Drama #Romance

SARAPAN DENGAN LAUK BUATAN CAMER

05 January 2026

"Ekspresi macam apa itu?" ucap tanya Zoya saat melihat ekspresi wajah Arga yang biasa saja bahkan tidak terlihat terkejut seperti yang Zoya bayangkan saat tahu Zoya akan menghabiskan uangnya.

"Kenapa dengan ekspresi wajahku? kau ingin lihat aku terkejut?" ucap Arga sembari menghadap kembali menatap ke arah luar.

"Ya... aku tahu kebanyakan lelaki selalu terkenut saat wanitanya bilang begitu. Tapi... kayaknya kamu nggak gitu deh," balas Zoya kemudian.

"Nggak masalah buatku, keinginan kamu buat ngabisin uangku aja kayaknya nggak mungkin bisa ngabisin kok," sahut Arga lagi.

"Cepet siap-siap! aku bakalan ajak kamu ke butik yang biasa mama aku datangi," balas Arga lagi seakan tidak memberi kesempatan Zoya untuk bicara.

"Eh sekarang? nggak nanti dulu? ini masih terlalu pagi tahu nggak?!" sahut Zoya kemudian. Tangannya sudah sibuk dengan Tumbler yang isinya ia tuang ke gelas. Zoya lalu beranjak dari tempatnya dan memberikan gelas itu untuk Arga.

"Nih, teh anget dulu biar kamu nggak masam mulu mukanya!" ucap Zoya kemudian. Arga hanya menatap gelas itu dan belum berniat untuk menerimanya.

"Kenapa? kau takut aku racun? ya nggak lah... kan kau tahu sendiri kalau kita sekarang berada di jalur yang sama. Kita sekarang sekutu! kita nggak jadi rival lagi," ucap Zoya sembari menyunggingkan senyuman di bibirnya yang ia paksakan meski ia tidak suka bersikap sok baik pada Arga. Dengan tatapan mata yang lekat menatap kearah Zoya berada, lelaki itu mengambil gelas tersebut dan mulai meminumnya. Belum sempat Zoya memberitahu Arga jika teh itu masih panas, namun Arga sudah terlebih dahulu meneguknya hingga ia merasa bibir dan mulutnya terbakar. Sontak Arga pun hanya bisa mendengus kesal. dengan bibir yang terbuka lebar dengan tatapan mata semakin tajam kearah Zoya berada.

"Aku mau bilang kalau masih panas... kamu sudah minum aja itu isinya," ucap gerutu Zoya dengan bibir manyun dan wajah yang pura-pura polos. Namun dalam hatinya jelas ia tahu jika ia sangat senang melihat bibir sampai lidah Arga terbakar. Hingga dia terkikik nyaris lelaki itu sadari.

"Kau tertawa?"

Zoya hanya menggelengkan kepalanya saat ia mendengar pertanyaan lelaki yang sedang ia punggungi itu. Zoya mencoba menyembunyikan keinginannya untuk tertawa disana.

Hingga terdengar suara mama Zoya yang saat itu tengah mengetuk pintu kamar Zoya. Sontak wanita itupun segera menjawabnya karena ia tahu itu adalah mamanya hanya dari suara yang saat itu memanggilnya di iringi suara ketukan di daun pintu kamar.

"Akh sial!" gerutu Arga sembari mengusap bibirnya dengan ujung lidah. Sesekali mengulumnya hingga terasa lebih baik dari sebelumnya.

"Mama masuk saja," balas Zoya pada mamanya. Wanita itu hanya bisa sesekali menatap kearah Arga berada dan melihat bibirnya yang memerah disana.

"Wanita jahat!" gerutu Arga.

Hingga terlihat mama Zoya masuk ke dalam dan mendapati kedua orang itu berada di teras kamar sedang menikmati teh hangat di sana. Mama Zoya melangkah mendekat ke arah mereka. Dan detik berikutnya wanita itu sedikit terkejut dengan penampakan yang ada di depannya.

"Loh... kok bibirmu merah Ga? kenapa?" tanya mama Zoya saat melihat ke arah Arga dengan punggung tangan lelaki itu yang baru turun dari bibirnya. Saat itulah Arga lalu menatap kearah Zoya berada. Tampak ada sedikit pikiran jahil saat itu.

