Curhatan Wini

05 January 2026

Wini menunduk. Tangannya saling meremas di pangkuannya, napasnya terdengar tidak beraturan.

Sementara Arema yang berdiri di depan gerobak martabak itu merasakan ada sesuatu yang besar, sesuatu yang gelap akan keluar dari mulut sahabat lamanya itu.

"Karna ...." Suara Wini bergetar, "dia pernah jadi selingkuhan kakakku."

Arema mengernyit. "Kakak kamu?" ulangnya pelan.

"Iya," Wini menelan ludah. "Mas Nurdin."

Nama itu seperti palu yang menghantam kepala Arema. Tubuhnya menegang.

"Mas Nurdin?" Suaranya meninggi tanpa sadar. "Kakak kamu yang udah punya istri itu?"

Wini mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca. Arema memejamkan mata sejenak. Potongan-potongan kejadian yang selama ini terasa janggal mendadak tersusun rapi di kepalanya.

Vheronika yang terlalu percaya diri. Uang yang selalu ada. Keberanian gadis itu menekan Rino tanpa rasa takut. Dan kehamilan yang waktunya terasa ganjil.

"Terus?" tanya Arema dengan suara tertahan, dadanya naik turun.

"Kayaknya, dia hamil sama kakakku." Wini menarik napas panjang.

Arema terbelalak.

"Tapi kakakku nggak mau tanggung jawab," lanjut Wini cepat, seolah takut kehilangan keberanian kalau ia berhenti bicara.

"Soalnya kakakku udah punya istri. Anak mereka juga masih bayi."

Suasana terminal yang tadi riuh mendadak terasa jauh. Arema seperti terlempar ke ruang hampa. Suara kendaraan hanya terdengar seperti dengung samar di telinganya.

"Win, kamu yakin, kalo selingkuhan kakak kamu itu si Vhero?" Arema berbisik.

Wini mengangguk, kali ini lebih tegas.

"Aku pernah mergokin sendiri," katanya lirih. "Waktu aku makan bakso di taman kota, aku liat kakakku lagi makan bareng cewek. Mereka mesra banget."

Wini pun mengeluarkan ponselnya, dan membuka galeri foto. "Aku iseng-iseng fotoin mereka."

Wini menunjukkan foto itu kepada Arema. "Ini yang dimaksud Vhero, bukan?"

Arema meraih ponsel Wini dan memperhatikan dengan cermat. Terlihat seorang gadis sedang menyandarkan bajunya ke pundak seorang pria.

Arema memperbesar gambar itu. "Iya bener, ini emang si Vhero." Kemudian ia mengembalikan ponsel itu kepada Wini.

"Berarti bener, kan? Terus, waktu itu aku pulang ke rumah lebih cepat. Kakakku lagi di kamar, nelpon seseorang. Awalnya aku gak sengaja denger. Tapi waktu itu, kata-katanya jelas banget."

Wini menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar.

"Aku denger kakakku bilang." Suara Wini pecah. "Aku gak mungkin nikahin kamu, karna aku punya istri dan anak. Lebih baik kamu gugurin kandungan kamu, mumpung belum besar."

Arema mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kukunya menekan telapak.

"Kurang ajar," desisnya. "Emang licik si Vhero."

Wini mengangkat wajahnya. "Bukan cuma dia, Ma. Kakakku juga sama liciknya."

Arema terdiam. Api di kompor martabaknya masih menyala kecil, wajan masih panas, tapi Arema seperti lupa segalanya. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena marah, melainkan karena rasa getir yang menyesakkan.

Jadi benar. Selama ini instingnya tidak salah. Vheronika hamil dengan pria lain. Dan pria itu … adalah lelaki beristri.

Lelaki yang memilih lari dan melemparkan beban ke orang lain. Dan Rino, lelaki yang dulu ia cintai menjadi korban empuk.

"Kamu tau gak, Win?" Suara Arema bergetar, "Rino sampai bilang ke aku pengin beli obat penggugur."

Wini tersentak. "Apa?!"

"Iya." Arema tertawa pahit, "dia bilang kalo aja dia punya uang, dia pengin lepas dari semua ini."

Wini menutup mulutnya kaget.

Dan yang paling bodoh," lanjut Arema, matanya memanas, "aku hampir bantuin dia."

Wini menatap Arema tak percaya. "Karena jujur, aku masih cinta," lanjut Arema lirih. "Karena aku masih berharap dia berubah. Karena aku mikir, mungkin ini satu-satunya cara supaya aku sama dia bisa baikan."

Wini terdiam, dadanya ikut sesak mendengar pengakuan itu.

