KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
04 January 2026

Mobil melaju pelan meninggalkan gedung konferensi pers. Langit masih kelabu, sisa hujan menggantung di udara seperti pertanda bahwa badai belum sepenuhnya berlalu. Di dalam mobil, Nayara duduk diam menatap jalanan yang basah, jemarinya saling bertaut di pangkuan. Napasnya teratur, tetapi dadanya terasa sesak. Elvano beberapa kali melirik ke arahnya, ingin bicara namun urung. Ia tahu, kali ini bukan sorotan kamera yang harus Nayara hadapi, melainkan tatapan paling jujur sekaligus paling menakutkan dalam hidupnya: tatapan orang tua. “Kak, kamu yakin ikut aku turun? Bagaimana kalua… ucap Nayara akhirnya, memecah keheningan, “Kalau apa Nay?” Nayara menggeleng pelan tanpa menoleh. “Tidak kak. Hanya saja… aku… hmmm.” Ia menarik napas dalam-dalam. “Aku lelah bersembunyi.” Kalimat itu membuat Elvano mengeratkan genggaman tangannya di setir. Ada sesuatu dalam dada Nayara, rapuh, tapi juga tegas, yang membuatnya sadar, gadis di sampingnya bukan lagi Nayara yang dulu hanya mengikuti arus kontrak dan kepentingan. Bagaimanapun juga Elvando harus ikut bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi. Rumah orang tua Nayara berdiri megah namun dingin sore itu. Lampu teras sudah menyala meski matahari belum sepenuhnya tenggelam, seakan menandakan bahwa mereka memang menunggu. Begitu mobil berhenti, Nayara menelan ludah. Tangannya sempat bergetar sebelum akhirnya membuka pintu. “Kak…” Nayara berhenti sejenak. “Terima kasih sudah menemaniku sejauh ini.” Elvano tersenyum tipis. “Aku janji. Aku tidak akan lari. Kita berdua yang memulainya, maka kita berdua pula yang harus mengakhirinya.” Terlihat kekhawatiran menyelimuti raut wajah Nayara. Elvano meraih tangannya, menggenggam dengan erat. “Aku janji nggak akan meninggalkanmu sendiri Nay, tenang ya. Kita hadapi sama-sama.” Pintu rumah terbuka sebelum mereka sempat mengetuk. Ibu Nayara berdiri di sana, wajahnya campuran antara lega dan cemas. Namun tatapannya berubah ketika melihat Elvano berdiri di samping putrinya. “Masuk,” ucap sang ibu singkat, memberi jalan. Di ruang tamu, ayah Nayara duduk dengan postur tegap. Koran yang sedari tadi ia baca dilipat rapi dan diletakkan di meja, tepat di samping tablet yang menampilkan berita tentang Nayara dan Elvano. Judulnya besar, menyakitkan. “Silahkan duduk,” ucapnya tanpa basa-basi. Lirikkannya penuh selidik, melucuti Nayara dan Elvano dari ujung kepala hingga ujung kaki. Nayara duduk, punggungnya tegak, meski jantungnya berdegup tak karuan. Elvano duduk di sampingnya, jaraknya dekat, cukup dekat untuk memberi rasa aman. “Ayah ingin dengar langsung,” kata ayah Nayara, suaranya berat. “Bukan dari media. Bukan dari klarifikasi yang dibacakan di depan kamera. Tapi dari kalian berdua. Nayara menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya. “Aku minta maaf, Yah. Bu. Aku tahu apa yang aku lakukan mengecewakan.” “Kamu bukan hanya mengecewakan,” potong sang ayah. “Kamu mempertaruhkan nama baik keluarga.” Kata-kata itu menusuk. Nayara mengepalkan jemarinya, menahan air mata yang menggenang. “Awalnya memang kontrak,” lanjut Nayara dengan suara bergetar namun jelas. “Aku tidak menyangkal itu. Tapi perasaan yang tumbuh setelahnya bukan rekayasa.” Ayahnya tertawa kecil, sinis. “Perasaan? Di dunia kalian, Nay, perasaan sering kali hanya topeng.” Elvano yang sejak tadi diam akhirnya bicara. Ia berdiri, menundukkan kepala sedikit, sebuah gestur hormat. “Pak, Bu,” ucapnya tenang. “Izinkan saya bicara.” Ayah Nayara menatapnya tajam. “Silakan. Saya justru ingin tahu sejauh apa keberanian Anda datang ke sini.” “Pak, Bu! Saya