KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
05 January 2026

Malam semakin larut, namun kota justru terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu-lampu jalan memantul di kaca jendela kafe, menciptakan bayangan berpendar yang menari pelan di wajah Nayara. Elvano menatapnya tanpa berkedip, seolah ingin menyimpan detik itu lebih lama didalam memorinya. Rindu yang menyiksa belakangan kini menemupakn obatnya. “Nay, tahu nggak? Awalnya aku sempat khawatir.” ucap Elvano akhirnya, suaranya rendah. “Khawatir dengan hubungan kita, apakah kamu akan melupakan akua tau tidak.” Nayara menurunkan cangkirnya. “Justru, aku yang khawatir kamu tinggalin kak,” jawabnya jujur. “Takut sendirian menghadapi semuanya.” Keheningan menyusup di antara mereka. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang sarat pengakuan. Elvano meraih tangan Nayara di atas meja. Hangat. Nyata. “Aku nggak janji semuanya akan mudah,” katanya pelan. “Dunia kita terlalu berisik, Nay. Dan banyak pihak yang ingin masuk kedalamnya.” Nayara menggenggam balik. “Kak, apapun yang terjadi kedepannya. Jika memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama, aku mohon kita berhenti secara baik-baik ya, jangan ada lagi gelombang yang menyiksa diantara kita.” Tatapan mereka bertaut. Untuk sesaat, tak ada Elvano sang pejabat, tak ada Nayara sang figur publik. Hanya dua orang yang sama-sama lelah, namun masih ingin bertahan. Mereka pulang menjelang tengah malam. Di depan rumah Nayara, Elvano berhenti sejenak sebelum membuka pintu mobil. “Besok aku mulai rapat pagi lagi,” ucapnya. “Mungkin jadwalnya lebih padat dari biasanya, karena besok hari senin.” Nayara mengangguk. “Aku juga kak. Ada beberapa fotoshoot dan live jualan produk skincare.” Namun sebelum Nayara turun, Elvano menahannya. “Tapi kali ini, kita kabarin satu sama lain. Sesingkat apa pun.” Nayara tersenyum kecil. “Oke, janji! Siapa yang melanggar akan dapat hukuman, gimana?” Elvano terkekeh mendengar ucapan Nayara, ia mengiyakan permintaan gadisnya itu. Mobil Elvano meninggalkan rumah Nayara dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Namun di balik ketenangan malam, gelombang baru sudah disiapkan. Nayara masuk kedalam rumah dengan perasaan riang, tangan kanannya bagaikan mahkota yang harus dijaga baik-baik. Bahkan berulangkali Nayara meresapi aroma maskulin Elvano yang melekat dipergelangan tangannya. “Ekheemmmm!” Suara Diva berhasil mengagetkan Nayara, ternyata Diva dan Dian belum tidur. Mereka masih duduk diruang Tengah sambil menonton siaran televisi. Nayara tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia duduk disebuah sofa, dan masih menjadi pusat perhatian Diva dan Dian. “Bahagia banget kayaknya, habis dapat jackpot ya?” Diva melemparkan sebuah bantal sofa pada Nayara. “Ih, berisik! Namanya juga, habis jumpa idola.” Jawab Nayara dengan nada manja. “Iiiih, geli! Ini beneran kamu, Nay?” Diva merasa takut melihat tingkah Nayara yang diluar nalar, biasanya Nayra terkenal dengan anak yang ceria, tapi bukan anak yang centil. “Udah ah, aku mau keatas dulu.” Nayara langsung bangkit dari tempat duduknya. “Kalian jangan tidur terlalu malam, apalagi kamu Div, besokkan ada ujian.” Ucap Nayara sambil menaiki anak tangga. Keesokan paginya, Selina duduk di sebuah restoran hotel bintang lima. Wajahnya tenang, riasannya sempurna. Ia tersenyum ke arah kamera para jurnalis yang kebetulan berada di sana. “Selina, bagaimana tanggapan Anda soal Elvano dan Nayara?” tanya seorang wartawan. Selina tersenyum lembut. “Oh, mereka?” Ia tertawa kecil. “Aku