Drama #Humor #Baper

UNDANGAN HEDON

05 January 2026

Pesan itu masuk saat Topan masih berdiri di lorong rumah sakit. Pemuda itu menatap lantai seperti orang yang baru saja kehilangan sandalnya di masjid besar. Ia membuka ponsel. Namun itu nomor tidak dikenal. Walaupun demikian, isi pesannya bukan pemberitahuan masa tenggat isi ulang pulsa. Isinya singkat.

“Topan, ini Ayahnya Harlia. Setelah Harlia pulang dan kondisinya stabil, kami ingin kamu datang ke rumah. Kita bicara baik-baik.”

Topan membaca pesan itu tiga kali. Bukan karena tidak paham. Tapi karena deg-degan. Kata “baik-baik” yang diucapkan oleh orang tua biasanya berarti interogasi, atau eksekusi.

Topan menarik napas panjang. Pesan dari ayah Harlia muncul seperti surat panggilan dari neraka. Sekarang jantungnya balapan, keringat dingin turun. Ia teringat ibu Harlia baru saja menjadikannya tersangka karena Harlia masuk rumah sakit. Kini, antara cinta dan nyali, Topan menarik napas. Romantisnya hidup memang sering disertai ancaman halus.

“Siap,” gumamnya. “Level naik.”

Beberapa hari kemudian, Harlia resmi keluar dari rumah sakit. Kondisinya membaik, walau mentalnya masih naik-turun seperti sinyal di parkiran basement.

Ibu Harlia mengawasi ketat. Sedangkan ayah Harlia lebih banyak diam. Dan Harlia lebih sering melamun. Ketika ibu Harlia bilang, “Topan mau datang hari Minggu.”

Harlia hampir tersedak air putih.

“Hari Minggu?” ulangnya.

Ibu Harlia mengangguk.

“Iya. Duduk manis dan jangan kabur.”

“Aku boleh sakit lagi nggak?” tanya Harlia lirih.

Ibunya melotot.

“Jangan bercanda.”

Akhirnya, Minggu sore di rumah Harlia kembali tegang. Bukan arisan, bukan IGD, tapi pertemuan yang benar-benar resmi, tanpa spanduk.

Topan datang tepat waktu. Mobilnya masih mobil mahal. Sepatunya masih mengilap. Jam tangannya masih terlihat bisa membiayai satu semester kuliah. Ia berdiri di depan rumah Harlia seperti terdakwa menunggu vonis. Pintu itu tampak lebih tinggi dari biasanya, bel rumah terdengar seperti sirene bahaya.

Senyum disiapkan, napas ditata. Ia datang dengan niat baik, cinta tulus, dan mental yang harus siap menghadapi calon mertua galak.

Ibu Harlia memperhatikan dari balik jendela.

“Ayah,” bisiknya, “dia datang kayak mau ke gala dinner.”

Ayah Harlia mengangguk pelan.

“Setidaknya dia konsisten.”

Topan masuk dengan senyum sopan.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab ayah Harlia.

Ibu Harlia mengangguk tipis.

“Silakan duduk.”

Topan duduk. Ia duduk tegak di ruang tamu, punggung lurus seperti habis ditarik takdir. Dua calon mertua menatapnya bak hakim agung sidang dadakan. Tangannya dingin, senyumnya setipis tisu. Ia menelan ludah, mencoba romantis dalam hati, mengingat senyum pacarnya. Sementara pikirannya sibuk menyusun wasiat hidup, siapa tahu ini interogasi terakhirnya.

Sementara itu, Harlia duduk di tengah ruang tamu seperti sandwich emosional. Ayah di kiri, ibu di kanan, Topan di depan. Senyumnya dipaksa bertahan, tapi jantungnya balapan. Ingin menggenggam tangan Topan, tapi takut dianggap tidak sopan. Ingin membela, tapi suara nyangkut di tenggorokan. Cinta, bakti, dan panik bercampur jadi satu.Harlia hanya berharap waktu bergerak cepat, atau tiba-tiba ada tukang cilok yang datang nawarin dagangan agar menyelamatkan suasana di rumahnya kini.

Namun begitu, sebenarnya itu adalah posisi favorit Harlia sejak kecil. Sebagai penonton langsung konflik dewasa.

Kemudian, ayah Harlia membuka pembicaraan.

“Topan,” katanya tenang, “terima kasih sudah datang.”

“Sama-sama, Om.”

“Kami mau bicara terbuka.”

Topan mengangguk.

“Saya siap.”

Ibu Harlia langsung menyambar, “Kami bukan orang yang suka basa-basi.”

Topan tersenyum kaku.

“Baik, Tante.“

Ayah Harlia melanjutkan, “Kami lihat kamu orangnya percaya diri.”

Ibu Harlia menambahkan, “Atau terlalu percaya diri.”

Topan tertawa kecil.

“Mungkin di tengah-tengah.”

Harlia menelan ludah. Ibu Harlia menyilangkan tangan.

“Kami jujur aja, ya?”

“Iya, Tante.”

“Kami ragu.”

Topan mengangguk pelan.

“Saya tau.”

Ibu Harlia menyipitkan mata.

“Kamu sudah tau?”

