KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
05 January 2026

Elvano tidak menunggu pagi untuk bergerak. Begitu pesawatnya mendarat dan semua agenda resmi ditutup, ia mulai mencari Nayara dengan cara yang paling sunyi namun paling ia kuasai: bertanya tanpa membuat gaduh. Pada ajudan lama yang masih setia. Pada satu-dua orang kepercayaan Diva. Pada jadwal yang tak pernah benar-benar ia hapal, tapi kini ia pelajari ulang dengan cermat. Dan pada saat yang tepat, kabar itu datang. “Nona Nayara hari ini pulang, Pak. Sore ini. Langsung ke rumah.” Jantung Elvano berdetak keras. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil kunci mobil. Namun ia tidak langsung menuju rumah Nayara. Ia berhenti di sebuah mall besar di tengah kota. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Noah. Ia berdiri cukup lama di toko mainan, memperhatikan satu per satu rak, sebelum akhirnya memilih sebuah mainan yang pasti membuat bocah itu bersorak kegirangan. Tak lupa, cokelat favorit Noah yang pernah ia dengar sekilas dari Nayara, tapi ia ingat dengan detail yang membuat ajudannya diam-diam tersenyum. “Pak, ini buat siapa?” tanya salah satu ajudan. “Buat seseorang yang sangat special.” jawab Elvano ringan, tapi matanya hangat. Saat mobil Nayara akhirnya memasuki halaman rumah, matahari sudah condong ke barat. Nayara turun dari mobil dengan tubuh yang jelas kelelahan. Suaranya sedikit serak, langkahnya lebih lambat dari biasanya. Diva turun menyusul, sementara Noah melompat lebih dulu, berlari kecil mengitari halaman, disusul dengan Dian pengasuhnya. Nayara baru saja hendak menutup pintu mobil ketika ia membeku. Sebuah mobil hitam yang sangat ia kenal berhenti tak jauh dari gerbang. Satpam rumahnya memberi hormat dan mempersilakan mobil itu masuk tanpa ragu. Jantung Nayara seolah lupa caranya berdetak. Pintu mobil terbuka. Elvano keluar, ditemani empat ajudannya. Jaket berwarna coklat yang dikenakannya berpadu rapi dengan jins senada. Kaos putih bersih, sepatu kets putih, dan kacamata gelap yang menambah ketampanannya, terlalu familiar dan terlalu dirindukan dalam waktu yang sama. “Nayara,” sapa Elvano, suaranya rendah namun jelas. “Ka…Kak Vano…” balas Nayara gugup, tanpa sadar jarinya mencengkeram ujung tasnya. Pandangan Elvano langsung beralih pada Noah. Ia berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan bocah itu. “Halo, Noah,” katanya dengan senyum yang nyaris selalu berhasil. “Kamu kelihatan keren banget hari ini.” Noah memandangnya sebentar, lalu tersenyum lebar. “Om Elvano!” Dan seperti biasa, bukan Elvano namanya jika tak mampu menaklukkan hati anak kecil dalam hitungan detik. Tawa Noah pecah, dan Nayara hanya bisa menghela napas kecil, separuh lega, separuh gemas. Mereka masuk ke dalam rumah. Nayara meminta pembantunya menyiapkan camilan dan minuman. Pilihan jatuh pada taman belakang, tempat yang terasa paling netral, paling aman. Elvano menyerahkan hadiah untuk Noah lebih dulu. Mainan itu langsung membuat bocah itu bersorak, apalagi ketika cokelat favoritnya ikut menyusul. Nayara mendengus pelan, berpura-pura cemburu. “Wah, ini kok cuma Noah saja yang dikasih kado? Tantenya enggak, nih?” Elvano yang sedang jongkok langsung menoleh. Senyum maskulinnya muncul tanpa usaha. Ia berdiri, lalu menyerahkan sebuah paper bag bermerek terkenal. “Mana mungkin aku lupa,” ucapnya tenang. Nayara membukanya dengan antusias. Begitu melihat isinya, matanya membesar. Sepasang sepatu kets. Couple. Persis dengan yang dikenakan Elvano hari itu. “Ya ampun…” Nayara tertawa kecil, nyaris melonjak. “Terima kasih, Kak.” Elvano hanya mengangguk, menatapnya dengan tatapan yang penuh arti. Setelah puas bermain, Noah dan para ajudan pindah ke kolam renang. Tawa mereka terdengar riuh. Diva duduk tak jauh, laptop terbuka di pangkuannya, sibuk mengejar tugas kuliah yang tertunda. Elvano dan Nayara memilih menjauh sedikit. Mereka duduk di ruang tengah, berdampingan, memperhatikan dari kejauhan. Hening turun di antara mereka. