Martabak ala Arema

04 January 2026

Sore itu, langit di atas terminal mulai berubah warna. Biru pucat bercampur jingga, menandakan hari hampir berganti malam.

Deru kendaraan bersahut-sahutan, klakson angkot, suara pedagang kaki lima, dan teriakan kernet saling bertumpuk menjadi satu irama khas terminal.

Arema mendorong gerobak martabaknya ke sudut yang sudah ia incar sejak siang. Tepat di dekat deretan bangku penumpang, tak jauh dari lampu penerangan.

Ia berhenti, menghela napas sebentar, lalu mulai menata semuanya.

Wajan dikeluarkan. Kompor dipasang. Gas disambungkan. Bahan-bahan martabak ia susun rapi, tepung, gula, cokelat, keju, kacang, telur, daun bawang.

Semua ia lakukan dengan gerakan cekatan, seolah tubuhnya sudah mengingat rutinitas lama yang sempat terhenti.

"Semoga laris manis," gumamnya pelan.

Begitu gerobak siap dan lampu kecil dinyalakan, Arema baru menegakkan badan. Ia belum sempat duduk ketika seorang pria mendekat.

"Mbak, martabak manis satu!"

Belum selesai mencatat, datang lagi suara lain.

"Martabak telur dua, Mbak!"

Arema terkejut. Ia tersenyum kecil, tangannya langsung bergerak. Belum lima menit, antrean kecil mulai terbentuk. Ada yang berdiri, ada yang duduk di bangku terminal sambil menunggu.

"Wah, baru buka ya, Mbak? Karna dari kemarin saya nggak pernah lihat ada yang jualan martabak," tanya seorang bapak.

"Iya, Pak. Baru hari ini," jawab Arema sambil menuang adonan.

"Pantesan rame."

Arema hampir tak sempat berpikir. Tangannya sibuk menuang adonan, memutar wajan, menabur topping, membalik martabak telur.

Keringat mulai membasahi pelipisnya, tapi senyum tak lepas dari wajahnya. Dalam hati, ia tak henti bersyukur.

"Terimakasih, Tuhan, martabakku Laris," batinnya.

Terminal itu memang belum ada pedagang martabak sebelumnya. Kebanyakan hanya nasi goreng, mie goreng, gorengan, dan kopi.

Kehadiran martabak seolah jadi angin segar bagi para penumpang yang menunggu bus malam. Setelah hampir dua jam, pembeli mulai berkurang.

Arema menyeka keringat dengan punggung tangan. Ia melirik bahan-bahan di gerobak, stoknya tinggal sedikit.

"Lumayan buat hari pertama," gumamnya.

Ia baru saja menutup wajan ketika sebuah suara terdengar dari arah belakang.

"Mbak, martabak manis coklat kacang satu, martabak telur jumbo satu ya."

Arema refleks menoleh. Matanya membulat. "Wini!"

Perempuan yang berdiri di depannya juga terkejut. Pemilik nama Wini tertawa kecil.

"Lho, Rema lagi? Ya ampun," katanya sambil menatap gerobak martabak. "Kamu jualan martabak lagi?"

Arema tertawa kecil, rasa lelahnya seolah menguap seketika. "Iya nih," angguknya.

"Terus, kamu udah gak kerja di toko baju lagi?" tanya Wini sambil melirik sekitar.

"Masih dong," jawab Arema. "Pagi sampai sore kerja, malamnya jualan martabak."

Wini mengangguk-angguk, wajahnya terlihat kagum. "Hebat banget kamu, Ma," pujinya tulus. "Nggak semua orang kuat kayak gitu."

Arema tersenyum, sedikit tersipu. "Ah, biasa aja. Aku cuma pengin punya penghasilan tambahan."

Ia mulai menyalakan kompor lagi. Tangannya kembali cekatan, menuang adonan martabak manis. Aroma mentega mulai menyebar, mengundang beberapa orang yang lewat untuk melirik.

"Duduk, Win, aku buatin dulu," ujar Arema. "Nunggu bentar, ya."

Wini menurut. Ia duduk di bangku plastik di samping gerobak, memperhatikan Arema bekerja. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang hanya diisi suara adonan mendesis.

Lalu Wini membuka suara. "Oh ya, Ma," katanya pelan. "Gimana kabar Rino?"

Tangan Arema refleks berhenti sesaat. Sendok di tangannya nyaris terlepas.

"Ha?" Suaranya tercekat.

