Aduh ….!!
Emma mengerang, rasa perih di tulang rusuknya terasa seperti ditusuk ribuan jarum setiap kali ia mencoba menarik napas panjang. Namun, rasa sakit itu adalah pengingat yang paling nyata. Ia masih ada.
Matanya yang sembab menyisir ruangan kecil itu, hingga tertuju pada sebuah benda di atas nakas kayu tua yang kusam. Sebuah tas kecil miliknya.
Dengan tangan gemetar, Emma meraih tas itu. Jantungnya berdegup kencang saat jemarinya membuka ritsleting. Di sana, dompetnya masih utuh. Dan di baliknya, sebuah amplop cokelat tebal yang diberikan melalui instruksi telepon misterius itu masih terselip dengan aman.
Emma membukanya. Segepok uang tunai mungkin sekitar dua puluh lima juta rupiah.
"Alhamdulillah ...." bisik Emma, air matanya jatuh tanpa permisi. "Terima kasih, Ya Allah ... Kau tidak membiarkan aku dan anakku kelaparan di sini."
Uang itu, yang awalnya merupakan bagian dari rencana jahat Ibra, kini menjadi napas baru baginya. Ia tidak perlu khawatir soal biaya hidup atau pengobatan selama ia bersembunyi.
Pintu kamar berderit. Ibu Suti masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas jamu. Di belakangnya, berdiri seorang pria dengan mengenakan pakaian kusam dan kulit yang hitam seperti terbakar matahari. Jaka.
"Neng ... sudah bangun?" tanya Ibu Suti lembut, melangkah mendekat.
Emma menghapus air matanya cepat-cepat, lalu menatap Jaka. Pria yang sudah menyelamatkan nyawa dia dan bayinya itu menunduk, tampak canggung berdiri di dalam ruangan itu.
"Pak Jaka," panggil Emma, suaranya parau.
"I-iya, Neng?" Jaka menyahut gugup, tergesa melangkah mendekat, dengan wajah yang terus menunduk.
Emma meraih amplop cokelat di atas nakas kecil samping ranjang, lalu menghitung beberapa lembar uang di dalamnya dan kemudian mengulurkan seikat uang kepada Jaka. "Ini untuk Bapak. Saya harap diterima, tak ada penolakan."
Jaka terbelalak. Ia mundur selangkah, tangannya melambai panik. "Aduh, Neng! Jangan! Saya nolong Neng bukan buat ini. Saya cuma... saya cuma nggak tega liat Neng didorong begitu. Saya pemulung, Neng, tapi saya masih punya hati."
"Saya tahu, Pak. Justru karena Bapak punya hati, Bapak menyelamatkan dua nyawa sekaligus," kata Emma, matanya memohon. "Ini lima juta, Pak. Ambillah. Gunakan untuk keluarga Bapak, atau untuk memperbaiki gerobak Bapak. Saya mohon, jangan ditolak. Kalau Bapak tolak, saya malah merasa terbebani."
Jaka menatap Ibu Suti, mencari bantuan, namun Ibu Suti malah balik menatapnya dan mengangguk pelan. "Terima saja, Jak. Neng Emma ikhlas. Ini rejeki dari Gusti Allah lewat tangan Neng ini."
Dengan tangan yang gemetar, Jaka menerima uang itu. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Neng ... ini banyak banget. Terima kasih. Saya doakan Neng dan dedek bayinya sehat terus."
Emma tersenyum tipis, lalu beralih ke Ibu Suti. Ia mengulurkan jumlah yang sama. "Dan ini untuk Ibu. Lima juta untuk biaya saya di sini, untuk obat-obatan, dan untuk kebaikan Ibu merawat saya."
"Neng, ini kebanyakan ," ujar Ibu Suti mencoba protes dengan wajah kaget luar biasa.
"Ibu bidan yang sudah menyelamatkan harapan saya. Anggap saja ini uang muka untuk persalinan saya nanti," potong Emma tegas namun lembut. "Tolong, Bu. Simpan ya?"
Ibu Suti menghela napas, matanya basah. "Terima kasih, Neng. Ibu akan jaga Neng sekuat tenaga di sini. Neng jangan khawatir."
Emma bersandar kembali ke bantalnya. Ia merasa sedikit lebih tenang secara finansial, namun batinnya masih meraung. Ia tidak tahu bahwa saat ini, Ibra—dalang di balik semua ini—sudah mendekam di sel isolasi yang gelap atas perintah dingin Arsen dan kekuasaan Pak Wijaya. Ibra tidak akan pernah melihat matahari lagi, tapi Emma masih merasa pria itu mengintainya di balik setiap bayangan.
