Bab 33 Ikatan

Penulis JanaIndria
05 January 2026

Ia membuka kembali file rekaman CCTV Stasiun Gambir yang sudah ia tonton ribuan kali. Kali ini, ia menyandingkannya dengan data medis Arsen yang baru saja ia foto secara diam-diam.

"Minggu pertama, Arsen mulai mual. Di saat yang sama, Emma seharusnya masuk bulan ke-9. Hari ini di mana Arsen kembali merasakan mulas luar biasa. Ini bukan delusi duka. Ini adalah sinyal!"

Diandra menekan tombol panggil pada ponselnya. "Halo, Bram? Aku butuh bantuanmu lagi. Cek semua klinik bersalin kecil, bidan rumahan, atau praktik dokter mandiri dalam radius 10 kilometer dari Stasiun Gambir. Cari pasien yang tidak punya identitas atau menggunakan nama samaran yang masuk dalam tiga bulan terakhir."

"Di, polisi sudah melakukan itu dan hasilnya nihil,” suara Bram terdengar lelah di seberang sana.

"Polisi mencari Emma Faniza! Aku tidak mencari Emma! Cari wanita hamil yang dibawa oleh pemulung atau orang jalanan! Bram, kumohon! Arsen sedang mengalami persalinan simpatik! Jika dia kesakitan hari ini, artinya Emma sedang berjuang melahirkan SEKARANG!"


Rumah Ibu Suti – Pukul 14.00 WIB

"Aakhhh! Ibuuu! Sakit!"

Emma mencengkeram sprei kasur tipisnya hingga robek. Keringat mengucur deras membasahi wajahnya yang pucat. Rasa sakit itu datang bergelombang, semakin lama semakin kuat, seolah-olah tubuhnya sedang dibelah.

"Sabar, Neng. Tarik napas... buang... pintar," Ibu Suti dengan sigap menyiapkan air hangat dan kain bersih. "Sudah pembukaan delapan, Neng. Sebentar lagi."

"Aku nggak kuat, Bu ... Arsen ... Arsen ..." Emma meracau. Dalam rasa sakit yang luar biasa itu, hanya satu nama yang ia panggil.

"Istighfar, Neng. Bayinya mau keluar. Neng harus kuat demi dia!"

Di tempat lain, di dalam kamarnya yang mewah, Arsen terjatuh dari tempat tidur. Ia merangkak di lantai, mencengkeram perutnya dengan kuku-kuku yang memutih.

"Sen! Arsen!" Mamanya masuk ke kamar dan kaget melihat anaknya dalam kondisi mengenaskan. "Aku panggil ambulans ya?"

"Jangan ... Ma ..." Arsen terengah-engah. "Sakit... rasanya seperti... perutku ditarik di sini, Kak ."

Arsen mengerang keras, sebuah gelombang rasa sakit yang amat sangat menghantam pinggang dan perut bawahnya. Di saat yang bersamaan, bermil-mil jauhnya, Emma memberikan dorongan terakhir yang memecah kesunyian di pinggiran rel kereta api.

Oeeeeek! Oeeeeek! Oeeeeek!

Suara tangis bayi pecah, mengalahkan suara kereta api barang yang sedang melintas di depan rumah Ibu Suti.

Emma terkulai lemas, napasnya tersengal, namun matanya terbuka lebar mencari sumber suara itu. Ibu Suti mengangkat seorang bayi kecil yang kemerahan, masih berlumuran darah namun sangat vokal.

"Laki-laki, Neng! Alhamdulillah! Sempurna!" Ibu Suti menangis haru.

Emma mengulurkan tangannya yang gemetar. Saat bayi itu diletakkan di dadanya, sebuah keajaiban terjadi. Rasa sakit yang tadi menghimpitnya mendadak sirna, digantikan oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh jiwanya.

Dan di kamarnya, Arsen mendadak diam.

Napasnya yang tadi memburu kini menjadi tenang. Rasa mulas yang melilitnya hilang seketika, meninggalkan rasa damai yang tak bisa dijelaskan. Ia terbaring di lantai, menatap langit-langit dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.

"Dia mumgkin sudah lahir, Ma," bisik Arsen pelan.

"Siapa yang lahir, Sen?" tanya Mama bingung sambil mengusap air matanya.

"Anakku." Arsen tersenyum, sebuah senyuman tulus yang tidak pernah terlihat sejak hari pernikahan mereka.

Suasana kamar itu mendadak hening.

Arsen, yang beberapa detik lalu meraung kesakitan seolah seluruh tulangnya dipatahkan, kini terbaring diam di atas permadani tebal. Keringat dingin membanjiri tubuhnya, namun raut wajahnya berubah drastis. Ketegangan yang mencekam itu menguap, digantikan oleh kedamaian yang asing.

