Bab 32 Sindrom Couvade

Penulis JanaIndria
05 January 2026

Emma menarik napas panjang, menahan rasa sakit di rusuknya. Ia menatap amplop cokelat di atas nakas. Uang itu akan cukup untuknya bersembunyi. Untuk saat ini, biarlah dunia mengenangnya sebagai sebuah tragedi. Biarlah Arsen menangisinya. Karena ketika ia kembali nanti, ia bukan lagi Emma yang rapuh dan ketakutan.

Ia akan menjadi api yang melindungi cintanya.

Di bawah rembulan yang sama, dua hati yang terpisah oleh "kematian" palsu itu saling meratap. Satu meratap karena kehilangan, satu meratap karena harus melepaskan demi keselamatan. Dan permainan takdir ini, baru saja memasuki babak yang paling sunyi.


Diandra tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada kejadian di peron. Ia adalah seorang ahli teknologi, seorang analis. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Ia membuka laptopnya di tengah malam, saat rumah keluarga Wijaya sudah mulai sunyi. Ia memutar ulang rekaman CCTV yang berhasil ia salin secara ilegal dari sistem stasiun sebelum polisi menyitanya sebagai barang bukti.

"Ada yang aneh," gumam Diandra.

Ia memperlambat gerakan video saat Emma jatuh. Ia memperbesar gambar di celah antara dua gerbong. Ada sebuah bayangan. Sangat cepat. Seperti sebuah gerakan menarik.

"Siapa itu?" bisik Diandra.

Ia mencoba menjernihkan gambar, namun terlalu gelap. Namun, satu hal yang pasti: tubuh Emma tidak terlihat hancur di bawah roda. Tubuhnya seolah... lenyap ke samping.

Diandra menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Ia melirik ke arah kamar Arsen yang lampunya masih menyala.

"Apa aku harus bilang padanya?" pikir Diandra. "Tidak. Kalau ini hanya harapan palsu, Arsen akan benar-benar gila jika ternyata salah. Aku harus menyelidikinya sendiri."

Diandra menutup laptopnya. Pencarian rahasia dimulai. Di tengah doa-doa tahlilan yang masih terngiang, sebuah benih harapan kecil mulai tumbuh di hati Diandra. Harapan bahwa sahabatnya masih bernapas di suatu tempat di kota yang luas ini.


Waktu adalah pencuri yang aneh. Bagi dunia, tiga bulan telah berlalu sejak tragedi di Stasiun Gambir. Bagi Arsen, tiga bulan itu terasa seperti tiga abad di dalam neraka yang dingin. Namun bagi Emma, tiga bulan adalah perjuangan setiap detik untuk tetap bernapas, tetap sehat, dan tetap tersembunyi.

Di sebuah rumah kecil di pinggiran lintasan kereta api yang bising, perut Emma kini sudah membuncit sempurna. Ia sering duduk di ambang pintu saat senja, mengusap perutnya yang menegang, mendengarkan getaran rel yang seolah berbicara padanya.

"Sudah waktunya ya, Nak?" bisik Emma. Napasnya pendek. Beban di tubuhnya terasa luar biasa, namun hatinya jauh lebih berat.

Ibu Suti keluar membawa sepiring pisang rebus. "Neng, jangan melamun terus di pintu. Angin malam nggak baik buat bayi."

Emma tersenyum tipis. "Bu... apa Ibu percaya kalau dua orang yang saling mencintai bisa merasakan sakit yang sama meski berjauhan?"

Ibu Suti duduk di sampingnya, menatap Emma dengan iba. "Ibu sering dengar, Neng. Namanya batin. Apalagi kalau ada nyawa di antara mereka. Kenapa? Neng kangen sama Bapaknya?"

Emma menunduk. Air mata yang selama tiga bulan ini ia coba bendung kembali merembes. "Setiap malam saya merasa dia memanggil saya, Bu. Dan anehnya, setiap kali saya merasa mulas atau pegal, saya merasa dia juga sedang merasakannya di sana."


Kediaman Keluarga Adhianata – Pukul 07.00 WIB

Hueeeek!

Suara muntahan itu menggema dari kamar mandi utama. Arsen terduduk lemas di lantai marmer, wajahnya pucat pasi, peluh dingin membasahi keningnya. Ini sudah pagi ketujuh ia terbangun dengan rasa mual yang luar biasa.

"Arsen! Ya Allah, Nak!" Bu Ratna menyerbu masuk, memijat tengkuk putranya dengan cemas. "Kamu ini kenapa? Makan salah? Atau masuk angin lagi?"

Arsen menggeleng lemah. Ia berkumur, lalu bersandar pada dinding. "Nggak tahu, Ma. Perut Arsen rasanya melilit. Mual sekali kalau mencium bau nasi atau parfum Mama."

