Di kantor partai, suasana memanas. Elvano baru saja keluar dari ruang ketua partai dengan wajah yang sulit dibaca. Ardhan mengikutinya dari belakang, langkahnya ragu. “Pak… tadi itu…” “Tenang, Dhan,” potong Elvano singkat. “Aku tahu risikonya.” “Ketua partai kelihatan nggak senang.” Elvano berhenti melangkah. Ia menoleh, sorot matanya tegas. “Beliau senang saat namaku menguntungkan. Tapi saat aku pakai namaku untuk melindungi hidupku sendiri, itu dianggap masalah.” Ardhan terdiam. “Elvano Aryavindra bukan cuma alat pencitraan,” lanjut Elvano pelan, tapi penuh tekanan. “Aku juga manusia.” Namun di balik pintu tertutup ruang ketua partai, seseorang sedang menyusun langkah balasan. “Dia mulai susah dikendalikan,” ujar sang ketua pada seorang pria paruh baya di seberangnya. “Dan perempuan itu… Nayara.” “Perlu kita tekan?” tanya pria itu. Sang ketua tersenyum tipis. “Tidak langsung. Tekanan yang terlihat justru membuatnya melawan. Kita pakai cara lain. Yang lebih halus.” Nama Selina tidak disebut. Tapi benang-benang lama mulai ditarik kembali. Sore itu, Nayara menerima pesan yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Belinda: Nayara, tante ingin bertemu. Kita perlu bicara. Berdua saja. Tidak ada emoji. Tidak ada basa-basi. Nayara membaca pesan itu berulang kali. Tangannya dingin. Pertemuan dengan publik saja sudah melelahkan, apalagi dengan ibu Elvano, perempuan yang sejak awal berada di garis paling sensitif antara masa lalu dan masa depan anaknya. Ia menghela napas panjang, lalu membalas dengan sopan. Nayara: Baik, Tante. Kapan dan di mana? Jawaban datang cepat. Belinda: Besok sore. Di rumah tante. Diva yang sejak tadi mengamati ekspresi Nayara langsung paham. “Belinda?” Nayara mengangguk. “Aku nggak bisa menghindar.” “Takut?” “Pasti ada sesuatu dibalik semua ini,” jawab Nayara jujur. Rumah Belinda sore itu terasa terlalu tenang. Wangi teh melati memenuhi ruang tamu yang tertata rapi. Belinda duduk dengan postur sempurna, mengenakan busana sederhana namun elegan. Nayara duduk di seberangnya, punggung tegak, tangan terlipat rapi di pangkuan. Ia merasa seperti sedang mengikuti ujian yang hasilnya akan menentukan segalanya. “Kamu tahu kenapa tante minta kamu datang lagi?” tanya Belinda membuka percakapan. Nayara menelan ludah. “Karena hubungan saya dan Kak Elvano.” Belinda mengangguk pelan. “Hubungan kalian semakin berisik. Tante sudah kasih peringatan jangan sampai ada pihak yang dirugikan, tapi kalian mengabaikannya.” “Itu bukan keinginan saya, Tante,” jawab Nayara lirih. “Saya tidak pernah berniat untuk…” Belinda mengangkat tangan, menghentikannya. “Tante tahu itu, tante tidak menyalahkan kamu. Tapi resiko dari hubungan ini terlalu berat Nayara.” Nayara mengangkat wajahnya. “Maksud tante?” Belinda menatapnya tajam, tanpa marah, tapi penuh tuntutan. “Kamu datang ke hidup anak saya membawa badai. Media, gosip, politik, masa lalu. Mama ingin tahu… apakah kamu cukup kuat untuk berdiri di tengah semua itu tanpa menyeret Elvano jatuh?” Pertanyaan itu menghantam tepat ke dada Nayara. “Saya tidak sempurna, Tante,” jawab Nayara dengan suara bergetar tapi jujur. “Saya juga takut. Tapi satu hal yang saya tahu… saya tidak pernah ingin menjadikan Elvano sebagai tangga atau tameng. Kalau suatu hari saya harus mundur demi kebaikannya, saya bisa. Tapi selama dia memilih bertahan, saya akan berdiri di sisinya.” Keheningan menyelimuti ruangan. Belinda menyandarkan punggung, menatap Nayara lama. Tangannya membuka sebuah album foto yang sedikit using. “Siapa ini tante?” Tanya Nayara setelah melihat sebuah foto bayi mungil yang sedang dipangku Belinda. “Buah