Drama #Humor #Baper

MARTABAK HAR

05 January 2026

Hari itu, halaman rumah Harlia berubah fungsi. Dari halaman biasa menjadi arena sosial paling kejam sedunia.Tenda berdiri, kursi plastik berjajar. Meja panjang penuh toples kue kering, kerupuk udang, dan minuman sachet yang warnanya terlalu cerah untuk disebut alami. Di sudut halaman, spanduk kecil bertuliskan “Arisan Keluarga Besar” tergantung miring, seperti sudah menyerah sejak awal.

Harlia berdiri di balik pintu dan mengintip. Satu per satu kerabat datang. Dan satu per satu, mereka datang lengkap dengan pasangan dan anak mereka.

“Astaga,” gumam Harlia. “Ini arisan atau pameran hasil nikah?”

Seorang sepupu masuk sambil menggendong bayi.

“Eh Har!” sapa sepupunya ceria.

“Ini anak keduaku.”

Harlia tersenyum kaku.

“Wah… subur ya.”

Belum sempat ia menelan ludah, sepupu lain datang.

“Harlia!” katanya sambil menggandeng suami. “Eh kamu belum nikah ya?”

Harlia membuka mulut. Menutup lagi.

“Belum.”

“Oh,” kata sepupunya ringan. “Santai aja. Aku juga dulu nikah cepet kok.”

Harlia mengangguk. Justru itu masalahnya, batinnya. Aslinya ia sedang diejek dan ia tahu itu. Hanya saja, itu menjadi sebuah kebiasaan meskipun nyatanya Harlia masih belum kebal dan tetap sedih.

Ibunya mondar-mandir dengan nampan kue, senyum dipaksakan, urat sabar ditarik sampai maksimal.

“Har,” bisik ibunya saat lewat. “Tahan ya.”

Harlia mengangguk.

“Aku profesional, Bu.”

Ibunya menepuk pundaknya.

“Kalau ada yang ngomong aneh, kamu ke dapur aja.”

Harlia menelan ludah.

“Atau ke rumah sakit sekalian?”

Ibunya melirik tajam.

“Jangan sembrono kalau ngomong.”

Arisan dimulai....

Ibu-ibu duduk melingkar. Suara mereka bersaing dengan suara anak kecil yang berlari-lari dan teriak tanpa sebab. Obrolan mengalir lancar. Tentang suami, tentang anak, tentang harga susu formula.

Lalu….topik itu datang. Seperti hujan di musim hujan. Tidak bisa dihindari.

“Eh,” kata salah satu tante, “anaknya Bu Ani udah nikah semua ya?”

Ibunya Harlia tersenyum kaku.

“Iya.”

“Kalau Harlia gimana?”

Tante itu melirik Harlia dari ujung kepala sampai ujung kaki.Harlia tersenyum sopan. Ia duduk manis di tengah arisan ibu-ibu, tersenyum kaku seperti foto KTP. Pertanyaan “kapan nikah?” beterbangan lebih cepat dari kue nastar. Tehnya dingin, hatinya lebih dingin. Ia tertawa, pura-pura santai, sambil berdoa semoga undian arisan segera keluar dan mereka semua pamit pulang.

“Belum,” jawab ibu Harlia.

“Loh,” sahut tante lain. “Padahal usianya udah lumayan.”

Harlia menghela napas pelan. Tapi kemudian ia kembali tersenyum di tengah kumpul perkumpulan yang katanya keluarga itu. Umurnya memang sudah matang. Hah, matang seperti pisang ambon. Sempat-sempatnya mereka menghitung umur Harlia. Padahal umur orang tidak ada yang tahu. Mendingan menghitung cicilan masing-masing. Dalam hatinya, Harlia berdoa agar topik cepat pindah. Pipinya mulai pegel karena memaksa tersenyum sejak tadi. Mungkin benar kata ibunya, kalau ia mending kabur ke dapur saja.

“Udah ada calonnya belum?” tanya yang lain.

Ibunya menjawab cepat,

“Doain aja.”

“Oh,” tante itu terkekeh.

“Jangan pilih-pilih kebanyakan.”

Harlia menegang. Suasana mendidih seperti sayur di panci lupa diaduk. Ibu-ibu makin rame, komentar pedas beterbangan: pilih-pilih, kebanyakan maunya, keburu tua. Harlia tersenyum kaku, jantungnya joget poco-poco. Tawa dipaksa keluar, sementara batinnya menjerit, ingin ngumpet di balik toples rengginang atau pura-pura disuruh ambil es.

Seorang ibu yang terkenal paling ceplas-ceplos ikut nimbrung.

“Harlia itu sebenernya manis,” katanya. “Cuma ya…”

Semua tahu, kata cuma itu berbahaya.

"Cowok sekarang kan seleranya beda.”

Ibunya tersenyum kaku.

“Maksudnya?”

Ibu itu melirik tubuh Harlia.

“Ya itu. Badannya.”

Sunyi sesaat.

Lalu terdengar tawa kecil.

