Begitu pintu tertutup dan suara mobil Topan menghilang dari halaman. Harlia berdiri di tengah ruang tamu seperti bom yang sudah dicabut pengamannya.
“YAH!”
Ayahnya baru duduk, kaget.
“Kenapa teriak?”
“INI SEMUA NGGAK MASUK AKAL!” teriak Harlia.
Ibunya langsung refleks menutup telinga.
“Jangan teriak-teriak. Tetangga dengar.”
“BIARIN!”
Harlia mondar-mandir.
“Sekalian satu RT tau aku gagal nikah sebelum mulai!”
Ayahnya menghela napas.
“Har, duduk dulu.”
“Aku nggak mau duduk!”
Harlia menunjuk lantai.
“Ini bukan sinetron. Ini hidup aku!”
Ibunya menyilangkan tangan.
“Makanya jangan drama!"
Harlia berhenti, menatap ibunya.
“Bu… kalian minta tiga miliar?!”
Ibunya mengangguk.
“Iya.”
“TIGA. MILIAR.”
“Iya,” ulang ibunya.
“Bukan tiga ribu rupiah?“ eyel harlia.
Ayah menimpali tenang,
“Ibu kamu tau hitungannya.”
Harlia tertawa pahit.
“Aku ini siapa? Berlian? Ha?!!!!"
Ibunya menjawab cepat,
“Justru karena kamu bukan barang murah.”
“Itu nggak lucu!” bentak Harlia.
Ayah mengangkat tangan.
“Tenang.”
Harlia tiba-tiba duduk di lantai. Beneran duduk. Menyilangkan kaki, memeluk lutut, seperti anak kecil mogok makan.
“Aku takut,” katanya lirih.
Ibunya terdiam. Lalu menarik napas panjang. Gregetannya sudah level cabe rawit. Anak perempuannya tantrum di lantai, nangis sambil memeluk lutut, takut nikahnya kandas gara-gara mahar setinggi menara Eiffel. Namun begitu, sebenarnya ia ingin tertawa tapi juga ingin memeluk. Antara kesal dan sayang, ingin bersikap lembut dan mengelus kepala putrinya, sambil bergumam, cinta itu bukan lomba lelang, meski dompet tetap ikut deg-degan.
Sementara itu, Ayah Harlia menatapnya lembut.
“Takut apa?”
Harlia menghela napas panjang.
“Takut dia pergi.”
Ibunya mendengus.
“Kalau pergi berarti bukan jodoh.”
“Itu gampang diomongin!” balas Harlia. “Bu, Yah! Tau nggak… selama ini nggak ada cowok yang beneran suka sama aku?”
Sunyi.
“Aku cuma GR,” lanjut Harlia. “Aku cuma halu. Aku cuma… sendirian.”
Ibunya mulai gelisah.
“Har—”
“Cuma Topan,” kata Harlia cepat. “Cuma dia yang datang, yang usaha, yang milih aku.”
Ayah Harlia duduk di kursi lebih dekat.
“Har, satu orang nggak menentukan nilai kamu.”
“Tapi satu orang itu harapan aku,” balas Harlia.
Ibunya memijat pelipis.
“Ya Allah, drama lagi.”
Harlia menatap ibunya.
“Bu, jujur… Ibu pernah ngerasa nggak laku?”
Ibunya terdiam. Ayah menoleh ke istrinya. Ibunya mendengus pelan.
“Pernah.”
Harlia mendongak.
“Terus?”
Ibunya menghela napas.
“Capek.”
“Nah!” seru Harlia. “Itu aku!”
Ayah Harlia bicara lembut.
“Har, ayah ngerti kamu takut.”
Harlia menatap ayahnya. “Ayah nggak ngerti rasanya jadi aku.”
Ayahnya mengangguk.
“Betul. Tapi ayah ngerti rasanya pengen buru-buru karena takut kehilangan.”
Harlia terdiam.
“Ayah dulu juga gitu,” lanjut ayahnya.
“Tapi menikah karena panik itu berbahaya.”
Ibunya menyahut, “Dan mahal.”
Harlia mendengus.
“Tuh kan, balik ke duit lagi.”
Ibunya duduk di sofa.
“Bukan soal duitnya.”
“Terus apa?”
“Soal konsistensi,” jawab ibunya. “Ibu mau liat dia tetep usaha walau kami nggak langsung bilang iya.”
Harlia memeluk lutut lebih erat.
“Kalau dia nggak balik?”
Ibunya menjawab cepat,
“Berarti ibu bener.”
“Itu bukan penghiburan,” kata Harlia.
Ayah tersenyum tipis.
“Kadang kebenaran memang tidak menghibur.”
Harlia berdiri lagi.
“Bu, Yah… aku capek diuji.”
Ibunya mengangguk.
“Ibu juga capek lihat kamu gampang jatuh.”
“Aku bukan gampang jatuh,” bantah Harlia. “Aku cuma jarang ditangkap.”
Ayah terdiam. Kalimat itu kena. Pria itu menelan ludah, dadanya terasa diremas kalimat sederhana itu. Selama ini ia merasa melindungi, ternyata sering terlambat menangkap. Ada sesal yang menyelinap di balik wibawanya, bercampur geli dan haru. Ia ingin tertawa, ingin memeluk, ingin bilang, "Kali ini, Ayah akan belajar lebih sigap."
Sementara itu, Ibunya melembut sedikit.
“Har…”
“Semua orang bilang aku sabar,” lanjut Harlia. “Sabar nunggu, sabar nerima, sabar dikatain martabak.”