Papa Andra dan Mama Ratna yang sejak tadi panik, hanya bisa terpaku melihat perubahan mendadak putra mereka.

"Sen? Arsen? Kamu dengar Papa?" tanya Papa Andra dengan suara bergetar.

Arsen tidak menjawab dengan segera. Ia menarik napas panjang, sangat pelan, seolah sedang menghirup aroma kehidupan yang baru saja lahir. Air mata mengalir di sudut matanya, jatuh membasahi lantai.

"Dia sudah lahir, Pa... Ma..." bisik Arsen. Suaranya sangat lemah, namun penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.

Mama Ratna menutup mulutnya, air matanya tumpah. "Siapa yang lahir, Sayang? Kamu bicara apa?"

Arsen tersenyum. Sebuah senyuman yang sudah berbulan-bulan hilang dari wajahnya. "Anakku, Ma. Suaranya ... aku mendengarnya menangis di kepalaku. Dia sehat."

"Arsen, nak ..." Mama Ratna mendekat, membelai rambut putranya yang basah oleh peluh. "Emma sudah tidak ada... Ingat apa kata polisi? Ingat kejadian di stasiun itu?"

Arsen menggeleng pelan, lalu menatap Mamanya dengan mata yang kini bersinar tajam. "Polisi bicara soal mayat yang tidak pernah ditemukan. Aku bicara soal detak jantung yang baru saja aku rasakan. Emma masih hidup, Ma. Dia melahirkan anak kami di suatu tempat yang jauh. Aku merasakannya. Sakit ini... sakit ini bukan sakitku. Ini sakitnya saat berjuang."

Papa Andra hanya bisa menghela napas panjang, menatap istrinya dengan pandangan sedih. Baginya, Arsen telah kehilangan kewarasan karena duka yang terlalu dalam.


Di tempat lain, di sebuah gubuk kecil di pinggiran lintasan kereta api...

Emma terkulai lemas di atas kasur tipis yang dialasi kain jarik. Tubuhnya bermandikan peluh, namun matanya terbuka lebar, menatap gumpalan daging kecil yang masih kemerahan di pelukan Ibu Suti.

"Oeeeeek! Oeeeeek!"

Suara tangis bayi itu mengalahkan deru kereta barang yang baru saja lewat di depan rumah.

"Laki-laki, Neng! Alhamdulillah! Sempurna!" Ibu Suti menangis haru, dengan cekatan membersihkan bayi itu.

Emma mengulurkan tangannya yang gemetar. Saat bayi itu diletakkan di dadanya, sebuah kehangatan menjalar ke seluruh jiwanya. Rasa perih di sekujur tubuhnya seolah sirna seketika.

"Anakku..." bisik Emma. Ia mencium kening bayi itu yang masih hangat. "Kamu kuat, Nak. Kamu bertahan demi Ayahmu, ya?"

"Neng harus kuat," ujar Ibu Suti sambil mengusap air mata di pipi Emma. "Sekarang istirahat dulu. Biar Ibu buatkan jamu."

Emma menggeleng, ia tidak ingin melepaskan pandangannya dari putranya. "Bu... tadi saya merasa Arsen ada di sini. Saya merasa dia memegang tangan saya saat saya mendorong tadi. Apa dia tahu kalau bayinya sudah lahir?"

Ibu Suti terdiam sejenak, lalu tersenyum bijak. "Ikatan suami istri yang tulus itu tidak bisa dibatasi jarak, Neng. Kalau hatinya bertaut, dia pasti merasakannya."

Emma mendekap bayinya lebih erat. Di dalam hatinya, ia berjanji. Arsen, tunggu kami. Aku akan menjaganya sampai waktunya kita bertemu lagi. Aku akan kembali sebagai istri yang pantas untukmu.


Satu Tahun Kemudian

Gedung Adhianata Corp berdiri angkuh di pusat distrik bisnis Jakarta. Di lantai paling atas, di sebuah kantor yang luasnya setara dengan rumah mewah, seorang pria berdiri menatap jendela kaca besar.

Arsen Adhianata. Penampilannya berubah total. Rambutnya tertata sangat rapi, setelan jasnya dipesan khusus dari penjahit terbaik di Italia, dan tatapannya sedingin es.

Tok tok tok.

"Masuk," suara Arsen terdengar berat dan datar.

Sekretarisnya masuk dengan langkah ragu. "Pak Arsen, laporan kuartal terakhir sudah siap. Profit kita naik lagi sebesar 45% dari bulan lalu. Jika ditotal sejak dua tahun lalu, pertumbuhan Adhianata Corp sudah mencapai 300%, Pak."

Arsen tidak menoleh. "Hanya itu? Saya minta laporan soal akuisisi lahan di Jawa Barat. Sudah sampai mana?"