Selang beberapa hari Nayara tak ingin memperdulikan isi media sosialnya. Seakan hiatus, bahkan isi story akun sosial medianya hanya dipenuhi endorsement yang diupload oleh Diva. Sedangkan Nayara, setelah pulang dari rumah Belinda, Ia lebih banyak menghabiskan waktu didalam kamar, bertemankan macbook, jari jemarinya begitu lihai, entah apa yang sedang ditulisnya. Pagi itu berita tak lagi datang dengan ledakan, melainkan merayap, halus, licin, dan mematikan. Tidak ada nama Selina di judul, tidak ada tudingan langsung, tidak ada bukti yang bisa ditarik kembali ke satu wajah. Yang ada hanya “sumber terpercaya”, “orang dalam”, dan potongan-potongan narasi yang terasa terlalu rapi untuk sekadar kebetulan. Belinda membaca artikel itu pelan, berulang, seolah mencari celah yang bisa dibongkar. Namun tak ada. Semua ditulis dengan bahasa netral, sopan, bahkan tampak objektif. Justru itu yang membuatnya berbahaya. Sumber dekat menyebutkan bahwa hubungan Elvano dan Nayara berkembang terlalu cepat dan berisiko, mengingat latar belakang profesional keduanya yang berawal dari kerja sama. Tidak ada kebohongan terang-terangan. Hanya penekanan. Pilihan diksi. Sudut pandang. Belinda meletakkan tabletnya. Tatapannya mengeras, tapi kali ini bukan pada Nayara. “Ini bukan kerja amatir,” gumamnya. Nayara yang duduk di seberang meja hanya bisa menunduk. Ia merasakan hawa dingin yang tak berasal dari pendingin ruangan. Kata-kata Belinda beberapa waktu lalu, badai ini belum selesai, kini terasa seperti nubuat yang mulai terwujud. Di sisi lain kota, Selina berdiri di depan cermin besar ruang rias sebuah studio televisi. Gaun putih tulangnya jatuh sempurna di tubuhnya. Rambutnya ditata sederhana, elegan. Wajahnya dihiasi riasan tipis yang memberi kesan tenang dan dewasa. Ia tersenyum pada bayangannya sendiri. Senyum yang lembut. Bersih. Nyaris tak bercela. “Siap, Mbak Selina,” ujar seorang kru dari balik pintu. “Segmentnya singkat. Santai saja.” Selina mengangguk. “Terima kasih.” Tak ada gugup. Tak ada amarah. Yang ada hanya ketenangan yang terlatih. Lampu studio menyala. Kamera mengarah padanya. Presenter membuka acara dengan nada ringan, seolah topik yang akan dibahas hanyalah gosip manis sore hari. “Kita kedatangan tamu spesial hari ini, seorang wanita cantik yang sudah lama memilih hiatus dari panggung hiburan negeri ini, siapakah dia?” ujar sang presenter ceria. “Selina, yang tentu saja publik kenal sebagai sosok yang pernah dekat dengan Elvano Aryavindra. Beberapa waktu ini, hubungan Elvano dengan Nayara Ayuna Iyara jadi sorotan. Banyak yang penasaran, apa tanggapan Selina?” Selina tersenyum kecil. Senyum yang tampak tulus. “Saya ikut bahagia,” jawabnya lembut. “Setiap orang berhak menemukan kebahagiaannya sendiri.” Kalimat aman. Netral. Tepuk tangan ringan terdengar dari beberapa kru. Presenter mengangguk puas. “Jadi tidak ada perasaan… apa ya, cemburu mungkin?” Selina tertawa pelan. Tawa yang terdengar matang, dewasa. “Tidak sama sekali. Itu sudah masa lalu. Elvano berhak bahagia dengan pilihannya.” Lalu, dengan nada yang nyaris tak berubah, ia menambahkan, “Lagipula, saya juga tidak pernah benar-benar mengenal Nayara.” Kalimat itu meluncur begitu saja. Ringan. Tanpa tekanan. Presenter sedikit terkejut. “Oh? Maksudnya?” Selina mengangkat bahu kecil. “Kami tidak pernah berada di lingkaran yang sama. Saya tahu dia figur publik, influencer, tapi secara personal… tidak. Jadi saya rasa tidak adil juga kalau saya harus menilai.” Tidak ada hinaan. Tidak ada sindiran terang-terangan. Namun justru di situlah ketajamannya. Tidak pernah berada di lingkaran yang sama. Kalimat itu menggantung, memberi ruang bagi publik untuk mengisinya sendiri. Tentang kelas. Tentang dunia yang berbeda. Tentang siapa yang “setara” dan siapa yang hanya singgah. Media sosial bergerak cepat. “Kok dingin ya jawabannya?” “Kelasnya beda sih kelihatan.” “Selina dewasa banget, nggak mau ikut drama.” “Maksudnya Nayara siapa sampai nggak dikenal?” Presenter kembali membuka pertanyaan, kali ini lebih sensitive. “Beberapa waktu lalu jagat raya dihebohkan dengan hubungan kontrak antara Elvano dengan Nayara, bagaimana menurut Selina?” Selina menghembuskan nafas pelan, seolah Lelah menanggapi berita tentang ELvano dan Nayara. “Ya, mau bagaimana lagi ya. Dunia sekarang benar-benar gila, kita sulit mempercayai mana yang benar-benar tulus dan mana yang modus, semua orang butuh panggungnya masing-masing dan untuk mendapatkan panggung itu tentu memiliki cara tersendiri. Yang jelas aku tak ingin masuk terlalu dalam, biar public yang menilainya sendiri.”
