KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
05 January 2026

Jagat maya tidak pernah benar-benar tenang. Ia hanya berpindah bentuk. Dari euforia, ke kecurigaan. Dari dukungan, ke penghakiman. Beberapa hari setelah pernyataan Selina yang terasa “dewasa” itu, kubu publik terbelah semakin jelas. Dua barisan berdiri saling berhadapan, sama kerasnya, sama fanatiknya. Di satu sisi, mereka yang percaya pada Nayara dan Elvano. “Kelihatan tulus kok.” “Elvano berubah sejak sama Nayara.” “Nayara nggak pernah numpang nama, dia punya karier sendiri.” Namun di sisi lain, suara yang lebih berisik justru semakin menguat. “Selina itu cinta pertama Elvano.” “Hubungan mereka kandas pasti karena orang ketiga.” “Timing Nayara terlalu pas, masa nggak curiga?” Narasi itu tidak muncul sekaligus. Ia tumbuh perlahan, dari kolom komentar anonim, lalu diangkat oleh akun-akun gosip kelas dua, hingga akhirnya masuk ke portal berita dengan judul yang lebih halus namun menggigit. Semuanya berantai, tersusun dengan sistematis, seolah ada orang dibalik layar yang mengontrol semuanya. Sumber lama menyebutkan kehadiran figur baru menjadi pemicu renggangnya hubungan Elvano dam Selina di masa lalu. Tidak ada nama Nayara di judul. Tapi semua orang tahu siapa yang dimaksud. Nama Nayara kembali menjadi sasaran. Kali ini lebih kejam, karena ia tidak hanya diserang sebagai figur publik, tapi sebagai perempuan. “Pelakor politik.” “Cari panggung lewat pria berkuasa.” “Influencer haus validasi.” Nayara membaca sebagian, lalu berhenti. Ia tidak menangis. Tidak juga marah. Ia hanya merasa… lelah. Yang paling menyakitkan bukan tudingan itu sendiri, melainkan satu hal lain yang ia sadari perlahan: Elvano tidak membelanya. Bukan karena Elvano tidak mau. Tapi karena Elvano tidak tahu. Di gedung partai, Elvano hampir tidak pernah melihat ponselnya lebih dari lima menit. Sejak pagi hingga malam, agenda silih berganti tanpa jeda. Ruang rapat dipenuhi suara tegang. “Pak Elvano, ini sudah keterlaluan!” bentak salah satu pengurus. “Anggota kita diserang saat demo kemarin. Video flexing mereka viral. Mobil mewah, jam tangan mahal, pesta ulang tahun di kapal, semuanya jadi amunisi!” Elvano mengusap wajahnya pelan. “Saya sudah minta tim klarifikasi.” “Klarifikasi saja nggak cukup,” sela yang lain. “Citra kita rusak. Ketua partai minta Anda turun langsung.” Elvano mendongak. “Turun langsung bagaimana?” rasanya ia ingin protes, jelas semua ini tidak ada kaitannya dengan dirinya, tapi kenapa disaat orang lain yang membuat kesalahan malah Elvano yang harus bertanggung jawab. “Bakti sosial. Kunjungan daerah. Program pangan. Rumah rakyat.” Nada bicara itu datar, seolah semua ini hanya daftar belanja. Ketua partai akhirnya bicara, suaranya tenang tapi penuh tekanan. “Popularitasmu masih kuat, Van. Jangan sia-siakan. Kamu wajah muda partai. Bersihkan ini. Sekarang.” Tidak ada pilihan. Sejak hari itu, hidup Elvano berubah menjadi rangkaian pencitraan tanpa henti. Pagi di satu kota, sore di kota lain. Menyapa warga, memeluk anak kecil, menanam pohon, membagikan sembako. Kamera selalu ada. Senyum selalu terpasang. Media sosial Elvano dipenuhi foto-foto itu. Elvano Aryavindra turun langsung membantu warga terdampak. Pejabat muda yang peduli rakyat. Tak ada satu pun unggahan pribadi. Tak ada Nayara. Tak ada ruang untuk urusan hati. Elvano bahkan tidak sadar bahwa di waktu yang sama, nama Nayara sedang digiring ke arah yang berbahaya. Sementara itu, Nayara memilih jalan yang berbeda. Ia pulang ke rumah orang tuanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar menjadi anak di rumah itu. Bangun pagi tanpa kamera, sarapan dengan ibunya, mendengar ayahnya bercerita soal hal-hal remeh. Ia pergi berlibur singkat bersama keluarga dan beberapa sahabat