benar-benar nggak tahu banyak. Sejujurnya aku bahkan nggak kenal Nayara secara pribadi.” Nada suaranya halus. Tidak menusuk. Namun kalimat itu cukup untuk menimbulkan gema. “Jadi, kamu sama sekali tidak tahu menahu tentang hubungan Elvano dan Nayara?” kejar wartawan lain. “Tentu,” jawab Selina santai. “Aku hanya berharap Elvano bahagia dengan pilihannya. Kami sudah lama di fase yang berbeda, dan aku harap Elvano bersanding dengan wanita yang sejajar dengannya.” Berita itu langsung beredar. Selina angkat bicara: Tak kenal Nayara, doakan kebahagiaan Elvano. Sekilas terlihat dewasa. Namun bagi mereka yang jeli, ada jarak yang disengaja. Pengakuan samar yang menyiratkan: Nayara bukan siapa-siapa dalam hidupnya dulu. Dan publik menangkapnya dengan cara mereka sendiri. “Lihat? Selina classy.” “Nayara itu memang cuma singgah.” “Selina benar-benar wanita mahal. Gila! Dewasa banget.” Narasi kembali bergerak. Sore harinya, Nayara baru menyadari saat Diva menunjukkan ponselnya. “Nay… kamu sudah lihat ini?” Nayara membaca cepat. Dadanya menghangat, bukan marah, lebih seperti luka lama yang tersentuh kembali. Namun Nayara memilih untuk menepisnya. “Ya kan memang nggak kenal Div, lagian aku siapa? Dia siapa?” gumam Nayara. Diva mendesah. “Itu kalimat paling aman tapi paling kejam. Pasti ada udang dibalik bakwan.” Nayara tersenyum pahit. “Sssst, udah deh nggak usah suudzon gitu Div. lagian bukan masalah besarkan kalau banyak orang yang nggak kenal aku?” Namun malam itu, Belinda, ibu Elvano, akhirnya menghubunginya. “Nayara,” suara Belinda terdengar tenang namun dingin. “Besok kamu punya waktu?” Jantung Nayara berdegup. “Ada perlu apa, Tante?” “Tante mau ketemu, ada yang ingin tante obrolin sama kamu.” Telepon ditutup tanpa basa-basi lebih lanjut, seakan ucapan Belinda adalah perintah yang tidak bisa dibantah oleh Nayara. Nayara meminta Diva untuk mengatur jadwal kegiatan dan menyisakan sedikit waktu agar Nayara bisa bertemu dengan Belinda. Nayara menatap layar ponselnya lama. Ia tahu, badai yang ini berbeda. Bukan tentang netizen. Bukan tentang gosip. Tapi tentang penerimaan. Tentang apakah ia cukup layak berdiri di sisi Elvano, bukan hanya sebagai cerita hangat, tapi sebagai pilihan hidup. Di tempat lain, Elvano duduk di ruang rapat, tak tahu bahwa dua perempuan terpenting dalam hidupnya akan segera bertemu. Ia tersenyum kecil melihat notifikasi pesan Nayara yang singkat. “Dua tiga ikan hiu, aku rindu.” Elvano membalas cepat. “Buah mangga, buah duku. Aku juga, tunggu aku.” Entah sejak kapan keduanya mulai bermain balas pantung, hal yang dianggap sebagai hiburan bagi dua insan corporate yang selalu sibuk dengan dunia kerjanya. Tak satu pun dari mereka tahu, bahwa pertemuan esok hari akan menjadi garis yang membelah segalanya, antara yang bisa dipertahankan, dan yang harus diperjuangkan dengan harga yang jauh lebih mahal. Pagi itu datang dengan udara yang terasa lebih berat dari biasanya. Nayara berdiri di depan cermin kamar, menatap pantulan dirinya sendiri. Ia mengenakan blouse sederhana berwarna pastel dan celana kain krem. Tidak berlebihan, tidak pula terlalu santai. Diva memperhatikannya dari ambang pintu. “Kamu kelihatan pucat,” ujar Diva pelan. Nayara tersenyum tipis. “Aku nggak apa-apa.” Diva tahu itu bohong. Tapi ia juga tahu, Nayara bukan tipe yang bisa ditenangkan dengan kata-kata kosong. Gadis itu menarik napas panjang, lalu meraih tasnya. “Aku berangkat dulu,” katanya. “Doain aku ya.” Hari ini, Diva tidak bisa menemani Nayara, karena ia harus ke kampus untuk melaksanakan ujian akhir semester.