“Lalu bagaimana menurut Selina, kabarnya ada orang terdekat Elvano yang memberikan bocoran jika sebenarnya hubungan kalian kandas karena orang ketiga, apa benar Nayara adalah orangnya?” “Untuk yang satu ini, aku nggak mau jawab, biar publik aja yang menilai. Lagi pula aku tidak tahu siapa yang mengeluarkan statement ini.” Acara bincang sore itu pun berakhir dengan sempurna bagi Selina. Ia menuai banyak pujian dibeberapa akun sosial media, mulai dari akun gossip, sampai akun para haters Nayara. Di tempat lain, Nayara membaca potongan klip itu dengan dada berdenyut. Tidak ada satu kata pun yang bisa ia bantah. Tidak ada yang salah secara teknis. Namun rasa diremehkan itu nyata, menusuk pelan. Ia menutup ponselnya, jemarinya gemetar. “Kak Vano bilang dia sudah lepas,” gumamnya lirih pada Diva yang duduk di sampingnya. “Tapi kenapa rasanya aku yang harus terus membuktikan diri?” Diva menghela napas, merangkul bahu Nayara. “Karena ini bukan soal Elvano lagi, Nay. Ini soal panggung. Dan Selina tahu betul cara berdiri di tengahnya tanpa terlihat menyerang.” Elvano sendiri mengetahui pernyataan itu saat jeda rapat. Ia menatap layar ponsel dengan rahang mengeras. Tidak ada amarah meledak-ledak. Yang ada justru rasa lelah yang pekat. “Pak bos?” suara Ardhan ragu dari seberang meja. Elvano mengangkat tangan, meminta waktu. Ia memutar ulang klip itu sekali lagi. Memerhatikan setiap detail: intonasi Selina, jeda napasnya, senyum kecil yang muncul tepat saat kalimat “tidak pernah mengenal Nayara” keluar. Ia mengenal Selina terlalu lama untuk menganggap itu kebetulan. Namun, ia juga tahu, tak ada satu pun yang bisa ia gunakan untuk menyerang balik. Cerdas. Elvano menutup ponselnya. Ia berdiri, menatap jendela besar ruang rapat. Di luar, kota berjalan seperti biasa, seolah hidupnya tak sedang dipereteli pelan-pelan oleh opini publik. Sore itu, Belinda menerima telepon dari seorang kenalan lama, produser senior yang jarang menelepon tanpa alasan. “Hati-hati, Linda,” ujar suara di seberang. “Ada narasi yang sedang dibangun. Bukan menyerang Elvano, tapi… menggeser simpati.” Belinda terdiam. “Oleh siapa?” “Tidak ada nama,” jawabnya jujur. “Dan itu yang berbahaya.” Belinda menutup telepon dengan perasaan tak nyaman. Ia menoleh ke arah Nayara yang sedang duduk di ruang keluarga, menatap kosong ke arah taman. Belakangan Belinda sering meminta Nayara untuk datang kerumahnya, hanya sekedar ngobrol santai, kebetulan jarak rumah mereka tidaklah jauh, hanya berselang satu komplek saja. “Nayara,” panggilnya pelan. Nayara menoleh. “Iya, Tante?” Belinda mendekat. Nada suaranya lebih lembut dari sebelumnya. “Mulai sekarang, setiap kata yang kamu ucapkan di publik, bahkan diam mu, akan ditafsirkan. Kamu siap?” Nayara mengangguk, meski matanya berkaca-kaca. “Kalau saya mundur sekarang, apakah semuanya akan lebih mudah?” Belinda menggeleng perlahan. “Tidak. Justru itu yang mereka tunggu.” Nayara menarik napas panjang. Ia mengerti. Mundur bukan pilihan. Diam pun bukan perlindungan. “Tapi… ada hal yang aku takutkan tante.” Belinda memandang serius wajah lesu Nayara. “Bagaiamana jika ini akan berpengaruh terhadap karir Kak Vano. Aku tidak ingin menghancurkan Impian kak Vano.” Di tempat lain, Selina duduk sendirian di kafe sunyi, menatap layar ponselnya. Pemberitaan berjalan persis seperti yang ia perkirakan. Tidak berisik. Tidak liar. Tapi konsisten. Ia menyeruput kopinya perlahan, lalu tersenyum kecil. “Pelan-pelan,” gumamnya. “Biar mereka sendiri yang meragukan.” Ia tidak perlu membongkar apa pun lagi. Tidak perlu mengaku. Dunia akan mengerjakan sisanya. Dan jauh di lubuk hati Selina, satu hal terasa sangat pasti: permainan ini belum mencapai klimaksnya.