"Emb... mama nggak tahu aja sih apa yang anak muda lakukan?" bisik Zoya dengan ujung salah satu mata yang berkerling ke arah Arga berada.

"Oh, kalian sudah dekat rupanya? syukurlah, mama jadi tenang lihatnya, kalau begitu ayo turun kalian, mari makan sarapan sama-sama," balas mama Zoya yang mengajak Zoya dan Arga untuk ikut turun ke bawah.

"Iya Tante," balas Arga.

"Mama turun dulu ya kalau begitu, cepetan nyusul kalian," balas mama Zoya lagi. Kini tinggal Zoya dan Arga yang berdua di sana.

"Puas kau?" dengus Arga sembari mengusap bibirnya dengan ujung lidah. Zoya menganggukkan kepalanya seakan mengiyakan apa yang Arga katakan.

"Jarang-jarang kan mama melihat kita akur?" balas Zoya. Dan saat itu Arga sudah melangkah dan akan pergi meninggalkan tempat. Tapi Zoya segera menghentikan langkah kaki Arga di sana dengan satu kali panggilannya.

"Tunggu!"

Arga pun segera berhenti seperti apa yang Zoya inginkan.

"Ada apa lagi?" balas Arga dengan tanpa menoleh ke arah Zoya berada.

"Kita harus turun sama-sama agar mama nggak curiga," balas Zoya. Akhirnya keduanya pun keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju ke meja makan berada.

Selama perjalanan menuruni anak tangga, Arga terlihat sesekali mendengus dan menghela nafas berat. Hal itu menyita perhatian Zoya. Zoya mengira Arga merasa tidak puas dan tidak suka dengan keluarga Zoya.

"Kamu tidak suka dengan keluarga ku?" tanya Zoya kemudian. Arga hanya menoleh sekilas ke arah wanita yang ada di sampingnya.

"Memangnya kau puas dengan keluargaku?" tanya balik Arga pada Zoya. Arga berharap pemikiran wanita itu sama seperti yang dia pikirkan.

"Puas lah, sangat puas," balas Zoya dengan senyum senang. Ternyata jawaban itu tidak pernah Arga pikirkan sebelumnya.

"Puas? kau puas menjalin hubungan dengan keluarga rival?" tanya Arga dengan ekspresi terkejutnya. Bahkan sampai menghentikan langkah kakinya di sana. Arga lalu menatap ke arah Zoya berada.

"Apa? kenapa aku harus nggak puas dengan keluarga rival? papa dan mama kamu baik kok orangnya. Mereka menerimaku dengan senang. Dan aku juga mendapatkan calon suami yang tampan, kaya pula. Kenapa aku harus nggak suka?" ucap Zoya yang membuat Arga hanya mendengus dan tidak menjawab, karena apa yang Zoya katakan semua itu benar. Arga tampak sedikit kesal lalu melanjutkan langkah kakinya yang menurunk anak tangga di sana. Meninggalkan Zoya beberapa langkah di belakangnya. Hingga wanita itu memanggil nama Arga agar lelaki itu mau menunggunya.

"Tunggu Ga, tunggu!" panggil Zoya yang langsung di akhiri dengan pekikan karena saat itu salah satu kaki Zoya hampir tergelincir dan akan jatuh yang sontak refleks membuat Arga langsung menangkap tubuh Zoya dapam pelukannya.

"Cup," tanpa mereka sadari, kecupan itu mereka lakukan.

"E' em!" terdengar deheman mama Zoya yang membuat mereka melepaskan satu sama lain.

"Terimakasih," ucap Zoya yang lalu melangkah menuruni anak tangga seolah tidak terjadi apapun. Arga yang melihat wanita itu tampak biasa hanya bisa kenghela nafasnya. Karena Arga tahu jika pastinya wanita modelan Zoya itu memiliki banyak pasangan dan tentu kecupan seperti itu saja hal wajar menurutnya.

"Kamu bilang tidak mau sayang, tapi kamu yang tidak bisa menahan diri," ucap gerutu mama Zoya yang samar-samar bisa Zoya dengarkan.

"Oh ya sayang, tadi nak Arga datang bawain kamu lauk, katanya mamanya sendiri yang buatin khusus untuk kamu," ucap mama Zoya yang berusaha mencairkan suasana. Karena saat itu suasana terlalu canggung.