Elang mendapati ibunya sedang mencuci pakaian banyak sekali. Lelaki
bermata sipit itu memperhatikan pakaian yang telah dijemur ibunya, karena
itu adalah pakaian ayah dan adiknya.
"Ibu, tak usahlah berkali-kali baju ini dicuci, toh tak terlalu kotor, karena hanya
tersimpan di lemari, bukan?"
"Biar sajalah, ini untuk kegiatan ibu, karena ... tiba-tiba kangen dengan Erin,
sedang apa anak gadisku?" Pandangan mata ibunya menerawang jauh ke
atas langit.
"Besok kita ke makam ayah dan Erin ya, Bu."
"Boleh lah, tapi ...."
"Paman Rudi kemari dan tinggalkan beberapa uang, itu simpan saja untuk
ibu." Elang mencoba memancing informasi pada ibunya siapa yang dia
maksud dengan gadis bermata emas.
"Ambillah saja untukmu, aku tak butuh uang Rudi, kasihan dia bertahun-tahun
harus membela ibumu ini."
Elang berjalan masuk ke dalam ruangan, benar saja di atas meja sudah ada
beberapa lembar uang yang tertindih oleh sebuah gelas yang isinya masih
penuh. Elang mengambil dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak
tabungan milik ibunya.
"Siapa gadis bermata emas itu Bu?!" Akhirnya Elang berani bertanya. Tapi
Ibunya hanya diam saja, dirinya sedang asyik mengucek baju-baju itu.
Elang hanya bisa membuang napasnya, penat sekali tubuhnya, ia duduk di
sebuah sofa, hingga angin yang semilir menghantarkan dirinya dalam buaian
mimpi.
Mimpi itu hadir kembali. Elang bagai dibawa ke alam mimpi berpuluh tahun
terlampaui. Sebuah hutan gelap, pohon-pohon yang menjulang tinggi. Aroma
bunga pinus yang segar menguar dalam penciumannya. Dari jauh terdengar
seperti ada yang bertanding, diiringi berkali-kali dentingan suara pedang
bersentuhan. Elang mencoba mendekati suara tersebut, menyibakkan
beberapa onak yang menutupi. Benar saja, ada dua orang sedang
bertanding. Wajah-wajah kelelahan dan berbagai goresan darah terlihat pada
tubuh masih-masing lawan.
"Tunggu Shang Fu! Kau harus mati!"
"Tidak akan! Aku akan terus melawanmu, aku tak ikhlas kau kuasai manusia
dalam kejahatan yang kau ciptakan!"
Crang!! Tebasan sebuah pedang berhasil ditangkis oleh seseorang yang
dipanggil Shang Fu.
Desing! Tebasan yang menyisakan asap berwarna hitam itu langsung
mengenai ujung kepala lelaki berpakaian bak seorang pendekar dari
Tiongkok. Tapi Elang menjadi sangat ketakutan kala dalam kepala yang
berdarah yang terkena tebasan pedang itu, terbuka dan keluarlah sosok
makhluk yang menyeramkan. Elang menjerit lalu terbangun, karena
ketakutan. Napasnya memburu, tubuhnya basah oleh keringat. Dirinya
sempat linglung, masih bingung di mana dirinya sekarang, menatap seluruh
isi rumah dan menyadari bahwa ini adalah rumahnya.
"Ya Tuhan, aku mimpi itu lagi, siapa Shang Fu? Monster itu sangat
mengerikan sekali," gumamnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Brengsek!" Elang sudah menyerang lagi, tapi berkali-kali dirinya kalah. Jordi
tertawa terbahak.
"Dengar ya? kalau kau mau aman, pergi kau dari kota ini, pecundang!!"
"Kau dasar!" Elang kembali hendak memukul wajah lelaki yang menyebalkan
itu. Lagi-lagi, Elang begitu lemah, ia tak ada apa-apanya di hadapan Jordi.
Ada setetes darah di sudut bibirnya.
"Paham maksudku? Pergi dari Kota ini, dan bawa ibumu yang gila itu."
Beberapa teman Jordi melepaskan cekakan pada lengan pemuda itu. Ada
rasa sakit yang teriris saat ibunya dikatakan orang gila oleh Jordi.
'Andai kau bukan anak bos Ayahku, pasti aku sudah berkali-kali memukulmu!'
bisik Elang penuh kebencian. Tapi kini, Ayahnya sudah tak ada, Jordi
semakin saja merajalela menghina keluarganya, karena saking sewotnya
Elang mendekat pada Jordi dengan spontan kedua tangannya mendorong
dada Jordi hingga jatuh terjengkang ke belakang. Kekuatan Elang yang
spontan itu membuat Jordi membentur dinding dengan keras, tubuh Jordi
merosot pelan dan luruh ke lantai tak bergerak!
Semua memandang Jordi, apakah Jordi meninggal?
Kejadian malam itu membuat geger pinggiran kota. Elang ditangkap pihak
berwajib, Elang sudah menjelaskan dengan kejujuran, bahkan luka-luka yang
didapatnya menjadikan bukti bahwa dirinya yang diserang komplotan Jordi.
