KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
05 January 2026

Pagi itu Nayara terbangun dengan dada yang terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang menekan napasnya sejak subuh. Notifikasi di ponselnya menumpuk, sebagian besar berasal dari akun gosip yang kembali mengangkat nama Selina, sebagian lagi dari penggemar yang terpecah belah, ada yang membela dan ada yang menghujat. Namun satu pesan membuat jari-jarinya membeku. Tante Belinda: Nayara, apa ada waktu kosong siang ini ? Tante ingin bertemu. Sepertinya ada hal yang harus kita bicarakan. Penting. Tak ada emotikon. Tak ada basa-basi. Hanya kalimat singkat yang terasa seperti panggilan sidang. Nayara menatap layar itu lama. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, pertemuan ini tak bisa ditunda, tak bisa dihindari. Belinda bukan perempuan yang akan mengirim pesan tanpa tujuan. Terlebih setelah nama Selina kembali muncul ke permukaan, menyeret masa lalu Elvano yang bahkan Nayara sendiri belum sepenuhnya pahami. Ia menarik napas panjang, lalu membalas dengan sopan. Nayara: Baik, Tante. Nanti saya akan datang. Sementara itu, di rumah besar bergaya klasik yang selalu tampak dingin meski matahari bersinar terik, Belinda duduk di ruang keluarga dengan punggung tegak. Tangannya menggenggam secangkir teh yang masih berasap, namun pikirannya jauh lebih panas dari cairan itu. Di hadapannya, sebuah tablet menyala, menampilkan artikel demi artikel tentang Elvano, Nayara, kontrak, dan yang paling mengusik berita tentang Selina. Belinda memejamkan mata sejenak. Ia mengenal Selina. Terlalu mengenalnya. Gadis itu pernah ia anggap seperti anak sendiri. Ambisius, cerdas, tapi juga penuh tuntutan. Dan Elvano… selalu menuruti. “Kenapa selalu berulang…” gumam Belinda pelan. Langkah kaki pelayan terdengar mendekat. “Nyonya, Nona Nayara sudah tiba.” Belinda membuka mata. Tatapannya mengeras. “Persilakan masuk.” Nayara melangkah masuk dengan langkah hati-hati. Gaun sederhana berwarna pastel yang dikenakannya tampak kontras dengan interior rumah Belinda yang megah dan penuh wibawa. Tangannya terasa dingin, telapak tangannya berkeringat. Belinda berdiri. Tak ada senyum hangat seperti biasanya. Hanya anggukan kecil yang formal. “Duduk,” ucap Belinda singkat. Nayara menurut. Ia duduk di sofa berseberangan dengan Belinda, punggungnya tegak, jemarinya saling menggenggam di pangkuan. Ia merasa seperti sedang diuji, dinilai dari ujung rambut hingga cara ia bernapas. Ini bahkan lebih menegangkan jika dibandingkan dengan ujian akhir nasional. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Belinda yang memulai. “Kamu tahu kenapa tante memanggilmu ke sini?” tanyanya datar. Nayara menelan ludah. “Saya… bisa menebak, tante.” Belinda menggeser tabletnya ke tengah meja. Layar menampilkan judul besar dengan foto Selina dan Elvano di masa lalu. “Ini,” kata Belinda. “Dan ini semua.” Jemarinya mengetuk layar. “tante ingin mendengar langsung darimu. Tanpa kamera. Tanpa media. Tanpa Elvano. Ceritakan dengan jujur.” Nayara mengangguk pelan. “Baik, Tante.” Ia mulai menceritakan alurnya satu persatu. Terhadap media Elvano dan Nayara sepakat untuk tak membongkar semuanya. Namun tidak dihadapan orang tua mereka, keduanya sepakat untuk tidak menutupinya lagi. Nasi sudah jadi bubur, dan lebih baik orang tua mereka mengetahui semuanya. Belinda menyandarkan punggung, menatap Nayara tajam. “Kamu masuk ke hidup Elvano lewat kontrak. Fakta. Lalu sekarang kamu bilang hubungan kalian nyata. Tante perlu tahu, kamu serius atau hanya terbawa situasi?” Pertanyaan itu menghantam Nayara lebih keras dari hujatan mana pun di media