KONTRAK PERASAAN

Penulis Arunaa
05 January 2026

Rumah Belinda berdiri anggun di kawasan elite. Tenang. Terlalu tenang. Nayara merasa seolah setiap langkahnya diawasi oleh dinding-dinding tinggi dan pepohonan rapi di halaman. Seorang asisten mempersilahkannya masuk. Belinda sudah menunggu di taman belakang sambil merawat tanaman hiasnya. Dengan mengenakan setelan sederhana namun berkelas. Wajahnya ramah, namun matanya menyimpan ketajaman yang sulit ditebak. “Nayara,” sapa Belinda. “Silakan duduk.” Belinda menarik sebuah kursi kecil yang memang sudah disiapkan untuk Nayara. Nayara menurut. Tangannya sedikit dingin. “Tante minta maaf mendadak memanggilmu,” lanjut Belinda. “Tapi sebagai ibu, aku rasa aku berhak tahu.” Nayara mengangguk. “Saya mengerti, Tante.” Belinda menatapnya lama, seolah menilai lebih dari sekadar penampilan. “Kamu tahu, hidup Elvano tidak sederhana. Sejak kecil, hampir semua langkahnya diatur. Demi nama. Demi tanggung jawab.” Nayara menelan saliva dengan berat. “Iya tante,” jawabnya canggung. Belinda mengangkat tangan, menghentikannya. “Bukannya tante ingin menghakimi, tapi kamu lihatkan, belakangan Selina sering muncul di media. Menurutmu apa yang harus kamu lakukan, jika Selina kembali kedalam kehidupan Elvano?” Pertanyaan itu menancap tepat di dada Nayara. “Hmmm,” Nayara bergumam. “Saya rasa, jodoh sudah ditangan tuhan, dan kita sebagai manusia hanya bisa berjuang sampai batas maksimal, dan itu yang akan saya lakukan, selagi kak Vano bahagia berada didekat saya, saya akan tetap berjuang. Namun, jika kehadiran saya ternyata membawa luka, bukankah lebih baik saya mundur perlahan?” jawab Nayara jujur. Belinda tersenyum kecil, nyaris tak terlihat. “Bijak, tapia pa kamu yakin akan semudah itu?” Nayara menatap lurus. “Maksud tante?” Keheningan menyelimuti ruangan. Belinda menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan, tangannya kian sibuk merapikan mawar yang bersusun rapih, sesekali ia mengamati Nayara dengan cara yang berbeda. “Kamu tahu kenapa aku khawatir?” tanya Belinda. “Bukan karena siapa kamu. Tapi karena apa yang bisa kamu hadapi.” Nayara menghela napas. “Saya sudah biasa diserang, dicurigai, direndahkan. Tapi saya masih di sini. Kalau memang harus mundur demi kebaikan Elvano, saya ingin mendengarnya langsung. Bukan dari rumor yang beredar.” Jawaban itu membuat Belinda terdiam lebih lama dari sebelumnya. Ia tak yakin Nayara dan Elvano akan mudah menghadapi Selina. Belinda hafal betul bagaimana karakter Selina, dan itu juga yang menjadi alasan bagi dirinya untuk menjauhkan Elvano dari Selina. Di saat yang sama, Elvano baru saja keluar dari rapat dan baru sempat membuka ponselnya. Nama ibunya muncul dipesan teratas. Dadanya langsung tak nyaman. “Vano, ada yang mau mama bicarakan, bersama kamu dengan Nayara, datanglah kerumah, mama sudah meminta Nayara untuk datang.” Dengan Nayara. Kalimat itu tidak diucapkan, tapi Elvano tahu. Sore itu, Elvano datang ke rumah ibunya. Nayara masih duduk di ruang yang sama. Begitu mata mereka bertemu, ada kelegaan sekaligus ketegangan yang tak bisa disembunyikan. “Kalian duduk,” ujar Belinda. Elvano menatap Nayara sekilas, lalu duduk di sampingnya. Tanpa berkata apa pun, ia meraih tangan Nayara. Genggamannya kuat, seolah berkata: aku di sini. Belinda memperhatikan itu dengan saksama. “Elvano,” katanya akhirnya. “Aku ingin kamu menjawab satu hal. Kamu bersama Nayara ini karena cinta, atau karena kamu lelah melawan tuntutan hidupmu sendiri?” Pertanyaan itu membuat ruangan membeku. Elvano menarik napas panjang. “Maksud mama?” Nayara menunduk, matanya berkaca-kaca. Sejujurnya seharian bersama Belinda membuat jiwanya Lelah. Banyak hal yang telah mereka bahas sebelum kehadiran Elvano, Nayara bahkan sampai meminta Diva untuk mengatur ulang jadwal kegiatannya, dan menunda apa yang harus dikerjakan oleh Nayara hari ini. “Kamu tahu apa yang terjadi belakangan ini Vano, semuanya tidak mudah untuk kalian berdua, kamu harus tegas mengambil