KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
04 January 2026

Selina menutup laptopnya perlahan, seolah takut suara klik kecil itu bisa membocorkan niat di kepalanya. Jam dinding di kamar hotel menunjukkan pukul dua dini hari. Kota di luar jendela masih hidup, lampu-lampu gedung berpendar seperti bintang palsu. Selina berdiri, melangkah mendekati kaca besar itu, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang hatinya sedang dipenuhi kecemburuan dan amarah yang membatu. Tak lupa segelas minuman melekat ditangannya, ia memandangi putaran air didalam gelas, yang dengan sengaja ia gerakkan perlahan. “Tenang, Selina,” gumamnya pelan. “Kamu sudah pernah kalah. Kali ini tidak. Apa yang harusnya menjadi milikmu, akan tetap menjadi milikmu, tidak aka nada satu orang pun yang bisa merebutnya.” Ia kembali ke meja, membuka ponsel kedua, yang tak pernah ia gunakan untuk urusan pribadi. Deretan nama tersimpan rapi tanpa foto, tanpa keterangan. Nomor-nomor lama. Relasi yang dulu ia bangun saat masih berada di lingkaran Elvano, saat namanya masih disebut sebagai first love, pasangan ideal, ikon remaja. Jarinyanya berhenti pada satu kontak. R Selina menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara di seberang menjawab, malas namun waspada. “Hallo, Selina? Lama nggak dengar kabar. Ini beneran kamu kan beib?” “Kamu kelihatan sehat di TV,” balas Selina ringan. “Masih main di belakang layar?” Tawa kecil terdengar. “Selalu. Kamu sendiri kenapa tiba-tiba nelpon?” Selina tersenyum. “Aku punya cerita menarik. Tentang Elvano.” Hening sejenak. Nama itu selalu punya daya tarik. “Lanjut,” kata R akhirnya. Selina duduk, menyilangkan kaki dengan anggun. “Kamu lihat kan konferensi pers kemarin?” “Yang soal kontrak cinta itu?” R terkekeh. “Kacau. Tapi ratingnya bagus.” “Bagus untuk siapa?” Selina menghela napas pelan, seolah prihatin. “Kamu tahu nggak, ada banyak bagian cerita yang belum keluar.” “Seperti?” Selina mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya diturunkan. “Seperti bagaimana Nayara masuk ke hidup Elvano. Bukan sekadar kontrak. Tapi… pengganti.” “Kamu mantannya,” R menimpali cepat. “Publik tahu itu.” “Justru itu,” Selina tersenyum dingin. “Dan publik suka drama lama yang diungkit kembali.” Di seberang sana terdengar suara kursi digeser. Ketertarikan mulai muncul. “Kamu punya bukti?” Selina memejamkan mata, menikmati momen itu. “Aku punya potongan cerita. Kamu punya panggung. Kita sama-sama untung.” Panggilan berakhir dengan janji singkat: kita ketemu. Selina meletakkan ponselnya, lalu menarik napas panjang. Itu baru satu pion. Masih banyak langkah yang harus disusun, dan ia tak ingin gegabah. Ia sudah belajar dari masa lalu, emosi yang tak terkendali hanya akan membuatnya terlihat kalah. Pagi harinya, Selina tampil seolah tak terjadi apa-apa. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan topi, melangkah santai ke sebuah kafe di sudut kota. Tempat itu tak terlalu ramai, tapi cukup strategis. Beberapa meja diisi oleh pekerja kreatif, jurnalis lepas, dan orang-orang yang hidup dari gosip. Di salah satu sudut, seorang perempuan dengan rambut sebahu sudah menunggu. Wajahnya familiar bagi siapa pun yang mengikuti dunia hiburan, meski namanya jarang muncul ke permukaan. “Selina,” sapa perempuan itu, tersenyum tipis. “Kamu kelihatan… tenang.” “Badai selalu dimulai dari udara yang tenang,” jawab Selina santai. Perempuan itu mengernyit. “Aku dengar kamu dekat lagi dengan Elvano?” Selina tertawa kecil. “Dekat itu relatif. Tapi aku mengenalnya lebih lama dari siapa pun.” “Termasuk Nayara,” sela perempuan itu. “Terutama Nayara,” balas Selina tanpa ragu. Ia lalu