dari kesalahan, namun ia tak bersalah. Takdir yang membawanya hadir kedunia ini.” Belinda meresapi aroma secangkir teh dalam genggamannya, sedikit tenang namun itu tak dapat menutupi semua belenggu yang mengikatnya. Nayara mengangguk pelan. Walau ia masih belum faham apa maksud Belinda. “Nay, ada hal yang harus kita perjuangkan lebih dari apapun. Tante sayang sama kamu, sejujurnya tante merestui hubunganmun dengan Vano. Namun, ada hal yang tidak bisa tante korbankan.” “Bayi kecil didalam foto itu, kamu tahu kan tante mempunyai seorang anak angkat. Foto itu adalah dia. Tante jarang mempublish kegiatannya, bahkan jarang menampilkannya dihadapan public, karena tante ingin menjaganya dengan tulus Nay.” Dahi Nayara mengernyit. “Lalu apa hubungannya dengan saya dan Kak Vano Tante?” Belinda menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Ia taky akin harus memberitahu Nayara atau tidak, selama ini ia menanggung semua bebannya seorang diri. “Itu anak Selina.” Suara lirih Belinda, samar-samar terdengar ditelinga Nayara. Tangannya gemetar ingin memastikan apakah ia salah dengar atau tidak. “Maksud tante?” Ucapnya dengan suara parau. “Dengar Nayara, Vano itu anak baik. Sejak kecil ia terlalu sempurna dalam hidup tante. Sampai, ia bertemu dengan Selina.” “Tunggu… jangan bilang kalau anak itu adalah…” ucapan Nayara menggantung namun Belinda mengangguk faham. Langit seketika runtuh, tangga yang dinaiki perlahan hancur tak lagi menjadi pijakan. Lutut Nayara terasa lemas, bahkan langkahnya kian gontai. Air mata bukan tak mau menetes, hanya saja Nayara masih menahannya. Ia mencerna satu persatu kalimat pembicaraan dirinya bersama Belinda. Tubuh Nayara memang sudah pergi jauh meninggalkan rumah itu, namun pikirannya masih tinggal disana. Semuanya campur aduk, ia tak tahu harus pulang kemana. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah keramaian ibu kota. Langit senja hamper gelap seutuhnya. Mobil itu kini parkir didepan sebuah gedung tinggi, namun Nayara tidak turun dari dalamnya. Dari kejauhan, ia melihat kehadiran Elvano bersama ajudannya. Wajahnya masih tampan walaupun penampilannya kusut. Nayara tahu, hari yang dilalui Elvano tidaklah mudah. Kehidupannya yang tenang berubah kacau sejak kehadiran Nayara. Jika mereka tidak bertemu, jika kontrak perjanjian itu tidak ada, masalah tidak mungkin hadir sejauh ini. “Selina itu masa lalu yang panjang,” ujar Belinda. “Dan masa lalu yang panjang seringkali tidak mau melepaskan.” Nayara mengerti maksudnya. “Tante tidak meminta kamu bersaing,” lanjut Belinda. “Tante hanya ingin satu hal: jangan buat Elvano harus terus mengalah seperti dulu.” Kalimat itu seakan menjadi boomerang yang terus terulang-ulang dikepala Nayara. Di tempat lain, Selina tersenyum saat membaca laporan singkat yang masuk ke ponselnya. “Belinda sudah bertemu Nayara,” gumamnya. Ia menyesap kopinya perlahan. “Bagus.” Baginya, setiap pertemuan adalah celah. Setiap kejelasan adalah awal dari konflik baru. “Permainan belum selesai,” bisiknya. Dan di antara cinta yang mulai berani berdiri, kekuasaan yang tak mau kehilangan kendali, serta masa lalu yang menolak dilupakan, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa badai berikutnya akan jauh lebih personal, dan jauh lebih kejam. “Aku tahu, Belinda tidak akan bisa berkutik jika sudah berkaitan dengan anak kesayangannya.” Selina tersenyum puas, ia merasa takdir akan membawanya sebagai pemenang. Kali ini, ia tidak akan melepaskan kesempatan emas itu lagi. Tahta yang seharusnya menjadi miliknya, akan ia renggut dan pertahankan.
KONTRAK PERASAAN
Penulis
Arunaa
05 January 2026