dekat. Pantai, udara asin, tawa yang tulus. Di sanalah Nayara mengunggah beberapa foto. Bukan foto berdua. Bukan klarifikasi. Hanya potret dirinya tersenyum, mengenakan kaus sederhana, tanpa riasan berlebihan. Caption-nya singkat: “Pulang.” Anehnya, respons publik justru mulai melunak. Endorsement yang sempat tertahan perlahan kembali masuk. Brand-brand yang sebelumnya ragu, mulai menghubungi lagi. “Engagement kamu naik lagi, Nay,” kata manajernya melalui telepon. “Malah lebih organik.” Nayara tersenyum tipis. Ia bersyukur. Tapi di sudut hatinya, ada ruang kosong yang tidak terisi. Elvano tidak menelepon. Elvano tidak bertanya. Bukan karena ia tidak peduli, Nayara tahu itu. Tapi karena hidup mereka kini berjalan di dua jalur yang tidak saling bersinggungan. Nayara tak ingin menjadi beban yang mengusik karir Elvano, dan disisi lain ELvano disibukkan untuk mencuci tangan para pejabat yang membuat kesalahan. Ditengah porak poranda, banyak masyarakat yang kecewa, Elvano harus mengambil resiko bertemu langsung dengan masyarakat, melindungi beberapa nama yang harus dijaga reputasinya. Media sosial Nayara menampilkan dirinya sebagai Nayara yang utuh: bekerja, tertawa, bepergian. Media sosial Elvano menampilkan Elvano sebagai pejabat: serius, berdasi, berdiri di tengah kerumunan warga. Dua dunia. Dua citra. Dan publik membaca itu sebagai jarak. “Lihat tuh,” tulis seseorang. “Nayara liburan, Elvano kerja keras. Nggak seimbang.” “Kayaknya emang beda dunia.” Narasi kembali bergerak, tanpa perlu didorong. Belakangan publik menilai hubungan Elvano dan Nayara kandas. Banyak orang berpikir jika ELvano meninggalkan Nayara, dan memperkuat rumor tentang hubungan mereka yang hanya sebatas kontrak kerja. Di balik layar, Selina mengamati semuanya dengan sabar. Ia tidak menambah pernyataan. Tidak memancing drama. Ia justru terlihat… menghilang. Sesekali muncul di acara sosial kelas atas, berfoto dengan tokoh-tokoh lama, menyapa kamera dengan senyum yang selalu tepat. Diam Selina justru membuat namanya terus disebut. “Selina tetap classy.” “Kalau sama Selina, Elvano dulu kelihatan lebih seimbang.” “Mereka tuh cocok di level yang sama.” Selina tidak menyangkal. Tidak mengiyakan. Ia membiarkan publik menjodohkan dengan sukarela. Di satu malam yang sunyi, ia membaca berita tentang Elvano yang kembali ke luar negeri bersama delegasi pejabat. Senyum kecil muncul di bibirnya. “Capek, ya,” gumamnya pelan. “Teruslah sibuk.” Karena ia tahu satu hal: jarak yang dibiarkan terlalu lama, akan diisi oleh asumsi. Beberapa hari kemudian, Nayara baru menyadari betapa seriusnya tudingan yang diarahkan padanya ketika ibunya menunjukkan sebuah artikel. “Nay,” ujar sang ibu hati-hati, “ini… apa benar dulu Selina dan Elvano putus karena kamu?” Nayara membeku. “Apa?” suaranya nyaris tak terdengar. Ibunya buru-buru menggenggam tangannya. “Ibu tidak percaya. Tapi orang-orang mulai bertanya.” Di situlah Nayara merasa napasnya tercekat. Bukan karena fitnah itu, tapi karena ia sadar: jika Elvano terus diam, cerita ini akan menjadi kebenaran versi publik. Malam itu, Nayara menatap ponselnya lama. Nama Elvano ada di layar, belum ia sentuh. Bukan karena ia tidak ingin menelepon, tapi karena ia takut. Takut jika ternyata… Elvano memang terlalu sibuk untuk mendengar. Dan di kejauhan, Elvano berdiri di balkon hotel luar negeri, menatap kota asing yang berkilau. Ponselnya penuh pesan dari staf, ajudan, tim partai. Tidak satu pun yang memberi tahu bahwa perempuan yang ia perjuangkan kini berdiri sendirian menghadapi badai. Dua orang itu sama-sama lelah. Sama-sama terikat. Dan sama-sama tidak tahu bahwa diam mereka sedang dimanfaatkan oleh dunia yang tidak pernah benar-benar peduli pada kebenaran, hanya cerita yang paling menarik untuk dipercaya.