Bab 34 Aleea

Penulis JanaIndria
05 January 2026

"Sudah selesai, Pak. Tim hukum sudah mengurus semuanya."

"Bagus. Kamu boleh pergi. Jangan ada yang mengganggu saya dalam tiga jam ke depan."

Begitu pintu tertutup, Arsen menghela napas. Ia berjalan menuju meja kerjanya, membuka laci rahasia, dan mengeluarkan sebuah foto kecil. Emma.

"Dua tahun, Emma," bisiknya. "Aku sudah membangun kerajaan ini. Adhianata Corp sekarang terlalu besar untuk diabaikan. Jika kamu bersembunyi di lubang semut sekalipun, aku akan menemukanmu. Aku membuat nama kita ada di setiap sudut negeri ini agar kamu tahu, aku tidak pernah berhenti mencarimu."

Arsen berubah menjadi workaholic yang gila kerja. Ia bekerja 18 jam sehari, mengakuisisi perusahaan saingan tanpa ampun, dan memperluas jaringan bisnisnya hingga ke pelosok. Baginya, setiap rupiah yang ia hasilkan adalah peluru untuk membiayai detektif swasta dan tim pencari yang ia sebar ke seluruh Indonesia.

Namun, di balik kesuksesan itu, kesehatannya merosot. Ia jarang makan, sering merokok sendirian hingga larut malam, dan wajahnya selalu tampak pucat.


Papa Andra dan Mama Ratna duduk di ruang makan rumah besar mereka. Suasana hening. Makanan di meja nyaris tak tersentuh.

"Dia tidak pulang lagi semalam, Pa," ujar Mama Ratna dengan mata berkaca-kaca. "Arsen menginap di kantor. Lagi."

Papa Andra meletakkan sendoknya dengan kasar. "Dia membunuh dirinya sendiri secara perlahan, Ratna. Adhianata Corp tumbuh 300 persen, tapi jiwanya mati. Dia terobsesi pada bayang-bayang."

"Kita harus melakukan sesuatu, Pa. Aku takut Arsen tumbang sebelum Emma ditemukan ... kalau memang Emma masih ada."

Papa Andra mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor internasional. "Hanya ada satu orang yang bisa membujuknya. Dia sudah terlalu lama di luar negeri."

"Siapa? Aleea?" tebak mama dengan mata membeliak sempurna.

"Ya. Aleea harus pulang sekarang juga."


Dan Tiga Hari Kemudian, Bandara Soekarno-Hatta.

Seorang gadis cantik dengan kacamata hitam dan gaya yang sangat chic melangkah keluar dari gerbang kedatangan internasional. Aleea Adhianata. Adik perempuan Arsen yang baru saja menyelesaikan pendidikan masternya di London.

"Indonesia, aku kembali," gumam Aleea sambil menghirup udara Jakarta yang gerah, Ia langsung menuju kantor Adhianata Corp, mengabaikan supir yang ingin membawanya pulang ke rumah orang tua mereka.

"Maaf, Mbak, tidak bisa masuk tanpa janji," ujar resepsionis di lantai atas.

Aleea menurunkan kacamatanya, menatap resepsionis itu dengan senyum miring. "Lihat wajah saya baik-baik. Nama belakang saya Adhianata. Dan pria di dalam sana adalah kakak saya yang keras kepala. Minggir." Aleea berseru, menerobos masuk ke ruangan Arsen.

Pemandangan di dalamnya membuatnya sesak napas. Ruangan itu penuh dengan asap rokok, berkas yang bertumpuk, dan Arsen yang sedang tertidur di sofa dengan jas yang dilepas asal-asalan.

"Astaga, Kak Arsen..." bisik Aleea, sembari menghela napas panjang.

Ia berjalan mendekat, mengambil asbak yang penuh puntung rokok dan meletakkannya di meja. Ia membuka jendela lebar-lebar, membiarkan udara segar masuk.

Arsen terjaga. Ia mengerjap, mencoba memfokuskan pandangan. "Apa yang kamu lakukan ...?"

"Aku …. Adikmu yang paling cantik sejagat raya sudah pulang, dan kamu menyambutku dengan bau rokok ini?" Aleea berdiri di depan Arsen dengan tangan di pinggang.

Arsen tertegun sejenak, lalu senyum tipis muncul di wajahnya yang lelah. "Aleea? Kapan sampai?"

"Baru saja. Dan aku langsung ke sini karena Papa bilang Kakak sudah berubah jadi zombie korporat." Aleea mendekat, duduk di samping Arsen dan memegang tangannya yang dingin.

"Kak, lihat dirimu. Kamu pucat, kurus. Apa ini cara Kak Arsen merayakan kesuksesan Adhianata Corp yang gila itu?"

Arsen menarik tangannya, kembali ke wajah datarnya. "Aku sibuk, Al. Banyak yang harus dikerjakan."

"Sibuk mencari Kak Emma?" tembak Aleea langsung.

Arsen terdiam. Matanya menatap tajam ke arah adiknya. "Jangan sebut namanya seolah dia sudah mati. Dia ada di luar sana. Dan aku akan menemukannya."

Aleea menghela napas panjang. Ia sudah menduga reaksi ini. Ia harus menggunakan strategi yang berbeda. Bukan menentang, tapi mengarahkan.