“Gembul dikit nggak apa-apa,” sambungnya. “Kayak martabak.”

Tante itu tertawa yang lain ikut tertawa.

“Martabak Har!”

“Martabak Har!” ulang yang lain.

Tawa meledak, perumpamaan martabak dilempar tanpa saus empati. Harlia merasa dadanya mengencang, pipinya panas. Humor jadi tameng darurat. Ia memeluk diri sendiri dari dalam. Di balik senyum, harga diri seperti diremas.

"Kalau martabak saja laku keras, masa Harlia tidak?" tambah seorang bibi yang kembali disambut tawa lainnya.

Ibu Harlia meletakkan nampan dengan bunyi duk keras.

“Cukup!” katanya tajam.

Tiba-tiba ibu Harlia berdiri, suara membelah ruangan. Suaranya tajam, setajam silet. Suasana arisan kicep, sendok berhenti, bisik-bisik mati. Ibu-ibu yang tadi heboh tertawa kini menunduk. Yang lagi makan kue, kue terasa hambar.

Harlia menelan ludah. Ada perasaan haru bangga, dan lucu. Ternyata bentakan ibu lebih ampuh dari doa arisan.

“Anak saya bukan bahan guyonan,” lanjut ibunya, suaranya bergetar. “Dan tubuhnya bukan urusan kalian.”

Suasana jadi canggung. Tapi ibu-ibu adalah makhluk yang tidak kenal rem. Sempat diam sejenak, kini kumat lagi.

“Aduh, Bu,” kata salah satu, “becanda aja kok.”

“Iya,” sambung yang lain. “Biar akrab.”

Ibunya menatap mereka satu per satu.

“Kalau akrab caranya nyakitin, mending nggak usah.”

Harlia menunduk. Ibu-ibu berdalih bercanda. Mereka pikir itu hanya guyonan kecil, lalu humor otomatis aktif. Sementara Harlia, hatinya campur aduk antara perih, geli, dan malu. Bercanda itu lucu kalau semua tertawa. Kalau tidak, namanya nyubit pakai kata.

“Lagipula,” ibu yang tadi menyeletuk martabak bicara lagi, “kalau mau cepet laku ya dijaga badannya.”

Harlia mengangkat kepala.

“Maaf Tante, saya bisa dengar Tante ngomong gitu," protes Harlia.

Tante itu tersenyum.

“Bagus dong, berarti bisa introspeksi.”

Ibu Harlia bereaksi.

“Harlia nggak kurang apa-apa.”

“Ya kita cuma ngomong fakta,” balas Tante itu santai.

Itu kalimat terakhir yang bisa didengar oleh Harlia. Karena tiba-tiba, Harlia merasakan pusing datang perlahan. Suara-suara jadi bergema. Tawa terdengar jauh.

“Bu…," panggilnya lirih.

Ibu Harlia menoleh.

“Har?”

Harlia berdiri, tapi kakinya goyah.

“Kayaknya aku—”

Kalimatnya terputus, lalu tubuhnya limbung. Ibunya reflek menangkap meskipun keberatan.

“Har! Har!”

Kursi bergeser. Ibu-ibu berdiri panik.

“Aduh kenapa ini?”

“Tuh kan, jangan bercanda kebablasan!”

“Panggil dokter!”

Harlia sudah setengah sadar, setengah tidak. Yang ia dengar hanya suara ibunya yang gemetar.

“Anak saya kenapa sih harus selalu jadi bahan omongan kalian?!!"

Beberapa menit kemudian, suasana arisan berubah total. Tidak ada lagi tawa. Tidak ada lagi martabak. Hanya suara panik dan keputusan cepat.

Harlia dibaringkan di sofa oleh ayahnya dibantu bapak-bapak di sana. Kakinya diangkat. Wajahnya pucat.

“Tekanannya drop,” kata seorang tante sok ahli.

Ibu Harlia sudah menangis.

“Kita ke rumah sakit.”

Ayah Harlia langsung sigap.

“Ayah siapkan mobil.”

Harlia membuka mata sedikit.

“Bu…”

“Iya, Nak?"

“Aku capek.”

Ibunya menggenggam tangan Harlia erat.

“Ibu tau.”

Saat Harlia diangkat ke mobil oleh banyak orang, beberapa ibu hanya bisa terdiam. Tidak ada yang tertawa lagi. Tidak ada yang berani nyeletuk.Mobil melaju. Sirene tidak ada, tapi panik memenuhi udara. Harlia memejamkan mata. Dalam pikirannya hanya satu kalimat berputar.

"Kenapa aku harus sakit hanya untuk dianggap cukup?"

Dan lagi-lagi….

Rumah sakit menyambutnya. Dengan bau antiseptik. Dengan lampu putih. Dengan perasaan gagal yang sama.

Dan entah kenapa.... Bayangan wajah Topan muncul di kepalanya.

Bab ini berakhir saat pintu IGD terbuka kembali. Dan pertanyaannya kini bukan lagi soal nikah. Tapi, seberapa kuat Harlia harus bertahan di dunia yang selalu menertawakannya?