"Tapi sekarang aku sadar." Arema menggeleng pelan. "Kalau waktu itu aku beneran kasih uang, aku bukan cuma nyakitin diri sendiri, tapi aku juga jadi bagian dari kebusukan mereka."

Wini mengangguk, air matanya jatuh. "Ma, aku sebenernya udah lama pengin cerita," katanya pelan. "Tapi aku takut. Takut kamu tambah hancur."

Arema menatap Wini. Ada luka di mata mereka masing-masing, tapi juga ada kejujuran yang telanjang.

"Kakakku itu ...." Wini mengusap wajahnya kasar. "Di rumah dia suami baik. Ayah penyayang. Tapi di luar, dia beda. Dan Vhero tau betul kelemahan laki-laki."

Arema mendengus. "Emang, dia itu pinter main peran."

"Iya." Wini mengangguk cepat, "dia manja, royal, berani. Banyak cowok jatuh. Tapi begitu hamil, dia cari yang paling lemah buat ditindas."

Arema terkekeh getir. "Dan Rino yang kena."

"Rino itu sebenernya bukan orang jahat," ucap Wini ragu. "Tapi dia lemah, gak tegas!"

"Lemah dan egois," timpal Arema dingin. "Karena waktu aku jatuh, dia nggak mikir sedikit pun buat jaga aku."

Arema menatap langit yang gelap gulita. "Win," katanya pelan tapi tegas, "aku nggak akan ngelakuin apa-apa. Aku nggak mau ikut campur. Tapi aku juga nggak mau jadi korban lagi."

Wini menatap Arema penuh arti. "Kamu mau bilang ke Rino?"

Arema menggeleng. "Biar waktu yang buktiin semuanya, dan karma yang membalas mereka," jawabnya mantap.

"Kalau Vhero memang licik, aku yakin suatu saat, topengnya bakal jatuh sendiri. Dan kalau Rino tetep pilih dia, itu udah jadi resikonya."

Wini terdiam.

"Aku cuma mau satu," lanjut Arema. "Aku nggak mau hidupku hancur lagi karena cowok yang bahkan nggak bisa jujur sama dirinya sendiri."

Ia menatap gerobak martabaknya, hasil keringatnya sendiri.

"Aku lebih milih capek kerja," katanya lirih, "daripada capek disakitin."

Wini menghela napas panjang. Ada rasa lega di dadanya. "Kamu kuat, Ma," ucapnya lirih.

Arema tersenyum kecil. "Aku dipaksa kuat."

Lampu terminal masih menyala. Malam semakin pekat. Dan di balik hiruk-pikuk kendaraan dan manusia, dua perempuan itu duduk dalam diam, membawa rahasia besar yang bisa menghancurkan banyak orang.

Dan jauh di tempat lain, tanpa mereka sadari, benang-benang kebohongan mulai saling menjerat.

Menunggu waktu untuk meledak ....

**

Martabak pesanan Wini pun akhirnya matang. Arema mengangkatnya dari wajan, aroma manis cokelat dan kacang langsung menguar, sedikit menenangkan hati yang sejak tadi bergolak.

Dan aroma gurih dan lezat martabak telur menggugah selera.

"Nih, Win, martabak kamu udah jadi," kata Arema sambil membungkus rapi lalu menyodorkannya.

"Oh iya." Wini menerima bungkusan itu, "berapa semuanya?"

"Enam lima ribu," jawab Arema.

Wini membuka tasnya, mengeluarkan dompet, lalu tanpa ragu menyerahkan selembar uang seratus ribu. "Kembalinya ambil aja. Buat jajan bakso besok."

Mata Arema langsung berbinar. "Eh, beneran?"

Wini mengangguk sambil tersenyum kecil. "Iya."

"Ah, tapi aku gak enak. Kamu kan juga butuh uang,” Arema mencoba menolak, meski hatinya terenyuh.

"Udah, gak papa," sahut Wini ringan. "Gak tiap hari kok. Anggep aja bonus buat kamu, karna kamu buat martabak capek-capek ditambah aku ajak ngobrol, hehe." Wini terkekeh.

Arema tersenyum, matanya hangat. "Ya udah aku terima, ya. Makasih, Win."

Wini berpamitan, langkahnya menjauh menyatu dengan keramaian terminal. Arema menatap punggung sahabatnya sampai hilang dari pandangan.

Ia mulai merapikan gerobak. Dagangannya habis, tubuhnya lelah, tapi hatinya terasa sedikit lebih ringan.

Malam semakin larut, dan Arema mendorong gerobaknya pulang dengan satu keyakinan baru, hidupnya mungkin berat, tapi ia tak lagi sendirian, dan ia juga tak akan kembali ke masa lalu yang menyakitkan. Wini menunduk. Tangannya saling meremas di pangkuannya, napasnya terdengar tidak beraturan.