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang penuh hal-hal tak terucap. “Aku minta maaf,” suara Elvano akhirnya memecah keheningan. “Aku ingkar janji. Aku menghilang hampir dua minggu.” Nayara menoleh. Matanya lembut. “Aku tahu kamu sibuk. Aku cuma… nggak mau ganggu kamu aja kak.” Mereka mulai bertukar cerita. Tentang tekanan yang Elvano hadapi. Tentang Nayara yang memilih menjauh dari ponselnya. Tentang liburan yang ternyata bukan pelarian, tapi upaya bertahan. Elvano terdiam ketika mendengar Nayara sama sekali tidak tahu soal kehebohan media sosial. “Jadi… kamu nggak tahu soal gosip kamu sama Bima?” tanya Elvano pelan. Nayara menggeleng cepat. “Aku bahkan nggak pegang HP. Diva yang urus semuanya.” Elvano menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak pulang, dadanya terasa lebih ringan. Di luar, tawa Noah kembali pecah. Di dalam, dua hati yang nyaris tersesat perlahan menemukan jalan pulang. Namun mereka belum tahu, kedamaian ini hanya jeda. Karena badai tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali. Kehangatan itu tidak datang dengan ledakan kata-kata. Ia hadir perlahan, menyelinap di sela obrolan ringan yang tak lagi perlu dipikirkan arahnya. Nayara dan Elvano duduk saling berhadapan di ruang tengah, secangkir teh hangat di tangan masing-masing. Obrolan mereka mengalir, tentang hal-hal kecil yang sempat terlewat. Tentang kota yang Elvano kunjungi dan betapa ia lelah harus selalu tersenyum di depan kamera. Tentang Nayara yang kembali belajar menikmati pagi tanpa notifikasi, tentang Noah yang kini sedang berada di fase banyak bertanya. Sesekali tawa Nayara pecah. Elvano menatapnya lebih lama dari yang ia sadari. Rindu yang selama ini tertahan akhirnya menemukan ruang bernapas. “Rasanya aneh ya,” ucap Nayara pelan. “Kita sempat sejauh itu, tapi sekarang… duduk di sini.” Elvano tersenyum tipis. “Mungkin karena kita sama-sama berhenti lari.” Tanpa banyak kata, Elvano meraih ponselnya. Begitu pula Nayara. Seolah sudah sepakat tanpa perlu kesepakatan, mereka mengabadikan momen sore itu, bukan dengan pose berlebihan, hanya potret sederhana. Senyum Nayara yang santai, Elvano di sampingnya, sepatu kets couple terlihat jelas di bingkai foto. Tak lama kemudian, unggahan itu muncul. Tidak ada caption panjang. Hanya satu kalimat singkat: “Di rumah.” Di akun Nayara. Dan di akun Elvano: “Pulang.” Jagat maya kembali bergemuruh. Fanbase mereka meledak dalam hitungan menit. “AKHIRNYA” “INI BARU REAL.” “Lihat cara mereka tenang bareng.” “Kubilang juga apa, mereka nggak putus.” Spekulasi runtuh satu per satu. Narasi kandas terhenti. Foto itu terlalu jujur untuk disangkal. Namun di tempat lain, kejujuran itu berubah menjadi bara. Selina menatap layar ponselnya dengan mata yang menyala. Jemarinya mengepal begitu keras hingga kuku menancap ke kulit. Napasnya memburu. “Tidak…” gumamnya lirih. “Seharusnya tidak begini.” Dengan satu gerakan impulsif, ia menyapu meja riasnya. Botol parfum terhempas, palet make up jatuh pecah, kaca kecil retak di lantai. Dadanya naik turun, amarah bercampur rasa kalah yang tak bisa ia terima. “Aku sudah terlalu jauh untuk gagal,” bisiknya. “Aku tidak kalah. Belum.” Sementara itu, di rumah Nayara, suasana justru hangat dan penuh tawa. Makan malam sederhana tersaji. Elvano duduk bersebelahan dengan Noah, bocah itu tak henti bercerita, sesekali menyuapi dirinya sendiri sambil menyenggol lengan Elvano. “Om Elvano makan ini juga,” kata Noah polos. Elvano menurut tanpa protes, membuat Diva tertawa kecil. “Dia sudah dapat hati Noah sepenuhnya,” ucap Diva menggoda. Setelah makan, Nayara dan Elvano mengantarkan Noah ke kamar. Mereka duduk di sisi ranjang, menemani bocah itu sampai matanya mulai terpejam. “I love u Onty, I love u Om Vano,” gumam Noah setengah mengantuk. Nayara mengusap rambutnya lembut. “Tidur yang manis.” Begitu pintu kamar tertutup, Nayara menoleh ke Elvano. “Kita mau kemana, kak?” Elvano tersenyum. “Aku sudah menunggu kamu bilang itu.” Malam itu, mereka pergi tanpa pengawalan berlebihan. Pusat perbelanjaan yang tidak terlalu ramai menjadi tujuan. Berjalan berdampingan, tertawa kecil di lorong-lorong toko, berbagi cerita tanpa tekanan. Mereka menutup malam di sebuah kafe. Duduk berhadapan, lampu temaram, suara musik lembut mengisi ruang di antara mereka. Elvano menatap Nayara lama. “Aku nggak mau kehilangan momen seperti ini lagi.” Nayara tersenyum. “Aku juga.” Di luar sana, dunia mungkin masih gaduh. Tapi malam itu, di meja kecil kafe itu, Nayara dan Elvano memilih untuk ada. Bersama wanita yang kini mengisi ruang dihatinya.