"Oke, oke. Aku tidak bilang Kak Emma tidak ada," ujar Aleea sambil mengangkat kedua tangannya. "Aku setuju dengannmu. Kak Emma masih hidup. Aku merasakannya juga. Dia pasti sedang menjaga keponakanku di suatu tempat."

"Kamu percaya padaku?" Arsen menoleh, sedikit terkejut dengan dukungan mendadak itu.

"Tentu saja. Kamu kakakku. Tapi Kak, coba pikir pakai logika bisnismu yang hebat itu," Aleea berpindah duduk ke kursi kerja di depan Arsen.

"Katakanlah besok, atau lusa, tim pencarimu menemukan Kak Emma. Mereka membawanya pulang ke sini bersama bayimu. Apa yang akan Kak Emma lihat darimu pertama kali?"

"Maksudmu?" Arsen mengernyit.

"Dia akan melihat suaminya yang sakit-sakitan, bau rokok, tidak punya waktu untuk keluarga, dan rumah yang suasananya seperti kuburan karena Kakak tidak pernah pulang!" Aleea menekankan kata-katanya.

"Apa Kak Emma akan merasa nyaman? Apa dia akan merasa aman menitipkan anaknya pada ayah yang bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri?"

Arsen terdiam. Entah kenapa kata-kata Aleea mulai masuk ke celah egonya.

"Kak Emma itu wanita yang lembut, Kak. Dia butuh sandaran. Bayimu butuh ayah yang kuat untuk menggendongnya, bukan ayah yang kalau jalan saja sudah gemetaran karena kurang gizi," lanjut Aleea dengan nada bicara yang lebih lembut.

Arsen menunduk, menatap telapak tangannya sendiri.

"Kalau Kakak memang yakin mereka akan kembali, maka siapkan tempat mereka yang layak, yang sesuai dengan nama besar Adianata," ujar Aleea lagi, dengan wajah serius.

"Pulihkan kesehatanmu. Perbaiki rumah kita. Siapkan kamar bayi yang terbaik. Jadikan dirimu versi terbaik agar saat mereka kembali, mereka bangga melihatmu. Bukan justru ketakutan melihatmu dengan penampakan menyeramkan yang seperti sekarang."

Arsen terdiam cukup lama. Ruangan itu hanya diisi suara detak jam dinding.

"Aku... aku hanya takut kalau aku berhenti bekerja, aku akan mulai meragukan keberadaan mereka," bisik Arsen jujur untuk pertama kalinya.

Hati Aleea seketika mencelos, dia melangkah mendekat dan memeluk bahu kakaknya. "Kerja kerasmu sudah cukup, Kak. Pertumbuhan 300 persen itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kamu mampu. Sekarang, kerjalah untuk menyiapkan rumah. Kak Emma butuh rumah yang hangat, bukan sekadar gedung kantor yang megah."

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Arsen menatap Aleea dengan tatapan bingung.

Aleea tersenyum penuh kemenangan. "Pertama, pulang sekarang juga. Mandi, makan masakan Mama, dan tidur di kasur yang layak. Kedua, besok kita mulai renovasi sayap kanan rumah untuk kamar bayi. Aku yang akan bantu desainnya. Kita harus siapkan semuanya seolah-olah mereka akan datang besok pagi."

Arsen menarik napas panjang, seolah beban berat di pundaknya sedikit terangkat. "Baiklah. Ayo pulang."


Rumah keluarga Adhianata mulai berubah. Atas desakan Aleea, Arsen mulai pulang setiap jam 5 sore. Meskipun ia masih memantau Adhianata Corp dari rumah, intensitasnya jauh berkurang.

"Kak, lihat ini," Aleea menunjukkan katalog perlengkapan bayi dari tabletnya. "Aku mau tema woodland untuk kamarnya. Tenang, hangat, dan alami. Cocok untuk Kak Emma yang suka ketenangan."

Arsen melihat gambar-gambar itu. Bayangan seorang anak kecil berlarian di ruangan itu mulai terbentuk di kepalanya. "Pilihkan yang terbaik, Al. Biayanya jangan dipikirkan."

"Tentu saja! Aku akan memakai kartu kreditmu sampai limitnya habis!" canda Aleea dengan mata berkedip menggoda sang kakak.

Sambil merenovasi kamar, Aleea juga mengatur jadwal makan Arsen secara ketat. Ia memaksa kakaknya ikut kelas yoga dan meditasi di pagi hari sebelum ke kantor.

"Al, ini konyol. Aku terlihat seperti ibu-ibu arisan melakukan gerakan ini," keluh Arsen saat mereka sedang bermeditasi di taman belakang.

"Diam dan tarik napas, Kak! Ini supaya emosimu stabil. Kalau kamu emosional, pencarianmu jadi tidak jernih," balas Aleea tanpa membuka mata.

Papa Andra dan Mama Ratna melihat perubahan itu dengan rasa syukur yang luar biasa. Aleea adalah penyelamat bagi Arsen.

Suatu malam, setelah makan malam keluarga yang hangat, Arsen berdiri di depan kamar bayi yang hampir selesai. Ruangan itu dicat warna krem lembut dengan furnitur kayu jati yang elegan. Ada sebuah ranjang bayi kecil di tengahnya.

"Aku sudah siap, Emma," bisik Arsen. "Rumahnya sudah siap. Aku sudah sehat. Sekarang, di mana pun kamu berada, kumohon... beri aku tanda. Kembalilah pada kami."