Sehari setelah pertemuan resmi yang tidak resmi itu, Harlia bangun dengan satu perasaan dominan, Resah. Bukan resah biasa. Ini resah tipe bangun tidur langsung mikir, “Apakah aku barusan hampir menikah dengan omongan?”
Ia duduk di kasur, menatap langit-langit, lalu menghela napas panjang seperti tokoh utama sinetron yang baru ditinggal nikah mantannya.
“Ya Allah,” gumamnya. “Kenapa hidup aku ribet amat.”
Ponselnya berbunyi. Sudah pasti itu adalah pesan dari Topan. Memangnya orang gabut mana yang pagi-pagi begini mengirim pesan padanya? Sejauh ini hanya promo gojek dan sopi yang rajin.
Topan: Pagi. Kamu gimana? Jangan kepikiran ya. Semua proses.
Harlia memeluk bantal. Baru kali ini ia begitu malas menanggapi pesan dari Topan. Biasanya itu adalah notifikasi favorit nya.
“PROSES KEPALA KAMU,” katanya pelan.
Jengkel tapi tetep salah tingkah. Gadis itu masih saja sempat senyum sendiri.
Namun begitu, Harlia tidak membalas. Ia memilih opsi kedua, yaitu curhat ke Rina. Mereka bertemu di kafe kecil langganan. Kafe murah, tanpa estetika, tapi kopinya jujur. Cocok untuk curhat yang pahit.
Rina datang tepat waktu, duduk, dan langsung memesan es kopi susu.
“Kamu kenapa mukanya kayak abis ditolak KPR?” tanya Rina.
Harlia menghela napas dramatis.
“Rin…”
Rina langsung mengangkat tangan.
“Kalau mau nangis, bilang. Gue siap pura-pura empati.”
“Aku galau," adu Harlia pada sahabatnya.
“Udah keliatan, kok,” jawab Rina. “Orang normal juga galau kalau hampir nikah sama cowok seminggu kenal.”
Harlia cemberut.
“-Kok kamu jahat, ih!”
“Bukan jahat,” kata Rina sambil mengaduk kopi. “Realistis. Telur ayam mau netes aja butuh 21 hari, lah ini?!”
“Itu yang katanya nikah siri sama suami orang, kenal akhir Juli tanggal 7 Agustus nikah. Apa nggak semingguan? Lebih dikit, beberapa hari doang," kata Harlia.
“Lu mau kayak dia? Nikah sama laki orang aja bangga,” tantang Rina.
“Hehe... ya enggak lah,” jawab Harlia kalah.
Harlia menyandarkan dagu ke meja. Mukanya kembali ditekuk dan cemberut.
“Kemarin bapak ku kayak setengah percaya sama Topan. Tapi emak ku menolak mentah-mentah, meskipun mereka akhirnya bilang mau dipikirin dulu,” katanya kemudian.
“Bapak lu baik,” jawab Rina. “Emak lu pinter.”
Harlia mendongak.
“Kok gitu?”
“Karena emak lu curiga,” kata Rina. “Dan gue setuju.”
Harlia menegakkan badan.
“Kamu juga?”
Rina mengangguk mantap.
“Banget.”
“Rin,” kata Harlia dengan suara lirih, “dia ngomongnya meyakinkan.”
“Justru itu masalahnya,” jawab Rina cepat.
“Kenapa?” Harlia bereaksi cepat.
“Orang yang ngomongnya meyakinkan banget biasanya udah latihan,” kata Rina. “Kayak presentasi MLM.”
Harlia melotot.
“Topan bukan MLM.”
“Belum tentu,” jawab Rina santai.
“Tapi gaya bicaranya mirip, sih.”
Harlia memijat pelipis.
“Kamu nggak dukung aku sama sekali.”
Rina menyesap kopi.
“Gue dukung lu hidup tenang, Har.”
“Tapi aku pengen nikah,” kukuh Harlia tetap.
“Dan gue pengen tidur siang tapi sekarang udah kesorean. Keinginan itu nggak selalu harus diturutin sekarang," balas Rina.
Harlia menghela napas panjang.
“Kamu nggak ngerti rasanya, sih!”
Rina menatapnya.
“Gimana rasanya emang?”
“Kayak…”
Harlia mencari kata, “kayak dunia mau kiamat besok, tapi semua orang nyuruh aku nunggu.”
Rina menyeringai.
“Dunia emang mau kiamat, Har. Tapi bukan karena Topan.”
Harlia menunduk.
“Aku capek ditanya kapan nikah.”
Rina mengangguk pelan.
“Itu valid, gue juga sering ditanyain begitu. Tapi gue bales nanya kapan mereka mati?”
Harlia shock dikit, tapi balik galau lagi.
“Aku capek ngerasa nggak laku-laku, Rin," keluhnya.
“Itu juga valid," sahut Rina.
“Aku capek ngerasa telat,” ucap Harlia semakin mengeluh.
Rina menghela napas.
“Dan itu juga masih valid.”
Harlia menatap Rina penuh harap.
“Nah?! Itu kamu setuju.”