sikap, jika alasan dibalik semua ini karena Hasan Basri, lepaskan Nayara! Jangan bawa Nayara masuk kedalam lingkar setan itu.” Belinda menatap mereka bergantian. “Dan kamu, Nayara. Kamu siap jika hidupmu tidak lagi sepenuhnya milikmu?” Nayara menundukkan kepala. “Saya… hmmm,” Belinda tersenyum samar. “Mah, kasih kita kesempatan untuk membuktikan kekuatan cinta kita. Ini semua nggak ada lagi hubungannya sama partai, politik, reputasi, ataupun pak Hasan Basri. Ini tentang aku dan Nayara, Mah!” “Baik, jika itu adalah kemauan mu Vano. Namun kali ini mama tidak bisa melindungimu terlalu jauh, kalian sudah sama-sama dewasa, dan sebisa mungkin jaga reputasi kalian agar tidak merugikan siapapun.” Elvano mengangguk mantap. “Aku tahu, Ma.” Ia faham maksud Belinda, tangannya menggenggam pergelangan Nayara, dan membawanya keluar dari rumah itu. Malam turun perlahan, menyelimuti kota dengan cahaya lampu yang temaram, bertemankan kabut tipis. Elvano dan Nayara duduk berdampingan di sebuah kafe kecil yang menghadap jalan raya. Musik akustik mengalun lirih, cukup untuk menjadi latar, tidak cukup keras untuk mengganggu percakapan mereka. Nayara memegang cangkir minumannya dengan kedua tangan. Hangat. Seperti suasana di antara mereka saat ini, tenang, namun menyimpan banyak hal yang belum benar-benar selesai. “Kamu capek, Nay?” tanya Elvano akhirnya, memecah keheningan. Nayara tersenyum kecil. “Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu kak?” Elvano menghela napas pelan. “Maaf… karena aku sering nggak ada. Karena aku sering kelihatan kayak memilih hal lain dibanding kamu.” Nayara menoleh, menatapnya dalam-dalam. “Aku nggak pernah minta kamu memilih aku dibanding tanggung jawabmu. Aku cuma ingin kamu jujur, dan percaya sama aku kak.” Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada kemarahan. “Aku takut,” ucap Elvano lirih. “Takut kalau aku bicara, semua makin runyam. Takut kalau aku bela kamu, justru akan membahayakanmu. Takut kalau aku diam, kamu terluka. Dan nyatanya… aku salah di semua pilihan.” Nayara terdiam sejenak, lalu tersenyum getir. “Aku juga takut, Kak. Takut kalau semua ini cuma singgah. Takut kalau pada akhirnya aku harus mundur sendirian. Dan yang paling aku takutkan dari semua ini adalah, kamu tersakiti karena kehadiran ku kak.” Elvano menggeleng, suaranya mantap. “Nay, aku nggak akan ninggalin kamu sendirian. Kehadiran mu justru menjadi obat untukku, tawamu, sikapmu, semua hal tentang mu menjadi Penawar dalam hidupku.” Hati Nayara tersentuh, ia semakin yakin dengan pilihannya, walau masih ada satu hal yang mengganjal. Mereka pulang larut malam. Elvano mengantar Nayara sampai depan rumah. Tidak ada pelukan berlebihan, hanya tatapan lama yang penuh makna. “Nanti aku telpon ya,” ujar Elvano. “Hmmm, daaa,” Nayara menganggukkan kepala, tangannya melambai saat mobil Elvano meninggalkan kediamannya. Namun malam tidak benar-benar berakhir di sana. Di apartemennya, Selina berdiri di depan jendela besar, menatap kota yang sama. Di tangannya, tablet menyala menampilkan kolom komentar, dari postingan Belinda yang terbaru. Potret Belinda sedang masak bersama Nayara menjadi tranding topik hari ini. “Belinda sudah merestui hubungan Nayara dan Elvano.” “Fix Nayara calon menantu.” “Elvano kelihatan bahagia banget.” Setiap kalimat terasa seperti tamparan. “Bahagia?” Selina terkekeh lirih. “Itu bukan haknya.” Ia mengambil ponsel lain, bukan ponsel pribadinya. Nomor tanpa nama dihubungi. “Kita jalan sesuai rencana,” katanya singkat. “Aku mau cerita lama itu… naik lagi. Tapi jangan pakai namaku.” Suara di seberang tertawa kecil. “Tenang. Aman.” Selina mematikan sambungan. Di wajahnya terukir senyum tipis yang dingin. “Kalau aku nggak bisa memilikinya,” bisiknya, “aku pastikan dia juga nggak benar-benar bahagia.” Keesokan paginya, Nayara terbangun oleh notifikasi yang bertubi-tubi. Ponselnya bergetar tanpa henti. Diva sudah lebih dulu membaca semuanya. “Nay…” suara Diva terdengar tegang. “Kamu harus lihat ini.”