Kamar rumah sakit itu kembali menjadi saksi.
Saksi atas tubuh Harlia yang terbaring lemas. Saksi atas pikirannya yang lebih lelah daripada badannya. Dan saksi atas fakta bahwa hidupnya sepertinya punya langganan tetap di IGD.
Harlia menatap langit-langit. Ia terbangun dengan kepala berat dan mulut kering. Lampu putih menyilaukan, aroma obat menyergap. Rumah sakit. Harlia agak panik, lalu sadar dan merasa lega karena masih hidup meskipun agak bingung. Lalu ia ingat tentang guyonan 'Martabak Har' yang mungkin menjadi sebab ia di sini. Harlia menghela napas, berharap ini mimpi diskon setengah sadar.
“Kok aku balik lagi ya?” gumamnya. “Ini rumah sakit apa kos kedua, sih? Ke sini mulu perasaan.”
Rina duduk di kursi samping ranjang, memainkan ponsel.
“Anggap aja kamu dapat diskon loyal customer.”
“Lucu,” jawab Harlia datar.
Pintu kamar diketuk pelan.
Rina menoleh.
“Siapa lagi?”
Pintu terbuka, lalu Topan masuk. Dan tentu saja dia tidak pernah datang dengan tangan kosong. Paper bag besar bergambar donat premium, satu kotak kecil kue kesukaan Harlia, dan minuman cokelat dingin yang selalu ia pesan kalau sedang sedih. Harlia langsung menutup wajah dengan selimut.
“Aduh,” gumamnya. “Malu.”
Topan berhenti.
“Kenapa?”
Rina berdiri.
“Gue keluar bentar, ya. Ini momen sinetron.”
Ia ogah jika harus berdiri di sudut kamar rumah sakit, seperti figuran gagal di sinetron romantis. Sudah bisa ditebak pasti adegannya amat sangat memuakkan. Sahabatnya sakit, tapi pacarnya hadir lengkap dengan tatapan meleleh, usapan kepala, dan suara lembut level iklan obat flu. Muaknya naik bersama aroma antiseptik. Makanya Rina mending mundur pelan, memilih keluar kamar, bukan karena tak peduli, tapi karena cinta orang lain ternyata bisa bikin mual juga. Rina pergi dengan senyum licik. Topan mendekat pelan.
“Kamu gimana?”
Harlia mengintip dari balik selimut.
“Hidupku tragis.”
Topan tertawa kecil.
“Masih bisa bercanda, berarti aman.”
Ia meletakkan paper bag di meja.
“Aku bawain ini.”
Harlia langsung bereaksi.
“JANGAN!!”
Topan terkejut.
“Kenapa?”
“Aku nggak boleh makan,” kata Harlia cepat.
Topan mengernyit.
“Kata dokter?”
“Bukan.”
“Terus?”
Harlia menurunkan selimut sedikit.
“Aku nggak pantas.”
Topan terdiam.
“Pantas apanya?”
“Makan,” jawab Harlia lirih. “Tubuhku udah kayak ikan buntal.”
Topan melongo.
“Ikan buntal?”
“Iya,” Harlia mengangguk serius. “Mengembang karena stres.”
Topan tertawa keras.
“Kamu lucu banget, sih.”
“Aku serius!” protes Harlia. “Aku jadi sakit gara-gara omongan orang.”
Topan duduk di kursi.
“Dan solusinya nggak makan?”
Harlia mengangguk.
“Biar kempes.”
Topan menghela napas.
“Har…” Ia membuka kotak donat. “Ini makanan favorit kamu.”
“Aku tau,” jawab Harlia sedih. “Makanya aku nolak.”
“Kenapa?”
“Karena aku suka,” jawabnya polos. “Dan aku takut kebablasan.”
Topan menatapnya lama.
“Kamu tau nggak yang bikin kamu sakit itu bukan donat.”
Harlia mendengus.
“Tapi tubuhku yang disalahin.”
Topan maju sedikit.
“Tubuh kamu nggak salah.”
Harlia tertawa kecil pahit.
“Kamu ngomong gampang.”
“Karena aku lihat kamu dari luar,” kata Topan. “Dan kamu baik-baik aja.”
Harlia memalingkan wajah.
“Semua orang bilang beda.”
“Semua orang bukan kamu,” balas Topan.
Topan mendorong kotak donat mendekat.
“Satu aja.”
Harlia menatap donat itu seperti menatap mantan. Ada rasa rindu tapi takut.
“Satu doang?” Harlia bertanya.
“Satu,” janji Topan.
Harlia mengambil satu. Menggigit kecil. Dan langsung tersenyum.
“Enak,” gumamnya.
“Kan,” kata Topan bangga.
Harlia tiba-tiba berkaca-kaca.
“Aku capek, Pan.”
Topan terdiam.
“Aku capek dijadiin bahan bercanda,” lanjut Harlia. “Capek disuruh sabar, disuruh berubah, disuruh nunggu.”
