Dunia sosial mediah masih fokus memperdebatkan hubungan Nayara dan ELvano. Jagat maya akhirnya menjatuhkan vonisnya sendiri. Tanpa konfirmasi. Tanpa menunggu kebenaran. “Resmi kandas?” “Hubungan kontrak akhirnya tamat?” “Elvano memilih karier, Nayara memilih kebebasan?” Judul-judul itu bertebaran, dilengkapi potongan unggahan yang dipisahkan konteks. Foto Nayara tersenyum di pantai, foto Elvano berdasi di bandara luar negeri, vidio vidio singkat tentang kegiatan yang dilakukan oleh keduanya dimasing-masing tempat, digoreng dan dijual laris. Dua dunia yang tak lagi disatukan dalam satu bingkai. Publik menyimpulkan dengan kejam: mereka sudah selesai. Narasi keretakan tumbuh subur. Dibilang hubungan mereka menggantung. Tak ada klarifikasi, tak ada pembelaan. Diam yang terlalu lama berubah menjadi bukti. Dan kenyataannya, memang ada jarak. Nayara menghilang dari hiruk-pikuk dunia sosial media, para penggemarnya merasa kesepian setelah seminggu tak ada satu postinganpun yang menampilkan keseharian Nayara. Hanya beberapa clue yang mereka dapatkan dari postingan orang-orang terdekat Nayara. Ia memilih liburan, bukan pelarian, tapi jeda. Hari-harinya diisi matahari pagi, tawa teman-temannya, dan keluarganya yang berusaha mengembalikan Nayara menjadi manusia biasa, bukan judul berita. Ia jarang membuka ponsel. Ia sengaja tidak mengecek nama Elvano di trending. Capek. Bahkan Nayara sama sekali tak memegang handphone, ia sibuk bermain bersama Noah keponakannya, berlarian dipinggir pantai, membuat istana pasir, dan lain sebagainya. Sementara itu, Elvano hidup dalam jadwal yang tidak memberinya celah bernapas. Rapat demi rapat. Kunjungan demi kunjungan. Di luar negeri pun, namanya tak lepas dari agenda resmi. Ponselnya nyaris selalu di tangan staf. Malam datang terlalu larut untuk sekadar mengirim pesan, pagi datang terlalu cepat untuk mengingat rindu. Bukan tidak ingin menghubungi Nayara. Ia hanya… tidak sempat. Hari terakhir di luar negeri, saat agenda akhirnya berakhir lebih cepat dari jadwal, Elvano berjalan-jalan ditemani Ardhan sang ajudan yang sangat setia, menyusuri satu demi satu toko yang ada di sudut kota. Matanya berhenti pada sebuah benda di balik etalase kaca. Sederhana. Elegan. Sangat Nayara. Ia membelinya tanpa ragu. Bukan untuk pencitraan. Bukan untuk kamera. Untuk Nayara. Rindu yang ia tekan berminggu-minggu akhirnya meluap. Ia membayangkan wajah Nayara saat menerima kado itu. Senyum kecilnya. Cara Nayara yang selalu menghargai pemberian orang lain dengan matanya yang berbinar. Elvano bahkan tidak memberi tahu siapa pun. Ia ingin memberi kejutan. Memberi tanda bahwa meski dunia menarik mereka ke arah berbeda, ia tetap kembali. Namun di sisi lain dunia, badai baru sedang disiapkan. Nama Bima Alvarel mendadak muncul berdampingan dengan Nayara. Awalnya hanya satu unggahan. Lalu dua. Foto Bima dengan latar pantai yang sama dengan unggahan Nayara. Sudut kafe yang identik. Ikon kota yang tidak mungkin kebetulan. Caption-nya ringan, nyaris tak bermakna. Good view. Finally here. Tapi publik tidak pernah membaca dengan ringan. “Liburan bareng?” “Cepat juga move on.” “Pantas Elvano ditinggal.” Nayara tidak tahu apa-apa. Ia bahkan tidak mengikuti akun Bima. Pria itu, yang selama ini membuatnya muak dengan pendekatan berisik dan tidak tahu batas, kembali muncul, kali ini tanpa perlu muncul di hadapannya. Ternyata, kesempatan emas ini tidak disia-siakan begitu saja oleh Bima, ia masih mencari celah popularitas, dan berusaha untuk mencuri perhatian Nayara. Sementara Nayara memilih diam, rumor bergerak tanpa rem. Bukan diam karena malas menanggapi saja, namun belakangan Nayara memang