Sementara Arema yang berdiri di depan gerobak martabak itu merasakan ada sesuatu yang besar, sesuatu yang gelap akan keluar dari mulut sahabat lamanya itu.

"Karna ...." Suara Wini bergetar, "dia pernah jadi selingkuhan kakakku."

Arema mengernyit. "Kakak kamu?" ulangnya pelan.

"Iya," Wini menelan ludah. "Mas Nurdin."

Nama itu seperti palu yang menghantam kepala Arema. Tubuhnya menegang.

"Mas Nurdin?" Suaranya meninggi tanpa sadar. "Kakak kamu yang udah punya istri itu?"

Wini mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca. Arema memejamkan mata sejenak. Potongan-potongan kejadian yang selama ini terasa janggal mendadak tersusun rapi di kepalanya.

Vheronika yang terlalu percaya diri. Uang yang selalu ada. Keberanian gadis itu menekan Rino tanpa rasa takut. Dan kehamilan yang waktunya terasa ganjil.

"Terus?" tanya Arema dengan suara tertahan, dadanya naik turun.

"Kayaknya, dia hamil sama kakakku." Wini menarik napas panjang.

Arema terbelalak.

"Tapi kakakku nggak mau tanggung jawab," lanjut Wini cepat, seolah takut kehilangan keberanian kalau ia berhenti bicara.

"Soalnya kakakku udah punya istri. Anak mereka juga masih bayi."

Suasana terminal yang tadi riuh mendadak terasa jauh. Arema seperti terlempar ke ruang hampa. Suara kendaraan hanya terdengar seperti dengung samar di telinganya.

"Win, kamu yakin, kalo selingkuhan kakak kamu itu si Vhero?" Arema berbisik.

Wini mengangguk, kali ini lebih tegas.

"Aku pernah mergokin sendiri," katanya lirih. "Waktu aku makan bakso di taman kota, aku liat kakakku lagi makan bareng cewek. Mereka mesra banget."

Wini pun mengeluarkan ponselnya, dan membuka galeri foto. "Aku iseng-iseng fotoin mereka."

Wini menunjukkan foto itu kepada Arema. "Ini yang dimaksud Vhero, bukan?"

Arema meraih ponsel Wini dan memperhatikan dengan cermat. Terlihat seorang gadis sedang menyandarkan bajunya ke pundak seorang pria.

Arema memperbesar gambar itu. "Iya bener, ini emang si Vhero." Kemudian ia mengembalikan ponsel itu kepada Wini.

"Berarti bener, kan? Terus, waktu itu aku pulang ke rumah lebih cepat. Kakakku lagi di kamar, nelpon seseorang. Awalnya aku gak sengaja denger. Tapi waktu itu, kata-katanya jelas banget."

Wini menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar.

"Aku denger kakakku bilang." Suara Wini pecah. "Aku gak mungkin nikahin kamu, karna aku punya istri dan anak. Lebih baik kamu gugurin kandungan kamu, mumpung belum besar."

Arema mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kukunya menekan telapak.

"Kurang ajar," desisnya. "Emang licik si Vhero."

Wini mengangkat wajahnya. "Bukan cuma dia, Ma. Kakakku juga sama liciknya."

Arema terdiam. Api di kompor martabaknya masih menyala kecil, wajan masih panas, tapi Arema seperti lupa segalanya. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena marah, melainkan karena rasa getir yang menyesakkan.

Jadi benar. Selama ini instingnya tidak salah. Vheronika hamil dengan pria lain. Dan pria itu … adalah lelaki beristri.

Lelaki yang memilih lari dan melemparkan beban ke orang lain. Dan Rino, lelaki yang dulu ia cintai menjadi korban empuk.

"Kamu tau gak, Win?" Suara Arema bergetar, "Rino sampai bilang ke aku pengin beli obat penggugur."

Wini tersentak. "Apa?!"

"Iya." Arema tertawa pahit, "dia bilang kalo aja dia punya uang, dia pengin lepas dari semua ini."

Wini menutup mulutnya kaget.

Dan yang paling bodoh," lanjut Arema, matanya memanas, "aku hampir bantuin dia."

Wini menatap Arema tak percaya. "Karena jujur, aku masih cinta," lanjut Arema lirih. "Karena aku masih berharap dia berubah. Karena aku mikir, mungkin ini satu-satunya cara supaya aku sama dia bisa baikan."

Wini terdiam, dadanya ikut sesak mendengar pengakuan itu.