Topan mengangguk.
“Aku tau.”
“Aku capek ngerasa salah terus,” kata Harlia. “Padahal aku cuma ada.”
Topan menatapnya serius.
“Har, dengerin aku.”
Harlia menoleh.
“Kamu nggak berlebihan,” kata Topan. “Kamu cuma hidup di lingkungan yang kejam.”
Harlia tertawa kecil.
“Kamu pinter ngomong.”
Topan mengangkat bahu.
“Mungkin. Tapi ini jujur.”
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ibunya Harlia masuk. Dan suasana langsung berubah.Ia melihat kotak donat. Lalu melihat Harlia sedang mengunyah. Lalu menatap Topan.
“Wah,” katanya datar. “Rumah sakit jadi kafe sekarang.”
Topan berdiri cepat.
“Tante.”
Ibu Harlia melipat tangan.
“Saya belum bilang terima kasih.”
Topan menelan ludah.
“Saya cuma—”
“Membawa makanan manis buat anak saya yang lagi drop?” potong ibunya. “Hebat.”
Harlia cepat-cepat angkat tangan.
“Bu, aku yang minta.”
Ibunya menoleh.
“Kamu diem!"
Harlia mengecil. Topan mencoba tenang.
“Tante, saya cuma mau dia merasa lebih baik.”
Ibu Harlia tersenyum sinis.
“Dengan donat?”
Topan terdiam. Harlia panik.
“Bu, tolong.”
Ibu Harlia menatap Harlia.
“Kamu jangan selalu jadi penengah.”
Harlia terpaksa tersenyum.
“Tapi aku udah biasa.”
Ibu Harlia menarik napas.
“Topan.”
“Iya, Tante," sahut Topan.
“Kamu tau nggak anak saya kenapa bisa balik ke sini?” tanya ibu Harlia.
Topan mengangguk pelan.
“Saya tau, Tante.”
“Dan kamu tau nggak sebagian stresnya karena apa?” ibu Harlia bertanya lagi.
Topan terdiam. Harlia cepat-cepat memotong.
“Bu, ini bukan salah dia.”
Ibu Harlia menoleh tajam.
“Ibu nggak bilang salah dia.”
“Tapi nadanya,” kata Harlia pelan.
Ibu Harlia terdiam sejenak.
“Topan,” kata ibu Harlia akhirnya, “kamu orang baik. Mungkin.”
Topan mengangguk.
“Tapi anak saya lagi rapuh,” lanjutnya. “Dan saya nggak mau dia makin berharap.”
Harlia menatap ibunya.
“Bu…”
Ibu Harlia menatap Harlia balik.
“Ibu cuma jaga-jaga.”
Topan menunduk.
“Saya ngerti, Tante.”
“Tapi,” ibu Harlia menambahkan, “kalau kamu serius, jangan cuma datang pas dia jatuh.”
Topan mengangkat kepala.
“Saya nggak main-main, Tante."
Ibu Harlia menyipitkan mata.
“Omongan itu lagi.”
Harlia berdiri setengah.
“STOP!!"
Keduanya menoleh.
“Aku capek,” kata Harlia lirih. “Aku lagi sakit. Tolong jangan debat di sini.”
Sunyi.
Ibu Harlia menghela napas.
“Maaf ya, Nak."
Topan menunduk.
“Maaf, Har."
Harlia duduk lagi.
“Aku nggak butuh siapa pun bela aku. Aku cuma pengen tenang.”
Ibu Harlia mengangguk pelan. Topan melirik Harlia.
“Aku di luar sebentar.”
Topan melangkah keluar kamar rumah sakit dengan senyum sopan yang hampir copot. Baru saja berdebat dengan ibu pacarnya, ia resmi dinobatkan sebagai penyebab segala penyakit, dari maag sampai patah hati. Untuk menghela napas saja ia harus menunggu sampai di lorong. Cinta memang butuh perjuangan, tapi tak termasuk adu argumen dengan calon mertua bersuara toa.
Sementara itu, ibu Harlia duduk di samping Harlia.
“Kamu suka dia?”
Harlia terdiam. Ibu Harlia menatapnya serius.
“Jawab jujur.”
Harlia menarik napas.
“Iya, Bu.”
Ibu Harlia menunduk. Ia menatap lantai memikirkan anaknya yang lagi bucin akut. Hatinya campur aduk seperti es campur kepikiran. Kesal karena larangan diabaikan, tapi sayang tak bisa diputus. Ia menghela napas panjang, sambil mengomel dalam hati, “Dasar cinta, bikin anak lupa logika.”
Dan bab ini berakhir saat di luar kamar, Topan berdiri sendirian, menatap ponselnya yang tiba-tiba bergetar pertanda ada sebuah pesan masuk yang membuat wajahnya langsung berubah.
Apa isi pesan itu? Dan apakah itu akan mengubah semuanya?