“TAPI,” lanjut Rina, “itu semua bukan alasan buat loncat ke orang yang belum jelas!”
Harlia mengerang.
“Kok ada tapi-nya, sih?!”
“Ya, karena hidup bukan skripsi satu halaman, Har,” jawab Rina.
Harlia menyandarkan kepala ke meja lagi. Tapi kali ini galaunya agak lebih parah. Wajahnya menatap kosong, seolah harapan digantung di udara. Senyum tinggal seadanya, mata redup seperti lampu jalan yang konslet.
“Aku pengen kamu bilang, lanjutkan, Har, dia jodohmu," pintanya kemudian.
Rina tertawa kecil.
“Maaf. Gue bukan malaikat palsu.”
“Temen kok nggak mendukung,” rengek Harlia.
“Temen itu tugasnya nyelametin,” balas Rina. “Bukan nyorakin kebodohan.”
Harlia mengangkat kepala.
“Kamu bilang aku bodoh?”
“Gue bilang kamu bucin potensial,” jawab Rina cepat.
Harlia mengaduk minumannya tanpa minum. Baru kali ini ia pengen nyiram kopi ke muka sahabatnya itu. Tapi tidak, Rina begitu karena mengkhawatirkannya sama seperti ibunya. Hanya saja, ini tentang Topan. Topan tidak mungkin begitu.
“Tapi Topan beda,” eyel Harlia masih.
“Semua orang yang lagi bucin juga bilang gitu,” sahut Rina.
“Dia perhatian sama aku,” bela Harlia.
“Minimal dia ngapain?" tanya Rina.
“Dia ngasih hadiah,” jawab Harlia.
“Donat murah-meriah aja, kok,” Rina meremehkan.
“Dia berani datang ke rumah,” balas Harlia.
“Itu baru poin plus,” Rina mengangguk. “Tapi belum cukup.”
Harlia terdiam. Dia menatap pusaran kopi di cangkir nya sambil terus mengaduk dengan perasaan galau maksimal. Hatinya jungkir balik, antara cinta, bakti, dan hasrat kabur naik ojek, sambil tertawa getir.
“Aku takut kehilangan kesempatan, Rin,” akhirnya ia jujur.
Rina menatapnya lama.
“Kesempatan apa?”gv
“Kesempatan mumpung ada yang mau,” jawab Harlia jujur.
Rina menghela napas panjang.
“Har…”
Rina menatap sahabatnya yang tertunduk mau nangis. Kasihan tapi keinginan Harlia itu adalah bentuk kekonyolan. Rina mencondongkan badan.
“Kalau kamu nikah karena takut nggak laku, itu bukan cinta. Itu panik namanya.”
Harlia menggigit bibir. Dadanya sesak oleh kemauannya sendiri yang dianggap orangtuanya dan sahabatnya sebagai kemustahilan.
“Tapi,” lanjut Rina, “kalau dia beneran serius, dia nggak akan kabur meski kamu nggak buru-buru minta dinikahin.”
Harlia mengangkat mata.
“Kamu yakin?”
Rina mengangguk.
“Kalau dia CEO beneran kayak omongannya, nunggu itu hal kecil.”
Harlia terdiam. Selama ini memang tidak ada pria waras yang mendekatinya. Mungkin Topan satu-satunya.
“Kalau dia cuma CEO kata-kata,” tambah Rina, “dia bakal ilfeel karena kamu nggak langsung manggut.”
Harlia mendesah.
“Aku nggak suka jawaban itu.”
“Tapi kamu butuh,” kata Rina.
Harlia tiba-tiba merengek lagi.
“Rin, tolong dong! Sekali aja dukung aku.”
Rina menyandarkan punggung.
“Oke.”
Harlia bersinar.
“Beneran?”
Rina mengangguk.
“Gue dukung kamu…”
"Alhamdulillah....," ucap Harlia.
"Buat mikir,” tambah Rina.
Harlia menjatuhkan kepala ke meja lagi.
“Sial! Aku mau nangis, nih!”
“Silakan,” kata Rina. “Nanti gue foto, buat kenang-kenangan.”
“Kamu jahat,” rengek Harlia.
“Tapi gue jujur,” balas Rina.
Saat mereka berpisah, Harlia berjalan pulang dengan pikiran campur aduk. Ia ingin percaya Topan. Ia ingin membuktikan ibunya salah. Ia ingin Rina bilang iya.Tapi yang ia dapat hanyalah kenyataan bahwa tidak semua orang akan bersorak saat kita ingin melompat. Kadang mereka berteriak karena melihat jurang.
Di kamarnya, Harlia menatap ponsel. Pesan baru dari Topan masuk.
Topan: Aku lagi sibuk, tapi nanti kita ngobrol ya. Aku mau jelasin semuanya.
Harlia menatap layar lama. Jarinya menggantung di atas keyboard. Antara ingin percaya dan takut kecewa. Dan untuk pertama kalinya sejak seminggu ini, Harlia ragu. Bukan pada Topan. Tapi pada dirinya sendiri.