Tanpa Emma tahu. Namun, yang lebih menyakitkan adalah apa yang sedang terjadi di belahan kota yang lain.
Suara lantunan ayat suci Yasin bergema di ruang tengah di rumah luas dan mewah, kediaman Adhianata. Wangi bunga melati dan aroma dupa menyelimuti atmosfer yang terasa begitu berat dan menyesakkan. Puluhan orang duduk bersila, menundukkan kepala dalam doa.
Di pojok ruangan, Arsen duduk mematung. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak kuyu, pipinya tirus, dan matanya merah karena kurang tidur. Ia mengenakan baju koko putih dan peci hitam. Tangannya memegang buku tahlil, namun matanya tidak membaca. Ia hanya menatap lantai dengan pandangan kosong.
"Sen... minum dulu," bisik Diandra, menyodorkan segelas air.
Arsen tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh.
"Arsen, kamu harus kuat," Diandra mencoba lagi, suaranya bergetar. "Emma tidak akan tenang kalau melihatmu seperti ini."
Arsen akhirnya menoleh. Tatapannya begitu hampa hingga Diandra ingin menangis detik itu juga. "Dia belum mati, Di," bisik Arsen, suaranya begitu rendah hingga nyaris tertelan suara jamaah tahlil.
"Sen ...."
"Jangan bilang dia mati! Kalian semua mendoakan orang yang masih hidup!" desis Arsen, amarah tiba-tiba berkilat di matanya. "Dia hanya hilang! Dia tidak mungkin meninggalkanku! Tidak di hari pernikahan kami!"
Di pojok lain, Erlan tertunduk lesu. Bahunya terguncang hebat. Isak tangisnya pecah berkali-kali setiap kali nama Emma disebut dalam doa. Ia merasa seperti pembunuh. Jika saja ia tidak setuju dengan ide Diandra untuk berbohong... jika saja ia lebih waspada saat diparkiran...
"Ini salahku, Di," Erlan meratap saat Diandra menghampirinya. "Aku yang menyerahkan dia ke tangan bajingan itu. Aku kakaknya, tapi aku gagal."
Diandra memeluk bahu Erlan. "Bukan salahmu, Kak. Ini salah Ibra. Dan dia sudah membayar semuanya di penjara. Kita semua terpukul, tapi kita harus mendoakan Emma."
"Dia hamil, Di, dia sendirian di bawah sana ...." Erlan menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya semakin menjadi-jadi.
Arsen berdiri tiba-tiba, membuat beberapa orang menoleh. Ia berjalan keluar menuju teras belakang, menjauh dari suara doa yang justru terasa seperti palu yang menghantam jantungnya.
Ia menatap langit malam yang mendung. “Sayang ... di mana kamu?”
"Maafkan aku, Sayang," bisik Arsen pada kegelapan. "Aku menyerahkan seluruh hartaku sebagai mas kawin, tapi aku tidak bisa memberimu hal yang paling sederhana: perlindungan. Aku berbohong padamu tentang status pernikahan kita demi ketenanganmu, tapi justru itu yang membawamu pergi."
Arsen merogoh sakunya, mengeluarkan cincin kawin Emma yang ditemukan petugas di pinggir rel, sedikit tergores namun masih berkilau. Ia mencium cincin itu lama, sembari terisak.
"Kalau kamu memang sudah tidak ada ... jemput aku, Emma. Jangan biarkan aku di sini sendirian dengan rasa bersalah ini," rintihnya.
Ia tidak tahu, bahwa di sebuah rumah kayu yang sederhana di dekat lintasan kereta api, Emma juga sedang menatap bulan yang sama dari jendela, dengan tangan kanan mengelus perutnya. Ia bisa mendengar suara kereta api yang lewat di kejauhan, suaranya yang gemuruh kini tidak lagi menakutkan, melainkan menjadi melodi pelindungnya.
"Anakku," bisik Emma pada perutnya. "Ayahmu ... pamanmu ... mereka pasti sedang menangis sekarang. Mereka mengira kita sudah pergi."
Emma memejamkan mata, membayangkan wajah Arsen saat mengucapkan ijab kabul. Wajah yang penuh cinta, yang ternyata menyimpan kebohongan putih yang mematikan.
"Maafkan aku, Arsen. Aku harus melakukan ini. Aku harus 'mati' agar kita benar-benar aman. Aku tidak bisa membiarkan Ibra atau siapa pun menyentuhmu lagi lewat aku."
Ia mengusap sisa air mata di pipinya. "Tiga bulan lagi. Hanya tiga bulan. Setelah kamu lahir, Nak... Mama akan kembali. Mama akan tunjukkan pada dunia bahwa kita tidak bisa dihancurkan."