Elang yang menjadi korban. Atas celakanya Jordi, Elang tak tahu menahu,
dirinya hanya mendorongnya biasa, bahkan tubuh Jordi lebih besar dari
Elang.
Elang hanya menjalani tahanan luar saja dan wajib lapor.
Jordi terkapar di rumah sakit, beberapa tulang punggung bagian bawah ada
yang patah. Keadaan yang sangat rawan, bisa saja Jordi mengalami
kelumpuhan.
Ibunya menatap Elang lama. Berulang kali Elang meminta maaf pada ibunya.
Ibunya hanya meneteskan air matanya saja. Tangan dengan jari kecilnya
mencoba menyentuh sudut bibir Elang yang sudah mengering.
"Sakit, Nak?"
"Tidak, Bu. Apakah kita bisa pergi dari kota ini dan hidup dalam kehidupan
yang baru?"
Jiang terdiam dan menggeleng lemah.
"Tidak Nak, tidak bisa. Ibu ingin terus berada di rumah ini."
Elang terdiam, ada rasa kecewa dalam hatinya.
"Kau harus laporkan pada gurumu, berkali-kali orang itu mengganggumu
terus."
Elang tertegun dengan ucapan ibunya.
"Aku sudah lulus sekolah Bu, besok aku akan cari kerja yang lain."
"Bukankah bosmu sudah datang kemari dan memberikan bonus atas kerjamu
yang bagus. Lihat dia bawa beras dan beberapa makanan."
"Siapa Bu?" Elang semakin tak mengerti dengan kata-kata ibunya.
"Gadis bermata emas itu, datang tadi pagi. Sepertinya dia suka padamu,
buktinya selalu saja memandang fotomu yang ada di bufet itu," jelas Jiang
sambil menunjukkan sebuah foto Elang saat masih kecil.
"Apa Bu? Gadis bermata emas?"
"Hai orang Chino!" Sherlyn teriak dari dalam mobilnya, "ayo masuk!
Elang yang sedang berjalan langsung mendekati mobil jaguar hitam itu lalu
membuka pintu depan, terus duduk di samping Sherlyn yang menyetir mobil
ayahnya.
"Mau ke mana?"
"Aku tadinya mau ke toko swalayan itu, ada lowongan di sana, antar kan aku
ke sana, andai berkenan," pinta Elang sambil tersenyum.
"Oke bos, siap!" jawab Sherlyn, gadis itu tertawa renyah dan menatap lelaki
pujaannya ini, tapi tak berani ia ungkapkan ataupun tunjukan dalam sikapnya.
Elang tersenyum dan mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.
Sherlyn anak dari salah satu bos ruko beras di depan pasar induk pinggiran
Kota Cophen. Wajah blasteran Palestina membuat wajah imut. Perawakan
yang mungil menjadikan Sherlyn jarang bergaul dengan wanita yang lain.
Dirinya dianggap seperti anak kecil. Untuk masuk nonton bioskop saja
ditanyakan KTP-nya. Tak pernah lolos ikut wahana di tempat rekreasi.
Sungguh memilukan sekali, bukan?
"Yupz udah sampai."
Sherlyn langsung ikut turun, dan mengiringi langkah Elang.
"Mengapa kau ikut masuk?"
"Apa tak boleh? Aku mau beli sesuatu."
"Baiklah, bila selesai urusanmu, aku tak usah kau pikirkan, tinggal saja. Oke."
"Iya Bung, GR banget ya!"
Elang tertawa ngakak dan segera mendekati salah satu kasir dan
menanyakan perihal lowongan pekerjaan. Sementara Sherlyn sudah
melangkah masuk ke dalam ruangan penuh rak-rak kebutuhan rumah tangga,
dirasakan aman, ia lalu menelepon seseorang dan terlibat sebuah
perbincangan serius.
"Oke, terima kasih." Sherlyn menutup sambungan ponselnya. Tak lama gadis
itu melihat, Elang sudah dipanggil masuk oleh pemilik dari swalayan ini. Gadis
imut itu tersenyum dan meletakkan kembali barang yang ada dalam
keranjangnya, dan mengembalikan barang tersebut ke tempatnya semula,
kemudian pergi meninggalkan swalayan tersebut.
Prang!! semua benda di atas bufet jatuh berantakan.
"Mana anakmu yang bodoh itu!! Dia harus mempertanggungjawabkan
perbuatannya!
Jiang hanya diam, bola matanya berputar gelisah. Hari ini adalah hari
pertama Elang bekerja di swalayan Tan Jiong, walaupun hanya sebagai
pelayan saja.
Jiang tak bisa berpikir dengan jernih, kata-katanya mulai ngelantur.
Terkadang berteriak histeris. Rudi yang sedang berjualan, mendadak pergi
meninggalkan tokonya dan terus berlari menuju rumah Jiang. Untung saja
Rudi datang tepat waktu, saat tangan lelaki tua bertubuh tambun itu hendak
memukul Jiang, tangannya sudah ditarik Rudi dengan cepat.
"Singkirkan tanganmu itu! Jangan sentuh Jiang! Kau sudah bunuh suami dan
anaknya, kali ini, tak kan kubiarkan kau bunuh Jiang!"