua di ruang kecil, jauh dari kamera. “Apa pun yang terjadi setelah ini,” ucap Nayara pelan, “aku nggak mau lari lagi.” Elvano menatapnya lama. “Aku juga.” Di luar, dunia mungkin belum memaafkan. Gosip mungkin belum berhenti. Bahaya bahkan bisa jadi baru mendekat. Namun di ruangan itu, dua orang yang berawal dari kontrak kini berdiri di persimpangan yang nyata, antara kepentingan dan perasaan, antara masa lalu dan keberanian untuk memilih masa depan. Dan untuk pertama kalinya, mereka melangkah tanpa naskah. Elvano mengambil amplop coklat yang sejak kemarin dipandanginya, demikian juga dengan Nayara. Keduanya membakar habis amplop beserta isi yang menjadi belenggu selama ini. Mungkin masalah dengan media telah usai, tapi belum untuk Nayara, setelah ini Ia masih harus menghadapi kedua orang tuanya. “Kak, sepertinya aku harus pulang duluan. Orang tuaku sudah menunggu dirumah, mereka juga menuntut penjelasan dariku.” Ucap Nayara dengan wajah kusut, bola matanya menyiratkan beban yang masih terasa berat di tubuhnya. “Biar aku antar!” Ucap Elvano, membuat Nayara menatapnya dengan kening berkerut. “Apa aku salah dengar?” lirih Nayara yang ternyata didengar oleh Elvano. Pria tampan itu memperlihatkan senyumannya, tangannya mengusap pucuk kepala Nayara. “Kamu nggak salah dengar Nay, semuanya kita berdua yang memulainya, maka kita berdua juga yang harus mengakhirinya.” “Huh sepertinya agenda hari ini akan lebih berat dari lelahnya terjun ke masyarakat.” Elvano terkekeh, membuat hati Nayara sedikit menghangat.