"Al," panggil Mama Ratna pelan, meletakkan cangkir tehnya dengan tangan sedikit gemetar.
"Mama perlu bicara," ujar mama saat Aleea sibuk dengan tabletnya, sesekali terlihat mencatat sesuatu tentang renovasi kamar bayi di sayap kanan rumah, sementara Papa Andra dan Mama Ratna hanya saling lirik dengan cemas.
Aleea mendongak, tersenyum manis. "Iya, Ma? Ada apa?"
"Al, Papa bahagia kamu pulang. Papa senang melihat Arsen mulai mau makan dan tidur di rumah. Tapi... mendukung idenya tentang kamar bayi? Tentang menyiapkan rumah untuk seseorang yang... yang sudah tiada? Apa kamu tidak takut sedang memberi harapan palsu padanya?" Papa Andra berkata dengan suaranya yang berat sarat dengan ke khawatiran.
Mama Ratna mengangguk cepat, matanya berkaca-kaca. "Mama takut Arsen benar-benar kehilangan kewarasannya, Al. Kamu seolah membenarkan kegilaannya. Bagaimana kalau dia selamanya menunggu bayangan?"
Aleea meletakkan tabletnya. Ia menarik napas panjang, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan dewasa yang jarang mereka lihat.
"Pa, Ma... dengar Aleea," suara Aleea lembut namun sangat yakin.
"Selama dua tahun ini, apa yang terjadi saat Papa dan Mama mencoba bilang pada Kak Arsen kalau Kak Emma sudah mati? Apa yang terjadi saat Papa memaksanya ikut sesi terapi untuk merelakan kepergian seseorang?"
Papa Andra terdiam, bahunya merosot. "Dia ... dia menjauh. Dia mengunci diri di kantor. Dia tidak mau bicara dengan kami selama berbulan-bulan."
"Tepat," jawab Aleea. "Jika kita menentangnya secara frontal, Kak Arsen akan merasa kita adalah musuhnya. Dia akan merasa dunia tidak memihaknya, dan dia akan semakin tenggelam dalam obsesi kerjanya di Adhianata Corp sampai tubuhnya hancur. Aleea tidak sedang mendukung 'kegilaan'. Aleea sedang menariknya pulang dengan cara halus."
"Tapi kamar bayi itu, Al..." keluh Mama Ratna.
"Biarkan kamar itu ada, Ma," potong Aleea. "Biar kamar itu jadi alasannya untuk pulang setiap sore. Biar renovasi itu jadi alasannya untuk berhenti merokok dan mulai yoga. Selama dia punya harapan, dia punya alasan untuk hidup sehat. Urusan apakah Kak Emma benar-benar kembali atau tidak... biar waktu yang menjawab. Yang penting sekarang, Kak Arsen tidak mati perlahan di meja kantornya."
Papa Andra mengusap wajahnya, mulai memahami strategi putrinya. "Jadi, kamu menjadikannya umpan agar dia mau menjaga diri?"
"Benar, Pa. Kak Arsen itu orang yang sangat logis dalam bisnis, tapi sangat emosional dalam cinta. Kita harus masuk lewat pintunya, bukan mendobraknya."
Mama Ratna menghela napas, setengah lega, setengah masih khawatir. "Semoga kamu benar, Al. Mama hanya tidak sanggup melihatnya hancur dua kali."
Sore itu, suasana rumah berubah sibuk. Aleea sedang mengatur beberapa pekerja yang memasang furnitur di kamar bayi ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian, asisten rumah tangga datang menghampiri Aleea.
"Non Aleea, ada tamu. Pak Erlan bersama seorang wanita... dan ada Non Diandra juga baru sampai," lapornya.
Aleea tersentak. "Kak Erlan? Dan Diandra?"
Ia segera turun menuju ruang tamu. Di sana, ia melihat sosok pria yang tampak lebih tegar dari terakhir kali ia bertemu. Erlan, kakak kandung mendiang Emma. Di sampingnya duduk seorang wanita dengan wajah teduh dan lembut mengenakan jilbab biru muda. Di kursi lain, Diandra—sahabat paling dekat Emma—tampak sedang berbincang akrab dengan wanita itu.
"Ini pasti Kak Erlan, kan!" sapa Aleea riang, mencoba mencairkan suasana.
Erlan berdiri, tersenyum tipis. "Aleea ya, senang bertemu denganmu. Kabar kepulanganmu sampai ke telinga kami, makanya kami mampir."
Diandra berdiri dan tiba tiba memeluk Aleea erat. "Al! Kenapa tidak bilang-bilang kalau sudah di Jakarta? Aku harus tahu dari tim marketing Adhianata Corp kalau putri Adhianata sudah kembali."