Ibunya mengepal tangan.
“Yang itu ibu juga masih kesel.”
“Terus sekarang,” Harlia menghela napas, “pas ada yang mau, malah diuji kayak audisi.”
Ayah menimpali, “Karena menikah itu bukan lomba cepat-cepat.”
Harlia menatapnya.
“Tapi hidup aku kayak lomba, Yah. Semua orang udah finish.”
Ibunya mendengus.
“Ngapain banding-bandingin hidup kamu dengan orang lain?”
“Karena aku capek jadi penonton,” jawab Harlia.
Ibunya berdiri, mendekat, lalu… mencubit lengan Harlia pelan.
“Aduh!” protes Harlia.
“Biar sadar,” kata ibunya. “Kamu itu berharga.”
“Kalau berharga kenapa diuji mahal?” balas Harlia.
Ibunya gemas.
“Ya justru!”
Ayah tertawa kecil.
“Ibu kamu itu logikanya muter.”
Harlia mengusap lengannya.
“Aku cuma pengen tenang.”
Ayah menepuk pundaknya.
“Tenang itu datang dari dalam, bukan dari status.”
Ibunya menambahkan,
“Dan bukan dari cowok seminggu kenal.”
Harlia menatap lantai.
“Aku benci kata seminggu itu.”
Ayah tersenyum.
“Waktu bukan ukuran tunggal.”
Ibunya mengangguk.
“Makanya kita nunggu.”
Harlia mendesah.
“Nunggu itu melelahkan.”
Ayah mengangguk.
“Tapi kabur itu lebih melelahkan.”
Harlia duduk lagi, kali ini di sofa.
“Aku cuma takut sendirian lagi,” katanya pelan.
Ibunya duduk di sampingnya.
“Kamu nggak sendirian.”
“Aku tau,” jawab Harlia. “Tapi rasanya beda.”
Ayah berdiri.
“Ayah mau tanya.”
Harlia menoleh.
“Kalau Topan balik tanpa tiga miliar,” tanya ayahnya, “tapi dengan kejujuran?”
Harlia terdiam. Diam Harlia bukan diam kosong. Di kepalanya, hati dan logika sedang tarik tambang sambil teriak-teriak. Tiga miliar terasa berat, kejujuran terasa hangat. Dadanya sesak tapi geli dan ternyata cinta bisa bikin orang bengong sambil berharap. Ia menunduk, menahan senyum tipis. Bukan karena lucu, tapi karena takut jawabannya terlalu jujur untuk diucapkan.Ibunya menatapnya.
“Jawab jujur.”
Harlia menarik napas.
“Aku… masih mau.”
Ibunya menutup mata sebentar.
“Astaga, anak ini keras kepala.”
Ayah tersenyum.
“Berarti ayah tau satu hal.”
“Apa?” tanya Harlia.
“Kamu bukan mengejar uang,” kata ayahnya. “Kamu mengejar rasa dipilih.”
Harlia menunduk.
“Iya.”
Ibunya menghela napas panjang.
“Makanya ibu pengen kamu dipilih dengan benar.”
Sunyi.
Malam itu, Harlia masuk kamar. Ia rebah di kasur, menatap ponsel. Tidak ada pesan dari Topan. Ia menggenggam ponsel erat. Takut. Bukan takut kehilangan Topan. Tapi takut kehilangan satu-satunya kemungkinan.
Ketakutan itu menggelinding di dadanya seperti kelereng nakal yang berisik, tapi sulit ditangkap. Harlia membalik badan, memeluk bantal, lalu membalik lagi. Ponsel diletakkan di dada, seolah kalau ia menatapnya lebih lama, pesan dari Topan bisa muncul karena kasihan. Tidak muncul. Ia menghela napas panjang, napas orang yang sudah capek berharap tapi belum siap menyerah. Di kepalanya, Topan berjalan mondar-mandir membawa koper kosong bertuliskan kejujuran, sementara angka tiga miliar mengejarnya sambil tertawa jahat.
“Kenapa cinta rasanya kayak cicilan tanpa tenor jelas, sih?” gumamnya.
Harlia tertawa kecil sendiri, lalu terdiam. Lucunya dia tidak sedang patah hati. Dia hanya takut hidupnya kembali ke mode menunggu, mode yang paling ia benci. Menunggu dijodohkan. Menunggu ditanya. Menunggu kemungkinan yang tidak pernah benar-benar datang.
Ponselnya bergetar. Ia refleks duduk. Notif grup keluarga. Harlia jatuh lagi ke kasur, dramatis.
“Oke, semesta. Aku bercanda. Aku siap nunggu,” katanya ke langit-langit.
Namun di balik cengiran itu, hatinya masih mengetuk pelan, berharap satu pesan sederhana: Aku datang. Bukan bawa uang, tapi bawa niat.
Sementara itu, di ruang tamu, ayah dan ibunya duduk berdampingan.
“Kita terlalu keras?” tanya ayah.
Ibunya terdiam lama.
“Aku cuma takut dia sakit lagi.”
Ayah mengangguk.
Dan di kamar, Harlia berbisik pelan, hampir seperti doa.
“Topan… jangan pergi.”
Bab ini berakhir tanpa pesan masuk.Tanpa notifikasi. Tanpa kepastian. Hanya satu pertanyaan yang menggantung di udara.
Akankah Topan kembali atau justru tiga miliar itu menjadi jarak yang tak pernah bisa dilompati siapa pun?