"Apa kamu masih sama dia?" lanjut Wini hati-hati.

Arema menelan ludah. Dadanya terasa sesak tiba-tiba. Ia berusaha tetap fokus, kembali mengaduk adonan agar tak gosong.

"Gak," jawab Arema singkat. "Kita udah putus."

Wini terdiam. Sedangkan Arema menarik napas dalam. Lalu, entah kenapa, ia merasa tak ada gunanya lagi menyimpan semuanya sendiri.

Sambil tetap bekerja, ia mulai bercerita. Tentang Rino. Tentang pengkhianatan. Tentang Vheronika. Tentang kehamilan itu. Tentang dirinya yang memilih pergi, bekerja, dan berdiri sendiri.

Wini mendengarkan dengan wajah serius. Sesekali ia menghela napas panjang.

"Maaf ya, Ma," ucap Wini setelah Arema selesai. "Sebenernya, aku juga sering lihat Rino sama cewek lain. Mungkin itu yang kamu bilang Vhero."

Arema melirik Wini sekilas ....

"Aku pikir kamu gak tau," lanjut Wini.

"Kemaren, pas aku beli baju di toko kamu, aku tuh sebenernya mau main ke kos kamu. Mau cerita soal Rino yang sering jalan sama cewek itu."

Arema tersenyum pahit. "Ya udahlah,” katanya pelan.

"Aku juga nggak mau nginget dia terus. Cowok bukan cuma dia." Nada suaranya terdengar pasrah, tapi di balik itu ada usaha keras untuk terlihat kuat.

Wini mengangguk pelan. "Kamu bener, Ma."

Arema mulai membalik martabak telur jumbo pesanan Wini. Api kompor mengecil. Gerakannya kembali tenang, seolah obrolan barusan tak terlalu berpengaruh, padahal hatinya masih bergetar. Beberapa detik berlalu.

Lalu Wini menegakkan duduknya. "Tapi, Ma," katanya perlahan. "Aku juga pengin ngasih tau kamu."

Kalimat itu membuat Arema menghentikan semua aktivitasnya. Api kompor masih menyala, martabak hampir matang, tapi Arema tak bergerak.

Ia menoleh pelan ke arah Wini. "Ngasih tau apa?" tanyanya lirih.

Wini ragu. Bibirnya terkatup, lalu terbuka lagi. Tatapannya berubah, tak lagi santai seperti tadi. Arema merasakan sesuatu yang tak enak menjalar di dadanya.

"Win?" Suara Arema sedikit bergetar.

Terminal mendadak terasa lebih bising, tapi telinga Arema justru seperti berdengung. Gadis itu menunggu kata-kata yang entah kenapa terasa seperti berat untuk diucapkan.

"Vhero yang kamu bilang itu ...." Wini akhirnya membuka suara lagi, kali ini dengan nada lebih pelan, "kayaknya cewek nggak bener deh. Dengar-dengar, cowoknya juga banyak."

Arema justru tertawa terpingkal. Tawanya lepas, sampai membuat bahunya sedikit berguncang. Reaksi itu membuat Wini mengernyit heran.

"Lho," ujar Wini bingung, "kamu kok malah ketawa sih, Ma?"

Arema menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan sambil masih menyunggingkan senyum tipis yang getir.

"Aku tuh udah tau semua, Win," katanya akhirnya. "Dan aku yakin banget, dia hamil sama cowok lain, tapi Rino yang disuruh tanggung jawab." Arema menatap wajan di depannya, api kecil masih menyala, martabak sudah matang sempurna.

"Cuma ya sudahlah," lanjut Arema dengan nada datar, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sudah tidak lagi melukainya. "Aku udah masa bodoh. Biarin aja Rino ngerasain sendiri sifat cewek pilihan dia. Itu konsekuensi hidupnya."

Arema lalu menoleh ke Wini, senyumnya kini lebih tenang. "Cowok nggak cuma dia."

Wini mengangguk pelan. "Kamu bener, Ma. Yang penting kamu fokus kerja. Kalau banyak uang, kamu bisa milih cowok."

Namun tiba-tiba Arema menatap Wini lebih tajam, seolah ada satu hal yang mengganjal sejak tadi.

"Ngomong-ngomong," ucapnya pelan tapi menusuk, "kamu kenal Vhero?"

Wini terdiam ....