"Maaf, Di! Semuanya serba mendadak," tawa Aleea. Matanya kemudian tertuju pada wanita di samping Erlan. "Dan... ini siapa, Kak?"
"Al, kenalkan. Ini Nuri. Calon istriku." Erlan tampak sedikit canggung. Ia memegang tangan wanita itu.
Aleea terbelalak, namun segera tersenyum tulus. "Wah! Calon kakak ipar baru! Halo, Mbak Nuri."
"Halo, Aleea. Erlan banyak bercerita tentang kalian," ujar Nuri dengan suara lembut yang menyejukkan.
"Kami sudah pacaran sejak tiga tahun lalu, Al. Sebelum kejadian itu... Nuri yang menemaniku melalui masa-masa gelap kehilangan Emma," Erlan menjelaskan dengan nada rendah.
Tepat dengan kedatangan Papa Andra dan Mama Ratna dari dalam rumah. Suasana mendadak menjadi sangat emosional ketika Erlan menghampiri mereka. Pria itu mencium tangan kedua orang tua Arsen dengan takzim.
"Papa, Mama... maaf Erlan datang mendadak," ujar Erlan. "Sebenarnya, kedatangan Erlan ke sini, selain untuk menyapa Aleea... Erlan ingin meminta sesuatu."
Papa terlihat mengerutkan keningnya, sejak di angkat sebagai komisaris, Erlan tidak pernah sekalipun datang dengan maksud meminta. Begitu pun dengan mama yang melihat Erlan dengan wajah tak percaya.
"Minta apa, Lan? Katakan saja," sahut Papa Andra, menepuk bahu Erlan.
"Erlan ingin meminta restu," suara Erlan sedikit bergetar. "Bulan depan, Erlan berencana menikahi Nuri. Karena Erlan tidak punya orang tua lagi, dan Emma juga sudah... tidak ada... Erlan merasa Papa dan Mamalah keluarga yang Erlan punya."
Mama Ratna langsung memeluk Nuri dengan mata berkaca-kaca. "Tentu, Lan. Tentu. Kami sangat bahagia kamu akhirnya menemukan pendamping. Emma pasti bahagia di sana melihat kakaknya tidak sendirian lagi."
Diandra yang menonton dari samping ikut mengusap matanya. "Aku juga sangat mendukung, Ma. Mbak Nuri ini orang yang sangat sabar menghadapi Erlan yang keras kepala."
Tepat saat suasana haru itu menyelimuti ruang tamu, pintu depan terbuka. Arsen masuk dengan tas kerja di tangannya. Langkahnya terhenti ketika melihat kerumunan di ruang tamunya.
Ia tampak jauh lebih segar dibanding seminggu lalu. Kemejanya rapi, dan wajahnya tidak lagi sekuyu dulu, meski garis-garis kesedihan masih tertanam di sudut matanya.
"Arsen?" Erlan berdiri, menatap adik iparnya.
Arsen melangkah mendekat. Ia menatap Erlan, lalu menatap Nuri, dan terakhir beralih ke Diandra. "Ada apa ini?"
"Kak Arsen, Kak Erlan mau menikah!" seru Aleea, mencoba membaca reaksi kakaknya.
Hening sejenak. Papa Andra menahan napas, takut Arsen akan meledak atau tersinggung karena merasa Erlan "melupakan" Emma.
Namun, Arsen melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia mendekati Erlan dan memeluknya erat. "Selamat, Lan. Kamu pantas bahagia."
Erlan membalas pelukan itu dengan emosional. "Maafkan aku, Sen. Aku... aku harus melanjutkan hidup."
"Jangan minta maaf," bisik Arsen. Ia melepaskan pelukan, menatap Nuri dan mengangguk hormat. "Jaga kakak ipar saya, Mbak. Dia orang yang baik, meskipun terkadang terlalu banyak berpikir."
Nuri tersenyum haru. "Terima kasih, Mas Arsen."
Arsen kemudian beralih ke Diandra. "Di, kamu juga di sini?"
"Aku merindukan Aleea, Sen. Tapi sepertinya aku datang di saat yang tepat," ujar Diandra.
Mereka semua kemudian duduk bersama, bercerita tentang rencana pernikahan Erlan. Suara tawa sesekali terdengar di ruangan itu. Papa Andra dan Mama Ratna tampak sangat bahagia, seolah beban berat di rumah itu terangkat sejenak.
Namun, Aleea terus memperhatikan Arsen. Kakaknya itu duduk sedikit agak jauh dari lingkaran utama. Arsen tersenyum—sebuah senyum yang tulus—saat mendengar Erlan menceritakan betapa gugupnya dia saat melamar Nuri.
Tapi, saat tawa yang lain meledak, Aleea melihat bahu Arsen sedikit bergetar. Arsen tertunduk, tangannya menutupi mulutnya.
Ia tertawa ... sekaligus menangis.