"Ini aneh, Sen. Kamu sudah ke dokter dua kali dan mereka bilang lambungmu baik-baik saja," Bu Ratna mengusap air matanya. "Apa kamu terlalu stres memikirkan tahlilan seratus hari Emma besok?"

"Mungkin, Ma," jawab Arsen pendek. Ia tidak ingin berdebat. Rasa sakit di punggung bawahnya kini mulai terasa, seolah ada beban berat yang menarik pinggangnya ke bawah.

Di pintu kamar, Diandra berdiri mematung. Ia memegang segelas jus jeruk yang tadinya ingin ia berikan pada Arsen. Matanya tidak menunjukkan rasa kasihan, melainkan sebuah kilatan observasi yang tajam.

"Mual pagi hari, sensitif terhadap bau, sakit pinggang, dan nafsu makan yang berubah drastis," gumam Diandra pelan. "Sen, sejak kapan perutmu terasa kembung seperti itu?"

Arsen melirik Diandra dengan kesal. "Jangan mulai dengan analisis medismu, Di. Aku cuma kurang tidur."

"Kurang tidur tidak membuat pria ingin makan mangga muda di jam dua pagi, Arsen!" tukas Diandra. "Aku lihat sendiri di tempat sampah kamarmu ada kulit mangga."

Bu Ratna menoleh kaget. "Benar, Sen? Kamu ngidam?"

"Ma, jangan konyol! Mana ada pria ngidam!" Arsen mencoba berdiri, namun rasa mulas yang tiba-tiba di perutnya membuatnya kembali terduduk. "Aduh... sakit sekali."


Dr. Haryo menghela napas panjang setelah memeriksa Arsen. Ia menatap Pak Wijaya, Bu Ratna, dan Diandra yang menunggu dengan cemas di dalam ruangannya. Arsen berbaring di bed pemeriksaan, tampak benar-benar menderita.

"Jadi, apa penyakit putra saya, Haryo?" tanya Pak Wijaya tegas. "Keracunan? Atau ada virus?"

Dr. Haryo melepas kacamata, tampak ragu sejenak. "Secara fisik, Arsen sehat. Jantung, paru-paru, lambung... semuanya normal. Namun, gejala yang ia alami sangat spesifik."

"Spesifik bagaimana?" tanya Bu Ratna.

"Arsen mengalami apa yang kami sebut sebagai Sindrom Couvade atau Couvade Syndrome," jawab Dr. Haryo.

Ruangan itu hening. Pak Wijaya mengerutkan kening. "Sindrom apa itu? Aku belum pernah dengar."

"Sering disebut sebagai 'Simpatik Kehamilan'," lanjut Dr. Haryo. "Ini adalah kondisi di mana seorang calon ayah ikut merasakan gejala fisik yang dialami pasangannya yang sedang hamil. Seperti mual, perubahan nafsu makan, hingga rasa sakit saat persalinan."

Wajah Bu Ratna berubah pucat. Pak Wijaya terdiam seribu bahasa.

"Tapi... tapi itu tidak mungkin, Haryo!" suara Pak Wijaya meninggi, bergetar karena emosi yang tertahan.

"Menantu kami... Emma... dia sudah tiada beberapa bulan lalu! Bagaimana mungkin Arsen mengalami sindrom calon ayah jika tidak ada bayi yang sedang dikandung?!"

Dr. Haryo menunduk. "Itulah yang membuat saya bingung. Biasanya, ini dipicu oleh ikatan psikologis yang sangat kuat. Mungkin... ini adalah manifestasi dari rasa duka Arsen yang begitu dalam. Otaknya menolak menerima kenyataan bahwa bayinya sudah tidak ada, sehingga tubuhnya menciptakan gejala-gejala ini sebagai bentuk delusi."

"Delusi?" Arsen bersuara dari bed, suaranya parau. "Maksud dokter, aku gila?"

"Bukan gila, Arsen. Ini reaksi psikosomatis," hibur Dr. Haryo.

Namun, di sudut ruangan, Diandra tidak mendengarkan penjelasan Dr. Haryo lagi. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Ia menatap Arsen yang sedang memegangi perutnya yang mulas.

“Couvade Syndrome terjadi karena adanya koneksi batin dan hormonal yang kuat antara ayah dan bayi,” pikir Diandra. “Jika Emma sudah mati, delusi tidak akan se-akurat ini. Arsen merasakannya tepat saat kehamilan Emma seharusnya memasuki bulan kesembilan.”

Diandra melangkah keluar ruangan tanpa pamit. Ia berlari menuju mobilnya, tangannya gemetar saat membuka laptop di kursi penumpang.

"Logika tidak bisa berbohong," bisik Diandra pada dirinya sendiri.