mengeluarkan ponselnya, menunjukkan beberapa foto lama. Bukan foto mesra. Justru foto-foto kebersamaan yang tampak innocent, Elvano dan Selina di studio latihan, di belakang panggung, di rumah keluarga. Foto-foto yang menyiratkan kedekatan emosional, bukan sensasi murahan. “Publik suka narasi yang pertama,” ucap Selina lembut. “Cinta lama. Janji yang belum selesai.” Perempuan di depannya mengangguk perlahan. “Kamu mau aku tulis apa?” “Bukan apa,” koreksi Selina. “Tapi bagaimana.” Ia menyeduh kopinya, lalu berkata pelan, terukur, “Tuliskan bahwa Elvano berubah. Bahwa tekanan politik membuatnya mencari pelarian. Bahwa Nayara hadir di saat yang salah.” “Dan kamu?” Selina tersenyum pahit. “Aku hanya saksi. Perempuan yang kebetulan tahu siapa Elvano sebelum semua ini.” Di waktu yang sama, di tempat berbeda, Laras duduk di ruang kerjanya yang sempit namun penuh berkas. Matanya lelah, tapi instingnya menjerit tak nyaman. Sejak konferensi pers, ada sesuatu yang terasa janggal. Terlalu tenang. Terlalu rapi. Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal. Hati-hati dengan masa lalu yang belum selesai. Laras menegakkan punggung. Jarinya membalas cepat. Siapa ini? Tak ada jawaban. Beberapa menit kemudian, notifikasi berita muncul. Judulnya samar, belum meledak, tapi cukup untuk membuat Laras menutup mata. “Kisah Lama Elvano: Cinta Pertama yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi?” Laras mengumpat pelan. “Selina…” Di sisi lain kota, Nayara baru saja selesai syuting. Ia tersenyum pada kamera, profesional seperti biasa. Tapi begitu lampu mati, tubuhnya melemah. Diva menghampiri, menunjukkan layar ponsel. “Nay… kamu harus lihat ini.” Nayara membaca cepat. Wajahnya memucat. “Mereka… menyeret Selina,” bisiknya. “Bukan diseret,” Diva menggeleng. “Dia yang maju sendiri.” Nayara menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak konferensi pers, ia merasakan ketakutan yang berbeda. Bukan tentang reputasi. Tapi tentang Elvano. Tentang luka lama yang mungkin belum sepenuhnya sembuh. Sementara itu, Selina berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan rambut. Teleponnya berdering. R. “Kamu tahu?” suara di seberang terdengar puas. “Artikel pertama naik. Responsnya bagus.” Selina tersenyum kecil. “Ini baru pembuka.” “Kamu yakin mau lanjut sejauh ini?” Selina menatap pantulan matanya sendiri. Ada kilau dingin di sana. Bahkan tusukannya lebih tajam dibandingkan mata pisau. “Aku hanya membuka cerita yang selama ini ditutup. Kalau ada yang terluka…” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara nyaris berbisik, “…itu bukan salahku. Lagi pula, bukankah ini bayaran yang pantas untuk sakit yang kupendam selama ini?” Telepon ditutup. Selina melangkah ke jendela lagi, menatap kota yang mulai gelap. Didalam kepalanya, langkah-langkah berikutnya sudah tersusun rapi. Ia tak akan menyerang Nayara secara langsung. Tidak. Ia akan menggoyang fondasi Elvano terlebih dahulu, rasa bersalah, kenangan, masa lalu yang belum selesai. Karena Selina tahu satu hal yang paling mematikan: jika Elvano mulai ragu pada dirinya sendiri, Nayara akan ikut goyah, dan saat itu terjadi, Selina hanya perlu berdiri di kejauhan, menunggu reruntuhan jatuh dengan sendirinya. Elvano akan kembali kedalam pelukkannya. Bohong jika Elvano telah melupakannya, Selina yang pertama kali memberikan kebahagiaan untuk Elvano, bagaimana mungkin Ia akan dicampakkan begitu saja. “Tenang saja,” gumamnya sambil tersenyum tipis. “Tunggu tanggal mainnya.” Ia merasa akan jadi pemenang tunggal dalam peperangan ini. Tahta dan Elvano akan kembali kedalam genggamannya. Nayara akan ia singkirkan dari panggung megah itu.