"Kok kayaknya," lanjut Arema tanpa berkedip, "kamu tau banget cerita tentang dia?"Sore itu, langit di atas terminal mulai berubah warna. Biru pucat bercampur jingga, menandakan hari hampir berganti malam.

Deru kendaraan bersahut-sahutan, klakson angkot, suara pedagang kaki lima, dan teriakan kernet saling bertumpuk menjadi satu irama khas terminal.

Arema mendorong gerobak martabaknya ke sudut yang sudah ia incar sejak siang. Tepat di dekat deretan bangku penumpang, tak jauh dari lampu penerangan.

Ia berhenti, menghela napas sebentar, lalu mulai menata semuanya.

Wajan dikeluarkan. Kompor dipasang. Gas disambungkan. Bahan-bahan martabak ia susun rapi, tepung, gula, cokelat, keju, kacang, telur, daun bawang.

Semua ia lakukan dengan gerakan cekatan, seolah tubuhnya sudah mengingat rutinitas lama yang sempat terhenti.

"Semoga laris manis," gumamnya pelan.

Begitu gerobak siap dan lampu kecil dinyalakan, Arema baru menegakkan badan. Ia belum sempat duduk ketika seorang pria mendekat.

"Mbak, martabak manis satu!"

Belum selesai mencatat, datang lagi suara lain.

"Martabak telur dua, Mbak!"

Arema terkejut. Ia tersenyum kecil, tangannya langsung bergerak. Belum lima menit, antrean kecil mulai terbentuk. Ada yang berdiri, ada yang duduk di bangku terminal sambil menunggu.

"Wah, baru buka ya, Mbak? Karna dari kemarin saya nggak pernah lihat ada yang jualan martabak," tanya seorang bapak.

"Iya, Pak. Baru hari ini," jawab Arema sambil menuang adonan.

"Pantesan rame."

Arema hampir tak sempat berpikir. Tangannya sibuk menuang adonan, memutar wajan, menabur topping, membalik martabak telur.

Keringat mulai membasahi pelipisnya, tapi senyum tak lepas dari wajahnya. Dalam hati, ia tak henti bersyukur.

"Terimakasih, Tuhan, martabakku Laris," batinnya.

Terminal itu memang belum ada pedagang martabak sebelumnya. Kebanyakan hanya nasi goreng, mie goreng, gorengan, dan kopi.

Kehadiran martabak seolah jadi angin segar bagi para penumpang yang menunggu bus malam. Setelah hampir dua jam, pembeli mulai berkurang.

Arema menyeka keringat dengan punggung tangan. Ia melirik bahan-bahan di gerobak, stoknya tinggal sedikit.

"Lumayan buat hari pertama," gumamnya.

Ia baru saja menutup wajan ketika sebuah suara terdengar dari arah belakang.

"Mbak, martabak manis coklat kacang satu, martabak telur jumbo satu ya."

Arema refleks menoleh. Matanya membulat. "Wini!"

Perempuan yang berdiri di depannya juga terkejut. Pemilik nama Wini tertawa kecil.

"Lho, Rema lagi? Ya ampun," katanya sambil menatap gerobak martabak. "Kamu jualan martabak lagi?"

Arema tertawa kecil, rasa lelahnya seolah menguap seketika. "Iya nih," angguknya.

"Terus, kamu udah gak kerja di toko baju lagi?" tanya Wini sambil melirik sekitar.

"Masih dong," jawab Arema. "Pagi sampai sore kerja, malamnya jualan martabak."

Wini mengangguk-angguk, wajahnya terlihat kagum. "Hebat banget kamu, Ma," pujinya tulus. "Nggak semua orang kuat kayak gitu."

Arema tersenyum, sedikit tersipu. "Ah, biasa aja. Aku cuma pengin punya penghasilan tambahan."

Ia mulai menyalakan kompor lagi. Tangannya kembali cekatan, menuang adonan martabak manis. Aroma mentega mulai menyebar, mengundang beberapa orang yang lewat untuk melirik.

"Duduk, Win, aku buatin dulu," ujar Arema. "Nunggu bentar, ya."

Wini menurut. Ia duduk di bangku plastik di samping gerobak, memperhatikan Arema bekerja. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang hanya diisi suara adonan mendesis.

Lalu Wini membuka suara. "Oh ya, Ma," katanya pelan. "Gimana kabar Rino?"

Tangan Arema refleks berhenti sesaat. Sendok di tangannya nyaris terlepas.

"Ha?" Suaranya tercekat.

"Apa kamu masih sama dia?" lanjut Wini hati-hati.