sosial. Ia menarik napas dalam-dalam. Saat berbicara, suaranya bergetar, tapi jelas. “Awalnya saya juga mengira ini hanya pekerjaan, Tante. Saya bahkan berusaha menjaga jarak. Tapi perasaan tidak pernah bertanya pada waktu atau kondisi. Ia tumbuh begitu saja. Seberusaha apapun saya untuk bersikap professional, tapi inilah akhirnya.” Belinda mengernyit. “Perasaan saja tidak cukup, Nayara.” “Saya tahu,” jawab Nayara cepat. “Dan justru karena itu saya di sini. Kalau saya hanya main-main, saya tidak akan bertahan sejauh ini. Tidak akan menghadapi semua ini.” Belinda terdiam. Tatapannya berubah, tak lagi sekaku tadi, tapi masih penuh selidik. “Kamu tahu siapa Selina bagi Elvano?” tanya Belinda kemudian. Nayara mengangguk perlahan. “Saya rasa, siapa yang tidak tahu tentang kedekatan mereka dimasa lalu, saya tahu dia bagian dari masa lalu Elvano. Dan saya tidak pernah berniat menghapus itu.” “Bagus,” sahut Belinda dingin. “Karena masa lalu Elvano tidak pernah sederhana.” Belinda berdiri, berjalan perlahan ke jendela besar. “Selina adalah cinta pertama Elvano. Dan juga pelajaran pertamanya tentang kehilangan dan tuntutan. Setelah itu, Elvano belajar satu hal, mengalah.” Belinda menoleh. “Dan sekarang tante melihat pola yang sama mulai terbentuk.” Nayara tersentak. “Maksud tante…?” “Kamu,” kata Belinda tegas, “apakah kamu akan menjadi perempuan yang membuat Elvano kembali mengorbankan dirinya? Atau perempuan yang berdiri sejajar dengannya?” Pertanyaan itu membuat mata Nayara panas. Ia bangkit berdiri tanpa sadar. “Saya tidak pernah meminta Elvano mengorbankan apa pun,” ucapnya dengan suara bergetar. “Justru saya yang sering ingin mundur, Tante. Tapi Elvano yang memilih bertahan.” Belinda menatapnya lama. Ada keheningan yang panjang, berat, penuh penilaian. “Apa kamu mencintainya?” tanya Belinda tiba-tiba, tanpa basa-basi. Nayara tercekat. Dadanya naik turun. Ia ingin menjawab dengan aman, diplomatis. Tapi tatapan Belinda menuntut kejujuran. “Iya, Tante,” jawab Nayara akhirnya. “Saya mencintainya. Dengan cara saya sendiri. Dan saya tidak ingin menjadi masalah dalam hidupnya.” Keheningan kembali turun. Belinda menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, bahunya terlihat sedikit turun, seolah lelah. “Kamu tahu,” ucap Belinda lebih pelan, “Tante bukan tidak merestui. Tante hanya takut. Takut kehilangan sosok Elvano yang ceria, susah payah tante melihat ELvano berjuang sejauh ini, tante tidak ingin melihat dunianya hancur. ” Nayara menatapnya, terkejut. “Tante sudah melihat Elvano jatuh terlalu dalam sekali,” lanjut Belinda. “Dan butuh waktu bertahun-tahun untuk berdiri lagi.” Nayara mendekat selangkah. “Saya tidak bisa menjanjikan semuanya akan mudah, Tante. Tapi saya bisa berjanji satu hal, jika saya tidak ada maksud untuk mempermainkan perasaan Elvano.” Belinda menatap Nayara lama. Lalu, dengan suara yang lebih dingin namun jujur, ia berkata, “Kalau begitu, buktikan. Karena Selina tidak akan diam. Dan badai ini belum selesai.” Seolah mengamini ucapan itu, ponsel Nayara bergetar di tangannya. Sebuah notifikasi masuk. Judul berita baru muncul, lebih tajam, lebih provokatif: “Jejak Masa Lalu Elvano Siap Bongkar Fakta Baru: Benarkah Nayara orang ketiga didalam hubungan Selina dan Elvano?” Nayara memejamkan mata. Dadanya kembali sesak. Belinda menatap layar itu, lalu menoleh pada Nayara. “Sekarang kamu mengerti kenapa tante menuntut kejelasan.” Di luar rumah megah itu, langit mulai menggelap meski masih siang. Awan tebal menggantung rendah, seolah bersiap menumpahkan hujan. Dan di tempat lain, Selina tersenyum puas di depan layar ponselnya. Babak baru telah dimulai.