"Tapi sekarang aku sadar." Arema menggeleng pelan. "Kalau waktu itu aku beneran kasih uang, aku bukan cuma nyakitin diri sendiri, tapi aku juga jadi bagian dari kebusukan mereka."

Wini mengangguk, air matanya jatuh. "Ma, aku sebenernya udah lama pengin cerita," katanya pelan. "Tapi aku takut. Takut kamu tambah hancur."

Arema menatap Wini. Ada luka di mata mereka masing-masing, tapi juga ada kejujuran yang telanjang.

"Kakakku itu ...." Wini mengusap wajahnya kasar. "Di rumah dia suami baik. Ayah penyayang. Tapi di luar, dia beda. Dan Vhero tau betul kelemahan laki-laki."

Arema mendengus. "Emang, dia itu pinter main peran."

"Iya." Wini mengangguk cepat, "dia manja, royal, berani. Banyak cowok jatuh. Tapi begitu hamil, dia cari yang paling lemah buat ditindas."

Arema terkekeh getir. "Dan Rino yang kena."

"Rino itu sebenernya bukan orang jahat," ucap Wini ragu. "Tapi dia lemah, gak tegas!"

"Lemah dan egois," timpal Arema dingin. "Karena waktu aku jatuh, dia nggak mikir sedikit pun buat jaga aku."

Arema menatap langit yang gelap gulita. "Win," katanya pelan tapi tegas, "aku nggak akan ngelakuin apa-apa. Aku nggak mau ikut campur. Tapi aku juga nggak mau jadi korban lagi."

Wini menatap Arema penuh arti. "Kamu mau bilang ke Rino?"

Arema menggeleng. "Biar waktu yang buktiin semuanya, dan karma yang membalas mereka," jawabnya mantap.

"Kalau Vhero memang licik, aku yakin suatu saat, topengnya bakal jatuh sendiri. Dan kalau Rino tetep pilih dia, itu udah jadi resikonya."

Wini terdiam.

"Aku cuma mau satu," lanjut Arema. "Aku nggak mau hidupku hancur lagi karena cowok yang bahkan nggak bisa jujur sama dirinya sendiri."

Ia menatap gerobak martabaknya, hasil keringatnya sendiri.

"Aku lebih milih capek kerja," katanya lirih, "daripada capek disakitin."

Wini menghela napas panjang. Ada rasa lega di dadanya. "Kamu kuat, Ma," ucapnya lirih.

Arema tersenyum kecil. "Aku dipaksa kuat."

Lampu terminal masih menyala. Malam semakin pekat. Dan di balik hiruk-pikuk kendaraan dan manusia, dua perempuan itu duduk dalam diam, membawa rahasia besar yang bisa menghancurkan banyak orang.

Dan jauh di tempat lain, tanpa mereka sadari, benang-benang kebohongan mulai saling menjerat.

Menunggu waktu untuk meledak ....

**

Martabak pesanan Wini pun akhirnya matang. Arema mengangkatnya dari wajan, aroma manis cokelat dan kacang langsung menguar, sedikit menenangkan hati yang sejak tadi bergolak.

Dan aroma gurih dan lezat martabak telur menggugah selera.

"Nih, Win, martabak kamu udah jadi," kata Arema sambil membungkus rapi lalu menyodorkannya.

"Oh iya." Wini menerima bungkusan itu, "berapa semuanya?"

"Enam lima ribu," jawab Arema.

Wini membuka tasnya, mengeluarkan dompet, lalu tanpa ragu menyerahkan selembar uang seratus ribu. "Kembalinya ambil aja. Buat jajan bakso besok."

Mata Arema langsung berbinar. "Eh, beneran?"

Wini mengangguk sambil tersenyum kecil. "Iya."

"Ah, tapi aku gak enak. Kamu kan juga butuh uang,” Arema mencoba menolak, meski hatinya terenyuh.

"Udah, gak papa," sahut Wini ringan. "Gak tiap hari kok. Anggep aja bonus buat kamu, karna kamu buat martabak capek-capek ditambah aku ajak ngobrol, hehe." Wini terkekeh.

Arema tersenyum, matanya hangat. "Ya udah aku terima, ya. Makasih, Win."

Wini berpamitan, langkahnya menjauh menyatu dengan keramaian terminal. Arema menatap punggung sahabatnya sampai hilang dari pandangan.

Ia mulai merapikan gerobak. Dagangannya habis, tubuhnya lelah, tapi hatinya terasa sedikit lebih ringan.

Malam semakin larut, dan Arema mendorong gerobaknya pulang dengan satu keyakinan baru, hidupnya mungkin berat, tapi ia tak lagi sendirian, dan ia juga tak akan kembali ke masa lalu yang menyakitkan.