Arema menelan ludah. Dadanya terasa sesak tiba-tiba. Ia berusaha tetap fokus, kembali mengaduk adonan agar tak gosong.

"Gak," jawab Arema singkat. "Kita udah putus."

Wini terdiam. Sedangkan Arema menarik napas dalam. Lalu, entah kenapa, ia merasa tak ada gunanya lagi menyimpan semuanya sendiri.

Sambil tetap bekerja, ia mulai bercerita. Tentang Rino. Tentang pengkhianatan. Tentang Vheronika. Tentang kehamilan itu. Tentang dirinya yang memilih pergi, bekerja, dan berdiri sendiri.

Wini mendengarkan dengan wajah serius. Sesekali ia menghela napas panjang.

"Maaf ya, Ma," ucap Wini setelah Arema selesai. "Sebenernya, aku juga sering lihat Rino sama cewek lain. Mungkin itu yang kamu bilang Vhero."

Arema melirik Wini sekilas ....

"Aku pikir kamu gak tau," lanjut Wini.

"Kemaren, pas aku beli baju di toko kamu, aku tuh sebenernya mau main ke kos kamu. Mau cerita soal Rino yang sering jalan sama cewek itu."

Arema tersenyum pahit. "Ya udahlah,” katanya pelan.

"Aku juga nggak mau nginget dia terus. Cowok bukan cuma dia." Nada suaranya terdengar pasrah, tapi di balik itu ada usaha keras untuk terlihat kuat.

Wini mengangguk pelan. "Kamu bener, Ma."

Arema mulai membalik martabak telur jumbo pesanan Wini. Api kompor mengecil. Gerakannya kembali tenang, seolah obrolan barusan tak terlalu berpengaruh, padahal hatinya masih bergetar. Beberapa detik berlalu.

Lalu Wini menegakkan duduknya. "Tapi, Ma," katanya perlahan. "Aku juga pengin ngasih tau kamu."

Kalimat itu membuat Arema menghentikan semua aktivitasnya. Api kompor masih menyala, martabak hampir matang, tapi Arema tak bergerak.

Ia menoleh pelan ke arah Wini. "Ngasih tau apa?" tanyanya lirih.

Wini ragu. Bibirnya terkatup, lalu terbuka lagi. Tatapannya berubah, tak lagi santai seperti tadi. Arema merasakan sesuatu yang tak enak menjalar di dadanya.

"Win?" Suara Arema sedikit bergetar.

Terminal mendadak terasa lebih bising, tapi telinga Arema justru seperti berdengung. Gadis itu menunggu kata-kata yang entah kenapa terasa seperti berat untuk diucapkan.

"Vhero yang kamu bilang itu ...." Wini akhirnya membuka suara lagi, kali ini dengan nada lebih pelan, "kayaknya cewek nggak bener deh. Dengar-dengar, cowoknya juga banyak."

Arema justru tertawa terpingkal. Tawanya lepas, sampai membuat bahunya sedikit berguncang. Reaksi itu membuat Wini mengernyit heran.

"Lho," ujar Wini bingung, "kamu kok malah ketawa sih, Ma?"

Arema menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan sambil masih menyunggingkan senyum tipis yang getir.

"Aku tuh udah tau semua, Win," katanya akhirnya. "Dan aku yakin banget, dia hamil sama cowok lain, tapi Rino yang disuruh tanggung jawab." Arema menatap wajan di depannya, api kecil masih menyala, martabak sudah matang sempurna.

"Cuma ya sudahlah," lanjut Arema dengan nada datar, seolah sedang membicarakan sesuatu yang sudah tidak lagi melukainya. "Aku udah masa bodoh. Biarin aja Rino ngerasain sendiri sifat cewek pilihan dia. Itu konsekuensi hidupnya."

Arema lalu menoleh ke Wini, senyumnya kini lebih tenang. "Cowok nggak cuma dia."

Wini mengangguk pelan. "Kamu bener, Ma. Yang penting kamu fokus kerja. Kalau banyak uang, kamu bisa milih cowok."

Namun tiba-tiba Arema menatap Wini lebih tajam, seolah ada satu hal yang mengganjal sejak tadi.

"Ngomong-ngomong," ucapnya pelan tapi menusuk, "kamu kenal Vhero?"

Wini terdiam ....

"Kok kayaknya," lanjut Arema tanpa berkedip, "kamu tau banget cerita tentang dia?"