“Kelihatan, Tante,” jawab Topan jujur.

“Dari cara Tante lihat saya."

Harlia hampir tertawa. Hampir.

“Keraguan kami,” lanjut ibu Harlia, “bukan soal kamu ramah atau tidak.”

Ayah Harlia menimpali, “Tapi soal latar belakangmu.”

Topan duduk lebih tegak.

“Kamu tampil hedon,” kata ibu Harlia to the point.

Harlia menoleh cepat. Nah, mulai.

“Hedon?” ulang Topan, pura-pura berpikir. “Penampilan saya, maksudnya?”

“Ya. Mobil mahal, jam mahal, dan gaya bicara tinggi," kata ibu Harlia.

Topan mengangguk.

“Kami takut,” lanjut ibu Harlia, “itu cuma tampilan.”

Ayah Harlia mengangguk setuju.

“Dan kami nggak mau Harlia terjebak.”

Topan menatap Harlia sekilas. Harlia menunduk.

“Saya mengerti,” kata Topan pelan.Ibu Harlia terkejut.

“Kamu nggak membela diri?”

Topan tersenyum kecil.

“Karena membela diri tanpa bukti cuma menambah curiga.”

Ayah Harlia mengangguk pelan.

“Bagus.”

Ibu Harlia mendengus.

“Bagus apanya? Belum tentu.”

Ayah Harlia menghela napas.

“Topan, kami mau tau satu hal.”

“Iya, Om.”

“Seberapa serius kamu?” tanya ayah Harlia.

Topan menjawab tanpa jeda.

“Sangat.”

Ibu Harlia langsung menyela, “Semua cowok bilang begitu.”

Topan mengangguk.

“Betul.”

Ayah Harlia menatapnya tajam.

“Kalau begitu, kita bicara konkret.”

Harlia menegang. Ibu Harlia tersenyum tipis.

“Kami keluarga sederhana.”

Topan mengangguk.

“Tapi,” lanjut ibu Harlia, “kami ingin bukti.”

Topan diam. Ayah Harlia melanjutkan dengan suara datar, bahkan terlalu datar.

“Kalau kamu memang berniat menikahi Harlia…”

Harlia memejamkan mata.

“…kami minta mahar.”

Topan mengangguk.

“Silakan, Om.”

Ibu Harlia tersenyum.

“Tiga miliar rupiah.”

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Harlia membuka mata nyaris terbelalak.

“TIGA?!” ulang Harlia refleks.

Ibu Harlia menoleh.

“Kamu diem!”

Topan tidak bergerak, tidak tertawa, tidak kaget berlebihan, dan tidak jatuh pingsan.Ia hanya mengangkat alis sedikit.

“Tiga miliar,” ulangnya pelan.

Ayah Harlia mengangguk.

“Iya.”

“Itu bukan angka kecil,” kata Topan.

Ibu Harlia menyahut,

“Kami tau.”

Ayah Harlia melanjutkan, “Tapi itu bukan harga anak kami.”

Ibu Harlia menambahkan, “Itu cuma tes.”

Harlia melongo.

“Bu!”

Ibunya melirik.

“Apa?!"

“Aku bukan mobil sport," protes Harlia.

Ibu Harlia menjawab dingin, “Justru karena itu.”

Topan menghela napas panjang.

“Boleh saya tanya?” katanya tenang.

Ayah Harlia mengangguk.

“Silakan.”

“Kalau saya tidak mampu?” tanya Topan.

Ibu Harlia menjawab cepat, “Berarti kamu belum siap.”

Topan mengangguk.

“Kalau saya pura-pura mampu?” tanyanya lagi.

Ayah Harlia tersenyum tipis.

“Kami akan tau.”

Topan tertawa kecil.

“Baik.”

Harlia panik.

“Yah, Bu—”

Ayah Harlia mengangkat tangan.

“Ini bukan untuk menjatuhkan kamu, Har.”

Ibu Harlia menatap Harlia.

“Ibu mau kamu aman.”

Kemudian Topan berdiri.

"“Terima kasih atas kejujurannya,” katanya sopan. “Saya butuh waktu.”

Ibu Harlia mengangguk.

“Kami tunggu.”

“Berapa lama?” tanya Topan.

Ayah Harlia berpikir, lalu menjawab, “Sebulan.”

Harlia terkejut.

“Sebulan?!”

Ibu Harlia melirik putrinya.

“Kamu mau berapa?”

Topan mengangguk.

“Baik. Sebulan.”

Kemudian ia menoleh ke Harlia.

“Jaga diri, ya....”

Harlia hanya bisa mengangguk. Lalu Topan melangkah ke pintu. Namun, sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh ke orang tua Harlia.

“Satu hal,” katanya.

Ayah Harlia mengangkat alis.

“Kalau saya kembali,” lanjut Topan, “dan saya bilang saya siap…” Ibu Harlia menyipitkan mata.“…apakah keraguan itu hilang?”

Sunyi.

Ayah dan ibu Harlia saling pandang.

Bab ini berakhir tepat di sana. Di antara angka tiga miliar, keheningan ruang tamu, dan satu pertanyaan besar.

Apakah Topan benar-benar sekaya omongannya atau justru akan menghilang sebelum sebulan berlalu?