tahu, kami memang bersalah.” Elvano kini mengambil peran, Ia merasa kasihan melihat keadaan Nayara. Elvano menarik napas. “Saya tidak datang sebagai figur publik, bukan sebagai politisi, dan bukan sebagai orang yang sedang jadi pemberitaan. Saya datang sebagai laki-laki yang bertanggung jawab.” Ia menatap Nayara sekilas, lalu kembali pada orang tuanya. “Kontrak itu kesalahan saya juga. Saya pikir saat itu, semua bisa dikendalikan. Ternyata tidak. Dan saya tidak akan membiarkan Nayara menanggung akibatnya sendirian.” “Lalu apa rencanamu?” tanya sang ayah dingin. “Setelah namanya rusak? Setelah hidupnya jadi konsumsi publik?” Elvano tidak langsung menjawab. Ia menegakkan bahu. “Saya serius dengan Nayara. Dan saya siap menghadapi konsekuensinya, apa pun itu.” Kata serius membuat ibu Nayara terdiam. Tangannya mencengkeram ujung sofa, matanya berkaca-kaca. “Nay,” suara sang ibu melembut, “apa kamu bahagia?” Pertanyaan itu sederhana, namun membuat Nayara akhirnya menangis. Air mata yang sedari tadi ditahan runtuh begitu saja. “Aku takut, Bu,” isaknya. “Takut kehilangan segalanya. Tapi aku lebih takut kehilangan diriku sendiri kalau terus hidup dalam kebohongan.” Ruangan hening. Hanya suara tangis Nayara yang tertahan-tahan. Ayahnya berdiri, berjalan mondar-mandir sebentar, lalu berhenti tepat di depan Elvano. “Kamu tahu,” katanya pelan namun tajam, “satu langkah salah darimu, dan hidup anak saya bisa hancur.” Elvano menatapnya tanpa gentar. “Saya tahu. Karena itu saya ada di sini.” Beberapa detik berlalu terasa seperti menit. Akhirnya, ayah Nayara menghela napas panjang. Bahunya sedikit merosot, lelah. “Kalian pikir semuanya selesai hanya dengan membakar kontrak dan bicara manis di depan kamera?” katanya lirih. “Tidak. Dunia tidak sebaik itu.” Nayara mengangguk. “Aku tahu, Yah. Tapi izinkan aku mencoba bertanggung jawab atas pilihanku.” Ibu Nayara berdiri, mendekat, lalu memeluk putrinya erat. Tangis Nayara pecah di pelukan itu. “Kami hanya ingin kamu aman,” bisik sang ibu. “Itu saja.” Ayah Nayara menoleh ke luar jendela, menatap langit yang mulai gelap. “Aku tidak akan melarang,” katanya akhirnya. “Tapi ingat, kepercayaan itu mahal.” Elvano menunduk. “Terima kasih, Pak.” Saat mereka berpamitan, suasana masih berat, namun ada celah kecil tempat harapan menyelinap. Di dalam mobil, Nayara menyandarkan kepala di sandaran kursi, matanya terpejam. “Ternyata lebih menakutkan dari konferensi pers,” gumamnya lemah. Elvano tersenyum kecil. “Tapi kamu luar biasa.” Nayara menoleh, menatapnya lama. “Kak… ada satu hal yang aku takutkan.” Elvano melirik sekilas, dan fokus kembali dengan jalanan. “Apa itu, Nay?” “Aku takut ditinggalin lagi, aku takut berjuang sendirian.” Kepala Nayara menunduk, menatap pangkuannya sendiri. Mobil itu berhenti disisi jalan, Elvano menggenggam tangannya. “Aku di sini. Aku janji kita sama-sama terus.” Elvano melepas seatbelt nya, tangannya lihai mengusap air mata dipipi Nayara. “Udah, jangan nangis lagi! Siapa sih yang mau ninggalin kamu, cantik.” Kata-kata Elvano bagaikan obat paling mujarab. Membuat garis senyuman diwajah Nayara terlihat jelas. “Kamu nih kak, bisa-bisanya.” Nayara menahan malu, pipinya bersemu merah. Namun di tempat lain, di sebuah ruangan dengan cahaya temaram, Selina menatap layar laptopnya. Foto-foto baru tersebar, Elvano dan Nayara keluar bersama dari rumah orang tua Nayara. Sudut pengambilan gambar yang licik. Judul provokatif sudah disiapkan. Selina tersenyum tipis, dingin. “Mainnya mulai serius,” bisiknya. “Sekarang giliranku.” Di luar sana, dunia mungkin mengira badai telah reda. Padahal, ini baru jeda sebelum petir berikutnya menyambar.