dengan sengaja tak lagi memegang handphone dan menikmati sosial media, bahkan menonton siaran televisi pun ia enggan. Hari kepulangan Elvano akhirnya tiba. Tanpa pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Tanpa mampir ke kantor. Elvano langsung menuju kediaman Nayara. Kado itu masih di tasnya, terbungkus rapi, seolah menjadi satu-satunya hal yang ia jaga sepanjang perjalanan. Namun yang menyambutnya hanyalah pagar tertutup. Rumah itu sunyi. Tidak ada mobil. Tidak ada lampu menyala. Tidak ada Diva. Tidak ada Nayara. Elvano berdiri lama di sana. Jantungnya berdegup tidak wajar. Ia berusaha menelepon. Nomor Nayara tidak aktif. Ia membuka media sosial. Tidak ada story. Tidak ada video. Tidak ada potret liburan. Hanya unggahan endorsement terjadwal, yang ia tahu betul, itu bukan Nayara. Melainkan tugas Diva untuk mempostingnya. Perasaan tidak enak merambat pelan, lalu mencengkeram. Di dalam mobil, Elvano akhirnya membuka jagat maya yang selama ini ia abaikan. Dan semuanya menghantamnya sekaligus. Tuduhan. Gosip. Potongan cerita yang dipelintir. Nama Nayara diseret. Namanya sendiri dicabik. Tangannya mengepal saat membaca satu unggahan terbaru dari akun gosip terbesar malam itu: “Sumber menyebut Nayara tengah berlibur bersama pria berinisial B.A. Terlihat dari kesamaan lokasi unggahan. Hubungan Elvano dan Nayara diduga telah berakhir.” Foto Bima muncul di layar. Senyum santai. Latar yang terlalu familiar. Elvano menatapnya lama. Logikanya menolak. Ia tahu Nayara. Ia tahu perempuan itu tidak seperti itu. Tapi cemburu adalah racun yang bekerja tanpa izin. Dan jarak memberi ruang bagi racun itu untuk menyebar. “Kamu di mana, Nay…” gumamnya pelan, lebih terdengar seperti doa dari pada pertanyaan. Untuk pertama kalinya, Elvano merasa kehilangan kendali. Bukan atas citra. Bukan atas politik. Tapi atas satu hal yang paling ia jaga: perempuan yang ia cintai. Dan di suatu tempat, Nayara juga tidak tahu bahwa dalam diamnya, sebuah cerita sedang ditulis, cerita yang bisa memisahkan mereka sebelum sempat saling memberikan penjelasan satu sama lain. Nayara Tengah fokus bermain bersama Noah, beberapa potret indahnya diabadikan oleh anggota keluarga yang lain. Dandi, salah satu abang Nauara mengunggah kebersamaan itu, dengan caption, ‘biarlah seluruh dunia berisik, yang penting kamu bahagia.’ Ardhan yang kebetulan melihat postingan itu lewat di berandanya langsung memperlihatkannya pada Elvano. Mereka baru sadar, selama dua minggu kesibukan mereka diluar negeri, dunia banyak berubah, banyak tekanan yang harus dihadapi Nayara, hingga membuatnya menghilang sejauh ini. Tangan Elvano mengepal, napasnya naik turun, bukan karena ia tak suka dengan psotingan Dandi, namun karena vidio wawancara Selina tampil dihapannya. Kini, Elvano mengerti apa alasan dibalik hilangnya Nayara. Mobil itu melaju kencang, hingga memasuki gerbang sebuah rumah mewah. Elvano turun dari dalamnya, dengan dibantu Ardhan mereka menurunkan barang-barang dan masuk kedalam rumah. “Sebaiknya kamu istirahat Dhan, dua minggu ini pasti Lelah sekali.” Ucap Elvano meminta Ardhan untuk pulang kerumahnya. “Pak bos yakin mau ditinggal sendirian?” Perasaan Ardhan take nak jika harus meninggalkan Elvano disat yang tidak tepat seperti ini. “Atau mau, saya panggilkan anak-anak yang lain?” Ajudan Elvano sebenarnya ada empat orang, namun ia lebih sering pergi dengan Ardhan. “Nggak perlu Dhan, aku ingin istirahat dulu.” Jawab Elvano meyakinkan. “Besok saja kita ketemu lagi, dengan anak-anak yang lainnya.” Ardhan mengiyakan ucapan Elvano. Setelah itu, ia pun pamit untuk pulang kerumahnya sendiri.
KONTRAK PERASAAN
Penulis
Arunaa
05 January 2026